Sepenggal Cerita Kedai Nasi Kuning dan Bubur Aqeela

3 menit baca
Highcall Ziqrul Illahi
Ditulis oleh Highcall Ziqrul Illahi diterbitkan
Tampilan Depan Kedai Bubur Aqeela. (Sumber: Dokumentasi Foto Penulis | Foto: Highcall Ziqrul Illahi)
Tampilan Depan Kedai Bubur Aqeela. (Sumber: Dokumentasi Foto Penulis | Foto: Highcall Ziqrul Illahi)

Di tengah kenaikan harga yang membuat dompet menjerit, warung milik Ibu Titi dengan nama Kedai Bubur Aqeela hadir menjadi solusi konkret bagi perut lapar dengan anggaran terbatas. Sepuluh ribu rupiah sudah menjamin perut kenyang dan hati tenang, di sekitaran UIN Bandung.

Dengan sepuluh ribu rupiah, sudah mampu mendapatkan dan menyantap sepiring nasi kuning komplit dengan serundeng yang savory, tempe orek renyah, sambal yang pedasnya pas, bihun dan kerupuk yang menjadi pelengkap dan penyempurna sajian.

Bukan porsi sekadarnya, tetapi porsi yang benar-benar mengenyangkan. Tidak ada kaca besar, tidak ada dinding cat glossy, tidak ada menu di papan tulis dengan font artistik. Yang ada hanya meja plastik, bangku plastik, dan Ibu yang sudah berdiri di balik kompor sejak subuh.

Pagi-pagi sekali, ketika embun pagi masih bergelayut, syahdu nya pagi masih menghiasi dan jalanan masih belum ramai, Ibu sudah mulai menyalakan kompor.

Tangannya yang terlatih bergerak dengan ritme yang sama setiap hari: meramu bumbu, mengaduk santan, mengukus nasi yang sudah dibumbui kunyit. Tidak ada takaran tertulis, semuanya dari ingatan dan pengalaman 20 tahun mengawal dan merintis.

"Rahasia," kata Ibu Titi sambil tersenyum ketika ditanya resep.

Gesitnya Ibu Titi Melayani Konsumen (Sumber: Dokumentasi Foto Penulis | Foto: Highcall Ziqrul Illahi)
Gesitnya Ibu Titi Melayani Konsumen (Sumber: Dokumentasi Foto Penulis | Foto: Highcall Ziqrul Illahi)

"Banyak yang meminta, tetapi tidak boleh." Rahasia itu bukan untuk dijual, tetapi untuk dijaga—agar warung ini terus bisa melayani dengan rasa otentik dan harga yang terjangkau.

Warung ini buka sejak pukul enam pagi, tatkala banyak orang baru terbangun dan perut sudah mulai berbunyi dan tidak dapat lagi dikondisikan. Aroma kaldu bubur ayam dan nasi kuning yang baru matang menyambut dan menggoda mereka yang berangkat kerja dan berkuliah pagi memberikan semangat sebelum menghadapi hari yang panjang.

Hingga pukul lima sore, dapur tetap berasap, meski nasi kuning, menu paling laris, sering habis sebelum jam sebelas. "Nasi kuning yang paling cepat habis," ujarnya.

"Untuk harga tidak terlalu mahal, standar. Untuk anak-anak kampus bisa terjangkau," ucapnya.

Kalimat itu bukan sekadar promosi, tetapi manifesto sebuah warung yang memahami realitas ekonomi pelanggannya. Di sini, mahasiswa yang uang sakunya pas-pasan, pekerja harian yang menghitung setiap rupiah, hingga ibu rumah tangga yang ingin makan enak tanpa boros, semua menemukan tempat mereka. Nasi kuning Ibu bukan hanya soal rasa yang balance dan authentic—tidak ada satu komponen yang overpowering—tetapi juga soal aksesibilitas yang tulus.

Kelengkapan menu menjadi penyelamat bagi mereka yang terlambat. Lontong kari, nasi uduk, dan bubur ayam, semuanya masih tersedia dengan harga serupa. Fleksibilitas ini penting bagi pelanggan dengan kebutuhan berbeda, ada yang butuh sarapan cepat sebelum masuk kantor dan ada yang mencari makan siang mengenyangkan. Untuk yang ingin menambah kepadatan lauk di piring, tinggal tambah tiga ribu untuk telur dadar, atau sepuluh ribu lagi untuk ayam utuh yang memberikan kedalaman rasa umami maksimal.

Nasi Kuning yang Menggugah Selera Hadir Sebagai Solusi bagi Perut yang Berbunyi di Pagi Hari (Sumber: Dokumentasi Foto Penulis | Foto: Highcall Ziqrul Illahi)
Nasi Kuning yang Menggugah Selera Hadir Sebagai Solusi bagi Perut yang Berbunyi di Pagi Hari (Sumber: Dokumentasi Foto Penulis | Foto: Highcall Ziqrul Illahi)

Ia pun mengaku tidak pernah menghitung detail berapa porsi terjual per hari.

"Tidak menghitung," katanya sambil tersenyum.

Yang penting baginya sederhana, yaitu dapur tetap bisa melayani, pelanggan tetap datang, dan tidak ada yang pergi dengan perut kosong karena tidak mampu membayar.

Layanan tumpeng custom menjadi sumber penghasilan tambahan yang membantu kedai tetap resist. Dari yang simbolis tiga ratus ribu rupiah untuk acara kecil hingga pesanan jutaan untuk hajatan besar, ibu melayani dengan dedikasi yang sama. Bahkan tumpeng termurah tetap dilengkapi daging, menunjukkan komitmen bahwa harga murah bukan berarti mengecewakan

Warung sederhana ini adalah bukti bahwa bisnis kuliner tidak harus mewah untuk bermakna. Ketika banyak tempat makan yang berlomba menaikkan harga dengan dalih kualitas premium, Ibu Titi memilih jalan berbeda, yakni dengan mempertahankan harga terjangkau sambil tetap menjaga rasa yang honest atau otentik.

Bagi kamu pekerja atau mahasiswa di sekitaran UIN Bandung, sempatkan untuk mampir d isini, tempat ini bukan sekadar tempat makan—tetapi jaminan bahwa dengan sepuluh ribu rupiah, masih bisa makan enak dan kenyang. Di masa yang tidak menentu ini, jaminan sekecil itu ternyata berarti sangat besar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Highcall Ziqrul Illahi
Pengamat dan Penggiat Komunikasi | Aktivis Sosial

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)