Ketika Layar Mengaburkan Hati Nurani: Belajar dari Filsuf Hume di Era Society 5.0

4 menit baca
Taufik Hidayat
Ditulis oleh Taufik Hidayat diterbitkan
Pengguna telepon pintar. (Sumber: Pexels/Gioele Gatto)
Pengguna telepon pintar. (Sumber: Pexels/Gioele Gatto)

Tidak dapat kita pungkiri lagi, pada saat ini kita hidup dalam satu era pada situasi batas antara dunia virtual dan nyata semakin sulit dibedakan. Era inilah yang disebut Society 5.0, sebuah masa dimana kecerdasan buatan (AI), robot, dan internet bukan lagi dianggap sekadar alat untuk mempermudah kehidupan, namun telah menjelma sebagai bagian tak terpisahkan dari segala aspek kehidupan kita.

Semua hal menjadi lebih efisien, cepat, dan terhubung. Tetapi, di balik kemilau kenyamanan ini, terdapat sebuah kegelisahan yang sering kita abaikan: Apakah di sisi lain semua layar dan algoritma ini, kita lambat laun kehilangan "rasa" sebagai manusia? Apakah perlahan kehilangan hati nurani karena semakin jarang lagi bersentuhan dengan pengalaman yang sesungguhnya?

Baik lah, guna menjawab kegelisahan ini mari kita belajar dari pemikiran David Hume, seorang filsuf empirisme asal Skotlandia yang telah menjajaki kehidupannya ratusan tahun lalu. Hume menawarkan sebuah pandangan menarik tentang moralitas.

Baginya, penilaian akan baik dan buruk suatu tindakan tidaklah berpangkal dari logika atau rumus matematis yang kaku. melainkan, fondasi moralitas kita perlu dibangun dari dua hal yang paling mendasar – pengalaman empiris; apa yang kita alami langsung dengan panca indera kita dan perasaan; seperti simpati, kepercayaan, dan empati.

Mari kita bayangkan bersama-sama, di saat kita melihat seorang driver ojek online yang sedang menolong orang kecelakaan. Hasrat membantunya tidak muncul karena kita mempertimbangkan untung-rugi di kepala, melainkan karena adanya perasaan simpati yang spontan terketuk.

Sebagaimana sudut pandang Hume, kita dapat mengkategorikan suatu tindakan itu baik karena tindakan tersebut memicu perasaan senang dan dianggap berguna, baik bagi yang melakukannya maupun bagi kita yang menyaksikannya. Dari hal ini dapat kita ambil pelajaran bahwa moral, pada intinya tak lain merupakan urusan hati.

Nah, persoalannya pada era Society 5.0 saat ini, dua akar moral ala filsuf Skotlandia yang sedang kita bicarakan sedang terancam. Pengalaman nyata kita mulai tergeserkan oleh simulasi digital dunia maya. Interaksi tatap muka yang hangat, yang seharusnya kita dapat merasakan langsung emosi lawan bicara, kerap dikesampingkan demi meningkatkan efisiensi obrolan di layar gawai.

Ilustrasi smartphone. (Sumber: Pexels/Limon Das)
Ilustrasi smartphone. (Sumber: Pexels/Limon Das)

Kata "wkwkwk" atau “saya sakit hati” dalam chat WhatsApp Instagram, dan beberapa platform lainnya belum tentu merupakan ekspresi kegembiaraan atau kesedihan yang sesungguhnya. Sebuah peribahasa lama pun turut berubah: dulu "yang penting kita kumpul bersama", kini bertansformasi menjadi "yang penting connect aja". Melihat fakta yang terjadi saat ini, perkembangan teknologi berhasil membuant senggang antara ruang dan waktu – mendekatkan ruang yang jauh dan mempercepat renggang waktu yang lama, tapi ironisnya, sering kali menjauhkan yang sebenarnya dekat secara fisik dan emosional di sekitar kita.

Belum lagi dengan persoalan banjir informasi yang kita terima, kita tidak bicara arus yang menerjang di setiap hari, namun setiap detik kita ditenggelamkan dalam oleh gelombangnya. Media sosial diombang-ambingkan dengan konten-konten kebaikan, tapi juga dihantui oleh komentar-komentar sinis para netizen yang menuduh semua itu hanya pencitraan semata. Hal ini memicu kebingungan halayak umum, jangan-jangan menolong sesama itu justru menjadi kesalahan?

Kita dihadapkan pada tsunami opini publik yang justru menyamarkan penilaian moral kita yang paling mendasar. Ketergantungan masyarakat saat ini pada teknologi dan dunia virtual berisiko membuat kepekaan kita terkikis karena kian hari kita semakin jauh dari merasakan dan mengalami realitas secara langsung dalam kehidupan bersosial.

Lalu, kita perlu segera menjawab pertanyaan yang mendesak ini: bagaimana caranya kita dapat menjaga hati nurani di tengah gempuran pesatnya perkembangan teknologi? Hanya ada satu kuncinya, yakni ada pada keseimbangan dua dunia yang tidak dapat kita hindari – dunia maya dan dunia nyata. Kita tidak perlu sepenuhnya menolak perkembangan teknologi, tetapi kita harus dengan sadar kembali dengan keseimbangan menyelami dunia nyata.

Dalam hal ini, Hume juga mengingatkan kita bahwa tidak ada yang pernah bisa menggantikan kedalaman dan keautentikan pengalaman langsung realitas sekitar kita.

Demikian, meski perkembangan teknologi pada saat ini telah mempermudah segala aspek kehidupan kita, perlu juga kita meluangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga atau teman tanpa gangguan gawai, terlibat dalam setiap kegiatan sosial di lingkungan sekitar, atau sekadar ngobrol santai dengan tetangga. Pengalaman-pengalaman nyata inilah yang akan terus mengasah simpati dan empati kita.

Namun, di ujung akhir semua ini, perlu bagi kita renungkan bersama: Apakah kita masih mampu mengenali suara hati sendiri di antara riuhnya notifikasi dan derasnya informasi? Dapatkah generasi mendatang di mana teknologi semakin cepat berkembang memahami arti sebenarnya dari "bersimpati" jika yang mereka lihat hanyalah simbol emoji dan kata-kata di layar gawai? Dan mungkin yang terpenting, di mana sebenarnya letak kemanusiaan kita – di dalam data cloud yang tersimpan rapi, atau justru dalam kehangatan pelukan dan tatapan mata yang tulus di antara sesama? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Taufik Hidayat
Tentang Taufik Hidayat
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!