Jawa Barat ‘Beunghar ku Opak’: Siapa Paling Enak dan Juara?

7 menit baca
Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan
Toko Opak Ranca Tungku--tetangga Kampung Bojong Kunci. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)
Toko Opak Ranca Tungku--tetangga Kampung Bojong Kunci. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)

Borondong garing
ider kota pilemburan
mekar lumaku diri
anu dagang bari mimitran

Borondong garing
haleuang katineung ati
jerit ciptaning ati
jeung hiliwirna angin peuting

Oleh-oleh Priangan di lingkung gunung
Majalaya Soreang Banjaran Bandung
hate jongjon lugina anu dikantun
narik ati matak luas nu ngabantun

MEMANG dalam lirik lagu Priangan "Borondong Garing" yang diciptakan oleh R.C. Hardjasasmita dan dipopulerkan oleh penyanyi Tati Saleh dan Nining Meida itu tak ditemukan kata “opak”.

Namun, sejarah mengungkap camilan borondong tak bisa dipisahkan dengan camilan opak, rangginang, kolontong, dongjit (borondong wajit), dan camilan lain yang dibuat dari beras ketan. Bahkan, camilan opak dan rangginang faktanya lebih digemari daripada borondong.

Pada mulanya adalah Bu Neni (50) tahun, warga Parken, Cangkuang, Kabupaten Bandung. Suatu waktu di rumahnya ada arisan keluarga. Ia bingung mencari makanan khas yang lain dari yang lain untuk menjamu para tamunya yang kebanyakan datang dari kota. Makanan biasa, enggak lah, di kota pun banyak. Camilan apa, ya? 

Oh, ia ingat. Ia pernah tak secara sengaja membeli opak dari sekitar Pertigaan Banjaran-Soreang-Pangalengan, dari sebuah toko oleh-oleh kecil yang tidak menarik. Bentuknya seperti opak kebanyakan, bulat. 

“Tapi, hmm … opak ini mah rasanya beda?” katanya setelah mencicipi. Dan ia ingin menularkan kalimat “Tapi, hmm … opak ini mah rasanya beda” kepada para tamunya dari kota.

Baiklah, Bu Neni pun menyuruh anaknya membeli sejumlah opak untuk oleh-oleh para tamunya itu.

Pada mulanya, tak ada komentar dari para tamu tentang opak yang dibungkus plastik tak menarik itu dan mereka pun tampaknya ogah mencicipinya. Namun, setelah beberapa hari dari acara arisan itu, tamunya dari kota ada yang menelepon Bu Neni. “Itu, opaknya enak sekali. Beli dari mana? Saya pesan ya.”

Sebenarnya sudah lama banyak orang tahu opak pertigaan Banjaran-Soreang-Pangalengan itu punya potensi. Dan boleh bisa disebut salah satu makanan legendaris Banjaran dan sekitarnya, selain misalnya Bumbu Rujak Ciherang.

Tetapi, sejatinya, ketahuilah opak itu bukan produksi Banjaran, melainkan diproduksi oleh sebuah kampung yang bernama Bojong Kunci, sebelah barat-utara Banjaran.

Ayobandung mencoba menelusuri ke Bojong Kunci, hingga menemukan toko Opak Ranca Tungku--tetangga Kampung Bojong Kunci.

“Ya, memang opak di Banjaran itu ngambilnya dari sini, Bojong Kunci,” kata Kang Dadang (55), pemilik toko opak di Ranca Tungku, kampung yang bersebelahan dengan Kampung Bojong Kunci.

Dadang bercerita, ia sudah puluhan tahun berjualan opak Bojong Kunci. Istrinya orang Bojong Kunci asli. Dari mertuanya, Yana, ia belajar membuat opak.

“Saya di sini (Ranca Tungku) buka toko. Tetapi, produksi opaknya tetap di Bojong Kunci,” katanya.

Selain berjualan opak, di tokonya, Kang Dadang pun berjualan kolontong, rangginang, seroja, tengteng, dongjit (borondong wajit), dan sebagainya.

Menurutnya, pemasarannya masih sederhana dan tradisional: ada orang yang biasa ngambil opak ke sini--seperti toko opak yang di Banjaran itu. Atau dia berjualan langsung –pakai mobil—di pasar kaget Baleendah atau di Soreang. Kadang juga barter, Kang Dadang menyimpan opak di Ciparay, dari pengrajin Ciparay menitipkan borondong di tokonya.

Menurut Kang Dadang, yang sudah punya 3 anak ini, rasa opak Bojong Kunci memang khas, gurih, dan ada manis-manisnya. Tapi lebih keras dibandingkan dengan opak Sumedang, misalnya. 

Mengapa? “Kalau opak Sumedang itu santan kelapanya yang dimasukin ke adonan. Sementara opak Bojong Kunci, parutan kelapanya yang dimasukkan ke adonan. Makanya lebih keras, gurih, dan tahan lama,” katanya.

Kang Dadang merupakan pembuat opak generasi ketiga dari mertuanya. Mengenai banyaknya produksi setiap harinya, ia mengatakan tidak tentu.

“Ya, namanya dagang tidak tentu. Ya, antara 3 kilo hingga 5 kilogram beras ketan setiap harinya. Kalau menghadapi hari raya, saya sudah siap memproduksi sebulan sebelumnya. Biasanya pesanan meningkat,” katanya.

Satu kilo gram opak dibanderol Rp70.000. Ada pula yang dibungkus kecil Rp15.000. Sedangkan kolontong dihargai Rp10.000 per bungkus.

Sejarah Opak Bojong Kunci

Kampung Sukamanah, Desa Bojongkunci, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung sudah lama terkenal produsen opak. Setiap hari, masyarakat di kampung tersebut bisa memproduksi kuintalan beras ketan yang menjadi bahan baku.

Warga Kampung Sukamanah secara turun temurun memproduksi opak yang biasa dijual di warung depan rumahnya masing-masing, juga dikirim ke pelbagai daerah.

Nursiah Hasanah, salah seorang perajin opak di Kampung Sukamanah, mengaku sudah sejak zaman dulu warga Kampung Sukamanah memproduksi opak untuk dijual. "Sudah turun temurun, sejak nenek bahkan buyut," ujar Nursiah ketika ditemui.

Keahlian yang diturunkan dari nenek moyang tersebut, membuat opak  Sukamanah terkenal dan melegenda. Bahkan produksinya dijual ke toko-toko oleh-oleh di sekitar wilayah Bandung Raya.

Produksi opak di Kampung Sukamanah sangatlah besar. Nursiah misalnya, ia hanya memproduksi untuk mencukupi kebutuhan warung penjualan opaknya. Tetapi, bisa menghabiskan beras ketan puluhan kilogram setiap harinya. "Sehari bisa sampai 25 kg. Kalau lebaran bisa lebih banyak lagi," ujarnya.

Bahkan untuk mencukupi permintaan saat idulfitri, Nursiah sudah mempersiapkan dua bulan sebelumnya dengan memproduksi opak dalam jumlah banyak setiap harinya. Jika dalam sehari dia mengolah 25 kg beras ketan, dua bulan sebelum lebaran jumlahnya menjadi dua kali lipat.

Perbedaan Rasa

Rasa opak Ranca Tungku berbeda dengan opak dari daerah lain karena bahan dan pengolahan yang dilakukan juga berbeda. Jika daerah lain hanya menggunakan beras ketan, namun opak dari Kampung Sukamanah memberi tambahan bahan lain, yakni kelapa.

Menurut Nursiah, opak Tasikmalaya juga memang menggunakan kelapa, tapi rasanya pasti beda karena pengolahan yang dilakukan juga berbeda.

Dia mengungkapkan, beras ketan yang telah dicuci kemudian dikukus sampai menjadi seperti nasi. Beras ketan kemudian ditumbuk secara manual dan dicampur dengan parutan kelapa. Cara pengolahan ini yang membuat rasanya berbeda dengan opak dari daerah lain.

Memproduksi opak membutuhkan waktu cukup lama. Setelah opak ditumbuk, proses selanjutnya adalah penjemuran. Opak harus benar-benar kering sebelum dimasak. Sehingga membutuhkan waktu berhari-hari supaya bisa mencapai tingkat kekeringan yang sesuai. "Kalau matahari sedang terik, penjemuran bisa 3 hari," ungkapnya.

Namun, jika langit tertutup awan atau saat musim hujan, proses penjemuran membutuhkan waktu yang lebih lama. Tapi biasanya, maksimal penjemuran dilakukan selama empat hari.

Kalau lebih dari 4 hari opak belum juga kering, biasanya para perajin melakukan upaya lain. Mereka menyebutnya digarang. "Kalau tidak kering, paling digarang. Jadi opak disimpan di atas kompor, kalau tidak begitu, akan sulit kering," ucapnya.

Setelah opak benar-benar kering, tahapan selanjutnya adalah menyangrainya. Dalam penyangraian, biasanya menggunakan pasir yang diambil dari sungai.

Pasir yang telah dibersihkan dari kotoran dan tanah juga lumpur tersebut kemudian dipanggang menggunakan wajan. Setelah panas, opak dimasukan ke dalam pasir seperti menggoreng menggunakan minyak.

Hasilnya, opak menjadi seperti dipanggang menggunakan bara. Proses ini lebih cepat dibanding dengan dipanggang. Dengan menggunakan pasir, para perajin opak tidak terpengaruh ketika harga minyak mengalami kenaikan.

Bahan Baku

Kampung Sukamanah, Desa Bojongkunci, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung terkenal akan opak, bisa habiskan berton beras ketan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)
Kampung Sukamanah, Desa Bojongkunci, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung terkenal akan opak, bisa habiskan berton beras ketan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)

Beras ketan merupakan bahan baku utama pembuatan opak. Walaupun di Pameungpeuk terdapat banyak sawah, para perajin opak memilih beras ketan dari daerah lain untuk menyuplai kebutuhan bahan baku.

Biasanya, beras ketan dari Selatan Cianjur. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab kualitas yang menjadi prioritas utama. "Kalau beras ketan dari sini, kurang begitu bagus. Akibatnya opaknya kurang mengembang," katanya.

Biasanya, setiap perajin telah memiliki pelanggan sendiri, sehingga secara rutin beras ketan dikirim langsung dari Cianjur ke Sukamanah.

Jenis-Jenis Opak

Opak bukan cuma milik Rancatungku. Tetapi, daerah lain di Jawa Barat juga punya. Tentu saja dengan ciri khasnya dan disesuaikan dengan kearifan lokalnya masing-masing. Ternyata Jawa Barat “beunghar ku opak”.

Cianjur yang terkenal dengan produksi beras ketannya yang melimpah mempunyai Opak Mak Ilah yang cukup legendaris. Secara kualitas dan rasa, opak Sukagalih dikenal jempolan dan gurih rasanya. 

Dari kawasan Bandung Timur, Opak Linggar Rancaekek adalah camilan khas yang melegenda. Jika Anda melewati Rancaekek, akan tampak deretan kios penjaja Opak Linggar. Opak Linggar diproduksi secara massal di Desa Linggar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Tasikmalaya pun punya opak khas. Opak Tasik sebenarnya sudah tersohor kelezatannya dibanding dengan opak produksi lain sebab rasanya lebih gurih dan renyah.

Opak Tasik tidak sembarangan menggunakan bahan bakunya. Opak Tasik pakai telur, susu, ketan, santan kelapa, dan margarine.

Beda lagi dengan Opak Cimanggung, Sumedang. Bagi kamu yang singgah ke Sumedang melewati Jalan Raya Cicalengka-Nagreg wajib mampir sebentar. Di sana ada banyak toko-toko berjejer di pinggir jalan yang menjajakan berbagai camilan, salah satunya Opak Ketan Cimanggung.

Opak Ketan Cimanggung merupakan salah satu makanan khas Sumedang yang dikenal sebagai camilan para bangsawan Sumedang kala itu.

Jadi, sekali lagi Jawa Barat memang “beunghar ku opak”. Sesuatu hal yang kreatif dan positif. Siapa yang paling enak dan juara? Itu tidak penting. Yang penting, pemerintah harus menjaga dan melindungi UMKM ini supaya terus berkembang sehingga meningkatkan perekonomian mereka. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dudung Ridwan
Tentang Dudung Ridwan
Jurnalis dan Pengamat Bulutangkis

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)