Hikayat Kasus Dukun AS, Pembunuh Berantai Legendaris Indonesia

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Dukun AS alias Ahmad Suradji.
Dukun AS alias Ahmad Suradji.

AYOBANDUNG.ID - Suara letusan yang memecah keheningan malam di Kecamatan Galang itu bukanlah suara petani yang menembak hama, melainkan akhir dari kisah seorang dukun yang menjadikan mimpi sebagai alasan pembunuhan berantai. Dengan 42 korban yang terkubur di balik rimbun tebu, Ahmad Suradji menutup catatan kriminalnya dengan cara yang sama dramatisnya seperti hidup yang ia jalani: sunyi, gelap, dan penuh teka-teki yang tak pernah benar-benar terjawab.

Sekitar pukul sepuluh malam, suara letusan pecah seperti petasan akhir musim panen, hanya saja kali ini tak ada anak kecil yang bersorak. Di balik pepohonan, dua belas anggota Brimob berdiri tegang bersama senapan mereka. Tiga di antara senjata itu diam-diam berisi peluru sungguhan, dan tak satu pun dari para penembaknya tahu senjata siapa yang membawa takdir.

Begitu dentuman itu selesai menggema, tubuh seorang pria yang matanya ditutup dan tangannya terikat pada pohon ambruk perlahan. Begitulah berakhir hidup Ahmad Suradji, tokoh gelap yang populer dengan nama Dukun AS, sekaligus pembunuh berantai dengan rekor korban terbanyak dalam sejarah kriminal Indonesia.

Baca Juga: Hikayat Kasus Pembunuhan Marsinah, Pahlawan Buruh yang Kini Diakui Istana

Kisah Dukun AS bukan sekadar berita kriminal. Ia adalah dongeng kegelapan yang dipahat dalam-dalam di benak publik, terutama warga Sumatera Utara. Namanya mencuat sejak pengakuannya pada 1997 mengguncang satu negeri. Ia mengaku telah menghabisi 42 perempuan dalam kurun waktu sebelas tahun. Angka itu melampaui catatan Robot Gedek atau Ryan Jombang, membuatnya berdiri sendirian dalam deretan pembunuh berantai paling produktif yang pernah dicatat Indonesia.

Lahir pada 10 Januari 1949 dengan nama Nasib, pria ini tumbuh dalam sebuah keluarga yang tak jauh dari dunia mistis. Ayahnya seorang dukun, dan profesi itu agaknya menghampiri sang anak seperti bekalan takdir. Sayangnya, takdir itu datang tanpa bimbingan langsung. Ayahnya meninggal saat ia baru tujuh bulan. Nasib kecil tumbuh normal seperti anak desa lain: bermain di ladang, berkejaran dengan teman, dan sesekali membuat ulah.

Tetangganya menjulukinya Nasib Kelewang setelah ia selamat dari kecemplung sumur ketika kecil, sebuah peristiwa yang baginya mungkin terasa biasa tapi bagi orang kampung sudah cukup untuk menganggapnya berbakat aneh.

Saat dewasa, Nasib tak hanya mengekspor keanehan itu, tetapi juga mulai menyimpan watak gelap yang sulit ditebak. Di usia 19 tahun, ia terseret ke penjara untuk urusan yang barangkali dianggap remeh oleh sebagian warga desa: pencurian dan kekerasan. Usai keluar, ia kembali berbuat ulah dengan mencuri ternak warga. Sama seperti sebelumnya, pintu sel kembali menutup untuknya. Tak ada yang menyangka bahwa pemuda lulusan sekolah dasar yang tampak biasa ini perlahan membentuk bayangan besar yang kelak menebarkan ngeri bagi semua orang.

Titik perubahan hidupnya terjadi pada malam tertentu di tahun 1986. Menurut penuturannya, ia bermimpi bertemu ayahnya. Sang ayah datang membawa warisan yang tak berupa benda. Sebuah bisikan gaib, demikian klaimnya, yang menyuruhnya membunuh 70 perempuan agar memperoleh kesaktian. Bila dunia mimpi itu dianggap semacam panggilan, maka panggilan tersebut segera diikuti tanpa ragu.

Baca Juga: Hikayat Sumanto, Kanibal Tobat yang Tertidur Lelap dalam Siaran Televisi

Ia mulai mempercantik identitasnya. Ia menjadi Dukun AS, sosok yang menawarkan bantuan spiritual pada siapa pun yang datang dengan harapan kekayaan, kecantikan, dan keberuntungan. Dunia perdukunan menjadi kedok rapi bagi obsesi kelam yang sudah mengambil alih hati dan pikirannya.

Korban pertamanya adalah seorang perempuan bernama Tukiyem pada Desember 1986. Ia datang dengan impian sederhana yang sering menemani banyak perempuan di desa lain: hidup lebih baik. Tetapi di tangan Dukun AS, mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk. Modus Suradji nyaris sama untuk setiap korban.

Ritual dimulai dengan air putih yang sudah diludahi. Setelah beberapa sesi, ia meminta korban datang ke ladang pada malam hari. Di antara batang tebu yang bergoyang pelan ditiup angin, kejahatan itu berlangsung senyap seperti liturgi rahasia.

Ia membawa karung, cangkul, dan tali. Korban diminta memegang senter untuk menerangi tanah. Lubang satu meter digali, cukup untuk menanam tubuh manusia hingga pinggang. Korban kemudian disuruh melepas pakaiannya dan membenamkan tubuhnya dalam tanah. Ketika suara jangkrik berada di puncak konser malam, Suradji menutup mulut dan hidung korban dengan tangan kiri, dan tangan kanannya menekan leher. Korban tak bisa bergerak, setengah tubuhnya telah dikubur seperti tanaman yang gagal tumbuh.

Setelah korban tewas, Suradji melakukan ritual yang membuat siapa pun yang mendengarnya ngeri berkepanjangan. Tubuh korban kemudian dikeluarkan, dilucuti pakaiannya, lalu dikubur kembali dengan kepala menghadap rumah sang dukun. Pagi harinya, ia berjalan-jalan seperti warga biasa, seolah malam tadi hanya tidur lebih nyenyak dari biasanya.

Desa Sei Semayang menjadi panggung kelam bagi 42 perempuan berusia antara 11 hingga 30 tahun yang menjadi korban berikutnya. Nama-nama mereka kini tinggal dalam catatan forensik, dimulai dari Yusniar pada 1987, lalu Tomblok, Rusmina, Diduk, Rusmiani, dan puluhan lainnya. Selama sebelas tahun, masyarakat tak curiga sedikit pun. Ritual pembunuhan dilakukan di ladang tebu yang kemudian dikenal sebagai kuburan massal yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Baca Juga: Hikayat Dukun Digoeng Bantai Warga Cililin, Gegerkan Wangsa Kolonial di Bandung

Footage berita kasus Dukun AS.
Footage berita kasus Dukun AS.

Terkuaknya Kuburan Tebu

Semua kebusukan itu akhirnya terungkap pada 27 April 1997. Ladang tebu desa itu, yang sebelumnya dianggap lokasi paling aman untuk sekadar mengobrol sambil memetik pucuk muda, mendadak menjadi tempat yang menakutkan. Warga menemukan mayat perempuan tanpa busana. Korban itu adalah Sri Kemala Dewi, seorang gadis 22 tahun yang hilang tiga hari sebelumnya. Seorang warga mengaku pernah mengantar Dewi ke rumah Dukun AS, dan informasi kecil itu menjadi potongan kunci yang memecahkan misteri panjang.

Polisi bergerak cepat. Di rumah Suradji, petugas menemukan perhiasan, pakaian perempuan, dan barang-barang milik korban. Tak perlu waktu lama sebelum Suradji dan tiga istrinya diringkus. Ketiga istrinya adalah kakak beradik: Tumini, Tuminah, dan Ngatiyah, sebuah susunan keluarga yang mungkin lebih cocok dijadikan sinetron televisi daripada fakta lapangan.

Dalam pemeriksaan, Suradji awalnya mengaku membunuh 16 perempuan. Tetapi angka itu terus bertambah seperti hitungan kalender kotor yang belum dibersihkan. Ketika polisi menemukan 42 kerangka manusia di ladang tebu, tak ada lagi penyangkalan yang tersisa.

Baca Juga: Hikayat Ponari, Dukun Cilik Batu Petir Pembelah Logika Orang Dewasa

Persidangan Dukun AS dimulai 11 Desember 1997. Dokumen dakwaan setebal ratusan halaman dibacakan di ruang sidang yang penuh sesak. Pada 24 April 1998, ia dijatuhi hukuman mati. Bukannya sedih, ia tampak tenang, hampir seperti orang yang baru saja menerima kabar bahwa panennya berhasil, bukan vonis hukuman paling berat. Upaya banding dan kasasi dilakukan, tetapi semuanya kandas. Hingga permohonan grasi terakhir pada 2007 pun ditolak.

Selama di penjara, Suradji mengaku bertobat dan mengikuti kegiatan rohani. Tetapi bagi para keluarga korban, pertobatan tak mengubah jumlah kuburan. Dan bagi pengadilan, pertobatan tak mengubah hukuman.

Kontroversi singkat sempat muncul ketika istrinya, Tumini, mengajukan grasi di awal 2008. LBH Medan menilai eksekusi tak boleh dilakukan sebelum ada keputusan presiden. Namun polemik itu tak menjadi panjang. Pada malam gelap di bulan Juli, hukuman mati dijalankan.

Di akhir hidupnya, Dukun AS tetap menjadi figur yang dijauhi masyarakat. Warga Sei Semayang menolak jasadnya dimakamkan di kuburan desa. Mereka takut kuburan itu menjadi tempat ziarah atau malah dianggap angker. Keluarga akhirnya menguburkannya di lokasi lain yang lebih tenang, jauh dari ladang tebu yang dulu menjadi panggung kejahatannya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!