Bandung yang Estetik, Sukabumi yang Terjebak Lubang: Catatan Jujur Warga untuk 2026

Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan Senin 26 Jan 2026, 17:20 WIB
Waktu orang Bandung pusing nyari filter estetik buat foto trotoar, warga Sukabumi malah pusing milih lubang jalan agar nyawa tak melayang. (Sumber: Istimewa)

Waktu orang Bandung pusing nyari filter estetik buat foto trotoar, warga Sukabumi malah pusing milih lubang jalan agar nyawa tak melayang. (Sumber: Istimewa)

Bandung sering kali dijuluki sebagai "Kota Teater," sebuah panggung di mana fasad bangunan kolonial dan tata kota ikonik menjadi daya tarik utama. Namun, bagi saya—warga Sukabumi yang sempat bermimpi menetap di sana—Bandung kini tampak seperti kota yang terjebak dengan 'kutukan' harus selalu kelihatan cantik.

Padahal, seindah apa pun bangunan tuanya, keindahan visual Bandung itu cuma penutup buat borok lama yang nggak pernah sembuh. Kayak urusan sampah saja; kalau belum beres di 2026, estetika itu nggak ada artinya. Riset dalam jurnal Envirosan bahkan secara tegas menyebutkan bahwa tanpa sistem pengelolaan sampah yang bener-bener menyentuh akarnya, Bandung di tahun 2026 hanya akan terus berpacu dengan risiko kelumpuhan lingkungan.

Menjelang 2026, janji politik "Bandung UTAMA" kembali diuji. Pemerintah mungkin sukses menghias pusat kota dengan lampu-lampu yang menawan di malam hari, namun bagi warga yang setiap hari terjebak kemacetan tanpa solusi infrastruktur yang nyata, estetika tersebut terasa hambar. Apakah kemajuan sebuah kota hanya diukur dari seberapa Instagrammable trotoar pusat kotanya? Jika masalah dasar seperti transportasi publik dan sampah masih jalan di tempat, maka kemajuan tersebut hanya menjadi pajangan untuk menutupi masalah.

Kontras yang bikin nyesek itu kerasa banget setiap hari di sini. Waktu orang Bandung mungkin lagi pusing nyari filter atau sudut estetik buat foto trotoar, saya dan tetangga di Sukabumi malah pusing milih lubang jalan. Bukan buat difoto, tapi milih mana yang kalau dilewati motor nggak bikin ban bocor atau nyawa melayang.

Pemerintah daerah di Sukabumi boleh saja bangga dengan jargon-jargon pembangunan atau pamer program pemberdayaan warga. Tapi mana bukti inovasinya kalau urusan jalan utama saja masih tertinggal jauh? Jangan kasih alasan klasik kalau jalan rusak itu 'wajar karena di kabupaten/kampung'. Justru infrastruktur yang hancur ini sudah terlalu lama dipaksa jadi 'identitas' daerah kita, seolah-olah jalan mulus itu barang mewah yang cuma jadi hak istimewa warga Ibu Kota Provinsi. Bukankah inovatif itu seharusnya menemukan cara biar aspal nggak gampang ngelupas?

Baca Juga: Serikat Pekerja Parekraf dan Optimasi Program Inkubasi Bisnis

Resolusi saya untuk Jawa Barat di tahun 2026 bukan lagi soal impian puitis, melainkan tuntutan nyata: Pemerataan Standar Kualitas Hidup. Kita tidak butuh Sukabumi menjadi "Bandung kedua" dalam hal kemacetan, namun kita menagih standar fasilitas publik yang setara. Standar keamanan jalan di Sukabumi tidak boleh lebih rendah daripada di Bandung.

Saya tidak ingin Sukabumi cuma bisa 'ngiri' liat Bandung yang makin glowing tiap tahun. Kalau Bandung emang jadi kiblat Jawa Barat, harusnya kualitas hidup warganya—termasuk soal jalanan—bisa nular ke kota sekitarnya. Jangan sampai Bandung asyik dandan sendiri, sementara kita di sini dipaksa maklum kalau jalan rusak itu udah nasib.

Resolusi saya untuk Bandung bukan hanya agar kota ini semakin cantik, tapi supaya ia bisa menjadi 'kakak' yang baik bagi daerah sekitarnya dalam hal standar kualitas publik. Maju atau tidaknya ibu kota provinsi tahun ini juga dipengaruhi oleh seberapa baik kota penyangga seperti Sukabumi ikut berkembang. Saya hanya ingin melihat aspal di sini se-estetik trotoar Braga. Rakyat sudah bosan melihat wajah pejabat yang glowing di baliho, sementara jalanan kami masih dibiarkan babak belur. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 11:56 WIB

Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan PLTU.
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)