Setiap Pagi, Rakit Bambu jadi Harapan Siswa di Tepian Waduk Saguling

3 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Pagi itu, kabut turun rendah di Waduk Saguling. Air tenang, tapi udara menusuk. Dari balik gumpalan embun, muncul siluet kecil: rakit bambu dengan tali tambang, meluncur pelan. Di atasnya berdiri bocah perempuan, rambut dikepang dua, seragam SD rapi, dan sepatu yang tampak sudah siap basah.

Dia bernama Kaila. Umurnya 9 tahun. Sudah kelas 2 SD di Panaruban. Hari itu bukan hari pertama ia menyeberang dengan rakit. Juga bukan yang terakhir. Ini rutinitas. Setiap hari. Jam 06.30 pagi. Tak pernah terlambat, bahkan ketika rakit dipakai tetangga duluan untuk mancing ikan.

“Udah biasa naik rakit, nggak takut,” katanya, 27 Mei 2025. Tenang saja. Seolah yang ditapaki itu bukan air, tapi jalan beton beraspal.

Rakit itu bukan milik sekolah. Bukan pula milik pemerintah. Itu rakit warga, yang dipakai bersama. Sekali waktu untuk anak-anak sekolah, lain waktu untuk orang tua bawa hasil panen atau cari ikan. Kadang kalau lagi apes, rakitnya tak ada. Entah siapa pinjam. Maka Kaila harus tunggu. Sabar. Tidak marah. Tidak minta diantar naik mobil dinas.

Sekolah Kaila tak jauh sebenarnya. Hanya terpisah air sejauh 120 meter. Tapi air itu—yang dulunya sawah dan ladang—adalah bekas proyek besar bernama Waduk Saguling. Dibangun tahun 1984, bendungan itu menenggelamkan banyak tanah. Dan memisahkan dusun satu dengan dusun lain di Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.

Puluhan tahun sudah air waduk itu menghalangi jalan warga. Terutama warga Dusun 1 dan Dusun 4. Kedua wilayah yang secara administratif satu desa, tapi secara geografis dipisahkan air. Kantor desa ada di seberang. Puskesmas juga. Sekolah juga. Maka rakit jadi solusi. Sementara, katanya.

Ironisnya, bukan warga yang tak ingin jembatan. Mereka sudah usul. Berkali-kali. Tapi mengurus izin jembatan bukan perkara sederhana. Dari pemerintah daerah tidak keluar. Dari pengelola waduk pun tak bergeming. Padahal yang dibutuhkan bukan jembatan beton raksasa. Cukup jembatan gantung. Yang bisa dilewati motor, atau minimal anak-anak sekolah tanpa harus basah.

"Sudah tiga kali kami ajukan ke Indonesia Power, tapi belum ada respon. Kalau ke Pemkab Bandung Barat sudah pernah, tapi baru sebatas minta saran," kata Asep Hermawan, Kepala Desa Karanganyar.

Kalau pun memaksa lewat jalan darat, jaraknya 16 hingga 20 kilometer. Waktu tempuh dua jam. Ongkos bisa Rp50 ribu bolak-balik. Itu untuk warga yang mau ke kantor desa saja. Belum yang mau sekolah, atau ke Puskesmas.

“Siswa sekarang yang naik rakit paling tinggal 7 orang. Biasanya jam 07.00 WIB mereka nyebrang. Tapi rakit itu juga dipakai warga buat keperluan lain. Jadi kadang anak-anak harus nunggu,” tambah Asep.

Guru Kaila, Pak Dodo Jalal, tahu betul cerita ini. Sudah bertahun-tahun ia mengajar di SDN Panaruban. “Dulu murid yang naik rakit ada 15 orang. Sekarang tinggal lima. Kelas 1 sampai kelas 3,” katanya.

Dulu sekolah pernah bikin rakit sendiri. Untuk murid-muridnya. Tapi rusak. Tak ada yang memperbaiki. Anggaran? Jelas tak ada. Maka anak-anak harus nebeng rakit warga.

“Saya harap pemerintah bisa membuat jembatan. Minimal motor bisa lewat,” kata Dodo.

 (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
(Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Permintaan yang sederhana. Tapi mungkin terlalu sederhana. Tak cukup bombastis untuk headline. Tidak canggih untuk proyek peresmian. Tidak megah untuk disebut legacy kepala daerah. Tapi dampaknya besar.

Satu jembatan, untuk lima atau tujuh anak sekolah, terdengar agak boros. Tapi bukankah anggaran negara juga banyak yang boros? Untuk acara seremonial. Untuk studi banding. Untuk rapat-rapat yang hasilnya tidak tahu ke mana.

Jembatan itu akan menyatukan dusun yang telah terpisah selama puluhan tahun. Akan mempertemukan anak-anak dengan sekolahnya, tanpa harus basah atau terlambat karena rakit dicuri ikan.

Tapi entahlah. Sejauh ini, jembatan itu masih mimpi.

Kaila tidak tahu tentang izin jembatan. Tidak kenal siapa pengelola waduk. Tidak tahu siapa pejabat-pejabat teras yang berwenang. Ia hanya tahu setiap pagi harus naik rakit. Pegang tambang erat-erat. Menyeberang tanpa jatuh. Jalan kaki 700 meter. Lalu duduk manis di bangku kelas, belajar matematika, IPA, dan menggambar.

"Kalau naik motor jauh, ongkosnya mahal. Kalau lewat rakit bayarnya seikhlasnya,” katanya polos.

Pagi itu, seperti biasa, rakit datang tepat waktu. Kaila naik. Pegang tali. Lalu melaju pelan. Matahari naik. Kabut perlahan pergi. Tapi masalah itu masih tinggal di sana: jembatan yang tak kunjung datang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)