Sound Horeg dan Latah Pengeras Suara di Negara Kita

Reska Okta Nur Saputra
Ditulis oleh Reska Okta Nur Saputra diterbitkan Rabu 21 Jan 2026, 14:40 WIB
Pengeras Suara. (Sumber: Pexels | Foto: Thắng-Nhật Trần)

Pengeras Suara. (Sumber: Pexels | Foto: Thắng-Nhật Trần)

Tidak dapat dipungkiri kita memiliki kekayaan suku, budaya hingga agama yang beragam baik yang diakui secara resmi oleh pemerintah maupun yang masih memperjuangkan pengakuanya hingga saat ini. Keberagaman tersebut tercermin melalui hiburan serta praktik-praktik keberagamaan.

Dalam melaksanakan praktik hiburan sampai kepada praktik keagamaan, nampaknya masyarakat Indonesia tidak lepas dari penggunaan pengeras suara. Dipanggung-panggung politik, dihajatan perkawinan, khitanan bahkan sampai kepada hiburan seperti sound horeg.

Beberapa tahun lalu, jagat internet dihebohkan dengan kemunculan sebuah trend khusunya di pulau jawa yang bernama sound horeg. Sound horeg sendiri merupakan sebuah fenomena yang menjamur dikalangan masyarakat dengan menggunakan pengeras suara dengan volume yang cukup tinggi hingga bahkan dapat menghasilkan getaran di area sekitarnya.

Sound horeg seringkali digunakan untuk berbagai acara sebagai sumber utama hiburan. Dengan menggunakan sound system berukuran besar bahkan terkadang melebihi kapasitas kendaraan yang mengangkutnya, tak jarang justru pelaku dari pengiat hiburan ini rela membongkar bangunan demi kelancaran konvoi atau arak-arakan dari sound horeg tersebut.

Selain kerugian materil yang tak jarang hadir karena ukuran yang cukup besar. Volume tinggi yang dihasilakan juga tak jarang merugikan secara materil dan non materil. Getaran yang dihasilkan karena terlampau tingginya volume juga kadang dapat merusak dinding dan kaca jendela rumah. Selain itu, tingkat suara yang dapat dihasilan sound horeg mencapai 120-135 desibel (db) sedangkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa batas aman paparan suara ada di angka 85 (dB) paparan diatas 100 dB dianggap sebagai suara yang sangat keras dan membahayakan. Paparan keras tersebut dapat menyebabkan keruskan sel-sel telingga bagian dalam serta dapat memicu stress.

Bagaimana dengan Rumah Ibadah?

Pengeras Suara. (Sumber: Pexels | Foto: Jens Mahnke)
Pengeras Suara. (Sumber: Pexels | Foto: Jens Mahnke)

Selain penggunaan sound system dengan volume kencang pada komunitas hiburan seperti sound horeg, tak jarang rumah ibadah ikut menyumbang polusi suara dengan terkadang juga tidak menggenal waktu untuk. Mungkin lumrah jika volume-nya dibatasi, tapi ada juga yang menggunakan penegeras suara dengan volume sangat tinggi.

Hal ini sebenarnya telah diregulasi oleh kementrian agama melalui surat edaran No. 05 tahun 2022, namun banyak orang yang mempelintir edaran tersebut sebagai sebuah siasat untuk melemahkan keagamaan atau bahkan larangan untuk menggunakan pengeras suara.

Dalam edaran tersebut, dijelaskan bagaimana tata cara penggunaan pengeras suara dengan tujuan untuk kenyamanan bersama. Mulai dari aturan volume tidak lebih dari 100 dB hingga penggunaan pengeras suara luar bagi kumandang azan dan pembacaan shalawat/tahrim hanya maksimal 10 menit sedangkan penggunaan pengeras suara dalam lebih banyak disarankan.

Baca Juga: Wajah Bandung Hari Ini, Murung si Hujan Lebat Lagi

Penggunaan pengeras suara dalam masyarakat kita memang sudah menjadi suatu hal yang melekat dalam kehidupan. Pengeras suara telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakat kita yang senang berkumpul dan mengadakan acara mulai dari ranah yang paling mikro seperti rapat RT, pernikahan, acara keagamaan hingga acara-acara besar seperti kampanye politik dan festival. Namun, penggunaan pengeras suara selayaknya memang perlu diregulasi agar tidak merugikan banyak pihak dan juga generasi penerus kita.

Sebagai bangsa yang beragam kita harus mulai menyadari bahwa kita hidup berdampingan dengan banyak keyakinan lain atau bahkan jangan terlalu ambil contoh terlalu mendasar seperti keyakinan. Penggunaan pengeras suara dengan volume keras saat hari libur juga cukup menganggu bagi sebagian orang mengharapkan istirahat setelah sepekan bekerja apalagi menyangkut toleransi beragama.

Baca Juga: TKA: Instrumen Strategis Menuju Layanan Pendidikan yang Bermutu dan Merata

Selain persoalan potensi kerusakan bangunan, penerunan kualitas pendengaran dan mental. Penggunaan pengeras suara yang terlalu nyaring juga dapat menjadi suatu yang disebut sebagai polusi suara. Kita sudah cukup aware dengan berbagai polusi seperti polusi udara, polusi air dan polusi tanah, namun ada satu polusi yang kadang lupu dari perhatian yakni polusi suara padahal dampak yang dihasilkan tak kalah mengerikan daripada polusi-polusi lain.

Polusi udara juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran, gangguan tidur, menganggu ekosistem alam hingga gangguan hormon. Padahal, menjaga lingkungan hidup kita jauh lebih penting daripada kesenangan kita sesaat bahkan dalam dokrin keagamaan, saling menghormati seluruh makhluk (bukan hanya manusia) adalah salah satu misi utama.

Referensi:

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Reska Okta Nur Saputra
Suka Ayam Geprek

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)