Longsor Wangunsari Lembang Terjang Pemukiman Warga saat Dini Hari

4 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Longsor Wangunsari, Lembang, bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Longsor Wangunsari, Lembang, bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Langit belum memutih saat bumi di Kampung Areng, Desa Wangunsari, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, mulai bergerak. Hujan deras yang mengguyur sejak malam sebelumnya akhirnya memicu longsor dahsyat, tepat pukul 04.20 WIB, Jumat, 16 Mei 2025.

Suara gemuruh mengguncang permukiman warga yang masih terlelap. Tanpa peringatan, tebing setinggi 30 meter longsor, menyeret tanah dan pepohonan, menghantam rumah-rumah yang berdiri di bawahnya.

“Curah hujan intensitas tinggi menyebabkan tebing setinggi kurang lebih 30 meter dengan lebar 50 meter longsor,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Barat, Meidi, saat dikonfirmasi.

Sebagai akibat kejadian tersebut, tiga rumah rusak berat, satu rusak sedang, dan satu lainnya rusak ringan. Sebanyak 21 unit rumah masuk dalam zona bahaya dan lima rumah yang berada di atas tebing juga terancam longsor susulan. Total, 31 kepala keluarga dengan jumlah 104 jiwa terpaksa mengungsi.

Di antara mereka terdapat lima lansia, 26 anak-anak, dan tiga balita. Dua orang warga dilaporkan mengalami luka ringan akibat tertimpa reruntuhan. Saat ini, seluruh pengungsi ditampung sementara di masjid dan tenda darurat di sekitarnya. Material longsor yang menutup jalan membuat proses evakuasi dan pembersihan menjadi terhambat.

“Saya Panik, Enggak Bisa Keluar”

Salah satu korban yang terdampak langsung adalah Ratnasingsih, warga RT 01/11, yang pada saat kejadian sedang berada di dapur rumahnya. Masih lekat dalam ingatannya, aroma tanah basah yang tiba-tiba menyusup di antara hujan. Tak lama kemudian, suara gemuruh terdengar begitu dekat.

“Saya cuma sempat menoleh, terus langsung gelap... lumpur di mana-mana. Saya panik, enggak bisa keluar,” kenangnya, masih terguncang.

Tanah longsor menutup pintu dapurnya, memerangkapnya dalam gelap. Berteriak sekuat tenaga, ia memanggil tetangga sekitar. Beberapa orang yang mendengar teriakan itu bergegas membantu, mendobrak jendela dapur, dan menarik Ratnasingsih keluar.

Tapi kepanikan Ratna belum selesai. Dua anak perempuannya masih berada di kamar: Iin Nuraeni (21) dan Elva Rivani (12). Iin sempat berusaha menyelamatkan adiknya, namun dirinya justru tertimbun tanah hingga setengah badan. Ayahnya, Ada (50), bersama warga lain, menggali tanah dengan tangan kosong.

“Saya cuma mikir, asal adik saya selamat, saya enggak apa-apa,” ujar Iin lirih, menahan sakit akibat luka lebam di tangan dan kakinya.

Butuh waktu lebih dari satu jam hingga Iin berhasil dievakuasi. Beruntung, keduanya selamat dan hanya mengalami luka ringan. Mereka langsung dibawa ke klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan.

Kisah Ratnasingsih dan keluarganya adalah satu dari puluhan cerita warga Wangunsari yang pagi itu harus berhadapan dengan bencana alam. Bencana yang tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga mengguncang rasa aman dan kepastian hidup.

Dari keterangan Kepala Desa Wangunsari, Diki Rohandi, dua warga sempat tertimbun material longsor saat menyelamatkan diri: Iin Nuraeni dan Hada Mardiana (49). Keduanya sempat terjebak reruntuhan bangunan saat sedang menonton televisi. Namun berhasil dievakuasi dan dinyatakan hanya mengalami luka ringan.

“Cuma luka ringan, setelah diobservasi dokter langsung bisa pulang lagi,” terang Diki.

Warga Diungsikan, Tunggu Kepastian

Seluruh warga yang terdampak saat ini diungsikan ke masjid setempat dan sejumlah tenda yang didirikan di halamannya. Ketua RW 11, Nandang, menyebut kondisi pengungsian cukup memprihatinkan. Ruangan sempit, alas tidur terbatas, serta minimnya pasokan makanan bayi dan obat-obatan menjadi persoalan harian.

“Semuanya diungsikan ke masjid pakai tenda. Karena tanahnya labil, khawatir longsor susulan. Total ada 31 KK yang mengungsi, kalau rumah ada 21 unit,” katanya.

Warga mengungsi di masjid. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Dia juga menyampaikan harapan warga agar ada kepastian relokasi dari pemerintah. Pasalnya, lokasi rumah mereka dinilai sudah tidak aman untuk kembali ditinggali. Struktur tanah yang curam dan labil membuat risiko longsor susulan masih sangat tinggi.

“Kemungkinan rumah-rumah ini harus direlokasi karena udah gak aman. Lokasi ini terlalu curam dan labil,” katanya.

Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, mengatakan bahwa saat ini prioritas pemerintah adalah mengamankan warga dari bahaya lanjutan. Ia juga berjanji akan menyediakan tempat pengungsian yang lebih layak.

“Kondisinya memang berdesakan, yang penting semua aman dulu. Nanti kita siapkan tempat pengungsian yang lebih layak. Tidak ada korban jiwa, hanya seorang warga luka ringan karena tertimpa bangunan,” ungkap Jeje saat meninjau lokasi.

Ia menambahkan bahwa kondisi geologi wilayah Wangunsari memang berisiko tinggi. Hujan deras yang mengguyur beberapa hari terakhir memperparah situasi. "Kalau dilihat, ini karena kondisi tanah tempat rumah berdiri sangat labil. Ditambah curah hujan yang tinggi, kita minta masyarakat tidak mendekat dulu karena potensi longsor susulan," ujarnya.

Kini, warga Wangunsari bertahan dalam kondisi darurat. Namun yang mereka butuhkan lebih dari sekadar bantuan logistik. Mereka menanti kepastian: apakah bisa kembali ke rumah, atau harus memulai hidup di tempat baru. Bagi mereka, rasa aman tidak lagi bisa dibeli dengan dinding dan atap, tetapi dengan kejelasan dan kepastian dari negara.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)