Bandung Horizontal atau Bandung Vertikal?

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

BANDUNG, dengan luas sekitar 167 kilometer persegi dan penduduk menyentuh 2,5 juta jiwa, kini menghadapi dilema ruang yang tak bisa diabaikan. Jalan-jalan kian padat, pemukiman yang saling menempel, dan makin terbatasnya lahan hijau tak ayal membuat ibukota Jawa Barat ini dipaksa memikirkan ruang untuk masa depannya. 

Pertanyaan terkait hal tersebut pun menyeruak: apakah Bandung perlu memperluas wilayahnya hingga pinggiran? Atau cukup membangun menembus langit sehingga menjadi sebuah kota vertikal? 

Jika memilih memperluas wilayah, Bandung harus menghadapi tantangan geografis dan sosial. Dataran tinggi, perbukitan, dan aliran sungai, jelas, membatasi perluasan. Adapun jika merambah lahan pertanian atau kawasan pinggiran berpotensi menimbulkan konflik sosial dan lingkungan dengan wilayah administratif lainnya. 

Di sisi lain, opsi menjadikan Bandung sebagai kota vertikal membuka kemungkinan memanfaatkan ruang udara melalui gedung-gedung tinggi, apartemen, dan pusat perbelanjaan modern. Namun, hal ini menuntut infrastruktur cerdas, transportasi efisien, dan perencanaan kota yang matang agar tidak menciptakan kepadatan vertikal yang sesak dan tak nyaman.

Soal menjaga kualitas

Hasil penelitian ITB dan BRIN menunjukkan permukaan tanah Kota Bandung rata-rata turun 8 cm per tahun, bahkan di beberapa titik bisa mencapai 23 cm. Namun angka ini tak berlaku secara linier. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Hasil penelitian ITB dan BRIN menunjukkan permukaan tanah Kota Bandung rata-rata turun 8 cm per tahun, bahkan di beberapa titik bisa mencapai 23 cm. Namun angka ini tak berlaku secara linier. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Pilihan antara horizontal atau vertikal bukan sekadar soal pembangunan fisik, tetapi juga soal menjaga kualitas hidup warga Bandung. Ruang terbuka hijau, akses transportasi, dan identitas budaya Bandung harus tetap menjadi pertimbangan utama.

Kenapa? Ini agar pertumbuhan kota tidak mengorbankan kenyamanan dan karakter kota. Dengan pendekatan yang tepat, Bandung dapat menjadi contoh bagaimana kota menyeimbangkan keterbatasan ruang dengan kebutuhan modern, tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Selain opsi horizontal dan vertikal, Bandung bisa menempuh solusi kreatif yang menggabungkan keduanya dengan pendekatan kekiwarian. Salah satunya adalah pengembangan ruang hijau vertikal, seperti taman atap, taman gantung, atau fasad hijau pada gedung-gedung tinggi.

Konsep ini tidak hanya memaksimalkan penggunaan lahan, tetapi juga membantu menjaga kualitas udara, mengurangi efek panas kota, dan memberi ruang publik bagi warga.

Di saat yang bersamaan, infrastruktur cerdas dan transportasi terintegrasi menjadi kunci. Bandung bisa mencontoh kota-kota dunia dengan sistem transportasi massal efisien -- kereta ringan, bus rapid transit, dan jalur sepeda yang terhubung -- agar mobilitas tetap lancar meski kepadatan meningkat.

Smart city dengan pemantauan lalu lintas, manajemen energi, dan pengelolaan sampah secara digital juga bisa menjaga kualitas hidup tanpa harus menambah lahan.

Selain itu, pendekatan mixed-use development juga patut dipertimbangkan. Misalnya, gedung yang menggabungkan hunian, perkantoran, dan fasilitas publik dalam satu area. Strategi ini bisa mengurangi kebutuhan perjalanan jauh, memadatkan aktivitas ekonomi di satu area, sekaligus membuka ruang untuk taman dan juga fasilitas sosial. 

Dengan perpaduan inovasi vertikal, hijau, dan teknologi, Bandung bisa tetap berkembang, tetapi tetap manusiawi, nyaman, dan berkelanjutan. Dengan demikian, menjadi sebuah kota modern yang menghargai ruang sekaligus menjaga identitasnya.

Dalam konteks ini, pengelola Kota Bandung memegang peran penting. Mereka dapat memanfaatkan lahan tidur dan area industri yang sudah tidak produktif sebagai ruang baru bagi hunian dan fasilitas publik. Alih fungsi lahan yang tepat bisa menambah kapasitas kota tanpa harus menembus wilayah alami atau perbukitan yang rentan terhadap longsor.

Strategi ini sekaligus mendorong regenerasi kawasan lama, sehingga kota tetap dinamis, manusiawi, dan berkelanjutan.

Teknologi dan data

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 4 Desember 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 4 Desember 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Pemanfaatan Teknologi dan data urban bisa turut menjadi penentu dalam perencanaan ruang kota.

Sistem pemetaan berbasis Geographic Information System (GIS), sensor lalu lintas, dan aplikasi mobile untuk warga memungkinkan pemerintah kota merencanakan pembangunan secara tepat sasaran, menekan kemacetan, dan menjaga distribusi layanan publik merata di seluruh kota.

Bandung juga bisa mencontoh model “superblok” ala kota-kota Asia Timur, di mana kawasan padat diatur secara vertikal, tetapi tetap memiliki ruang terbuka hijau, fasilitas olahraga, dan area publik di setiap tingkat. Dengan desain arsitektur yang cermat, kepadatan vertikal tidak harus mengorbankan kenyamanan atau interaksi sosial warga.

Sudah barang tentu, partisipasi aktif warga menjadi elemen penting. Perencanaan kota yang melibatkan komunitas lokal -- dari musyawarah RT/RW hingga forum daring --memastikan pembangunan vertikal atau horizontal tidak sekadar efisien, tetapi juga diterima dan dibutuhkan warga.

Kota bukan hanya soal gedung, tetapi tentang kehidupan manusia yang nyaman dan aman.

Selain itu, partisipasi warga juga membantu mengidentifikasi kebutuhan nyata yang mungkin luput dari perencanaan teknokratis. Misalnya, masyarakat bisa menunjukkan area yang sering tergenang air, jalur pejalan kaki yang rawan kecelakaan, atau kebutuhan ruang terbuka untuk kegiatan sosial.

Masukan semacam ini memungkinkan pengelola kota merancang infrastruktur yang lebih tepat guna, meningkatkan kualitas hidup, dan memperkuat rasa kepemilikan warga terhadap lingkungannya.

Memastikan filosofi kota

Salah satu dampak dari penurunan permukaan tanah adalah banjir seperti banjir cileuncang di Jalan Citarip Barat, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Rabu 28 Februari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Salah satu dampak dari penurunan permukaan tanah adalah banjir seperti banjir cileuncang di Jalan Citarip Barat, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Rabu 28 Februari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Bandung memang sedang di persimpangan jalan. Memilih perluasan horizontal atau vertikal bukan sekadar soal teknis, tetapi juga soal memastikan filosofi hidup kota ini. Pilihan yang diambil harus mencerminkan karakter Bandung, yakni kota kreatif, ramah lingkungan, dan manusiawi. Jadi, bukan sekadar mengejar kapasitas penduduk semata.

Setiap langkah pembangunan di Kota Bandung harus mempertimbangkan keseimbangan antara ruang, kualitas hidup, dan identitas kota. Gedung-gedung tinggi bisa memecahkan masalah kepadatan, tetapi tanpa tersedia taman, jalan ramah pejalan kaki, dan udara bersih, kota bakal kehilangan jiwanya.

Masa depan Bandung tentu saja ada di tangan perencana, pemerintah, dan segenap warganya. Dengan memanfaatkan inovasi, teknologi, serta partisipasi aktif masyarakat, kota Bandung bisa menjadi contoh bagaimana urbanisasi tidak harus mengorbankan ruang, kenyamanan, maupun karakter lokal. 

Di masa depan, Bandung bisa saja dibangun menjulang hingga menembus langit, tetapi mesti tetap berakar kuat pada budaya, sejarah, dan kebutuhan seluruh warganya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)