Hikayat Kusni Kasdut, Pejuang Revolusi yang jadi Perampok Legendaris

8 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Kusni Kasdut
Kusni Kasdut

AYOBANDUNG.ID - Pada suatu pagi di akhir Mei 1961, kota Jakarta masih sibuk dengan rutinitas: trem meringkik dari Stasiun Jakarta Kota, pegawai negeri mengusap keringat sebelum menghadap kantor, dan udara sudah terasa gerah sejak matahari belum naik sepenuhnya. Tak ada yang menduga bahwa di balik keriuhan itu, seorang lelaki berwajah datar dengan seragam polisi gadungan sedang mematangkan langkah paling nekat dalam sejarah kriminal Indonesia. Lelaki itu bernama Kusni Kasdut, dan Museum Nasional di Jalan Merdeka Barat akan menjadi panggung yang mengubah namanya menjadi legenda.

Perampokan museum biasanya hanya ditemukan dalam novel atau film Hollywood, melibatkan pencuri dengan sarung tangan kulit, pengaman laser, dan jargon canggih. Jakarta tahun 1961 belum mengenal semua itu. Keamanan museum lebih mengandalkan alat-alat sederhana dan rasa percaya penuh pada petugas berseragam. Dan justru kepercayaan itulah yang direnggut Kusni dengan penuh kecermatan.

Ia datang bersama tiga rekan, menumpang jeep curian dengan plat nomor palsu, juga seragam polisi yang tampak meyakinkan bila dilihat sepintas. Rencana disusun di sebuah rumah di Slipi, dan di sanalah empat lelaki itu meyakinkan diri bahwa semuanya akan berjalan mulus.

Baca Juga: Hikayat Kasus Dukun AS, Pembunuh Berantai Legendaris Indonesia

Ketika jeep mereka berhenti di halaman Museum Gajah, siapa pun yang melihat pasti menganggap kedatangan para penegak hukum itu bagian dari inspeksi rutin. Dua rekannya sibuk mengobrol dengan petugas jaga, mengajukan pertanyaan-pertanyaan sok serius yang entah relevan atau tidak. Sementara Kusni melenggang masuk ke lantai atas museum, lalu berhenti di depan lemari kaca berisi permata kuno Nusantara. Obeng besar diselipkan dalam pakaian, seperti kawan lama yang siap bekerja.

Dalam hitungan menit, sebelas permata berharga disambar dan dimasukkan ke dalam tas. Nilainya diestimasi mencapai miliaran rupiah bila dikonversi hari ini, cukup untuk membuat para kolektor permata menahan napas.

Semuanya berlangsung begitu cepat. Tak ada bunyi tembakan, tak ada teriakan dramatis, tak ada pertarungan ala film koboi. Kusni turun lagi, mengangguk tenang pada petugas museum yang tak curiga sedikit pun, lalu kembali naik ke jeep yang langsung melesat ke jalanan Jakarta.

Hari itu, Museum Nasional menjadi tuan rumah dari perampokan paling fenomenal sepanjang sejarah Indonesia. Dan pada hari yang sama, nama Kusni Kasdut terbang tinggi ke seantero negeri, lebih cepat dari koran yang mencetak berita esok paginya.

Kusni Kasdut berhasil membawa kabur 11 permata koleksi museum yang nilainya mencapai Rp2,5 miliar. Aksi nekat di pusat kota Jakarta ini tidak hanya menggemparkan masyarakat, tetapi juga mempermalukan aparat keamanan yang dianggap kecolongan. Museum Nasional yang menyimpan ribuan koleksi berharga dari berbagai penjuru Nusantara tiba-tiba menjadi bukti kerentanan keamanan di era awal kemerdekaan.

Perampokan permata di Museum Nasional menjadi titik balik perjalanan hidup seorang mantan pejuang kemerdekaan yang sudah lama kecewa pada negara yang ia bela. Namun, kisah Kusni jauh lebih panjang dan lebih berliku dari serangan cepat di museum itu. Ia berawal dari seorang bocah yang tumbuh dalam kemiskinan, lalu pejuang yang tak dianggap, hingga akhirnya menjadi kriminal yang begitu lihai sampai aparat pun berkali-kali keok menghadapi kecerdikannya.

Baca Juga: Hikayat Sumanto, Kanibal Tobat yang Tertidur Lelap dalam Siaran Televisi

Museum Nasional. (Sumber: Wikimedia)
Museum Nasional. (Sumber: Wikimedia)

Hikayat Kasdut Si Bandit Cum Pejuang Revolusi

Kusni Kasdut bernama asli Ignatius Waluyo. Ia lahir pada Desember 1929 di Blitar dari pasangan petani miskin, Wonomejo dan Mbok Cilik. Ayahnya meninggal ketika ia masih berusia lima tahun, meninggalkan keluarga kecil itu dalam kondisi yang nyaris tak punya apa-apa.

Waluyo kecil berpindah ke Malang bersama ibunya, yang tinggal di gang sempit bernama Gang Jangkrik. Nama gang itu saja sudah cukup menunjukkan betapa getir kehidupan di sana: riuh, sempit, dan tak menjanjikan apa pun.

Di terminal Malang, bocah itu belajar mengenal dunia. Ia menjajakan rokok dan permen kepada penumpang bus, melihat orang-orang datang dan pergi dengan wajah penuh harapan atau malas membayar. Jalanan adalah sekolah pertamanya, dan di sana ia belajar bahwa keberanian kadang dibangun dari perut yang lapar.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, bocah yang mulai tumbuh remaja itu melihat peluang. Ia bergabung dengan heiho, pasukan pembantu bentukan Jepang, dan ditempatkan di Batalion Matsamura. Pendidikan militernya tidak berlangsung lama, tetapi cukup untuk memberinya pelajaran dasar tentang disiplin, strategi, dan cara memegang senjata. Kelak semua itu menjadi modal penting dalam kehidupan keduanya sebagai kriminal paling dicari.

Waluyo kemudian kembali ke Malang setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II. Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, ia termasuk para pemuda yang merasakan getaran heroik itu. Tanpa banyak pertimbangan, ia bergabung dengan laskar di bawah Tentara Keamanan Rakyat di Rampal. Bersama pasukan Tentara Pelajar, ia bergerak menuju Surabaya dalam pertempuran penting yang kini diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan.

Sejak masa perjuangan itulah nama kecilnya berubah menjadi Kasdut. Julukan itu datang dari kebiasaannya menjalankan operasi lapangan untuk mencari dana perjuangan. Bukan sekadar menjual karcis atau meminta sumbangan, melainkan merampok tuan tanah kaya yang dianggap dekat dengan Belanda.

Baca Juga: Hikayat Johny Indo, Robin Hood Garut Pemburu Harta Orang Kaya

Ironisnya, tindakan kriminal itu justru dipandang heroik pada masa revolusi, karena hasilnya digunakan untuk kebutuhan pejuang. Kasdut dianggap cerdik, lincah, dan nekat. Seorang kawan bahkan menyebutnya Si Kancil karena selalu berhasil lolos dari kejaran musuh.

Tubuhnya penuh luka, termasuk satu tembakan yang membuatnya pincang kecil. Tetapi luka itu dianggap medali kehormatan dalam perang. Ia pernah ditangkap Belanda dan disiksa, tetapi tetap bungkam. Pada masa itu, hidupnya terasa masuk akal: negeri bertempur, ia bertugas, dan keberaniannya berguna. Namun semua berubah setelah Indonesia merdeka.

Tersingkirnya Kasdut Ketika Pahlawan Tak Lagi Dibutuhkan

Program rasionalisasi militer yang dicanangkan Mohammad Hatta membuat ribuan pejuang dipulangkan. Negara ingin membangun angkatan bersenjata yang terstruktur, dengan syarat dan pencatatan jelas. Para pejuang laskar yang tidak terdaftar resmi dianggap tidak memenuhi kualifikasi. Di sinilah hidup Kusni mulai terantuk.

Ia mencoba masuk TNI, bahkan berkali-kali. Namun selalu ditolak. Catatan militernya tidak lengkap, ia bukan bagian dari unit resmi, dan ia memiliki bekas luka tembak yang dianggap menyulitkan tugas fisik. Kusni berkali-kali datang ke lembaga penyalur mantan pejuang, tetapi pulang dengan tangan hampa.

Soalnya, penolakan tidak bisa dimakan. Anak-istrinya menunggu, dapur harus mengepul, beras harus dibeli. Indonesia saat itu sedang kacau ekonomi, ibarat rumah baru berdiri tapi belum punya atap, belum punya pintu, dan hujan turun setiap hari. Dalam situasi seperti itu, jalan pintas kadang terlihat seperti satu-satunya jalan.

Aksi pertamanya bukan murni kriminal. Ia bertemu Subagyo dan beberapa rekan lama, lalu melakukan pemerasan terhadap saudagar kaya. Hasilnya Rp600 ribu, jumlah yang pada masa itu cukup untuk membeli rumah, tanah, dan sawah. Yang mengejutkan, uang itu dibagi rata kepada sesama pejuang, seolah ia masih bekerja dalam semangat revolusi.

Sejak aksi itu, ia resmi mengadopsi nama baru: Kasdut. Dari Waluyo, berubah menjadi Kusni Kasdut, nama yang kelak membuat polisi pusing dan wartawan berbaris mencari cerita.

Baca Juga: Pemberontakan APRA Westerling di Bandung, Kudeta yang Percepat Keruntuhan RIS

Reputasinya mencapai titik tak bisa balik ketika ia ikut komplotan Bir Ali merampok rumah saudagar keturunan Arab, Ali Badjened, di Kebon Sirih, Jakarta, pada tahun 1960. Tembakan di malam hari yang merenggut nyawa sang saudagar membuat kasus itu meledak seperti petasan di tengah kampung. Pada masa itu, perampokan disertai pembunuhan masih jarang terjadi. Nama Kusni mulai bergeser dari cerita bisik-bisik menjadi headline koran.

Tapi jika kisah hidup seseorang diibaratkan sebuah novel, bagian paling dramatis biasanya belum muncul di bab tengah. Dalam hidup Kusni, bagian itu adalah Museum Gajah.

Setelah rampokan museum, aparat keamanan dibuat kelabakan. Mereka dikecam karena dianggap lalai. Namun Kusni terus menghilang seperti asap. Ia berpindah dari satu kota ke kota lain, mencoba menjual permata-permata itu secara bertahap di Surabaya dengan hati-hati. Tetapi kehati-hatiannya tak selalu sempurna. Perantara yang biasa membantunya ternyata sudah diawasi oleh polisi. Dari titik inilah jejak Kusni mulai terbuka.

Kabur Berulang Kali, Lalu Dieksekusi

Kusni Kasdut ditangkap tidak lama kemudian. Ia kemudian divonis hukuman mati oleh pengadilan pada 1964. Tertangkap dan vonis mati bukanlah akhir kisah Kusni. Dalam penjara, ia menunjukkan bakat lain: melarikan diri. Dalam hal ini, ia tampaknya tak kenal kata gagal. Ia kabur bukan sekali, tetapi delapan kali sepanjang hidupnya, termasuk ketika ia masih menjadi pejuang. Aksi kaburnya dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari menggergaji jeruji dengan obeng buatan hingga membuat tali dari sambungan kain. Polisi sampai memberi julukan tak resmi: belut licin.

Pelariannya yang kesembilan dan terakhir terjadi pada September 1979 dari LP Lowokwaru, Malang. Padahal ia sedang menunggu keputusan grasi dari Presiden Soeharto. Satu bulan ia menghilang, hingga akhirnya ditangkap di Surabaya. Di tempat persembunyiannya ditemukan senjata laras panjang dan puluhan peluru, bukti bahwa ia tak pernah benar-benar meninggalkan dunia kejahatan.

Setelah penangkapannya, grasi ditolak. Kusni dipindah ke Lapas Kalisosok, Surabaya. Di sana ia bertemu seorang pemuka agama Katolik dan akhirnya memutuskan untuk dibaptis. Ia memilih nama Ignatius Waluyo, kembali ke nama kecilnya yang ia tinggalkan puluhan tahun lalu. Pada masa-masa terakhir, ia membuat sebuah lukisan Gereja Katedral Jakarta menggunakan gedebog pisang, karya yang kini terpajang di Museum Katedral.

Jelang eksekusi, ia diberi kesempatan makan malam bersama keluarganya. Menu sederhana seperti capcay dan ayam goreng menemani pertemuan terakhir itu. Ia dieksekusi keesokan paginya di lapangan tembak dekat Gresik. Tahun 1980 menjadi akhir kisahnya, tetapi nama Kusni Kasdut justru hidup lebih lama dari tubuhnya.

Ia masuk komik biografi, ditulis ulang dalam buku sejarah kriminal, bahkan disebut dalam lagu God Bless berjudul Selamat Pagi Indonesia. Semua itu bukan karena orang mengagumi kejahatannya, tetapi karena kisahnya terlalu rumit untuk dipahami hanya sebagai kriminalitas. Ia adalah mantan pejuang yang kecewa, kriminal yang cerdas, pelarian yang tak kenal takut, dan manusia yang berubah di akhir hidupnya.

Kaca lemari yang dibobol Kusni di Museum Nasional sudah lama diganti. Tetapi sejarah tak pernah mengganti cerita. Perampokan permata itu tidak hanya mengubah hidup Kusni, tetapi juga mengubah cara Indonesia melihat sosok kriminal. Bahwa terkadang, garis antara pahlawan dan penjahat hanyalah sebuah garis tipis yang terbentuk dari hidup yang tak pernah benar-benar memberi kesempatan kedua.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:47

Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

Mengupas dilema orang Eropa hingga solidaritas buruh internasional demi melihat kemerdekaan dari sisi kemanusiaan.

Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)