Sejarah Jaarbeurs, Cerita di Balik Kemeriahan Pameran Dagang Bandung Tempo Doeloe

3 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Suasana Gedung Jaarbeurs, salah satu pusat keramaian Bandung tempo doeloe (Sumber: Tropenmuseum)
Suasana Gedung Jaarbeurs, salah satu pusat keramaian Bandung tempo doeloe (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Di Jalan Aceh nomor 50, berdiri sebuah bangunan yang kini lebih sering disambangi karena resepsi pernikahan atau urusan dinas militer. Gedung Mohammad Toha, begitu nama resminya, masuk dalam wilayah Kodiklat TNI AD. Namun pada masa kolonial, tempat ini lebih harum namanya sebagai pusat keramaian terbesar di Bandung. Bukan karena parade militer, tapi karena pasar malam bernama Jaarbeurs—panggung tahunan tempat hiburan rakyat, dagang kolonial, dan sedikit politik etis berbaur jadi satu.

Jaarbeurs bukan pasar malam sembarangan. Ia bukan sekadar keriaan di tengah kota, tapi proyek ambisius pemerintah kota Bandung kala itu, Wali Kota B. Coops, bersama komunitas Bandoeng Vooruit untuk menampilkan wajah modern Hindia Belanda. Sejak 1920 hingga awal 1940-an, Jaarbeurs jadi etalase peradaban: dari bedak Semarang sampai bir Jawa, dari atraksi bianglala hingga pameran seni lukis. Semua tumpah ruah di tempat yang dulunya disebut Menado Straat.

“Jaarbeurs” sendiri berarti pameran tahunan dalam bahasa Belanda. Berdasarkan catatan dalam buku Album Bandoeng Tempo Doeloe karya Sudarsono Katam dan Lulus Abadi, acara ini digelar tiap tahun, memadukan pasar malam rakyat dengan pameran dagang ala Eropa. Tahun-tahun awalnya berlangsung di bangunan semi permanen, sebelum akhirnya pindah ke gedung megah hasil rancangan arsitek kawakan, C.P. Wolff Schoemaker dan adiknya R.L.A Schoemaker pada 1925.

Wolff Schoemaker dikenal sebagai arsitek penting di Hindia Belanda, dengan gaya khas Art Deco. Ia pula yang merancang Hotel Preanger dan Villa Isola. Di Jaarbeurs, gaya Art Deco ditampilkan lewat bentuk tegas dan tiga patung torso pria di bagian muka gedung—yang masih bisa dilihat sampai hari ini. Gedung ini kelak jadi panggung bagi banyak nama, termasuk seorang pemuda pelukis dari Indonesia: Basoeki Abdullah.

Stand-stand di Jaarbeurs berdiri megah, penuh ornamen dan warna. Beberapa merek yang hadir antara lain Java Bier, Madame Blanche Cream, Obat Mata, dan Bedak Violet Lam Hwa Semarang. Rakyat Eropa dan kaum elite pribumi datang untuk berbelanja, mencicipi makanan, atau sekadar menikmati gemerlap malam Bandung yang belum padam.

Baca Juga: Balap Becak Bandung Tahun 1970-an, Fast and Furious ala Raja Jalanan

Jaarbeurs bukan hanya pesta dagang. Ia adalah cerminan Bandung sebagai kota modern Hindia Belanda—progresif, industri, dan penuh atraksi. Tapi dari semua kegembiraan itu, satu cerita yang paling diingat orang adalah saat Basoeki Abdullah ikut memamerkan lukisannya.

Lukisan Gatotkaca Pembawa Berkah

Tahun 1933, pelukis muda bernama Basoeki Abdullah mendapat tempat di Jaarbeurs. Di masa ketika pasar seni rupa masih dikuasai seniman-seniman Belanda, tampil di panggung ini adalah lompatan besar. Ia bisa ikut pameran bukan karena koneksi politik, melainkan karena ketajaman kuas dan pesona karyanya. Kebetulan, arsitek Jaarbeurs, C.P. Wolff Schoemaker, adalah pengagum lukisan-lukisannya.

Dalam laman resmi Museum Basoeki Abdullah disebutkan, sebelum mengirim karya, Basoeki berkonsultasi dengan seorang tokoh spiritual yang disegani: Raden Mas Sosrokartono, kakak dari Raden Ajeng Kartini. Basoeki meminta pendapat lukisan mana yang layak ditampilkan. Sosrokartono memilih sebuah lukisan bertema wayang. “Bas, dengan lukisan ini kamu akan dapat berkah,” ujarnya, menunjuk lukisan Pertempuran Gatotkaca dan Antasena.

Basoeki menyadari satu hal: lukisan itu tidak hanya kuat secara visual, tapi juga eksotis di mata orang Eropa. Dua sosok pewayangan yang beradu sambaran halilintar dan semburan api, dalam nuansa dramatik khas Mahabharata versi Nusantara, menjadi kartu as di tengah dominasi lukisan pemandangan dan potret gaya Belanda.

Tebakan itu tak meleset. Lukisan Gatotkaca-Antasena miliknya jadi pusat perhatian pengunjung Jaarbeurs. Mereka tak hanya terpukau, tapi juga meninggalkan uang di bawah lukisan itu—sebuah bentuk apresiasi ala kolonial. Dan itu terjadi selama beberapa hari berturut-turut. Basoeki pun pulang tidak hanya dengan nama yang mulai harum, tapi juga dengan pundi-pundi uang.

Dari sinilah jalan ke Eropa terbuka. Tahun itu juga, Basoeki berangkat ke Belanda. Ia diterima di Koninklijke Academie Van Beeldenden Kunsten, Den Haag—akademi seni ternama. Dari pasar malam kolonial di Bandung, ia melangkah ke galeri-galeri di Eropa.

Baca Juga: Tangis Rindu dan Getirnya Kematian di Balik Lagu Hallo Bandoeng

Gedung Jaarbeurs kini memang tinggal warisan batu, dan tak banyak warga Bandung yang tahu sejarah pasar malam yang dulu mendunia. Tapi jejaknya masih ada: patung-patung pria di depan gedung, tulisan JAARBEURS yang belum dilucuti, dan kenangan akan tahun-tahun ketika Bandung jadi kota pameran dan panggung seni terbesar di Hindia Belanda.

Di sinilah, di bawah terang lampu pasar malam dan debur musik keroncong, seorang pelukis muda memulai langkah panjangnya menuju dunia seni global.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)