Bandung hingga Tasikmalaya, Atmosfer Skena Musik Reggae dan SKA yang Sempat Terasa 

6 menit baca
Yayang Nanda Budiman
Ditulis oleh Yayang Nanda Budiman diterbitkan
Don Lego di acara Antek-Antek Lego Family Tasikmalaya Tahun 2016. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yayang Nanda Budiman)
Don Lego di acara Antek-Antek Lego Family Tasikmalaya Tahun 2016. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yayang Nanda Budiman)

Bandung sebagai lautan skena musik nampaknya tidak akan pernah hilang dalam ingatan. Namun, segelintir pihak perlahan mulai tak sependapat dengan narasi itu.

Menurutnya, Bandung sebagai ruang kreativitas dari berbagai macam genre musik memproduksi karya mereka telah lama pudar.

Dan yang tersisa hanyalah slogan dan romantisme cerita masa lalu. Tapi bagi saya, meski sekali pun pudar, ia akan tetap tinggal dan membekas dalam ingatan, bukan hilang atau terlenyapkan.

Bandung Inikami OrcheSKA (Sumber: Instagram.com | Foto: @maspremz dan @vikosaxo)
Bandung Inikami OrcheSKA (Sumber: Instagram.com | Foto: @maspremz dan @vikosaxo)

Saya kira hampir semua orang sependapat bahwa Bandung tak hanya ibukota provinsi. Ia juga episentrum  lahirnya segudang musisi dan seniman terkemuka di Jawa Barat, bahkan nasional. Tak sedikit dari karya mereka telah mempengaruhi iklim bermusik dan budaya populer anak muda.

Bandung dengan segala bentuk popularitasnya sebagai kota kreatif telah menjadi ekosistem subkultur yang relatif sehat. Skena musik, zine fotokopi, distro fashion, hingga konsistensi radio kampus andil terlibat sebagai medium publikasi menciptakan ruang interaksi yang subur.

Selain genre musik lain yang telah lebih dulu berkembang dan besar di kota Bandung, SKA dan Reggae memiliki kanal yang cukup besar karena keduanya menawarkan sesuatu yang otentik—hentakan musik yang energik, dengan ritme yang konsisten dan asyik: lirik yang ceria, meski tak jarang ia membungkus kritik sosial dengan porsi yang pas; dan terpenting, atmosfer penggemar yang hangat.

Bahkan lebih kompleks dari itu, dalam konteks tema yang kerap diketengahkan cukup beragam, ada yang menarasikan soal percintaan, konflik sosial, bahkan kritik terhadap kekuasaan. Selain itu, setiap karya lagu dan juga band mempunyai ciri khas yang otentik. 

Mengingat Kembali Atmosfer Reggae dan SKA

Perkembangan musik Reggae di Bandung sudah lama mencuat kepermukaan, yang semula didominasi oleh band-band underground, kini musik Reggae pun memberikan warna khas yang mengisi prulitas karya musik di Bandung.

Serupa dengan itu, peminat SKA pun di Indonesia pernah mengalami eskalasi yang cukup signifikan pada tahun 90’an akhir.

Projam Mari BerdanSKA 2016 (Sumber: X.com | Foto: Nada Promotama)
Projam Mari BerdanSKA 2016 (Sumber: X.com | Foto: Nada Promotama)

Meski terasa mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19 yang menghentikan sementara event-event musik, namun saat ini SKA mulai kembali bangkit dan masih tetap digemari oleh penikmat setianya. 

Gelombang antusiasme publik dalam mengapresiasi musik Jamaican Sound di kota kembang sangat luas. Bandung, sebagai salah satu episentrum perkembangan musik SKA dan Reggae di Indonesia.

Eksesnya, kota ini banyak melahirkan band-band terkemuka dengan musikalitas yang unik, struktur lirik yang mewah dan kemampuan bermusik yang maksimal sehingga satu sama lain mempunyai karakteristik yang berbeda. 

Barangkali, bagi yang menghabiskan usia remaja di tahun 2010-an hingga 2017 akhir, kita sempat mengalami bagaimana perkembangan musik SKA dan Reggae di Bandung mengalami eskalasi yang sangat signifikan. Puluhan Band pendatang baru mulai bermunculan, seiring dengan masifnya gigs kecil hingga event besar yang mewadahi mereka berkarya.

Bahkan, tak cuma event umum saja, Pensi hingga acara perpisahan sekolah pun tak luput dari euforia band-band Reggae dan SKA. Ya, benar saja. Ini adalah bukti bahwa popularitas musik domestik sudah menguasai sirkel anak muda hingga ke ruang-ruang kelas di sekolah.

Bahan perbincangan di tongkrongan atau di jam-jam istirahat tak pernah lepas dari harga tiket, rilisan lagu baru atau soal event acara Minggu depan. Situasi ini tidak hanya terjadi di ruang fisik, ia juga bermigrasi ke ruang digital.

Meski jumlah dan akses sosial media tidak semudah sekarang, Facebook dan Twitter menjadi medium bagi anak muda untuk bisa langsung sharing dengan komunitas, bahkan dengan musisinya langsung.

Rekam Historis Skena Musik Reggae dan SKA di Bandung yang Tercatat

Jika menyelami catatan historis ke belakang, di kalangan penikmat musik SKA, tentunya kita cukup akrab dengan variasi musik SKA-Punk. Berbeda dengan jenis SKA konvensional, sejumlah musisi SKA pun mulai menciptakan genre fusion SKA-Punk yang ternyata memperoleh ruang tersendiri di skena musik Jamaican Sound pada awal tahun 90’an. 

Ilustrasi musik SKA (Sumber: Pixabay.com | Foto: erika14666)
Ilustrasi musik SKA (Sumber: Pixabay.com | Foto: erika14666)

Jika melansir dari sejumlah sumber di internet, popularitas musik SKA-Punk sendiri berawal dari generasi era GOR Saparua di tahun 1995 yang dipelopori oleh band SKA-Punk bernama Agent Skins. Serupa pemantik, sejak saat itulah kemudian muncul ke permukaan nama-nama seperti Kingkong Beer, Young Coconut, Noin Bullet dan band-band lainnya. 

Namun sangat disayangkan, sejak GOR Sukapura tidak lagi menyajikan gigs, band-band indie dikala itu sempat kehilangan ruang dan kesulitan untuk mencari medium pengganti. Kendati bermusik di cafe-cafe yang menghadirkan live music rupanya bukanlah suatu jalan keluar agar tetap merawat api semangat SKA terus berkobar.

Di titik ini, karena pluralitas sub genre SKA yang kian variatif, SKA menjadi salah satu musik yang digandrungi kalangan muda, dan sebagai salah satu musik selain Reggae yang dicap sebagai musik perdamaian, kebebasan dan rasa cinta. 

Menyelami Skena Musik Reggae dan SKA Era Tahun 2010-an

Di tahun 2010-an, salah satu band SKA yang mulai mengembalikan lagi atmosfer lama adalah Bandung Inikami OrcheSKA.

Selain Don Lego yang sudah familiar, ada juga Sir’Iyai O.K Paris Van Java, yang salah satu penggawanya pun mantan bagian dari Don Lego.

Sir Iyai Music (Sumber: Instagram.com | Foto: @dejanrugerii dan @siriyaimusic)
Sir Iyai Music (Sumber: Instagram.com | Foto: @dejanrugerii dan @siriyaimusic)

Mereka adalah band yang cukup populer di Bandung bahkan nasional. Tidak sedikit fans mereka hadir tak hanya dari kalangan anak-anak muda Bandung, bahkan Tasikmalaya, Ciamis hingga melintasi wilayah provinsi Jawa Barat. 

Berbeda dengan musik SKA pada umumnya, Sir’Iyai mengeksplorasi musik SKA dan Rocksteady yang dikombinasikan dengan unsur keroncong khas nusantara menjadi “Jamaican Sound Keroncong”. Alhasil, ia memberikan warna baru di belantika musik Indonesia, bahkan mungkin yang pertama mengusung tema SKA Keroncong. 

Sebagai musisi yang sudah cukup lama berkarya, Sir’Iyai mencoba memperkenalkan dan melestarikan musik tradisi menjadi lebih inklusif dengan metode “tradisi X tradisi” dengan kata lain, ia berupaya menggabungkan dua genre yang berbeda yaitu SKA dan Keroncong. 

Sementara itu dari sisi musik Reggae, salah satu band yang juga mempunyai musikalitas yang tak kalah unik dan otentik yaitu band bernama Coffee Reggae Stone atau CRS. Band yang telah berdiri sejak tahun 2000 ini berasal dari Cicalengka Kabupaten Bandung.

Meski wilayahnya didominasi oleh perkembangan musik cadas, namun CRS mencoba melawan arus dengan berani mengusung Reggae sebagai aliran musik yang hendak mereka bawakan.

Menariknya, ia tak hanya terjebak dalam satu genre, CRS mencoba meracik beberapa genre lain dalam lagu-lagu mereka seperti blues, folk, etnik, pop bahkan balada. 

Buktinya, CRS telah berhasil mengkombinasikan instrumen musik nusantara seperti gamelang ke dalam salah satu karya mereka berjudul “Pasir Putih”. 

Atmosfer Reggae dan SKA Sampai ke Tasikmalaya

Gelombang euforia itu tak selesai di Bandung, bahkan terasa hingga ke Tasikmalaya.

Sekitar tahun 2013 saya merasakan bagaimana atmosfer SKA dan Reggae menyesaki skena musik wilayah priangan timur. Hampir setiap akhir pekan event-event Reggae dan SKA diselenggarakan di GOR Sukapura.

Don Lego di acara Antek-Antek Lego Family Tasikmalaya Tahun 2016 (Sumber: Document Pribadi | Foto: Yayang Nanda Budiman)
Don Lego di acara Antek-Antek Lego Family Tasikmalaya Tahun 2016 (Sumber: Document Pribadi | Foto: Yayang Nanda Budiman)

Antusiasme tak kalah dengan kota besar seperti Bandung atau Jakarta. Tak hanya diramaikan oleh band-band lokal seperti Jamaican Coffee Latte atau Sunday Morning SKA, tidak sedikit band-band luar kota pun mengisi event serupa seperti Don Lego, Scimmiaska, Monkey Boots, dan masih banyak lagi.

Puncaknya, skena musik ini telah mempengaruhi lifestyle anak muda Tasikmalaya pada saat itu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yayang Nanda Budiman
Praktisi hukum di Jakarta, menyukai perjalanan, menulis apapun, sisanya mendengarkan Rolling Stones

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)