Destinasi Saja Tidak Cukup, Butuh Koneksi Sistem Transportasi

4 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). (Sumber: KCIC)
Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). (Sumber: KCIC)

Beberapa tahun ini, warga Bandung mulai mengeluhkan betapa sulitnya terbang dari kota ini. Bandara Husein Sastranegara sepi, sementara Kertajati terasa jauh. Namun kini jarak itu mulai “dilipat” oleh Kereta Cepat Whoosh dan akses jalan tol. Cerita baru mobilitas Bandung pun dimulai.

Sejak 2023 Bandara Kertajati mulai melayani penerbangan reguler dan disasar menjadi gerbang besar yang menghubungkan Bandung Raya dengan dunia. Namun perjalanan tidak berhenti di langit, mobilitas di darat harus tertata dari bandara ke kota, dari stasiun ke destinasi.

Bagi wisatawan yang mendarat di Soekarno-Hatta, opsi ke Bandung bisa naik Whoosh (Halim-Tegalluar). Memang kurang dari 45 menit. Tetapi untuk mencapai stasiun Whoosh, mereka harus menembus kemacetan di Jakarta. Tiba di Tegalluar, keluhan lain muncul karena minimnya moda lanjutan untuk mencapai pusat kota dan kawasan wisata. Banyak yang akhirnya memilih turun di Padalarang, meski harus repot dan siap berjejalan di kereta feeder menuju Bandung. Akses makin mudah, tapi konektivitas belum tuntas.

Berita Kompas 18 November 2025 menunjukkan tren menarik. KA Parahyangan mencatat 728.949 penumpang sepanjang Januari–Oktober 2025, naik 41,75 persen dibandingkan pada periode yang sama di tahun sebelumnya. KAI menyebut panorama jalur Jakarta-Bandung menjadi daya tarik kuat bagi pelancong. Fenomena “biar lama tapi asyik” seperti hidup kembali.

Sementara itu, wisatawan yang mendarat di Kertajati, membutuhkan waktu tempuh lebih dari tiga jam ke Bandung tergantung kondisi lalu lintas. Banyak yang akhirnya memilih tujuan lain daripada langsung menuju Bandung.

Padahal Bandung memiliki modal besar untuk memudahkan perpindahan moda. Jaringan tol Jakarta-Bandung-Majalengka-Cirebon, terminal Leuwipanjang, hingga gagasan bus listrik Bandung Raya. Namun semua itu ibarat alat musik tanpa dirigen, semua tersedia, tetapi belum berpadu.

Bandung tetap diminati, meski belum mudah di jangkau.

Membaca Angka Melihat Potensi

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)

Data BPS Jawa Barat menunjukkan perjalanan wisatawan nusantara ke Bandung naik dari 13,74 juta perjalanan per Oktober 2024 menjadi 17,04 juta pada Oktober 2025. Namun wisatawan mancanegara yang masuk lewat Bandara Kertajati hanya 151 orang, jauh di bawah tahun sebelumnya. Salah satunya disebabkan akses transportasi belum terintegrasi.

Mobile Positioning Data (MPD) PORTAL JABARPROVGOID memperkuat tren ini. Pada Januari-September 2025 terdapat 17,76 juta perjalanan wisatawan nusantara ke Bandung, naik 24,77 persen dibanding tahun 2024 dan menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir. Bandung menjadi tujuan utama kedua setelah Kabupaten Bogor, dengan pangsa 11,20 persen periode Januari-September 2025. Tingkat Hunian Kamar hotel pada September 2025 pun mencapai 50,90 persen, melampaui rata-rata provinsi dan nasional.

Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung mencatat 6,5 juta orang hingga triwulan III 2025 dan diproyeksikan menembus 8,7 juta di akhir tahun. Kepala Disbudpar Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, menegaskan bahwa daya tarik utama Bandung berasal dari kuliner, disusul belanja, mode, dan heritage. Destinasi populer seperti Bandros "Bandung Tour on Bus", Kawasan Kota Tua Bandung, Taman Lalu Lintas, Museum Geologi, Saung Angklung Udjo, Masjid Raya Al Jabbar, serta Kiara Artha Park terus menarik minat.

Sektor pariwisata Bandung pun mulai merata, tidak lagi terpusat di jantung kota, tetapi meluas ke pinggiran. Problematiknya, pelancong merasa terlalu banyak waktu habis di jalan, yang seharusnya di tempat jajan. Konektivitas menjadi kunci agar Bandung tak hanya “didatangi”, tapi benar-benar “dinikmati”.

Selain keterhubungan antar-kota, pengelolaan mobilitas dalam Kota bandung juga perlu diperkuat. Tanpa Transport Demand Management (TDM) yang tepat, pusat kota akan terus dipadati kendaraan pribadi. Akibatnya wisatawan tiba, lalu terjebak macet di detik terakhir.

Penataan parkir yang bisa berpotensi menambah PAD, pembatasan kendaraan di koridor sibuk, serta layanan angkutan last-mile yang terintegrasi, bisa menjadi alternatif.

Dengan mengusung program Bandung Triple Helix, penataan sistem transportasi semakin terencana, terarah, dan ilmiah. Memadukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pengusaha.

Bayangkan wisatawan turun dari pesawat, naik kereta cepat ke Tegalluar, langsung berpindah ke bus listrik menuju Dago atau Lembang dalam satu tiket terintegrasi. Perjalanan menjadi pengalaman yang menyenangkan, juga meninggalkan kesan yang mendalam.

Konektivitas Bandung tak bisa dibangun sendirian. Kota ini harus bersinergi dengan wilayah lain agar mobilitas tidak berhenti di batas administratif. Interkonektivitas pembangunan tidak cukup hanya dengan menaruh “gula” di hinterland (daerah penyangga) sambil berharap terjadinya trickle-down effect. Bandung harus tumbuh bersama daerah sekitarnya. Dengan begitu, transportasi menjadi urusan bersama dan alat pemerataan antar wilayah.

Beberapa waktu lalu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertemu Direktur Utama PT KAI, merumuskan empat inisiatif besar perkeretaapian. “Kereta Wisata Jakalalana” untuk menggerakkan ekonomi kawasan selatan-barat Jabar. “Gerbong Tani Mukti” untuk angkutan hasil pertanian dan peternakan ke Jakarta dengan tarif yang ramah. “Kereta Kilat Pajajaran” sebagai konektivitas cepat di wilayah tengah, dan “Kereta Listrik Padalarang–Cicalengka” untuk mendorong transportasi hijau.

Jika inisiatif besar itu terhubung dengan paket tur Bandung Raya, peluang ekonomi kreatif akan terbuka, bahkan mendorong pembentukan lembaga inkubator bisnis baru. Petani, pengrajin, pelaku wisata, hingga pelajar dapat bergerak lebih mudah. Bandung tidak lagi sekadar tujuan, melainkan titik temu dalam jaringan besar Jawa Barat.

Kota ini punya peluang besar bukan hanya sebagai kota wisata, tapi sebagai simpul pergerakan, ekonomi, dan kreativitas yang menyambungkan seluruh Jawa Barat. Bandung tidak perlu terlalu risau dengan langitnya (bandara Husein) yang masih tertutup, perkuat pijakan mulai dari rel, jalan aspal, halte, dan stasiun. Kota yang hebat bukan hanya yang bisa didatangi dengan cepat, tetapi yang bisa dinikmati tanpa tergesa-gesa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Bayu Hikmat Purwana
Analis Kebijakan dengan bidang kepakaran pengembangan kapasitas ASN di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Talenta ASN Nasional LAN RI

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)