Sepenggal Cerita Kedai Nasi Kuning dan Bubur Aqeela

Highcall Ziqrul Illahi
Ditulis oleh Highcall Ziqrul Illahi diterbitkan Minggu 23 Nov 2025, 17:27 WIB
Tampilan Depan Kedai Bubur Aqeela. (Sumber: Dokumentasi Foto Penulis | Foto: Highcall Ziqrul Illahi)

Tampilan Depan Kedai Bubur Aqeela. (Sumber: Dokumentasi Foto Penulis | Foto: Highcall Ziqrul Illahi)

Di tengah kenaikan harga yang membuat dompet menjerit, warung milik Ibu Titi dengan nama Kedai Bubur Aqeela hadir menjadi solusi konkret bagi perut lapar dengan anggaran terbatas. Sepuluh ribu rupiah sudah menjamin perut kenyang dan hati tenang, di sekitaran UIN Bandung.

Dengan sepuluh ribu rupiah, sudah mampu mendapatkan dan menyantap sepiring nasi kuning komplit dengan serundeng yang savory, tempe orek renyah, sambal yang pedasnya pas, bihun dan kerupuk yang menjadi pelengkap dan penyempurna sajian.

Bukan porsi sekadarnya, tetapi porsi yang benar-benar mengenyangkan. Tidak ada kaca besar, tidak ada dinding cat glossy, tidak ada menu di papan tulis dengan font artistik. Yang ada hanya meja plastik, bangku plastik, dan Ibu yang sudah berdiri di balik kompor sejak subuh.

Pagi-pagi sekali, ketika embun pagi masih bergelayut, syahdu nya pagi masih menghiasi dan jalanan masih belum ramai, Ibu sudah mulai menyalakan kompor.

Tangannya yang terlatih bergerak dengan ritme yang sama setiap hari: meramu bumbu, mengaduk santan, mengukus nasi yang sudah dibumbui kunyit. Tidak ada takaran tertulis, semuanya dari ingatan dan pengalaman 20 tahun mengawal dan merintis.

"Rahasia," kata Ibu Titi sambil tersenyum ketika ditanya resep.

Gesitnya Ibu Titi Melayani Konsumen (Sumber: Dokumentasi Foto Penulis | Foto: Highcall Ziqrul Illahi)
Gesitnya Ibu Titi Melayani Konsumen (Sumber: Dokumentasi Foto Penulis | Foto: Highcall Ziqrul Illahi)

"Banyak yang meminta, tetapi tidak boleh." Rahasia itu bukan untuk dijual, tetapi untuk dijaga—agar warung ini terus bisa melayani dengan rasa otentik dan harga yang terjangkau.

Warung ini buka sejak pukul enam pagi, tatkala banyak orang baru terbangun dan perut sudah mulai berbunyi dan tidak dapat lagi dikondisikan. Aroma kaldu bubur ayam dan nasi kuning yang baru matang menyambut dan menggoda mereka yang berangkat kerja dan berkuliah pagi memberikan semangat sebelum menghadapi hari yang panjang.

Hingga pukul lima sore, dapur tetap berasap, meski nasi kuning, menu paling laris, sering habis sebelum jam sebelas. "Nasi kuning yang paling cepat habis," ujarnya.

"Untuk harga tidak terlalu mahal, standar. Untuk anak-anak kampus bisa terjangkau," ucapnya.

Kalimat itu bukan sekadar promosi, tetapi manifesto sebuah warung yang memahami realitas ekonomi pelanggannya. Di sini, mahasiswa yang uang sakunya pas-pasan, pekerja harian yang menghitung setiap rupiah, hingga ibu rumah tangga yang ingin makan enak tanpa boros, semua menemukan tempat mereka. Nasi kuning Ibu bukan hanya soal rasa yang balance dan authentic—tidak ada satu komponen yang overpowering—tetapi juga soal aksesibilitas yang tulus.

Kelengkapan menu menjadi penyelamat bagi mereka yang terlambat. Lontong kari, nasi uduk, dan bubur ayam, semuanya masih tersedia dengan harga serupa. Fleksibilitas ini penting bagi pelanggan dengan kebutuhan berbeda, ada yang butuh sarapan cepat sebelum masuk kantor dan ada yang mencari makan siang mengenyangkan. Untuk yang ingin menambah kepadatan lauk di piring, tinggal tambah tiga ribu untuk telur dadar, atau sepuluh ribu lagi untuk ayam utuh yang memberikan kedalaman rasa umami maksimal.

Nasi Kuning yang Menggugah Selera Hadir Sebagai Solusi bagi Perut yang Berbunyi di Pagi Hari (Sumber: Dokumentasi Foto Penulis | Foto: Highcall Ziqrul Illahi)
Nasi Kuning yang Menggugah Selera Hadir Sebagai Solusi bagi Perut yang Berbunyi di Pagi Hari (Sumber: Dokumentasi Foto Penulis | Foto: Highcall Ziqrul Illahi)

Ia pun mengaku tidak pernah menghitung detail berapa porsi terjual per hari.

"Tidak menghitung," katanya sambil tersenyum.

Yang penting baginya sederhana, yaitu dapur tetap bisa melayani, pelanggan tetap datang, dan tidak ada yang pergi dengan perut kosong karena tidak mampu membayar.

Layanan tumpeng custom menjadi sumber penghasilan tambahan yang membantu kedai tetap resist. Dari yang simbolis tiga ratus ribu rupiah untuk acara kecil hingga pesanan jutaan untuk hajatan besar, ibu melayani dengan dedikasi yang sama. Bahkan tumpeng termurah tetap dilengkapi daging, menunjukkan komitmen bahwa harga murah bukan berarti mengecewakan

Warung sederhana ini adalah bukti bahwa bisnis kuliner tidak harus mewah untuk bermakna. Ketika banyak tempat makan yang berlomba menaikkan harga dengan dalih kualitas premium, Ibu Titi memilih jalan berbeda, yakni dengan mempertahankan harga terjangkau sambil tetap menjaga rasa yang honest atau otentik.

Bagi kamu pekerja atau mahasiswa di sekitaran UIN Bandung, sempatkan untuk mampir d isini, tempat ini bukan sekadar tempat makan—tetapi jaminan bahwa dengan sepuluh ribu rupiah, masih bisa makan enak dan kenyang. Di masa yang tidak menentu ini, jaminan sekecil itu ternyata berarti sangat besar. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Highcall Ziqrul Illahi
Pengamat dan Penggiat Komunikasi | Aktivis Sosial
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Beranda 13 Des 2025, 20:36 WIB

Arif Budianto dari Ayobandung.id Raih Juara 1 Nasional AJP 2025, Bukti Kualitas Jurnalisme Lokal

Arif Budianto, jurnalis dari Ayobandung.id, tampil gemilang dengan meraih Juara 1 Nasional Kategori Tulis Bisnis sekaligus Juara 1 Regional Jawa Bagian Barat dalam AJP 2025.
Arif Budianto, jurnalis dari Ayobandung.id, tampil gemilang dengan meraih Juara 1 Nasional Kategori Tulis Bisnis sekaligus Juara 1 Regional Jawa Bagian Barat dalam AJP 2025. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 13 Des 2025, 17:34 WIB

Jawa Barat Siapkan Distribusi BBM dan LPG Hadapi Lonjakan Libur Nataru

Mobilitas tinggi, arus mudik, serta destinasi wisata yang ramai menjadi faktor utama meningkatnya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Ilustrasi. Mobilitas tinggi, arus mudik, serta destinasi wisata yang ramai menjadi faktor utama meningkatnya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 13 Des 2025, 14:22 WIB

Di Balik Gemerlap Belanja Akhir Tahun, Seberapa Siap Mall Bandung Hadapi Bencana?

Lonjakan pengunjung di akhir tahun membuat mall menjadi ruang publik yang paling rentan, baik terhadap kebakaran, kepadatan, maupun risiko teknis lainnya.
Lonjakan pengunjung di akhir tahun membuat mall menjadi ruang publik yang paling rentan, baik terhadap kebakaran, kepadatan, maupun risiko teknis lainnya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 21:18 WIB

Menjaga Martabat Kebudayaan di Tengah Krisis Moral

Kebudayaan Bandung harus kembali menjadi ruang etika publik--bukan pelengkap seremonial kekuasaan.
Kegiatan rampak gitar akustik Revolution Is..di Taman Cikapayang
Ayo Netizen 12 Des 2025, 19:31 WIB

Krisis Tempat Parkir di Kota Bandung Memicu Maraknya Parkir Liar

Krisis parkir Kota Bandung makin parah, banyak kendaraan parkir liar hingga sebabkan macet.
Rambu dilarang parkir jelas terpampang, tapi kendaraan masih berhenti seenaknya. Parkir liar bukan hanya melanggar aturan, tapi merampas hak pengguna jalan, Rabu (3/12/25) Alun-Alun Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ishanna Nagi)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 19:20 WIB

Gelaran Pasar Kreatif Jawa Barat dan Tantangan Layanan Publik Kota Bandung

Pasar Kreatif Jawa Barat menjadi pengingat bahwa Bandung memiliki potensi luar biasa, namun masih membutuhkan peningkatan kualitas layanan publik.
Sejumlah pengunjung memadati area Pasar Kreatif Jawa Barat di Jalan Pahlawan No.70 Kota Bandung, Rabu (03/12/2025). (Foto: Rangga Dwi Rizky)
Ayo Jelajah 12 Des 2025, 19:08 WIB

Hikayat Paseh Bandung, Jejak Priangan Lama yang Diam-diam Punya Sejarah Panjang

Sejarah Paseh sejak masa kolonial, desa-desa tua, catatan wisata kolonial, hingga transformasinya menjadi kawasan industri tekstil.
Desa Drawati di Kecamatan Paseh. (Sumber: YouTube Desa Drawati)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 18:57 WIB

Kota untuk Siapa: Gemerlap Bandung dan Sunyi Warga Tanpa Rumah

Bandung sibuk mempercantik wajah kota, tapi lupa menata nasib warganya yang tidur di trotoar.
Seorang tunawisma menyusuri lorong Pasar pada malam hari (29/10/25) dengan memanggul karung besar di Jln. ABC, Braga, Sumur Bandung, Kota Bandung. (Foto: Rajwaa Munggarana)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 17:53 WIB

Hubungan Diam-Diam antara Matematika dan Menulis

Penjelasan akan matematika dan penulisan memiliki hubungan yang menarik.
Matematika pun memerlukan penulisan sebagai jawaban formal di perkuliahan. (Sumber: Dok. Penulis | Foto: Caroline Jessie Winata)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 16:44 WIB

Banjir Orderan Cucian Tarif Murah, Omzet Tembus Jutaan Sehari

Laundrypedia di Kampung Sukabirus, Kabupaten Bandung, tumbuh cepat dengan layanan antar-jemput tepat waktu dan omzet harian lebih dari Rp3 juta.
Laundrypedia hadir diperumahan padat menjadi andalan mahasiswa, di kampung Sukabirus, Kabupaten Bandung, Kamis 06 November 2025. (Sumber: Fadya Rahma Syifa | Foto: Fadya Rahma Syifa)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 16:29 WIB

Kedai Kekinian yang Menjadi Tempat Favorit Anak Sekolah dan Mahasiswa Telkom University

MirukiWay, UMKM kuliner Bandung sejak 2019, tumbuh lewat inovasi dan kedekatan dengan konsumen muda.
Suasana depan toko MirukiWay di Jl. Sukapura No.14 Desa Sukapura, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Selasa, (28/10/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nasywa Hanifah Alya' Al-Muchlisin)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 15:53 WIB

Bandung Kehilangan Arah Kepemimpinan yang Progresif

Bandung kehilangan kepemimpinan yang progresif yang dapat mengarahkan dan secara bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang kompleks.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau lokasi banjir di kawasan Rancanumpang. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 15:31 WIB

Tren Olahraga Padel Memicu Pembangunan Cepat Tanpa Menperhitungkan Aspek Keselamatan Jangka Panjang?

Fenomena maraknya pembangunan lapangan padel yang tumbuh dengan cepat di berbagai kota khususnya Bandung.
Olahraga padel muncul sebagai magnet baru yang menjanjikan, bukan hanya bagi penggiat olahraga, tapi juga bagi pelaku bisnis dan investor. (Sumber: The Grand Central Court)
Beranda 12 Des 2025, 13:56 WIB

Tekanan Biological Clock dan Ancaman Sosial bagi Generasi Mendatang

Istilah biological clock ini digunakan untuk menggambarkan tekanan waktu yang dialami individu, berkaitan dengan usia dan kemampuan biologis tubuh.
Perempuan seringkali dituntut untuk mengambil keputusan berdasarkan pada tekanan sosial yang ada di masyarakat. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Jones)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 13:39 WIB

Jalan Kota yang Redup, Area Gelap Bandung Dibiarkan sampai Kapan?

Gelapnya beberapa jalan di Kota Bandung kembali menjadi perhatian pengendara yang berkendara di malam hari.
Kurangnya Pencahayaan di Jalan Terusan Buah Batu, Kota Bandung, pada Senin, 1 Desember 2025 (Sumber: Dok. Penulis| Foto: Zaki)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 12:56 WIB

Kegiatan Literasi Kok Bisa Jadi Petualangan, Apa yang Terjadi?

Kegiatan literasi berubah menjadi petualangan tak terduga, mulai dari seminar di Perpusda hingga jelajah museum.
Kegiatan literasi berubah menjadi petualangan tak terduga, mulai dari seminar di Perpusda hingga jelajah museum. (Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 10:28 WIB

Bandung Punya Banyak Panti Asuhan, Mulailah Berbagi dari yang Terdekat

Bandung memiliki banyak panti asuhan yang dapat menjadi ruang berbagi bagi warga.
Bandung memiliki banyak panti asuhan yang dapat menjadi ruang berbagi bagi warga. (Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 09:20 WIB

Menikmati Bandung Malam Bersama Rib-Eye Meltique di Justus Steakhouse

Seporsi Rib-Eye Meltique di Justus Steakhouse Bandung menghadirkan kehangatan, aroma, dan rasa yang merayakan Bandung.
Ribeye Meltique, salah satu menu favorit di Justus Steakhouse. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Seli Siti Amaliah Putri)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 09:12 WIB

Seboeah Tjinta: Surga Coquette di Bandung

Jelajahi Seboeah Tjinta, kafe hidden gem di Cihapit yang viral karena estetika coquette yang manis, spot instagramable hingga dessert yang comforting.
Suasana Seboeah Tjinta Cafe yang identik dengan gaya coquette yang manis. (Foto: Nabella Putri Sanrissa)
Ayo Jelajah 12 Des 2025, 07:14 WIB

Hikayat Situ Cileunca, Danau Buatan yang Bikin Wisatawan Eropa Terpesona

Kisah Situ Cileunca, danau buatan yang dibangun Belanda pada 1920-an, berperan penting bagi PLTA, dan kini menjadi ikon wisata Pangalengan.
Potret zaman baheula Situ Cileunca, Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: KITLV)