Aduan yang Salah Alamat: Bukti Literasi Infrastruktur Publik Masih Rendah

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Kondisi jalan yang rusak di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Toni Hermawan)
Kondisi jalan yang rusak di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Toni Hermawan)

Meningkatnya partisipasi publik dalam menyampaikan aduan terkait kerusakan infrastruktur jalan belum diikuti dengan pemahaman tentang status dan penyelenggara jalan.

Keluhan warga Bandung Raya tentang kondisi jalan rusak berlubang, jalan minim penerangan, rambu dan marka yang tidak terawat, hingga banjir saat hujan deras semakin sering muncul di media sosial. Fenomena ini menunjukkan meningkatnya kepedulian publik terhadap kondisi infrastruktur jalan. Namun di balik itu, terdapat persoalan yang lebih mendasar: banyak aduan disampaikan bukan kepada penyelenggara jalannya.

Alih-alih mempercepat penanganan, aduan yang salah alamat justru memperpanjang proses respon. Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bukti bahwa literasi infrastruktur publik masih rendah—yakni pemahaman masyarakat tentang bagaimana infrastruktur jalan dikelola dan siapa yang berwenang atasnya.

Aturan penyelenggara jalan sudah ada, tetapi pemahaman publik yang masih terbatas

Penyelenggara jalan adalah pihak yang melakukan pengaturan, pembinaan, pembangunan, dan pengawasan jalan sesuai dengan kewenangannya. Pembagian kewenangan jalan di Indonesia sebenarnya telah diatur secara tegas dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan.

Penyelenggaraan jalan nasional menjadi wewenang pemerintah pusat, jalan provinsi menjadi wewenang pemerintah daerah provinsi, sedangkan jalan kabupaten/kota dan desa berada di bawah wewenang pemerintah daerah kabupaten/kota dan pemerintah desa.

Pembagian status jalan di Indonesia dan kewenangannya masing-masing. (Sumber: X/@KemenPU)
Pembagian status jalan di Indonesia dan kewenangannya masing-masing. (Sumber: X/@KemenPU)

Struktur ini dirancang untuk memastikan agar penanganannya berjalan sesuai dengan skala pelayanan. Namun dalam praktiknya, masyarakat seringkali tidak menggunakan kerangka ini saat menyampaikan aduan. Banyak laporan justru diarahkan berdasarkan persepsi—kepada pejabat yang dianggap paling dekat atau paling berpengaruh—bukan kepada institusi yang memiliki kewenangan teknis.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan regulasi saja tidak cukup tanpa diikuti pemahaman publik.

Membaca jalan sebagai bagian dari literasi infrastruktur

Dalam perspektif teknik transportasi, jalan sebenarnya memiliki “bahasa” yang dapat dikenali melalui karakter teknisnya. Jalan nasional umumnya dirancang dengan lebar yang cukup untuk menampung kendaraan berat dalam volume tinggi, sehingga perkerasan jalannya pun didesain dengan standar kualitas tinggi. Marka jalan biasanya lengkap dan reflektif, dilengkapi rambu penunjuk arah skala regional dan perlengkapan keselamatan. Penerangan jalan juga relatif tersedia di koridor utama.

Di bawahnya, jalan provinsi tetap melayani konektivitas penting, namun dengan standar yang sedikit lebih rendah. Sementara itu, jalan kabupaten/kota menunjukkan variasi yang lebih besar, baik dari segi lebar, kualitas perkerasan, maupun kelengkapan marka dan penerangan jalan, karena berfungsi melayani mobilitas lokal.

Ciri status jalan berdasarkan markanya. (Sumber: Instagram/@humaskotajambi)
Ciri status jalan berdasarkan markanya. (Sumber: Instagram/@humaskotajambi)

Kemampuan membaca perbedaan ini merupakan bagian dari literasi infrastruktur jalan yang masih terbatas di masyarakat. Tanpa pemahaman tersebut, semua jalan dipersepsikan sama, sehingga semua aduan diarahkan ke pihak yang sama.

Jalan Soekarno-Hatta: kasus nyata salah alamat aduan

Fenomena ini terlihat jelas pada kasus di Jalan Soekarno-Hatta Bandung. Sebagai jalan nasional dengan volume lalu lintas kendaraan berat yang tinggi, jalan ini memiliki karakteristik teknis sebagai bagian dari jaringan utama.

Namun ketika terjadi kerusakan perkerasan atau penerangan jalan yang mati, banyak aduan justru ditujukan kepada Wali Kota Bandung (@hmfarhanbdg) maupun Gubernur Provinsi Jawa Barat (@dedimulyadi71).

Jika ruas tersebut berada dalam kewenangan pemerintah pusat, maka pemerintah kota dan provinsi tidak memiliki otoritas langsung untuk melakukan perbaikan. Aduan yang tidak tepat sasaran akhirnya harus dialihkan terlebih dahulu, yang berarti memperpanjang waktu penanganan.

Kasus ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya pada kondisi jalan, tetapi juga pada cara masyarakat memahami sistem pengelolaannya.

Tegalluar: semua masalah dinaikkan ke tingkat atas

Hal serupa terjadi pada banjir di Desa Tegalluar. Banyak warga mengadu kepada gubernur, meskipun persoalan tersebut berkaitan erat dengan sistem drainase dan tata guna lahan.

Dalam sistem pemerintahan daerah, kewenangan tersebut berada pada pemerintah kabupaten, yakni Bupati Bandung. Namun rendahnya literasi infrastruktur jalan membuat masyarakat cenderung menganggap bahwa semakin tinggi posisi pejabat, semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap semua persoalan.

Kecenderungan ini justru bertentangan dengan prinsip desentralisasi yang menjadi dasar pengelolaan infrastruktur jalan di Indonesia.

Salah alamat aduan bisa memperlambat solusi

Kesalahan dalam menyampaikan aduan berdampak nyata. Laporan tidak langsung ditindaklanjuti, proses birokrasi menjadi lebih panjang, dan akuntabilitas menjadi tidak jelas. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Namun perlu dicatat, kondisi ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan masyarakat. Minimnya informasi publik—seperti tidak adanya papan penanda yang mencantumkan status jalan di lapangan—membuat masyarakat kesulitan mengidentifikasi kewenangan secara mandiri.

Dengan kata lain, rendahnya literasi infrastruktur jalan merupakan hasil dari interaksi antara keterbatasan pemahaman publik dan kurangnya transparansi sistem.

Hasan Fiidel, ojol asal Kabupaten Bandung memperbaiki jalan rusak tanpa duit pemerintah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Hasan Fiidel, ojol asal Kabupaten Bandung memperbaiki jalan rusak tanpa duit pemerintah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Peningkatan kualitas infrastruktur jalan tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik. Diperlukan upaya sistematis untuk meningkatkan literasi publik agar partisipasi masyarakat menjadi lebih efektif.

Pemerintah perlu menyediakan informasi jaringan jalan yang terbuka dan mudah diakses, memasang penanda status jalan, serta mengintegrasikan sistem pengaduan agar laporan dapat langsung diteruskan ke instansi yang berwenang. Di sisi lain, masyarakat perlu mulai memahami bahwa setiap infrastruktur jalan memiliki tata kelola yang spesifik dan tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh satu level pemerintahan.

Aduan publik merupakan bagian penting dari tata kelola kota yang responsif. Namun, tanpa pemahaman yang memadai, aduan berisiko menjadi tidak efektif.

Fenomena aduan yang salah alamat bukan sekadar kesalahan individu, melainkan bukti bahwa literasi infrastruktur publik masih perlu ditingkatkan. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat tidak hanya menjadi pengawas, tetapi juga bagian dari solusi dalam menciptakan sistem infrastruktur jalan yang lebih responsif dan akuntabel. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)