Hikayat Kasus Dukun AS, Pembunuh Berantai Legendaris Indonesia

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Rabu 26 Nov 2025, 18:34 WIB
Dukun AS alias Ahmad Suradji.

Dukun AS alias Ahmad Suradji.

AYOBANDUNG.ID - Suara letusan yang memecah keheningan malam di Kecamatan Galang itu bukanlah suara petani yang menembak hama, melainkan akhir dari kisah seorang dukun yang menjadikan mimpi sebagai alasan pembunuhan berantai. Dengan 42 korban yang terkubur di balik rimbun tebu, Ahmad Suradji menutup catatan kriminalnya dengan cara yang sama dramatisnya seperti hidup yang ia jalani: sunyi, gelap, dan penuh teka-teki yang tak pernah benar-benar terjawab.

Sekitar pukul sepuluh malam, suara letusan pecah seperti petasan akhir musim panen, hanya saja kali ini tak ada anak kecil yang bersorak. Di balik pepohonan, dua belas anggota Brimob berdiri tegang bersama senapan mereka. Tiga di antara senjata itu diam-diam berisi peluru sungguhan, dan tak satu pun dari para penembaknya tahu senjata siapa yang membawa takdir.

Begitu dentuman itu selesai menggema, tubuh seorang pria yang matanya ditutup dan tangannya terikat pada pohon ambruk perlahan. Begitulah berakhir hidup Ahmad Suradji, tokoh gelap yang populer dengan nama Dukun AS, sekaligus pembunuh berantai dengan rekor korban terbanyak dalam sejarah kriminal Indonesia.

Baca Juga: Hikayat Kasus Pembunuhan Marsinah, Pahlawan Buruh yang Kini Diakui Istana

Kisah Dukun AS bukan sekadar berita kriminal. Ia adalah dongeng kegelapan yang dipahat dalam-dalam di benak publik, terutama warga Sumatera Utara. Namanya mencuat sejak pengakuannya pada 1997 mengguncang satu negeri. Ia mengaku telah menghabisi 42 perempuan dalam kurun waktu sebelas tahun. Angka itu melampaui catatan Robot Gedek atau Ryan Jombang, membuatnya berdiri sendirian dalam deretan pembunuh berantai paling produktif yang pernah dicatat Indonesia.

Lahir pada 10 Januari 1949 dengan nama Nasib, pria ini tumbuh dalam sebuah keluarga yang tak jauh dari dunia mistis. Ayahnya seorang dukun, dan profesi itu agaknya menghampiri sang anak seperti bekalan takdir. Sayangnya, takdir itu datang tanpa bimbingan langsung. Ayahnya meninggal saat ia baru tujuh bulan. Nasib kecil tumbuh normal seperti anak desa lain: bermain di ladang, berkejaran dengan teman, dan sesekali membuat ulah.

Tetangganya menjulukinya Nasib Kelewang setelah ia selamat dari kecemplung sumur ketika kecil, sebuah peristiwa yang baginya mungkin terasa biasa tapi bagi orang kampung sudah cukup untuk menganggapnya berbakat aneh.

Saat dewasa, Nasib tak hanya mengekspor keanehan itu, tetapi juga mulai menyimpan watak gelap yang sulit ditebak. Di usia 19 tahun, ia terseret ke penjara untuk urusan yang barangkali dianggap remeh oleh sebagian warga desa: pencurian dan kekerasan. Usai keluar, ia kembali berbuat ulah dengan mencuri ternak warga. Sama seperti sebelumnya, pintu sel kembali menutup untuknya. Tak ada yang menyangka bahwa pemuda lulusan sekolah dasar yang tampak biasa ini perlahan membentuk bayangan besar yang kelak menebarkan ngeri bagi semua orang.

Titik perubahan hidupnya terjadi pada malam tertentu di tahun 1986. Menurut penuturannya, ia bermimpi bertemu ayahnya. Sang ayah datang membawa warisan yang tak berupa benda. Sebuah bisikan gaib, demikian klaimnya, yang menyuruhnya membunuh 70 perempuan agar memperoleh kesaktian. Bila dunia mimpi itu dianggap semacam panggilan, maka panggilan tersebut segera diikuti tanpa ragu.

Baca Juga: Hikayat Sumanto, Kanibal Tobat yang Tertidur Lelap dalam Siaran Televisi

Ia mulai mempercantik identitasnya. Ia menjadi Dukun AS, sosok yang menawarkan bantuan spiritual pada siapa pun yang datang dengan harapan kekayaan, kecantikan, dan keberuntungan. Dunia perdukunan menjadi kedok rapi bagi obsesi kelam yang sudah mengambil alih hati dan pikirannya.

Korban pertamanya adalah seorang perempuan bernama Tukiyem pada Desember 1986. Ia datang dengan impian sederhana yang sering menemani banyak perempuan di desa lain: hidup lebih baik. Tetapi di tangan Dukun AS, mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk. Modus Suradji nyaris sama untuk setiap korban.

Ritual dimulai dengan air putih yang sudah diludahi. Setelah beberapa sesi, ia meminta korban datang ke ladang pada malam hari. Di antara batang tebu yang bergoyang pelan ditiup angin, kejahatan itu berlangsung senyap seperti liturgi rahasia.

Ia membawa karung, cangkul, dan tali. Korban diminta memegang senter untuk menerangi tanah. Lubang satu meter digali, cukup untuk menanam tubuh manusia hingga pinggang. Korban kemudian disuruh melepas pakaiannya dan membenamkan tubuhnya dalam tanah. Ketika suara jangkrik berada di puncak konser malam, Suradji menutup mulut dan hidung korban dengan tangan kiri, dan tangan kanannya menekan leher. Korban tak bisa bergerak, setengah tubuhnya telah dikubur seperti tanaman yang gagal tumbuh.

Setelah korban tewas, Suradji melakukan ritual yang membuat siapa pun yang mendengarnya ngeri berkepanjangan. Tubuh korban kemudian dikeluarkan, dilucuti pakaiannya, lalu dikubur kembali dengan kepala menghadap rumah sang dukun. Pagi harinya, ia berjalan-jalan seperti warga biasa, seolah malam tadi hanya tidur lebih nyenyak dari biasanya.

Desa Sei Semayang menjadi panggung kelam bagi 42 perempuan berusia antara 11 hingga 30 tahun yang menjadi korban berikutnya. Nama-nama mereka kini tinggal dalam catatan forensik, dimulai dari Yusniar pada 1987, lalu Tomblok, Rusmina, Diduk, Rusmiani, dan puluhan lainnya. Selama sebelas tahun, masyarakat tak curiga sedikit pun. Ritual pembunuhan dilakukan di ladang tebu yang kemudian dikenal sebagai kuburan massal yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Baca Juga: Hikayat Dukun Digoeng Bantai Warga Cililin, Gegerkan Wangsa Kolonial di Bandung

Footage berita kasus Dukun AS.
Footage berita kasus Dukun AS.

Terkuaknya Kuburan Tebu

Semua kebusukan itu akhirnya terungkap pada 27 April 1997. Ladang tebu desa itu, yang sebelumnya dianggap lokasi paling aman untuk sekadar mengobrol sambil memetik pucuk muda, mendadak menjadi tempat yang menakutkan. Warga menemukan mayat perempuan tanpa busana. Korban itu adalah Sri Kemala Dewi, seorang gadis 22 tahun yang hilang tiga hari sebelumnya. Seorang warga mengaku pernah mengantar Dewi ke rumah Dukun AS, dan informasi kecil itu menjadi potongan kunci yang memecahkan misteri panjang.

Polisi bergerak cepat. Di rumah Suradji, petugas menemukan perhiasan, pakaian perempuan, dan barang-barang milik korban. Tak perlu waktu lama sebelum Suradji dan tiga istrinya diringkus. Ketiga istrinya adalah kakak beradik: Tumini, Tuminah, dan Ngatiyah, sebuah susunan keluarga yang mungkin lebih cocok dijadikan sinetron televisi daripada fakta lapangan.

Dalam pemeriksaan, Suradji awalnya mengaku membunuh 16 perempuan. Tetapi angka itu terus bertambah seperti hitungan kalender kotor yang belum dibersihkan. Ketika polisi menemukan 42 kerangka manusia di ladang tebu, tak ada lagi penyangkalan yang tersisa.

Baca Juga: Hikayat Ponari, Dukun Cilik Batu Petir Pembelah Logika Orang Dewasa

Persidangan Dukun AS dimulai 11 Desember 1997. Dokumen dakwaan setebal ratusan halaman dibacakan di ruang sidang yang penuh sesak. Pada 24 April 1998, ia dijatuhi hukuman mati. Bukannya sedih, ia tampak tenang, hampir seperti orang yang baru saja menerima kabar bahwa panennya berhasil, bukan vonis hukuman paling berat. Upaya banding dan kasasi dilakukan, tetapi semuanya kandas. Hingga permohonan grasi terakhir pada 2007 pun ditolak.

Selama di penjara, Suradji mengaku bertobat dan mengikuti kegiatan rohani. Tetapi bagi para keluarga korban, pertobatan tak mengubah jumlah kuburan. Dan bagi pengadilan, pertobatan tak mengubah hukuman.

Kontroversi singkat sempat muncul ketika istrinya, Tumini, mengajukan grasi di awal 2008. LBH Medan menilai eksekusi tak boleh dilakukan sebelum ada keputusan presiden. Namun polemik itu tak menjadi panjang. Pada malam gelap di bulan Juli, hukuman mati dijalankan.

Di akhir hidupnya, Dukun AS tetap menjadi figur yang dijauhi masyarakat. Warga Sei Semayang menolak jasadnya dimakamkan di kuburan desa. Mereka takut kuburan itu menjadi tempat ziarah atau malah dianggap angker. Keluarga akhirnya menguburkannya di lokasi lain yang lebih tenang, jauh dari ladang tebu yang dulu menjadi panggung kejahatannya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 11:56 WIB

Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan PLTU.
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)