Membangun Indonesia dengan Rumah 1 Sarjana

Maya Pone
Ditulis oleh Maya Pone diterbitkan Selasa 27 Jan 2026, 09:40 WIB
Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)

Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)

Ditulis oleh Maya Pone, mahasiswa hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung.

Seorang tokoh terkenal dari Afrika Selatan bernama Nelson Mandela pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah senjata untuk merubah dunia. Perkataan ini menjadi bukti bahwa pendidikan adalah kunci perubahan untuk suatu negara ke arah yang lebih baik. Tidak ada satupun negara maju di dunia ini yang pendidikannya terbelakang justru negara-negara tersebut maju karena sektor pendidikannya juga maju. 

Dan data sudah menunjukkan bagaimana korelasi antara pendidikan suatu negara terhadap majunya suatu negara. Contohnya saja Jepang negara yang terkenal dengan sebutan “Negeri Matahari Terbit” menjadi negara maju karena kualitas SDM yang sangat bagus dan pastinya menjadikan pendidikan sebagai senjata nomor satu untuk memajukan Jepang. Dan jika lihat betapa pentingnya pendidikan kenapa Indonesia menjadi salah satu negara yang justru paling terbelakang dalam hal pendidikan. 

Kenapa negara dengan ratusan juta penduduk ini tidak menempatkan pendidikan sebagai salah satu hal yang wajib diprioritaskan? Negara dengan julukan Macan Asia yang konon katanya sedang tertidur ini justru lebih senang tidur daripada bangun? Dan dari situlah muncul ide bagaimana jika pemerintah membuat sebuah program 1 kepala keluarga 1 sarjana dan ini menyasar masyarakat kelas bawah yang mengalami kesulitan keuangan untuk pendidikan.

Data BPS di tahun 2024 yang dilansir dari Kompas menunjukkan bahwasanya hanya 10,20% penduduk Indonesia di atas 15 tahun yang menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Dan data ini menunjukkan ada sebuah masalah dalam pendidikan kita yang mana banyak pihak yang sulit mengakses pendidikan hingga perguruan tinggi karena beberapa sebab dan keterbatasan finansial menjadi dasar utama. Dan negara harus hadir untuk membantu banyak keluarga di Indonesia agar mereka bisa menyekolahkan anak mereka hingga sarjana. 

Ditambah lagi akses pendidikan untuk masyarakat kecil pun belum merata terutama di pelosok Indonesia yang membuat dunia pendidikan negara kita ini jauh dari kata maju. Sehingga dengan uluran tangan negara yang membuat masyarakat akar rumput bisa mengakses pendidikan hingga sarjana akan membantu mereka keluar dari lingkaran kemiskinan dan pastinya akan berdampak kepada negara kita ini. Dengan demikian program 1 keluarga 1 sarjana menjadi jawaban untuk mengatasi masalah tersebut.

Pendidikan sebagai Jalan Pemutus Rantai Kemiskinan

Program yang pernah dicanangkan oleh Pak Ganjar Pranowo waktu mencalonkan diri sebagai presiden tentu menarik perhatian penulis. Bagaimana tidak, program ini memiliki pesan tersirat tentang bagaimana pemerintah berusaha untuk memutus rantai kemiskinan dengan membuat program 1 keluarga 1 sarjana. 

Selain itu, bagaimana pemerintah menggunakan program ini sebagai salah satu cara untuk memajukan pendidikan di Indonesia yang masih tertinggal jauh dari negara-negara maju seperti Jepang dan China. Tentu program tersebut sangat membantu apalagi bagi masyarakat kecil di daerah terpelosok bagaimana dengan program ini bisa memutus rantai kemiskinan serta dapat meningkatkan kualitas SDM serta daya saing di masyarakat.

Anak sekolah di Indonesia. (Sumber: indonesia.go.id)
Anak sekolah di Indonesia. (Sumber: indonesia.go.id)

Dilansir dari data GoodStats tingkat pendidikan di Indonesia saat ini dominan diisi oleh lulusan SD yaitu hanya 22,27% dimana angka tersebut sangat memprihatinkan dan bahkan yang tamatan perguruan tinggi (D3-S1) hanya 6,82% dari total penduduk di Indonesia. Angka-angka tersebut tentu memiliki banyak faktor salah satunya kemiskinan. Kemiskinan yang merajalela di Indonesia menjadi salah sebab mengapa pendidikan di Indonesia saat ini masih sangat rendah dan tertinggal jauh dari negara lain.

Bahkan, ada anak-anak saat ini yang tidak sekolah bukan karena tidak ingin sekolah melainkan fasilitas pendidikan yang tidak layak atau bahkan faktor ekonomi yang tidak memadai. Sungguh sangat ironis bagaimana sektor ekonomi dapat membunuh impian seseorang. Dari hal tersebut dapat di simpulkan bahwa tingkat pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata mumpuni. Banyak mimpi yang harus terkubur akibat pemerintah seolah menganggap mereka hanya sebagai lumbung suara ketika ingin menjadi pemenang ketika pemilu akan tetapi ketika menang membiarkan banyak masyarakat miskin ini terendap dalam pilu. Program yang justru dikeluarkan pemerintah saat ini untuk membantu masyarakat bisa dikatakan lebih memilih membeli ikan daripada mancing bagaimana negara lebih memperhatikan isi perut daripada isi kepala.

Dengan program 1 keluarga 1 sarjana tentu sangat dapat membantu masyarakat agar dapat memutus rantai kemiskinan serta dapat meningkatkan ekonomi di masyarakat. Tentu dengan adanya program ini dapat membantu banyak masyarakat kecil yang kesulitan untuk bersekolah agar dapat memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan hingga tingkat sarjana.

Pengaruh Pendidikan Terhadap Kualitas SDM di Indonesia

Apa yang terjadi jika negara kita memiliki banyak sarjana? Itu tentu menjadi bayang-bayang kita semua, bagaimana negara ini akan menjadi lebih maju, tingkat ekonomi akan berkembang pesat seperti tenaga kerja terampil hingga kualitas SDM yang meningkat, tingkat sosial seperti, masyarakat lebih produktif serta sadar akan hak dan kewajibannya hingga dapat menciptakan generasi emas seperti yang diharapkan akan terjadi di Indonesia pada tahun 2045 mendatang yaitu “Indonesia Emas”, serta yang paling penting dan sangat diharapkan kita semua yaitu angka kemiskinan menurun serta kesejahteraan dalam keluarga akan meningkat. Itu semua tidak didapatkan dengan mudah serta bagaimana pemerintah harus berusaha seperti membuat sebuah program pendidikan yang dapat diikuti semua kalangan masyarakat, seperti yang ada pada judul yaitu 1 rumah 1 sarjana. Program ini sangat membantu bagi keluarga-keluarga yang ekonominya tidak memadai.

Seperti yang kita tahu, di Indonesia saat ini tidak semua keluarga menempuh pendidikan, tidak juga semua anggota keluarganya merasakan pendidikan yang layak serta seharusnya. Bagaimana pemerintah mengambil langkah cepat agar pendidikan di Indonesia saat ini dapat meningkat. Tentu semua membutuhkan peran pemerintah tidak semata hanya masyarakat saja, bagaimana pemerintah seharusnya lebih peka terhadap isu pendidikan yang terjadi saat ini.

Contoh saja negara dengan kualitas pendidikan terbaik seperti Singapura, Cina, hingga Jepang. Negara-negara tersebut merupakan negara maju saat ini bagaimana kualitas pendidikan negara mereka menggambarkan kemajuan pesat negara tersebut. Hal tersebut dapat menjadi gambaran bagi kita bahwa bagaimana tingkatan maupun kualitas sebuah pendidikan sangat berpengaruh terhadap majunya sebuah negara. Dengan program ini dapat menjadi langkah awal bagi pemerintah agar bisa dengan pelan-pelan memulai membangun kualitas pendidikan di Indonesia dan bisa menjadi lebih melek bagaimana kualitas pendidikan sebuah negara dapat mempengaruhi kualitas negara itu sendiri.

Baca Juga: Keamanan Siber di Era Kebebasan Informasi 

Sudah cukup membuat program-program yang justru membuat pendidikan berada di posisi dua bahkan dianggap tidak penting. Jika dilihat dari apa yang selalu dikatakan oleh presiden kita saat ini yang mana Indonesia adalah bangsa yang besar cukup menyedihkan karena faktanya kita tidak ada apa-apanya dimata bangsa lain. Indonesia adalah negara yang lebih mempedulikan lambung daripada otak, yang lebih mempedulikan perut daripada kepala dan masalah ini hanya sebuah titik kecil dari banyaknya masalah di dunia pendidikan Indonesia. Mulai dari gaji guru yang menyedihkan, fasilitas yang tidak layak hingga perubahan kurikulum yang inkonsisten dan membuat bingung para pendidik hingga para peserta didik.

Dengan demikian dapat dilihat bahwa pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata cukup. Slogan 2045 Indonesia Emas hanya habis di atas kerta tanpa ada tindakan nyata. Pendidikan yang justru menjadi senjata untuk merubah keadaan negara ini malah dianggap tidak penting. Bahkan dengan situasi yang sudah seburuk ini masih saja banyak pihak yang menjadikan pendidikan sebagai ladang korupsi dan itu sangat menyedihkan.

Bagaimana mungkin ada pihak-pihak tertentu yang justru menjatuhkan racun ke tanah tempat generasi yang akan datang harus diberikan pupuk untuk bertumbuh bukan sebaliknya. 1 keluarga 1 sarjana akan menjadi program yang sangat membantu kalangan akar rumput untuk mengakses pendidikan hingga sarjana. Wacana ini akan sangat bagus jika diterapkan saat ini karena banyak masyarakat butuh dukungan untuk mencapai akses pendidikan yang lebih tinggi. Di sini bukan menunjukkan bahwa program yang saat ini sedang berjalan itu buruk akan tetapi lebih ke arah bahwa ada yang lebih penting daripada sekedar makan gratis.

Kendatipun demikian untuk merealisasikan hal ini bukan sebuah hal yang mudah. Selain itu, sekiranya kita sebagai warga masyarakat bisa lebih paham bahwa pendidikan bukan hanya sebagai formalitas saja melainkan juga, sebagai garis awal guna memajukan negara kita sendiri. Dengan pendidikan tentu saja yang diuntungkan bukan hanya kita sendiri melainkan orang-orang di sekitar kita.  (*)

Daftar Pustaka

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Maya Pone
Tentang Maya Pone
Persoalan tentang akses pendidikan di indonesia serta pengaruhnya dalam sektor ekonomi. Dengan kita menempuh pendidikan sangat berpengaruh terhadap ekonomi.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)