Melihat Lagi Bandung Fair 2025 yang Tampilkan Semangat Fashion Produk Lokal

Farrel Alfrianda Husein
Ditulis oleh Farrel Alfrianda Husein diterbitkan Senin 24 Nov 2025, 16:04 WIB
Suasana salah satu tenant fashion di Bandung Fair 2025 yang digelar di Kiara Artha Park, Sabtu (25/10/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Farrel Alfrianda Husein)

Suasana salah satu tenant fashion di Bandung Fair 2025 yang digelar di Kiara Artha Park, Sabtu (25/10/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Farrel Alfrianda Husein)

Udara sore di Kiara Artha Park yang berlokasi di Jl. Banten No.73, Kebonwaru, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat 40272 terasa hangat oleh riuh langkah pengunjung yang datang bersama keluarga. Sabtu (25/10/2025) itu, area taman dipenuhi tenant fashion, panggung musik, dan berbagai pertunjukan yang jadi bagian dari Bandung Fair 2025, pameran besar tahunan yang menghadirkan perpaduan antara hiburan, , dan ekonomi kreatif kota Bandung.

Ketua Panitia Bandung Fair 2025, Rani Sulastri, mengatakan penyelenggaraan tahun ini difokuskan pada peningkatan kolaborasi fashion lintas lokal.

“Kami ingin Bandung Fair menjadi ruang terbuka bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal untuk saling mendukung. Banyak komunitas dan anak muda yang terlibat dalam penyelenggaraan tahun ini,” ujar Rani saat ditemui di lokasi acara.

Salah satu area yang cukup menarik perhatian pengunjung adalah zona fashion dan lifestyle, yang menghadirkan sejumlah brand dan desainer lokal. Produk yang ditampilkan beragam, mulai dari pakaian kasual, aksesori handmade, hingga karya mahasiswa desain dari kampus di Bandung.

Tenant di area fashion tahun ini meningkat dibanding sebelumnya. Banyak pelaku UMKM yang membawa produk mereka secara langsung untuk diperkenalkan ke masyarakat,” tambah Rani.

Suasana terasa santai tapi berwarna. Tenant-tenant lokal menampilkan busana yang mudah dipakai sehari-hari, dari kaus grafis bertema Bandung, jaket denim lokal, hingga tas rajut buatan tangan. Tidak ada konsep glamor atau catwalk megah, tapi justru di situlah daya tariknya,  sederhana, dekat, dan mencerminkan gaya khas warga Bandung yang kreatif tanpa harus berlebihan.

Meskipun fashion bukan fokus utama acara, kehadiran tenant-tenant lokal itu memberi warna tersendiri bagi pengunjung. Banyak yang datang sekadar melihat-lihat atau membeli produk buatan Bandung sebagai oleh-oleh. Selain area pameran, pengunjung juga bisa menikmati berbagai pertunjukan seni dan musik lokal yang digelar di panggung utama. Hiburan ini menambah suasana santai di tengah ramainya berbagai kegiatan di sekitar area acara. 

“Kami ingin suasananya tetap cair dan tidak boring. Ada hiburan musik, bazar, sampai pameran komunitas. Semua bisa menikmati,” ujar wanita yang berkacamata itu.

Bandung Fair terasa seperti titik bertemu nya para kreatif, tenda-tenda kecil berjejer, panggung menampilkan pertunjukan lokal, dan sudut-sudut ruang dipakai untuk tenant kuliner penggugah selera. Suasana lebih mirip pasar kreatif yang hidup. orang datang untuk berkegiatan, berdiskusi, atau sekadar mencari inspirasi, sehingga kegiatan ekonomi berjalan beriringan dengan keasikan dan keseruan jalan nya event Bandung Fair 2025.

Salah satu Tenant fashion lokal yang melayani koleksi pakaian dan aksesori handmade di Bandung Fair 2025, Kiara Artha Park, Bandung. (Sumber: Farrel Alfrianda Husein | Foto: Farrel Alfrianda Husein)
Salah satu Tenant fashion lokal yang melayani koleksi pakaian dan aksesori handmade di Bandung Fair 2025, Kiara Artha Park, Bandung. (Sumber: Farrel Alfrianda Husein | Foto: Farrel Alfrianda Husein)

Tahun ini, Bandung Fair mengusung tema Bandung Bangkit dan Berkarya” sebagai simbol semangat warga untuk terus berkreasi pasca masa sulit beberapa tahun terakhir. Acara ini menjadi wadah bagi pelaku UMKM, seniman, dan komunitas muda untuk menampilkan karya mereka kepada masyarakat luas.

Bandung Fair 2025 menutup gelarannya dengan kesan yang hangat. Di balik gemerlap panggung dan ramainya pengunjung yang menikmati berbagai tenant kreatif, acara ini menjadi bukti bahwa semangat kolaborasi warga Bandung masih sangat hidup. Tidak hanya menampilkan karya, Bandung Fair juga mempertemukan ide-ide baru dari generasi muda, desainer lokal, hingga pelaku UMKM yang memiliki tekad semangat membawa produk dan konsep kreatif mereka.

Lebih dari sekadar ajang hiburan, Bandung Fair kini tumbuh menjadi ruang menuangkan citra fashion dan semangat kreatif. Melalui dukungan komunitas dan antusiasme masyarakat, acara ini diharapkan terus berkembang menjadi ikon tahunan yang memperkuat identitas Bandung sebagai kota fashion kreatif. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Farrel Alfrianda Husein
MAHASISWA DIGITAL PUBLIC RELATIONS 2024, TELKOM UNIVERSITY

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 15:16

Fariz R.M. Mengasah Bermusiknya di Bandung

Pernah tinggal dan memulai menajamkan karier bermusiknya di Kota Bandung pada awal tahun 1980-an.

Fariz R.M. - Musik Rasta. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 13:51

TikTok, Trotoar, dan Eksistensi

Ihwal kreativitas digital memang layak dirayakan, tetapi ruang publik tetap menyimpan fungsi sosial yang tak bisa sepenuhnya dapat digantikan oleh layar.

Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 12:16

Strategi Industri Kuliner Jabar Menyiasati Kelangkaan Plastik Akibat Konflik Iran–Israel

Kenaikan harga dan kelangkaan plastik akibat konflik Iran–Israel memengaruhi UMKM kuliner di Jawa Barat.

Ilustrasi bahan plastik. (Sumber: Pixels | Foto: Castorly Stock)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 10:43

Bandung dan Hasrat yang Disublimasi: Membaca Fenomena Nongkrong sebagai Pelarian Psikis

Menuliskan budaya nongkrong di Kota Bandung dalam kacamata Sigmund Freud.

Salah satu suasana kafe di Kota Bandung (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Haifa Rukanta)
Sejarah 16 Apr 2026, 10:42

Hikayat Cadas Pangeran, Jejak Derita Pribumi Sepanjang Jalan Raya Daendels

Cadas Pangeran jadi saksi kerja paksa era Daendels, ribuan rakyat tewas demi proyek Jalan Raya Pos di Jawa Barat.

Jalan di Cadas Pangeran antara tahun 1910-1930-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 08:54

Dengan Puisi Bandung Menghias Sanggul Ibu Pertiwi

Bandung sangat pantas dinobatkan sebagai kota puisi, atau setidaknya kota yang sangat puitis.

Ilustrasi dengan Puisi Bandung menghias sanggul Ibu Pertiwi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 20:00

Artemis II: Kepulangan Empat Astronot dan Langkah Menuju Misi Bulan Berikutnya

Kelanjutan kisah 4 astronot dengan Kesuksesan misi Artemis II, yang menjadi dasar evaluasi bagi misi berikutnya, yakni Artemis III dalam program eksplorasi Bulan, oleh NASA.

Empat astronot Artemis II berhasil mendarat di Samudra Pasifik, lepas pantai San Diego, setelah menyelesaikan misi mengelilingi Bulan. (Sumber: NASA)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 19:22

Belajar Membaca Jalanan Bandung dari Dalam Angkot

Angkot di Bandung bertahan tanpa sistem yang jelas. Banyak pengguna beralih ke transportasi umum daring karena kepastian layanan, namun kondisi ini justru turut memperparah kemacetan.

Sejak lama, angkot menjadi bagian dari keseharian mobilitas warga Kota Bandung, meski kini perannya mulai tergeser oleh moda transportasi umum daring. (Foto: Irfan Alfaritsi/ayobandung.com)
Bandung 15 Apr 2026, 18:23

Collab Magnet: Cara Bangun Kolaborasi yang Tepat di Era Zaman Penuh Kreativitas

Intip strategi menjadi Collab Magnet di industri kreatif bersama Mirsha Shahnaz Azahra. Pahami pentingnya relevansi, kredibilitas, dan nilai brand dalam kolaborasi.

Mirsha, Co-founder sekaligus Brand Director Monday Coffee Bandung memahami konsep kolaborasi yang efektif membutuhkan waktu, bahkan proses trial and error masih menjadi bumbu harian dalam perjalanannya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 18:01

Ketar-ketir Perajin Tahu Tempe, Adakah Insentif dari Pemkot Bandung?

Kebijakan impor kedelai yang diterapkan ternyata belum menyeimbangkan pasokan kedelai di dalam negeri.

Perajin menyelesaikan pembuatan tempe di Jalan Muararajeun, Kota Bandung, (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 17:14

Dari Bandung ke Lembang: Kota Sejuk yang Menjadi Ruang Nyaman bagi Pendatang

Perubahan suasana dari hiruk pikuk Kota Kandung menuju ketenangan yang lebih alami di Lembang.

Farmhouse Lembang. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 15 Apr 2026, 16:42

Panduan Wisata Stone Garden Padalarang, Taman Batu Karst dengan Jejak Laut Purba

Stone Garden Padalarang menawarkan lanskap batu kapur purba, jalur trekking ringan, serta nilai geologi dan arkeologi unik dalam satu destinasi wisata alam.

Objek wisata Stone Garden, Padalarang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 15 Apr 2026, 15:20

Meruntuhkan Standar Kecantikan, Mengapresiasi Keunikan

Pandangan tentang kecantikan tak lagi tunggal. Setiap individu memiliki keunikan yang layak diapresiasi, tanpa harus mengikuti standar yang membatasi.

Suasana beauty class yang hangat dan suportif, tempat para peserta belajar, bereksperimen, dan membangun rasa percaya diri bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 13:50

Jantung Konektivitas Kota yang Kurang Sehat dan Masalah Polusi Udara

Stasiun Hall adalah jantung transportasi yang setiap hari memompa sistem transportasi khususnya bagi penglaju dan pendatang.

Monumen Sepur Lempung di Stasiun Hall sebelah selatan yang merupakan ikon konektivitas kota Bandung sepanjang zaman (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)