Lorong Lumut Jayagiri, Jejak Belanda 1936 yang Kini Jadi Surga Tersembunyi Lembang

4 menit baca
raveyfa
Ditulis oleh raveyfa diterbitkan
Sepasang pengunjung menyusuri lorong berlumut setinggi tiga meter yang dibangun Belanda pada 1936 di Lorong Lumut Jayagiri, Lembang, Sabtu (9/11/2025) (Sumber: Raveyfa Shinta | Foto: Raveyfa Shinta)
Sepasang pengunjung menyusuri lorong berlumut setinggi tiga meter yang dibangun Belanda pada 1936 di Lorong Lumut Jayagiri, Lembang, Sabtu (9/11/2025) (Sumber: Raveyfa Shinta | Foto: Raveyfa Shinta)

Hembusan angin dingin menyapa wajah, sementara dinding tinggi berlumut hijau mengapit jalan setapak dari bambu. Di kedalaman hutan Jayagiri, Lembang, tersimpan lorong bersejarah yang kini menjadi destinasi wisata alam favorit. Lorong Lumut Jayagiri, sebuah peninggalan Belanda dari tahun 1936, menawarkan pengalaman berbeda bagi para pencinta alam yang berkunjung ke kawasan Genteng, Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (9/11/2025).

Dadang, Pengelola Lorong Lumut Jayagiri yang telah bertugas sejak destinasi ini mulai dikelola pada 2022, menjelaskan bahwa lorong ini awalnya merupakan galian pipa air milik Belanda untuk saluran PDAM.

"Ini dibangun tahun 1936 dengan membelah tebing untuk saluran pipa. Karena di sini lembab dan dingin, jadi tumbuh lumut di dinding-dindingnya," ujarnya.

Lorong sepanjang 200 meter dengan lebar 1 meter ini dulunya dikenal dengan sebutan Gupitan oleh masyarakat setempat. Nama tersebut merujuk pada istilah lokal untuk perbatasan tanah. Baru tiga tahun terakhir, tempat ini resmi diberi nama Lorong Lumut untuk menarik minat wisatawan dan mencerminkan keunikan alamnya yang dipenuhi lumut hijau tebal.

Sebelum dikelola secara resmi, kawasan ini merupakan jalur pendakian liar menuju Puncak Upas yang kerap membuat para pendaki tersesat.

"Dulu banyak yang nyasar, kadang masuk jam 6 sore, belum pulang sampai gelap. Malah nyasar di hutan. Makanya kasihan, mendingan dikelola aja sekalian," kenang Dadang.

Pengelolaan Lorong Lumut kini berada di bawah Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Lembah Harapan Jaya yang bekerja sama dengan Perhutani. Sejak 2022, destinasi ini dilengkapi dengan fasilitas gapura, loket tiket, toilet, warung kecil, dan jalur pijakan bambu yang disusun rapi untuk keamanan pengunjung.

Akses menuju Lorong Lumut dimulai dari kawasan Orchid Forest Cikole. Pengunjung yang membawa kendaraan perlu membayar tiket masuk kawasan Orchid Forest sebesar Rp10.000 per orang, dengan biaya parkir motor Rp5.000 dan mobil Rp10.000. Setelah itu, tiket masuk Lorong Lumut dibanderol Rp10.000 per orang.

Lorong Lumut beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Namun, pengunjung yang ingin menyaksikan sunrise dari Puncak Upas bisa datang lebih pagi dengan menghubungi pengelola terlebih dahulu melalui nomor WhatsApp +62 882-0022-06629.

Perjalanan menyusuri lorong ini tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 10 hingga 20 menit untuk bolak-balik. Suhu di sekitar lorong berkisar antara 18 hingga 29 derajat Celsius, menciptakan suasana sejuk yang menenangkan. Bagi yang ingin melanjutkan pendakian ke Puncak Upas, dibutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 jam perjalanan dengan jarak tempuh 3,8 kilometer dari ujung lorong. Pengunjung yang ingin mendaki ke Puncak Upas wajib mengisi data dan nomor WhatsApp untuk keperluan keamanan.

Lorong Lumut Jayagiri merupakan salah satu dari lima jalur pendakian menuju Puncak Upas. Jalur ini terletak paling timur, sementara jalur lainnya adalah Jayagiri, Cikahuripan, Nyawangbandung, dan Trek 11 Sukawana yang melewati kebun teh. Meski ramah untuk pendaki pemula, penting untuk diperhatikan bahwa area puncak Upas bukan lokasi resmi untuk berkemah sehingga tidak diperkenankan mendirikan tenda di sana.

Keunikan lorong ini terletak pada kondisi alamnya yang masih sangat terjaga. Tidak ada instalasi listrik sama sekali di sepanjang jalur, sehingga pengunjung yang datang di pagi buta atau sore hari wajib membawa penerangan sendiri. Jalan setapak dari bambu yang telah diganti empat kali sejak pengelolaan dimulai membentang di atas pipa air yang tertanam sekitar satu meter di bawahnya. Pipa tersebut mengalirkan air secara alami dari mata air di atas tanpa menggunakan pompa.

Dinding lorong yang ditumbuhi lumut tebal menjadi daya tarik utama, menciptakan suasana yang cocok untuk spot foto Instagrammable. Kelembaban udara yang tinggi dan suhu dingin khas pegunungan membuat lorong ini terasa sejuk bahkan di siang hari. Kondisi inilah yang membuat lumut tumbuh subur dan menjadi ciri khas tempat wisata ini, menawarkan latar foto estetis yang catchy bagi penikmat fotografi alam.

Bagi pengunjung yang khawatir tersesat saat mendaki ke Puncak Upas, pengelola telah menyiapkan sistem pendataan ketat. Setiap pengunjung wajib mencantumkan data diri dan nomor kontak yang bisa dihubungi. "Ada data pengunjung di sini. Yang udah pulang, dicoret. Jadi kelihatan yang belum pulang. Kalau ada apa-apa, bisa dihubungi," ujar Dadang mengenai sistem keamanan yang diterapkan.

Meski tidak sekondang destinasi wisata lain di Lembang, Lorong Lumut Jayagiri menawarkan pengalaman berbeda bagi para wisatawan yang mencari ketenangan dan ingin merasakan langsung jejak sejarah kolonial. Keberadaan lorong ini membuktikan bahwa tidak semua destinasi wisata membutuhkan fasilitas mewah untuk menarik pengunjung. Keaslian alam, nilai sejarah yang terkandung di dalamnya, dan keindahan lumut yang tumbuh alami sudah cukup menjadi magnet tersendiri bagi para pencinta petualangan, sejarah, dan fotografi alam. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

raveyfa
Tentang raveyfa
Mahasiswi Digital Public Relations'24, Telkom University Bandung

Berita Terkait

Ayo Netizen 17 Nov 2025, 15:22

Ambu Encuy

Ambu Encuy

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)