Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Jawa Barat ‘Beunghar ku Opak’: Siapa Paling Enak dan Juara?

Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan Kamis 14 Agu 2025, 09:40 WIB
Toko Opak Ranca Tungku--tetangga Kampung Bojong Kunci. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)

Toko Opak Ranca Tungku--tetangga Kampung Bojong Kunci. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)

Borondong garing
ider kota pilemburan
mekar lumaku diri
anu dagang bari mimitran

Borondong garing
haleuang katineung ati
jerit ciptaning ati
jeung hiliwirna angin peuting

Oleh-oleh Priangan di lingkung gunung
Majalaya Soreang Banjaran Bandung
hate jongjon lugina anu dikantun
narik ati matak luas nu ngabantun

MEMANG dalam lirik lagu Priangan "Borondong Garing" yang diciptakan oleh R.C. Hardjasasmita dan dipopulerkan oleh penyanyi Tati Saleh dan Nining Meida itu tak ditemukan kata “opak”.

Namun, sejarah mengungkap camilan borondong tak bisa dipisahkan dengan camilan opak, rangginang, kolontong, dongjit (borondong wajit), dan camilan lain yang dibuat dari beras ketan. Bahkan, camilan opak dan rangginang faktanya lebih digemari daripada borondong.

Pada mulanya adalah Bu Neni (50) tahun, warga Parken, Cangkuang, Kabupaten Bandung. Suatu waktu di rumahnya ada arisan keluarga. Ia bingung mencari makanan khas yang lain dari yang lain untuk menjamu para tamunya yang kebanyakan datang dari kota. Makanan biasa, enggak lah, di kota pun banyak. Camilan apa, ya? 

Oh, ia ingat. Ia pernah tak secara sengaja membeli opak dari sekitar Pertigaan Banjaran-Soreang-Pangalengan, dari sebuah toko oleh-oleh kecil yang tidak menarik. Bentuknya seperti opak kebanyakan, bulat. 

“Tapi, hmm … opak ini mah rasanya beda?” katanya setelah mencicipi. Dan ia ingin menularkan kalimat “Tapi, hmm … opak ini mah rasanya beda” kepada para tamunya dari kota.

Baiklah, Bu Neni pun menyuruh anaknya membeli sejumlah opak untuk oleh-oleh para tamunya itu.

Pada mulanya, tak ada komentar dari para tamu tentang opak yang dibungkus plastik tak menarik itu dan mereka pun tampaknya ogah mencicipinya. Namun, setelah beberapa hari dari acara arisan itu, tamunya dari kota ada yang menelepon Bu Neni. “Itu, opaknya enak sekali. Beli dari mana? Saya pesan ya.”

Sebenarnya sudah lama banyak orang tahu opak pertigaan Banjaran-Soreang-Pangalengan itu punya potensi. Dan boleh bisa disebut salah satu makanan legendaris Banjaran dan sekitarnya, selain misalnya Bumbu Rujak Ciherang.

Tetapi, sejatinya, ketahuilah opak itu bukan produksi Banjaran, melainkan diproduksi oleh sebuah kampung yang bernama Bojong Kunci, sebelah barat-utara Banjaran.

Ayobandung mencoba menelusuri ke Bojong Kunci, hingga menemukan toko Opak Ranca Tungku--tetangga Kampung Bojong Kunci.

“Ya, memang opak di Banjaran itu ngambilnya dari sini, Bojong Kunci,” kata Kang Dadang (55), pemilik toko opak di Ranca Tungku, kampung yang bersebelahan dengan Kampung Bojong Kunci.

Dadang bercerita, ia sudah puluhan tahun berjualan opak Bojong Kunci. Istrinya orang Bojong Kunci asli. Dari mertuanya, Yana, ia belajar membuat opak.

“Saya di sini (Ranca Tungku) buka toko. Tetapi, produksi opaknya tetap di Bojong Kunci,” katanya.

Selain berjualan opak, di tokonya, Kang Dadang pun berjualan kolontong, rangginang, seroja, tengteng, dongjit (borondong wajit), dan sebagainya.

Menurutnya, pemasarannya masih sederhana dan tradisional: ada orang yang biasa ngambil opak ke sini--seperti toko opak yang di Banjaran itu. Atau dia berjualan langsung –pakai mobil—di pasar kaget Baleendah atau di Soreang. Kadang juga barter, Kang Dadang menyimpan opak di Ciparay, dari pengrajin Ciparay menitipkan borondong di tokonya.

Menurut Kang Dadang, yang sudah punya 3 anak ini, rasa opak Bojong Kunci memang khas, gurih, dan ada manis-manisnya. Tapi lebih keras dibandingkan dengan opak Sumedang, misalnya. 

Mengapa? “Kalau opak Sumedang itu santan kelapanya yang dimasukin ke adonan. Sementara opak Bojong Kunci, parutan kelapanya yang dimasukkan ke adonan. Makanya lebih keras, gurih, dan tahan lama,” katanya.

Kang Dadang merupakan pembuat opak generasi ketiga dari mertuanya. Mengenai banyaknya produksi setiap harinya, ia mengatakan tidak tentu.

“Ya, namanya dagang tidak tentu. Ya, antara 3 kilo hingga 5 kilogram beras ketan setiap harinya. Kalau menghadapi hari raya, saya sudah siap memproduksi sebulan sebelumnya. Biasanya pesanan meningkat,” katanya.

Satu kilo gram opak dibanderol Rp70.000. Ada pula yang dibungkus kecil Rp15.000. Sedangkan kolontong dihargai Rp10.000 per bungkus.

Sejarah Opak Bojong Kunci

Kampung Sukamanah, Desa Bojongkunci, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung sudah lama terkenal produsen opak. Setiap hari, masyarakat di kampung tersebut bisa memproduksi kuintalan beras ketan yang menjadi bahan baku.

Warga Kampung Sukamanah secara turun temurun memproduksi opak yang biasa dijual di warung depan rumahnya masing-masing, juga dikirim ke pelbagai daerah.

Nursiah Hasanah, salah seorang perajin opak di Kampung Sukamanah, mengaku sudah sejak zaman dulu warga Kampung Sukamanah memproduksi opak untuk dijual. "Sudah turun temurun, sejak nenek bahkan buyut," ujar Nursiah ketika ditemui.

Keahlian yang diturunkan dari nenek moyang tersebut, membuat opak  Sukamanah terkenal dan melegenda. Bahkan produksinya dijual ke toko-toko oleh-oleh di sekitar wilayah Bandung Raya.

Produksi opak di Kampung Sukamanah sangatlah besar. Nursiah misalnya, ia hanya memproduksi untuk mencukupi kebutuhan warung penjualan opaknya. Tetapi, bisa menghabiskan beras ketan puluhan kilogram setiap harinya. "Sehari bisa sampai 25 kg. Kalau lebaran bisa lebih banyak lagi," ujarnya.

Bahkan untuk mencukupi permintaan saat idulfitri, Nursiah sudah mempersiapkan dua bulan sebelumnya dengan memproduksi opak dalam jumlah banyak setiap harinya. Jika dalam sehari dia mengolah 25 kg beras ketan, dua bulan sebelum lebaran jumlahnya menjadi dua kali lipat.

Perbedaan Rasa

Rasa opak Ranca Tungku berbeda dengan opak dari daerah lain karena bahan dan pengolahan yang dilakukan juga berbeda. Jika daerah lain hanya menggunakan beras ketan, namun opak dari Kampung Sukamanah memberi tambahan bahan lain, yakni kelapa.

Menurut Nursiah, opak Tasikmalaya juga memang menggunakan kelapa, tapi rasanya pasti beda karena pengolahan yang dilakukan juga berbeda.

Dia mengungkapkan, beras ketan yang telah dicuci kemudian dikukus sampai menjadi seperti nasi. Beras ketan kemudian ditumbuk secara manual dan dicampur dengan parutan kelapa. Cara pengolahan ini yang membuat rasanya berbeda dengan opak dari daerah lain.

Memproduksi opak membutuhkan waktu cukup lama. Setelah opak ditumbuk, proses selanjutnya adalah penjemuran. Opak harus benar-benar kering sebelum dimasak. Sehingga membutuhkan waktu berhari-hari supaya bisa mencapai tingkat kekeringan yang sesuai. "Kalau matahari sedang terik, penjemuran bisa 3 hari," ungkapnya.

Namun, jika langit tertutup awan atau saat musim hujan, proses penjemuran membutuhkan waktu yang lebih lama. Tapi biasanya, maksimal penjemuran dilakukan selama empat hari.

Kalau lebih dari 4 hari opak belum juga kering, biasanya para perajin melakukan upaya lain. Mereka menyebutnya digarang. "Kalau tidak kering, paling digarang. Jadi opak disimpan di atas kompor, kalau tidak begitu, akan sulit kering," ucapnya.

Setelah opak benar-benar kering, tahapan selanjutnya adalah menyangrainya. Dalam penyangraian, biasanya menggunakan pasir yang diambil dari sungai.

Pasir yang telah dibersihkan dari kotoran dan tanah juga lumpur tersebut kemudian dipanggang menggunakan wajan. Setelah panas, opak dimasukan ke dalam pasir seperti menggoreng menggunakan minyak.

Hasilnya, opak menjadi seperti dipanggang menggunakan bara. Proses ini lebih cepat dibanding dengan dipanggang. Dengan menggunakan pasir, para perajin opak tidak terpengaruh ketika harga minyak mengalami kenaikan.

Bahan Baku

Kampung Sukamanah, Desa Bojongkunci, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung terkenal akan opak, bisa habiskan berton beras ketan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)
Kampung Sukamanah, Desa Bojongkunci, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung terkenal akan opak, bisa habiskan berton beras ketan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)

Beras ketan merupakan bahan baku utama pembuatan opak. Walaupun di Pameungpeuk terdapat banyak sawah, para perajin opak memilih beras ketan dari daerah lain untuk menyuplai kebutuhan bahan baku.

Biasanya, beras ketan dari Selatan Cianjur. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab kualitas yang menjadi prioritas utama. "Kalau beras ketan dari sini, kurang begitu bagus. Akibatnya opaknya kurang mengembang," katanya.

Biasanya, setiap perajin telah memiliki pelanggan sendiri, sehingga secara rutin beras ketan dikirim langsung dari Cianjur ke Sukamanah.

Jenis-Jenis Opak

Opak bukan cuma milik Rancatungku. Tetapi, daerah lain di Jawa Barat juga punya. Tentu saja dengan ciri khasnya dan disesuaikan dengan kearifan lokalnya masing-masing. Ternyata Jawa Barat “beunghar ku opak”.

Cianjur yang terkenal dengan produksi beras ketannya yang melimpah mempunyai Opak Mak Ilah yang cukup legendaris. Secara kualitas dan rasa, opak Sukagalih dikenal jempolan dan gurih rasanya. 

Dari kawasan Bandung Timur, Opak Linggar Rancaekek adalah camilan khas yang melegenda. Jika Anda melewati Rancaekek, akan tampak deretan kios penjaja Opak Linggar. Opak Linggar diproduksi secara massal di Desa Linggar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Tasikmalaya pun punya opak khas. Opak Tasik sebenarnya sudah tersohor kelezatannya dibanding dengan opak produksi lain sebab rasanya lebih gurih dan renyah.

Opak Tasik tidak sembarangan menggunakan bahan bakunya. Opak Tasik pakai telur, susu, ketan, santan kelapa, dan margarine.

Beda lagi dengan Opak Cimanggung, Sumedang. Bagi kamu yang singgah ke Sumedang melewati Jalan Raya Cicalengka-Nagreg wajib mampir sebentar. Di sana ada banyak toko-toko berjejer di pinggir jalan yang menjajakan berbagai camilan, salah satunya Opak Ketan Cimanggung.

Opak Ketan Cimanggung merupakan salah satu makanan khas Sumedang yang dikenal sebagai camilan para bangsawan Sumedang kala itu.

Jadi, sekali lagi Jawa Barat memang “beunghar ku opak”. Sesuatu hal yang kreatif dan positif. Siapa yang paling enak dan juara? Itu tidak penting. Yang penting, pemerintah harus menjaga dan melindungi UMKM ini supaya terus berkembang sehingga meningkatkan perekonomian mereka. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dudung Ridwan
Tentang Dudung Ridwan
Jurnalis dan Pengamat Bulutangkis

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)