Suara 'Bruk' dari Bandung Barat: Pesona Alam Curug Bugbrug yang Masih Asri

Farid Ahmad Faruqi
Ditulis oleh Farid Ahmad Faruqi diterbitkan Senin 24 Nov 2025, 15:43 WIB
Pemandangan Curug Bugbrug di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada hari Minggu (09/11/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Farid Ahmad Faruqi)

Pemandangan Curug Bugbrug di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada hari Minggu (09/11/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Farid Ahmad Faruqi)

Langkah kaki terasa ringan saat menapaki jalan setapak menuju Curug Bugbrug. Udara sejuk khas pegunungan berpadu dengan suara gemericik air yang semakin jelas terdengar di antara pepohonan. Dari kejauhan, aliran air jatuh dari tebing tinggi membentuk suara bruk-bruk-bruk yang khas. Terletak di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Curug Bugbrug menawarkan keindahan alam yang masih alami dan menenangkan, Minggu (09/11/2025).

Nama “Bugbrug” berasal dari Bahasa Sunda yang berarti air yang jatuh bertumpuk-tumpuk. Suara derasnya aliran air yang bergemuruh dari kejauhan membuat masyarakat sekitar menamainya Curug Bugbrug.

“Kalau orang tua dulu bilangnya airnya tuh ‘bruk-bruk-bruk’, makanya disebut Curug Bugbrug,” ujar Mansur, pengelola sekaligus perintis kawasan wisata alam tersebut.

Mansur mulai mengelola Curug Bugbrug sejak akhir tahun 1990-an dengan inisiatif pribadi sebagai warga sekitar. Ia melihat potensi alam yang sayang jika tidak dikembangkan menjadi tempat wisata. Pengelolaan dilakukan secara sederhana, melibatkan warga dan petani sekitar. Namun sempat terhenti karena persoalan lahan dan kesepakatan antar pemilik tanah. Setelah pandemi melanda, pengelolaan kembali aktif. Mansur bersama warga desa dan kelompok tani berkolaborasi membuka kembali akses wisata agar kawasan ini tetap hidup dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kini, Curug Bugbrug tampil dengan konsep wisata alam yang mempertahankan keaslian lingkungannya. Jalur menuju lokasi masih berupa tanah yang dikelilingi pepohonan rindang, sementara udara sejuk pegunungan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Pemandangan air terjun yang jatuh bertingkat menjadi spot favorit wisatawan untuk berfoto atau sekedar duduk menikmati suasana alam.

Selain pemandangan air terjun, area sekitar curug juga sering dimanfaatkan untuk aktivitas berkemah dan kegiatan sekolah seperti pramuka. Pengunjung yang datang kebanyakan berasal dari sekitar Bandung, tapi mulai banyak juga wisatawan luar kota bahkan mancanegara yang tertarik menikmati kesejukan alam di sini.

“Sekarang udah banyak yang datang dari luar, ada juga yang nge-camp, soalnya suasananya masih alami,” tutur Mansur.

Fasilitas dasar seperti musala, toilet, dan warung kecil sudah tersedia. Di bagian atas, terdapat penginapan sederhana yang dikelola warga untuk wisatawan yang ingin bermalam. Pengelolaan berbasis masyarakat membuat kawasan ini bukan hanya menjadi tempat rekreasi, tapi juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Setiap hari ada petugas yang membersihkan area curug dan menjaga kebersihan lingkungan. Di berbagai titik sudah disediakan tempat sampah untuk mengurangi limbah dari pengunjung.

Meskipun begitu, tantangan masih ada. Karena sebagian besar lahan merupakan milik warga, pengelola perlu terus berkoordinasi agar kegiatan wisata tidak menggangu aktivitas pertanian. Upaya menanam kembali pohon dan menjaga aliran air dilakukan bersama-sama agar keseimbangan alam tetap terjaga.

Sejumlah wisatawan menikmati kesejukan Curug Bugbrug yang tetap terjaga keasriannya di Kabupaten Bandung Barat. Liputan pada hari Minggu (09/11/2025). (Sumber: Farid Ahmad Faruqi | Foto: Farid Ahmad Faruqi)
Sejumlah wisatawan menikmati kesejukan Curug Bugbrug yang tetap terjaga keasriannya di Kabupaten Bandung Barat. Liputan pada hari Minggu (09/11/2025). (Sumber: Farid Ahmad Faruqi | Foto: Farid Ahmad Faruqi)

Suasana tenang dan pemandangan alami membuat Curug Bugbrug menjadi pilihan wisata bagi mereka yang ingin menepi dari hiruk-pikuk kota. Banyak pengunjung yang datang untuk sekedar menikmati suara alam dan udara segar khas pegunungan Bandung Barat.

Di akhir wawancara, Mansur menyampaikan harapannya agar Curug Bugbrug bisa terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya sebagai wisata alam yang asri.

“Yang penting kebersihan dijaga, keselamatan juga. Biar alamnya tetap alami seperti sekarang,” harapnya. 

Curug Bugbrug kini menjadi bukti bahwa potensi alam bisa tumbuh dari inisiatif warga lokal. Di balik gemuruh air yang jatuh bertumpuk-tumpuk, tersimpan semangat gotong royong masyarakat Bandung Barat dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Farid Ahmad Faruqi
Mahasiswa Digital Public Relations 2024, Telkom University.

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)