Pada sore hari yang cerah, suasana di sebuah kedai kecil penuh aktivitas di kawasan kampus menjadi saksi lahirnya inovasi kuliner yang menyatukan cita rasa modern dengan kekayaan tradisi Sunda. Kedai kecil tapi nan hangat yang menyediakan berbagai varian rasa risol ini terletak di Jl. Telekomunikasi No.2b, Sukapura, Kec. Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (5/11/2025).
Fadlan Akbar Syabana, Owner Mourisol, menjelaskan bahwa ciri khas utama bisnisnya terletak pada dua aspek: varian rasa yang inovatif dan ukuran produk yang lebih besar dari rissol biasa.
"Rissol itu makanan lama, yang kami adaptasi adalah varian rasanya dengan mengikuti update tren terbaru, seperti mozzarella, mentai, dan carbonara. Kami implementasikan ke makanan yang bersifat tradisional," ungkapnya.
Walaupun ada varian rasa modern, cemilan ringan ini tetap mempertahankan menu tradisional seperti seblak yang khas Bandung. Fadlan menambahkan, bahwa Seblak ini mereka gunakan untuk memperkenalkan makanan tradisional kepada mahasiswa terutama yang berasal dari luar Bandung.
Pengembangan usaha Mourisol tidak hanya menitikberatkan pada penjualan tapi juga edukasi budaya Sunda kepada generasi muda.
"Seblak mempresentasikan budaya Sunda, dan bisnis kami ingin menjadi medium pelestarian budaya ini di era modern," ucap Fadlan.
Fadlan sempat menerima tawaran franchise dan bahkan ada yang ingin membeli brand Mourisol, tapi ia memilih untuk tumbuh secara organik demi mempertahankan kualitas. "Kami tolak franchise ke Jakarta karena modal terbatas dan ingin menjaga nilai keluarga," jelas dia.
Ukuran rissol Mourisol sengaja dibuat lebih besar dengan tujuan sebagai pengganti makan berat, bukan hanya camilan ringan. Mereka bikin big size supaya bisa menggantikan nasi atau lauk pauk sebagai makanan utama. Bisnis ini bermula dari bazar Ramadhan di area perumahan yang menargetkan warga lokal, lalu berkembang dengan analisis pasar yang matang. Sang owner menyebutkan, dia mengincar mahasiswa kampus swasta dengan power buying menengah keatas, khususnya yang mengikuti tren media sosial seperti TikTok.

Visi jangka panjang mourisol adalah membuka cabang dengan gerobak kaki lima di lokasi strategis menggunakan modal kecil namun hasil maksimal. Fadlan merinci. Dengan modal sekitar 20 juta, Fadlan bisa membuat 5 gerobak custom yang sangat menguntungkan dibanding untuk membuka ruko. Saat ini, Mourisol sedang merencanakan relokasi karena persoalan kontrak sewa, tapi bisnis tetap berjalan dengan sistem supplier yang sudah berjalan lancar. Hal ini menjaga momentum usaha serta memberikan fleksibilitas dalam operasional.
Nama Mourisol memiliki filosofi khusus yang diberikan oleh ayah Fadlan, yang bermakna 'mau risol' atau keinginan pembeli untuk rissol. Fadlan mengatakan, bahwa brand ini Adalah doa agar konsumen selalu ingin membeli rissol setiap saat.
Hal ini sejalan dengan brand lain bernama ‘Sambal Ledis’ yang juga bermakna doa, karena ledis dalam bahasa Jawa berarti habis. Filosofi ini mengharapkan produk cepat habis terjual dan diterima konsumen dengan baik.
Strategi yang fokus pada segmentasi pasar yang tepat, kualitas produk yang konsisten, dan meaning yang kuat di balik setiap keputusan bisnis membuktikan bahwa bisnis lokal bisa berkembang tanpa mengorbankan identitas budaya. Fadlan menegaskan bahwa meskipun produk mourisol modern dan mengikuti tren, semangat untuk mempertahankan dan mempromosikan budaya Sunda tetap menjadi inti dari setiap langkah bisnisnya. (*)
