Ketika Mobilitas Tersendat, Kepercayaan Publik Ikut Tergerus

3 menit baca
sherina khairunisa
Ditulis oleh sherina khairunisa diterbitkan Jumat 23 Jan 2026, 15:01 WIB
Pengendara mobil dan motor yang menunggu macet di malam hari (02/11/2025). (Foto: Sherina Khairunisa)

Pengendara mobil dan motor yang menunggu macet di malam hari (02/11/2025). (Foto: Sherina Khairunisa)

Suara klakson yang menderu terus-menerus bergema di jalan, lalu lintas yang padat di setiap sudut. Bandung malam ini bukanlah kota yang tenang, melainkan labirin kendaraan, jalan yang sempit, dan kesabaran masyarakat yang semakin menipis. Masyarakat yang mulai menahan amarah dan emosi akan lambatnya pergerakan mobilitas di Jln. Cihampelas, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Harusnya kemacetan ini menjadi perhatian Wali Kota Bandung, M. Farhan, tapi kemanakah rasa tanggung jawab tersebut pergi?

Saminto Sardi merupakan penjahit di Cihampelas dengan umur 54 tahun, dengan pengalaman sehari-hari melihat kemacetan Kota Bandung. Cihampelas merupakan pusat perbelanjaan dan hiburan di Kota Bandung yang memiliki konsep unik. Namun, jalan di Cihampelas sendiri memiliki waktu tertentu dalam terjadinya macet di kehidupan sehari-hari.

Menurut Saminto kemacetan yang terjadi di Cihampelas sendiri terjadi paling padat pada hari selasa sampai minggu terjadi macet total. Kemacetan yang berada di Cihampelas tersebut juga sangat padat pada jam 16.00 hingga 18.00.

“Ya kadang-kadang macet, kalo dari Selasa, Rabu, Kamis, sampe Jum’at, sampe Sabtu, Minggu, itu macet total,” ujar pria paruh baya tersebut, Selasa (02/11/2025).

Pria berkulit sawo matang tersebut juga berpendapat bahwa dari awal tahun hingga kini akhir tahun, kemacetan yang terjadi terus menerus semakin parah. Bahkan, Saminto mengatakan, Wali Kota Bandung belum ada peran dalam mengatasi kemacetan yang terjadi dan tidak ada aksi yang dilakukan.

Yah, semakin parah, belum dan tidak ada aksi,” ucapnya.

Menurut Saminto, kemacetan ini harus diperbaiki oleh M. Farhan, ia berharap setidaknya ada perombakan ulang untuk jalan agar tidak terjadi kemacetan. Dirinya juga merasa bahwa Wali Kota kurang responsif terhadap keluhan masyarakat mengenai kemacetan yang terjadi di Bandung.

Di sisi lain, Calya Pratista, mahasiswi yang merantau di Kota Kembang ini, yang sudah tinggal selama satu tahun merasa Bandung memiliki kemacetan yang lebih parah dari kota asalnya, yaitu Malang. Selama satu tahun tinggal di Bandung, Calya merasa Wali Kota Bandung tidak memiliki pergerakan apapun untuk mengurai kemacetan. Hal tersebut dirasakan karena tidak pernah melihat Dishub atau Polisi yang mengurai kemacetan di jalan-jalan Kota Bandung.

Baca Juga: Kisah Para Warga Bandung yang Terjerat Tipu Daya Judi Online Kamboja

Calya merasa Dishub atau Polisi hanya ada pada saat event tertentu, seperti konser atau festival, namun, di kemacetan sehari-hari ia merasa tidak pernah melihat Dishub maupun polisi.

“Kalau dari aku belum menemukan, belum pernah menemukan Dishub di beberapa titik, tapi mungkin pemerintah itu juga memanggil Dishub atau Polisi dihubungi untuk event besar seperti konser, mungkin hanya untuk waktu itu saja, tapi kalau untuk mengatasi kemacetan sehari-hari itu belum ada,” ujarnya.

Mahasiswi tersebut juga menyampaikan bahwa ia memiliki harapan dimana Kota Bandung bisa menjadi tempat nyaman untuk banyak orang, terlebih untuk yang datang dari luar kota. Menurutnya, Bandung adalah kota dengan banyak wisata serta sebuah kota pendidikan, sehingga harus menjadi tempat yang nyaman untuk banyak orang.

Dari segi masyarakat Bandung hingga masyarakat luar Kota Bandung, mereka berharap bahwa orang nomor satu di Bandung, yakni M. Farhan dapat menanggapi kemacetan yang ada di Bandung. Kemacetan ini dirasakan oleh semua orang yang tinggal atau hanya singgah sebentar di Bandung. Keresahan dan Emosi masyarakat ketika terjadi macet di jalan seharusnya menjadi salah satu perhatian oleh Wali Kota Bandung, M. Farhan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

sherina khairunisa
Mahasiswi Digital Public Relations Telkom University, Angkatan 2024, CATLOVER

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 06 Jun 2026, 12:29

Sasapedahan

Saatnya memberi kesempatan kepada sepeda untuk menunjukkan kemampuannya.

Asyiknya bermain sepeda. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)