Malam itu menghadirkan suasana yang syahdu. Lampu-lampu temaram memantul di dinding bata merah, sementara bunyi lembut air mancur mengiringi percakapan santai para pengunjung. Dari meja ke meja, aroma kopi dan rempah berpadu dengan tawa kecil, menciptakan harmoni yang hangat di kafe bernuansa klasik di kawasan Jl. Pasir Kaliki No. 176, Pasir Kaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung (01/11/2025).
Tren café hopping kegiatan berpindah dari satu kafe ke kafe lain untuk menikmati suasana, estetika, dan pengalaman berbeda kini bukan sekadar gaya hidup, melainkan cara anak muda merawat diri di tengah rutinitas yang padat. Bagi banyak remaja, kafe bukan hanya tempat nongkrong, tetapi menjadi ruang untuk berhenti sejenak, mencari inspirasi, dan menikmati keheningan yang sederhana melalui suasana temaram dan musik lembut yang menenangkan.
Di balik tren tersebut, muncul kelompok anak muda yang gemar menjelajahi sudut kota untuk menemukan kafe dengan suasana personal mereka menyebut diri sebagai hidden gem hunters. Mereka menelusuri gang-gang kecil, bangunan lama, hingga rooftop tersembunyi demi menemukan tempat yang memberi rasa “temuan pribadi,” hangat, tenang, dan jauh dari hiruk-pikuk.
Salah satunya adalah Aulia, mahasiswi yang hampir setiap akhir pekan berburu kafe baru demi suasana yang berbeda.
“Kadang bukan kopinya yang dicari, tapi suasananya,” ujarnya.
Baginya, kafe kecil yang belum viral memberikan ruang tenang di mana ia bisa merasakan waktu berjalan lebih lambat.
Di sisi lain, Reifansyah melihat café hopping sebagai cara mengenal karakter Bandung dari sudut yang lebih intim.
“Setiap kafe punya cerita,” ungkap dia.
Dari tempat homey hingga modern yang ramai, semuanya memberikan warna berbeda yang membuat kota ini terasa terus hidup.
Pertanyaan pun muncul: apakah gaya hidup ini boros? Aulia mengakui bahwa bisa saja terasa berat jika dilakukan tanpa batasan. Namun, ia menyesuaikannya dengan memilih menu sederhana dan tidak terlalu sering berpindah kafe. Reifansyah juga punya strategi, seperti mengajak teman untuk berbagi biaya atau memilih kafe yang lebih terjangkau bagi mahasiswa.
Bagi mereka, kuncinya berada pada keseimbangan. Selama dilakukan secukupnya, café hopping justru menjadi bentuk self-care ruang kecil untuk memulihkan energi, mengurangi stres, dan menikmati Bandung dari sisi yang lebih lembut.
“Yang penting dijalanin sesuai kemampuan, nggak harus ikut tren terus,” ujar Reifansyah, menjadi kutipan ketiga sekaligus terakhir dalam artikel ini.
Pada akhirnya, dari meja marmer hangat hingga percakapan santai di tengah malam Bandung, mereka menemukan kebahagiaan kecil yang autentik: menikmati waktu, tempat, dan kebersamaan yang apa adanya. Sebuah perjalanan sederhana, namun cukup untuk membuat hari terasa lebih hidup. (*)
