Ketika Pemuda Memilih Mengabdi untuk Desa

2 menit baca
Jajang Shofar khoerudin
Ditulis oleh Jajang Shofar khoerudin diterbitkan
Ketua Karang Taruna Campaka, Desa Buniara, Widi Hardika, berada di dalam kendaraan operasional saat bersiap menjalankan kegiatan sosial dan kepemudaan. (Sumber: Dokumentasi Karang Taruna Desa Buniara | Foto: Widi Hardika)
Ketua Karang Taruna Campaka, Desa Buniara, Widi Hardika, berada di dalam kendaraan operasional saat bersiap menjalankan kegiatan sosial dan kepemudaan. (Sumber: Dokumentasi Karang Taruna Desa Buniara | Foto: Widi Hardika)

Pagi di Kampung Campaka selalu dimulai dengan kesibukan sederhana. Jalan kampung yang belum sepenuhnya mulus, suara motor warga yang berangkat bekerja, dan obrolan ringan di warung kopi menjadi latar keseharian. Di tengah rutinitas itu, nama Widi Hardika dikenal luas, bukan sebagai pejabat formal, melainkan sebagai sosok yang kerap hadir ketika pemuda desa butuh ruang bergerak.

Sebagai Ketua Karang Taruna Campaka, Desa Buniara,Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang. Widi menjalani perannya tanpa banyak sorotan. Aktivitasnya lebih sering terlihat di lapangan mempersiapkan kegiatan sosial, mendampingi pemuda yang ingin berkegiatan, hingga menjadi penghubung antara aspirasi anak muda dan pemerintah desa. Bagi Widi, Karang Taruna bukan sekadar organisasi, tetapi ruang belajar dan pengabdian.

“Pemuda desa itu sebenarnya punya potensi besar. Masalahnya bukan mau atau tidak mau bergerak, tapi kadang mereka tidak punya ruang dan kepercayaan,” ujar Widi.

Widi menyadari betul tantangan yang dihadapi generasi muda kampung saat ini. Banyak pemuda memilih merantau, sebagian lainnya terjebak pada rutinitas tanpa arah yang jelas. Karang Taruna, menurutnya, harus hadir sebagai wadah yang fleksibel, tidak kaku, dan dekat dengan realitas anak muda.

Di bawah kepemimpinannya, Karang Taruna Campaka aktif menginisiasi kegiatan sosial, kepemudaan, hingga kebudayaan. Mulai dari kerja bakti lingkungan, penggalangan dana kemanusiaan, peringatan hari besar nasional, hingga kegiatan olahraga dan kepemudaan yang melibatkan lintas usia. Semua dijalankan dengan prinsip kebersamaan.

“Kami tidak ingin Karang Taruna hanya hidup saat ada lomba atau acara seremonial. Kami ingin pemuda merasa ini rumah mereka,” kata Widi.

Bagi Widi, menjadi ketua bukan soal jabatan atau pengakuan. Ia justru melihatnya sebagai amanah sosial. Banyak keputusan diambil melalui musyawarah, mendengarkan pendapat anggota, bahkan kritik dari pemuda yang sebelumnya apatis terhadap organisasi desa.

Ia mengakui, menjaga semangat pemuda bukan perkara mudah. Keterbatasan dana, perbedaan karakter anggota, hingga rasa lelah menjadi tantangan yang kerap muncul. Namun, Widi memilih bertahan, percaya bahwa perubahan sosial memang membutuhkan proses panjang.

“Kadang capek, iya. Tapi kalau bukan kita yang mulai, mau siapa lagi? Kampung ini rumah kita sendiri,” tuturnya.

Widi juga menekankan pentingnya kolaborasi. Karang Taruna tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah desa dan masyarakat. Hubungan yang dibangun bersifat saling menguatkan, bukan saling menunggu.

Baca Juga: Dilan 1997: Kisah tentang Kuba, ITB-Unpad, Cika-Lia, dan Reformasi

Di tengah derasnya arus digital dan perubahan gaya hidup, Widi berupaya agar Karang Taruna tetap relevan. Media sosial dimanfaatkan untuk komunikasi dan publikasi kegiatan, sekaligus sebagai cara mendekatkan organisasi dengan generasi muda yang akrab dengan dunia digital.

“Kita tidak bisa memaksa pemuda mengikuti cara lama terus. Karang Taruna juga harus belajar menyesuaikan zaman,” ujarnya.

Di Campaka, Widi Hardika mungkin bukan tokoh besar di tingkat kabupaten atau nasional. Namun, langkah-langkah kecilnya bersama Karang Taruna telah menyalakan harapan bahwa pemuda kampung bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang mampu menggerakkan perubahan dari akar rumput.

Di balik kesederhanaannya, Widi menunjukkan satu hal penting bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari panggung besar, tetapi sering tumbuh dari kampung, dari orang-orang yang memilih untuk tetap peduli dan bertahan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Jajang Shofar khoerudin
Jurnalist

Berita Terkait

Ayo Netizen 22 Jan 2026, 10:56

Kisah Adalah

Kisah Adalah

News Update

Ayo Netizen 22 Jun 2026, 15:29

Ekspedisi Karees : Menelusuri Jejak Rel Kereta yang Hilang dari Peta (Part 1)

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba menelusuri kembali sisa-sisa rel Karees, memotret kondisinya hari ini, dan merangkai kembali memori kejayaan halteu ini di masa lampau. Yuk, ikut saya blusukan!

Harta karun pertama yang saya temukan! Menyembul di antara tanah di sebelah kiri jalan, membuktikan sejarah menolak terkubur. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 15:13

Copy-Paste Birokrasi: Ketika Sistem Digital Belum Benar-Benar Digital

Saat sistem digital tidak saling terhubung, beban administratif tidak hilang, ia hanya berpindah wujud dari kertas ke layar.

Ilustrasi ekosistem digital yang melingkupi kehidupan modern (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 13:36

Menelusuri Art Deco: Setitik Eropa di Kota Kembang

Melihat kembali bagaimana arsitektur Art Deco di Kota Bandung bermunculan hingga akhirnya dijadikan sebagai bangunan cagar budaya.

Kondisi Gedung Bank DENIS (sekarang digunakan oleh Bank Jawa Barat) pada tahun 2015. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Rochelimit)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 12:25

Penggunaan Wewangian dari Zaman Mesir sampai Sekarang

Perkembangan singkat wewangian dari awal mula ketenarannya di Mesir sampai sekarang.

Pajangan botol parfum berwarna-warni. (Sumber: pexels.com | Foto: Hồng Quang)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 11:30

'Don’t Buy This Jacket' Kampanye Jujur atau Strategi Manipulasi Persepsi?

Membedah paradoks kampanye "Don’t Buy This Jacket" Patagonia:

Penulis sedang menelaah konsep iklan 'Don't Buy This Jacket'.
Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 11:27

Wisata Gratis di Surabaya: Jelajah Taman Bungkul Ikon Kota yang Selalu Ramai

Taman Bungkul menjadi salah satu destinasi wisata gratis paling populer di Surabaya dengan fasilitas lengkap dan suasana nyaman sepanjang hari.

Taman Bungkul Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:56

Indonesia dalam Angka

Algoritma Statistik memang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi bukan berarti angka itu disusun hanya demi kepuasan publik. Sehingga fakta yang terjadi hanya sebatas retorika

Ilustrasi angka dalam kalkulator. (Sumber: Pexels | Foto: Yan Krukau)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:06

Penggunaan Kendaraan Listrik Dikebut, Tapi Listriknya Sering Padam

Di tengah percepatan adopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif, pemadaman listrik yang masih sering terjadi memunculkan pertanyaan: seberapa siap sistem energi Indonesia?

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf terkait pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa (20/6/2026). (Sumber: Instagram/@pln_id)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 08:58

Ada Apa dengan Tanjakan Emen?

Jalan tanjakan Emen yang berada di Subang tepatnya di Ciater, terkenal dengan misteri seringnya terjadi kecelakaan.

Kondisi sekarang jalan tanjakan Emen. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Haerul Nurjaman)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 18:02

Peran Media Relations dalam Membangun Citra Kolaborasi Brand di Industri Olahraga

Memahami identitas kolaborasi sebagai perpaduan antara motorsport, inovasi, dan gaya hidup modern.

Gambar dari akun Instagram resmi Puma
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 17:37

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Dimas Kurnia Hidayat, kolektor memorabilia Persib Bandung. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 15:26

Bandung Poek, Warga Menjerit, dan Kenangan Menyala

Cibiru Bandung boleh poek untuk dua, tiga, empat, lima jam. Tetapi selama kebersamaan masih hidup, selalu ada cahaya yang tidak pernah padam bila kita rawat dan pupuk bersama.

Ilustrasi Bandung Mati Listrik Bergilir (Sumber: Pixabay)
Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)