Dari Tanam Paksa ke Investasi Modern: Mengkritisi Pola Investasi Masa Kolonial untuk Masa Kini

2 menit baca
Bisma Elrumi
Ditulis oleh Bisma Elrumi diterbitkan
Tembakau kering di Jawa Timur sebelum tahun 1939. (Sumber: Wereldmuseum Amsterdam)
Tembakau kering di Jawa Timur sebelum tahun 1939. (Sumber: Wereldmuseum Amsterdam)

Praktik investasi di Indonesia telah berlangsung sejak masa kolonial hingga masa modern saat ini. Pada abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem Cultuurstelsel pada tahun 1830 yang diprakarsai oleh Johannes van den Bosch. Dalam sistem ini, petani diwajibkan menyerahkan sekitar 20% tanah mereka untuk menanam tanaman ekspor seperti kopi dan tebu. Sistem ini sangat menguntungkan Belanda, bahkan sekitar sepertiga pendapatan negaranya berasal dari Hindia Belanda. Namun di sisi lain, masyarakat pribumi sering mengalami kesulitan ekonomi karena hasil panen lebih diprioritaskan untuk kepentingan ekspor dibandingkan kebutuhan mereka sendiri.

Sistem Tanam Paksa dapat dianggap sebagai bentuk awal investasi berskala besar yang dilakukan pemerintah kolonial di Indonesia. Data menunjukkan bahwa pada periode 1831–1877, sistem ini menghasilkan sekitar 823 juta gulden bagi kas Belanda, yang menandakan besarnya keuntungan ekonomi yang diperoleh dari wilayah Hindia Belanda. Namun, keuntungan tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di beberapa wilayah seperti Cirebon dan Demak, bahkan terjadi kelaparan pada tahun 1840-an akibat tekanan produksi dan kegagalan panen. Hal ini menunjukkan bahwa keuntungan yang dihasilkan lebih banyak mengalir ke pihak kolonial, sementara masyarakat lokal justru menanggung dampak negatifnya, sehingga investasi pada masa itu cenderung berorientasi pada keuntungan sepihak.

Perubahan pola investasi mulai terlihat setelah diberlakukannya Undang-Undang Agraria 1870 yang membuka peluang bagi investor swasta asing. Kebijakan ini memungkinkan perusahaan menyewa tanah hingga 75 tahun dan mendorong berkembangnya perkebunan besar, seperti tembakau di Deli, Sumatera Timur. Meskipun investasi asing berkembang pesat, manfaatnya tidak dirasakan secara merata oleh masyarakat pribumi. Mereka sebagian besar hanya menjadi buruh di perkebunan dengan posisi yang lemah, sementara keuntungan utama tetap dikuasai oleh pihak asing. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi perubahan bentuk investasi, ketimpangan sosial tetap menjadi ciri utama dalam praktik investasi pada masa tersebut.

Jika dibandingkan dengan masa kolonial, investasi pada masa modern menunjukkan perubahan yang cukup besar dalam memberikan manfaat kepada masyarakat. Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal menunjukkan bahwa realisasi investasi di Indonesia pada tahun 2023 mencapai sekitar Rp1.418 triliun. Selain itu, laporan dari Kementerian Investasi Republik Indonesia mencatat bahwa investasi tersebut mampu menyerap sekitar 1,8 juta tenaga kerja, bahkan terus meningkat hingga sepanjang tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa investasi modern tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat, yang berarti manfaat tersebut bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Oleh karena itu, investasi modern dapat dikatakan lebih memberikan manfaat dibandingkan praktik investasi pada masa kolonial. 

Secara keseluruhan, praktik investasi di Indonesia mengalami perubahan dari masa kolonial hingga masa modern. Sistem seperti Cultuurstelsel dan kebijakan Undang-Undang Agraria 1870 menunjukkan bahwa investasi pada masa kolonial lebih berfokus pada keuntungan pihak penguasa. Namun pada masa modern, investasi telah berkembang menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Dengan memahami perkembangan tersebut, masyarakat dapat lebih kritis dalam melihat praktik investasi pada masa sekarang agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih merata. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Bisma Elrumi
Tentang Bisma Elrumi
Mahasiswa ilmu sejarah Universitas Padjajaran

Berita Terkait

News Update

Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:47

Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

Mengupas dilema orang Eropa hingga solidaritas buruh internasional demi melihat kemerdekaan dari sisi kemanusiaan.

Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:22

Jejak Galian Tambang yang Menggerus Alam dan Mengoyak Sejarah Sungai Cisadane

Rumpin menyimpan sejarah panjang perubahan, dari perkebunan kolonial hingga tambang galian C yang menggerus Sungai Cisadane dan membelah masyarakatnya.

Sungai Cisadane Dahulu. (Sumber: COLLECTIE TROPENMUSEUM  | Foto: G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:04

Jalan Berlubang, Nyawa Melayang: Pelajaran dari Tragedi di Pasteur

Tragedi di Jalan Pasteur menjadi pengingat bahwa jalan berlubang dapat memicu kecelakaan fatal dan menegaskan pentingnya prinsip jalan berkeselamatan.

Seorang pengemudi ojek online tewas usai terjatuh karena lubang di Jalan Dr. Djunjunan Kota Bandung, Rabu (17/6/2026). (Sumber: Dok. Unit Gakkum Polrestabes Bandung)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 09:28

Endorse Jutaan, Hasil Recehan

Memilih influencer sebagai strategi marketing perusahaan produk fashion tidak lagi menjadi daya tarik yang kuat bagi konsumen Gen Z karena Gen Z lebih peduli terhadap produk murah dan diskon.

Sejumlah pengunjung memilih pakaian di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jumat 13 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 09:09

Mengapa Internet Tidak Gratis Bagi Pendidikan?

Kebutuhan internet gratis sangat tepat untuk menjadikan sekolah berselancar dengan internet sehingga wawasan pendidikan makin terbuka.

ilustrasi berselancar di internet. (Sumber: Pexels/Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 20:17

Dari Tanam Paksa ke Investasi Modern: Mengkritisi Pola Investasi Masa Kolonial untuk Masa Kini

Investasi Indonesia berubah dari eksploitatif di era kolonial menjadi lebih inklusif di era modern, dengan realisasi Rp1.418 triliun dan 1,8 juta lapangan kerja pada 2023.

Tembakau kering di Jawa Timur sebelum tahun 1939. (Sumber: Wereldmuseum Amsterdam)
Ayo Biz 18 Jun 2026, 20:06

Belajar Kebijaksanaan dari BUMDes Cisurat, Bersaing Sehat dengan Agen BRILink Warganya

Dahulu, warga Desa Cisurat harus menempuh perjalanan rata-rata 10 kilometer untuk urusan perbankan.

Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat (Wibawa Mukti), Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 19:13

Dari 4444 Menjadi Biometrik, Nanti Apalagi?

Menganalisa rekam jejak pemerintah dalam melindungi data pribadi masyarakat melalui kebijakan registrasi kartu SIM.

Ilustrasi keamanan siber. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)