Sound Horeg dan Latah Pengeras Suara di Negara Kita

3 menit baca
Reska Okta Nur Saputra
Ditulis oleh Reska Okta Nur Saputra diterbitkan
Pengeras Suara. (Sumber: Pexels | Foto: Thắng-Nhật Trần)
Pengeras Suara. (Sumber: Pexels | Foto: Thắng-Nhật Trần)

Tidak dapat dipungkiri kita memiliki kekayaan suku, budaya hingga agama yang beragam baik yang diakui secara resmi oleh pemerintah maupun yang masih memperjuangkan pengakuanya hingga saat ini. Keberagaman tersebut tercermin melalui hiburan serta praktik-praktik keberagamaan.

Dalam melaksanakan praktik hiburan sampai kepada praktik keagamaan, nampaknya masyarakat Indonesia tidak lepas dari penggunaan pengeras suara. Dipanggung-panggung politik, dihajatan perkawinan, khitanan bahkan sampai kepada hiburan seperti sound horeg.

Beberapa tahun lalu, jagat internet dihebohkan dengan kemunculan sebuah trend khusunya di pulau jawa yang bernama sound horeg. Sound horeg sendiri merupakan sebuah fenomena yang menjamur dikalangan masyarakat dengan menggunakan pengeras suara dengan volume yang cukup tinggi hingga bahkan dapat menghasilkan getaran di area sekitarnya.

Sound horeg seringkali digunakan untuk berbagai acara sebagai sumber utama hiburan. Dengan menggunakan sound system berukuran besar bahkan terkadang melebihi kapasitas kendaraan yang mengangkutnya, tak jarang justru pelaku dari pengiat hiburan ini rela membongkar bangunan demi kelancaran konvoi atau arak-arakan dari sound horeg tersebut.

Selain kerugian materil yang tak jarang hadir karena ukuran yang cukup besar. Volume tinggi yang dihasilakan juga tak jarang merugikan secara materil dan non materil. Getaran yang dihasilkan karena terlampau tingginya volume juga kadang dapat merusak dinding dan kaca jendela rumah. Selain itu, tingkat suara yang dapat dihasilan sound horeg mencapai 120-135 desibel (db) sedangkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa batas aman paparan suara ada di angka 85 (dB) paparan diatas 100 dB dianggap sebagai suara yang sangat keras dan membahayakan. Paparan keras tersebut dapat menyebabkan keruskan sel-sel telingga bagian dalam serta dapat memicu stress.

Bagaimana dengan Rumah Ibadah?

Pengeras Suara. (Sumber: Pexels | Foto: Jens Mahnke)
Pengeras Suara. (Sumber: Pexels | Foto: Jens Mahnke)

Selain penggunaan sound system dengan volume kencang pada komunitas hiburan seperti sound horeg, tak jarang rumah ibadah ikut menyumbang polusi suara dengan terkadang juga tidak menggenal waktu untuk. Mungkin lumrah jika volume-nya dibatasi, tapi ada juga yang menggunakan penegeras suara dengan volume sangat tinggi.

Hal ini sebenarnya telah diregulasi oleh kementrian agama melalui surat edaran No. 05 tahun 2022, namun banyak orang yang mempelintir edaran tersebut sebagai sebuah siasat untuk melemahkan keagamaan atau bahkan larangan untuk menggunakan pengeras suara.

Dalam edaran tersebut, dijelaskan bagaimana tata cara penggunaan pengeras suara dengan tujuan untuk kenyamanan bersama. Mulai dari aturan volume tidak lebih dari 100 dB hingga penggunaan pengeras suara luar bagi kumandang azan dan pembacaan shalawat/tahrim hanya maksimal 10 menit sedangkan penggunaan pengeras suara dalam lebih banyak disarankan.

Baca Juga: Wajah Bandung Hari Ini, Murung si Hujan Lebat Lagi

Penggunaan pengeras suara dalam masyarakat kita memang sudah menjadi suatu hal yang melekat dalam kehidupan. Pengeras suara telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakat kita yang senang berkumpul dan mengadakan acara mulai dari ranah yang paling mikro seperti rapat RT, pernikahan, acara keagamaan hingga acara-acara besar seperti kampanye politik dan festival. Namun, penggunaan pengeras suara selayaknya memang perlu diregulasi agar tidak merugikan banyak pihak dan juga generasi penerus kita.

Sebagai bangsa yang beragam kita harus mulai menyadari bahwa kita hidup berdampingan dengan banyak keyakinan lain atau bahkan jangan terlalu ambil contoh terlalu mendasar seperti keyakinan. Penggunaan pengeras suara dengan volume keras saat hari libur juga cukup menganggu bagi sebagian orang mengharapkan istirahat setelah sepekan bekerja apalagi menyangkut toleransi beragama.

Baca Juga: TKA: Instrumen Strategis Menuju Layanan Pendidikan yang Bermutu dan Merata

Selain persoalan potensi kerusakan bangunan, penerunan kualitas pendengaran dan mental. Penggunaan pengeras suara yang terlalu nyaring juga dapat menjadi suatu yang disebut sebagai polusi suara. Kita sudah cukup aware dengan berbagai polusi seperti polusi udara, polusi air dan polusi tanah, namun ada satu polusi yang kadang lupu dari perhatian yakni polusi suara padahal dampak yang dihasilkan tak kalah mengerikan daripada polusi-polusi lain.

Polusi udara juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran, gangguan tidur, menganggu ekosistem alam hingga gangguan hormon. Padahal, menjaga lingkungan hidup kita jauh lebih penting daripada kesenangan kita sesaat bahkan dalam dokrin keagamaan, saling menghormati seluruh makhluk (bukan hanya manusia) adalah salah satu misi utama.

Referensi:

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Reska Okta Nur Saputra
Suka Ayam Geprek

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 15:59

Curug Panetean Tasikmalaya, Surga Tersembunyi dengan Leuwi Jernih

Temukan pesona Curug Panetean yang terkenal dengan kolam batu alami, air sejernih kaca, dan pengalaman berendam di tengah alam.

Curug Panetean Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @r_dony26)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 15:27

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (bagian 1)

Hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung.

Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 14:43

Pabrik Boleh Berpindah, tetapi Kehidupan Buruh Tidak Semudah Itu Dipindahkan

Kala terjadi PHK, opsi untuk beralih profesi tidak selalu terbuka luas. Ini membuat ketergantungan pada industri garmen semakin kuat, sekaligus mempersempit ruang negosiasi buruh.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Agu 2026, 11:40

Jelajah Cigondewah, Pusat Perdagangan Kain Kerakyatan di Bandung

Cigondewah menjadi pusat kain di Bandung sejak 1980-an. Ketahui sejarah, daya tarik, dan perkembangan bisnis tekstilnya.

Cigondewah Bandung, pusat belanja kain eceran hingga grosir yang legendaris. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 11:26

Mahalnya Ongkos Kemerdekaan

Negeri kita memiliki sejarah yang wajib diproklamirkan tidak hanya di bulan kemerdekaan. Sejatinya mesti dijaga dan dirawat dengan sangat baik di pikiran bukan sekadar di buku pelajaran.

Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 08:33

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 2): Kesegaran Tradisi dan Kekayaan Cita Rasa

Berikut adalah 5 hidangan berikutnya dari daftar 10 kuliner Jawa Barat terbaik versi Taste Atlas.

Karedok (salad sunda) di Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)