Aduan yang Salah Alamat: Bukti Literasi Infrastruktur Publik Masih Rendah

Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Minggu 19 Apr 2026, 10:19 WIB
Kondisi jalan yang rusak di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Toni Hermawan)

Kondisi jalan yang rusak di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Toni Hermawan)

Meningkatnya partisipasi publik dalam menyampaikan aduan terkait kerusakan infrastruktur jalan belum diikuti dengan pemahaman tentang status dan penyelenggara jalan.

Keluhan warga Bandung Raya tentang kondisi jalan rusak berlubang, jalan minim penerangan, rambu dan marka yang tidak terawat, hingga banjir saat hujan deras semakin sering muncul di media sosial. Fenomena ini menunjukkan meningkatnya kepedulian publik terhadap kondisi infrastruktur jalan. Namun di balik itu, terdapat persoalan yang lebih mendasar: banyak aduan disampaikan bukan kepada penyelenggara jalannya.

Alih-alih mempercepat penanganan, aduan yang salah alamat justru memperpanjang proses respon. Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bukti bahwa literasi infrastruktur publik masih rendah—yakni pemahaman masyarakat tentang bagaimana infrastruktur jalan dikelola dan siapa yang berwenang atasnya.

Aturan penyelenggara jalan sudah ada, tetapi pemahaman publik yang masih terbatas

Penyelenggara jalan adalah pihak yang melakukan pengaturan, pembinaan, pembangunan, dan pengawasan jalan sesuai dengan kewenangannya. Pembagian kewenangan jalan di Indonesia sebenarnya telah diatur secara tegas dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan.

Penyelenggaraan jalan nasional menjadi wewenang pemerintah pusat, jalan provinsi menjadi wewenang pemerintah daerah provinsi, sedangkan jalan kabupaten/kota dan desa berada di bawah wewenang pemerintah daerah kabupaten/kota dan pemerintah desa.

Pembagian status jalan di Indonesia dan kewenangannya masing-masing. (Sumber: X/@KemenPU)
Pembagian status jalan di Indonesia dan kewenangannya masing-masing. (Sumber: X/@KemenPU)

Struktur ini dirancang untuk memastikan agar penanganannya berjalan sesuai dengan skala pelayanan. Namun dalam praktiknya, masyarakat seringkali tidak menggunakan kerangka ini saat menyampaikan aduan. Banyak laporan justru diarahkan berdasarkan persepsi—kepada pejabat yang dianggap paling dekat atau paling berpengaruh—bukan kepada institusi yang memiliki kewenangan teknis.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan regulasi saja tidak cukup tanpa diikuti pemahaman publik.

Membaca jalan sebagai bagian dari literasi infrastruktur

Dalam perspektif teknik transportasi, jalan sebenarnya memiliki “bahasa” yang dapat dikenali melalui karakter teknisnya. Jalan nasional umumnya dirancang dengan lebar yang cukup untuk menampung kendaraan berat dalam volume tinggi, sehingga perkerasan jalannya pun didesain dengan standar kualitas tinggi. Marka jalan biasanya lengkap dan reflektif, dilengkapi rambu penunjuk arah skala regional dan perlengkapan keselamatan. Penerangan jalan juga relatif tersedia di koridor utama.

Di bawahnya, jalan provinsi tetap melayani konektivitas penting, namun dengan standar yang sedikit lebih rendah. Sementara itu, jalan kabupaten/kota menunjukkan variasi yang lebih besar, baik dari segi lebar, kualitas perkerasan, maupun kelengkapan marka dan penerangan jalan, karena berfungsi melayani mobilitas lokal.

Ciri status jalan berdasarkan markanya. (Sumber: Instagram/@humaskotajambi)
Ciri status jalan berdasarkan markanya. (Sumber: Instagram/@humaskotajambi)

Kemampuan membaca perbedaan ini merupakan bagian dari literasi infrastruktur jalan yang masih terbatas di masyarakat. Tanpa pemahaman tersebut, semua jalan dipersepsikan sama, sehingga semua aduan diarahkan ke pihak yang sama.

Jalan Soekarno-Hatta: kasus nyata salah alamat aduan

Fenomena ini terlihat jelas pada kasus di Jalan Soekarno-Hatta Bandung. Sebagai jalan nasional dengan volume lalu lintas kendaraan berat yang tinggi, jalan ini memiliki karakteristik teknis sebagai bagian dari jaringan utama.

Namun ketika terjadi kerusakan perkerasan atau penerangan jalan yang mati, banyak aduan justru ditujukan kepada Wali Kota Bandung (@hmfarhanbdg) maupun Gubernur Provinsi Jawa Barat (@dedimulyadi71).

Jika ruas tersebut berada dalam kewenangan pemerintah pusat, maka pemerintah kota dan provinsi tidak memiliki otoritas langsung untuk melakukan perbaikan. Aduan yang tidak tepat sasaran akhirnya harus dialihkan terlebih dahulu, yang berarti memperpanjang waktu penanganan.

Kasus ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya pada kondisi jalan, tetapi juga pada cara masyarakat memahami sistem pengelolaannya.

Tegalluar: semua masalah dinaikkan ke tingkat atas

Hal serupa terjadi pada banjir di Desa Tegalluar. Banyak warga mengadu kepada gubernur, meskipun persoalan tersebut berkaitan erat dengan sistem drainase dan tata guna lahan.

Dalam sistem pemerintahan daerah, kewenangan tersebut berada pada pemerintah kabupaten, yakni Bupati Bandung. Namun rendahnya literasi infrastruktur jalan membuat masyarakat cenderung menganggap bahwa semakin tinggi posisi pejabat, semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap semua persoalan.

Kecenderungan ini justru bertentangan dengan prinsip desentralisasi yang menjadi dasar pengelolaan infrastruktur jalan di Indonesia.

Salah alamat aduan bisa memperlambat solusi

Kesalahan dalam menyampaikan aduan berdampak nyata. Laporan tidak langsung ditindaklanjuti, proses birokrasi menjadi lebih panjang, dan akuntabilitas menjadi tidak jelas. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Namun perlu dicatat, kondisi ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan masyarakat. Minimnya informasi publik—seperti tidak adanya papan penanda yang mencantumkan status jalan di lapangan—membuat masyarakat kesulitan mengidentifikasi kewenangan secara mandiri.

Dengan kata lain, rendahnya literasi infrastruktur jalan merupakan hasil dari interaksi antara keterbatasan pemahaman publik dan kurangnya transparansi sistem.

Hasan Fiidel, ojol asal Kabupaten Bandung memperbaiki jalan rusak tanpa duit pemerintah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Hasan Fiidel, ojol asal Kabupaten Bandung memperbaiki jalan rusak tanpa duit pemerintah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Peningkatan kualitas infrastruktur jalan tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik. Diperlukan upaya sistematis untuk meningkatkan literasi publik agar partisipasi masyarakat menjadi lebih efektif.

Pemerintah perlu menyediakan informasi jaringan jalan yang terbuka dan mudah diakses, memasang penanda status jalan, serta mengintegrasikan sistem pengaduan agar laporan dapat langsung diteruskan ke instansi yang berwenang. Di sisi lain, masyarakat perlu mulai memahami bahwa setiap infrastruktur jalan memiliki tata kelola yang spesifik dan tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh satu level pemerintahan.

Aduan publik merupakan bagian penting dari tata kelola kota yang responsif. Namun, tanpa pemahaman yang memadai, aduan berisiko menjadi tidak efektif.

Fenomena aduan yang salah alamat bukan sekadar kesalahan individu, melainkan bukti bahwa literasi infrastruktur publik masih perlu ditingkatkan. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat tidak hanya menjadi pengawas, tetapi juga bagian dari solusi dalam menciptakan sistem infrastruktur jalan yang lebih responsif dan akuntabel. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Dosen dan Peneliti Bidang Teknik Sipil (Transportasi), Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 19:02

Hari Bumi Sedunia: Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata

Refleksi Hari Bumi Sedunia untuk melihat kembali hubungan manusia dengan alam, dari kesadaran sederhana hingga tindakan nyata dalam menjaga keberlanjutan Bumi.

Gambar Bumi dari jendela pesawat Orion yang memperlihatkan keindahan planet sebagai rumah bagi seluruh kehidupan. (Sumber: NASA | Foto: -)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 15:38

Puisi, Hati, dan Suci

Puisi tumbuh berkembang bukan hanya dari ruang nyaman, tetapi dari keterbatasan yang dilawan dengan kekuatan keyakinan.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ikon 19 Apr 2026, 13:48

Hikayat Harry Suliztiarto Bawa Olahraga Panjat Tebing ke Indonesia

Kisah Harry Suliztiarto membawa panjat tebing ke Indonesia sejak 1976, dari eksperimen nekat hingga ekspedisi Eiger yang menginspirasi.

Harry Suliztiarto. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 19 Apr 2026, 11:45

Panduan Wisata Green Canyon Pangandaran, Panorama Eksotis Karst Cukang Taneuh Sungai Cijulang

Green Canyon menghadirkan kombinasi tebing karst, air kehijauan, dan aktivitas petualangan seperti body rafting yang cocok bagi pencinta wisata alam.

Green Canyon Pangandaran. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 11:14

Pantai Madasari, Pilihan Healing di Pesisir Selatan Jawa Barat

Pantai Madasari dapat menjadi referensi wisata alam karena menawarkan ketenangan di pesisir selatan Jawa Barat.

Pantai Madasari di pagi hari dengan suasana tenang dan nyaman. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 10:19

Aduan yang Salah Alamat: Bukti Literasi Infrastruktur Publik Masih Rendah

Meningkatnya partisipasi publik dalam menyampaikan aduan terkait kerusakan infrastruktur jalan belum diikuti dengan pemahaman tentang status dan penyelenggara jalan.

Kondisi jalan yang rusak di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Toni Hermawan)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)