Tidak semua orang berani melangkah ketika rasa ragu masih mendominasi. Namun bagi Hayyun Halimatul Ummah, keraguan justru menjadi titik awal untuk mencoba. Perempuan asal Tasikmalaya ini membuktikan bahwa keberanian melangkah dapat membuka jalan yang tak terduga, hingga akhirnya ia dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional.
Hayyun Halimatul Ummah lahir di Tasikmalaya pada 17 Januari 2004. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang menanamkan nilai kejujuran, ketulusan, dan adab dalam belajar. Ayahnya, Aedin Taryadin, bekerja sebagai petani, sementara ibunya, Lina, merupakan ibu rumah tangga yang aktif mengajar ngaji dan pendidikan agama di lingkungan sekitar rumah.
Dari keseharian orang tuanya, Hayyun belajar bahwa pendidikan tidak hanya soal capaian akademik, tetapi juga tentang usaha yang sungguh-sungguh dan sikap hormat kepada guru serta orang tua. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi dalam setiap langkah hidupnya.
Menempuh Pendidikan Sekolah dan Pesantren
Perjalanan pendidikan Hayyun dimulai di SDN Sindang, berlanjut ke MTsN 3 Tasikmalaya, lalu SMAN 1 Karangnunggal. Sejak jenjang MTs hingga SMA, ia tinggal di Pondok Pesantren Salafiyyah Almuawanah.
Lingkungan pesantren membentuknya terbiasa hidup disiplin, bertanggung jawab, dan menjaga niat dalam setiap aktivitas. Ritme kehidupan yang teratur tanpa ambisi berlebihan justru mengajarkannya konsistensi dan kesabaran dalam belajar.
Pada 2022, Hayyun diterima sebagai mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia memilih tetap tinggal di pesantren sambil menjalani perkuliahan. Setiap hari, ia harus menyesuaikan jadwal antara kewajiban akademik, kegiatan kampus, serta aktivitas mondok yang berlangsung dari subuh hingga malam.
Di tengah kesibukan tersebut, Hayyun bergabung dengan Unit Pengembangan Tilawatil Qur’an (UPTQ). sebuah wadah yang bukan hanya memperkuat kecintaannya terhadap Al-Qur’an, tetapi juga menjadi tempat ia mengembangkan potensi, dan kepercayaan diri dalam berdakwah.
Ketekunan Hayyun membuahkan hasil. Hingga kini, ia telah meraih lebih dari 35 prestasi di bidang dakwah dan keislaman. Pencapaian tersebut mengantarkannya meraih predikat Mahasiswa Berprestasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung tahun 2024 dan 2025.
Meski demikian, Hayyun tidak pernah merasa pencapaian itu sebagai hasil kehebatan pribadi. Ia selalu menegaskan bahwa semua keberhasilan adalah buah dari doa orang tua dan keberkahan para guru. Ada satu prinsip yang selalu ia pegang, “Manusia akan maju kalau tidak membuat orang tuanya kecewa.”
Keputusan Hayyun mengikuti seleksi Duta Santri Nasional berawal dari rasa penasaran. Ia mengaku tidak datang dengan ambisi besar, justru diiringi rasa ragu dan overthinking. Dorongan dari guru pesantren dan dosen kampus yang melihat potensinya akhirnya membuat ia memberanikan diri untuk mendaftar.
Baginya, kesempatan yang datang adalah sesuatu yang patut dicoba, meskipun penuh keraguan.
Seleksi Panjang Selama Lima Bulan
Proses seleksi berlangsung sekitar lima bulan. Tahapannya meliputi pemberkasan, penulisan esai, pembuatan video elevator pitch, penyusunan visi–misi, hingga wawancara. Pada tahap ini, peserta diuji kemampuan bahasa Arab dan Inggris, pembacaan kitab kuning, hafalan Al-Qur’an, tajwid, serta makharijul huruf.
Seleksi kemudian berlanjut ke tahap bootcamp, pembekalan, sidang program, karantina, hingga malam grand final yang mempertemukan 30 finalis terpilih dari sekitar enam ribu peserta dari seluruh Indonesia.
Di balik proses panjang tersebut, tantangan terbesar Hayyun bukan terletak pada kemampuan, melainkan manajemen waktu. Selama seleksi berlangsung, ia tetap harus menjalani perkuliahan, kewajiban pesantren dengan absensi lima waktu, amanah organisasi, serta program KKN.
Tidur larut dan belajar dalam kondisi lelah menjadi risiko yang harus ia hadapi. Tantangan semakin terasa ketika jadwal wawancara Duta Santri bertabrakan dengan lomba di Bank Indonesia Tasikmalaya. Sempat terlintas untuk mengundurkan diri, tetapi tekanan dan dorongan panitia–“Tidak bisa sempat 10 menit saja?”–menjadi tamparan halus yang membuatnya bertahan dan tidak menyerah.
Masa karantina menjadi pengalaman yang paling berkesan. Untuk pertama kalinya, Hayyun mengikuti ajang kedutaan yang menuntut hal-hal di luar kebiasaannya, mulai dari memakai heels setinggi 11 cm, belajar catwalk, make-up, hingga memahami gestur sebagai figur publik.
Meski sempat merasa canggung, Hayyun memaknai pengalaman tersebut sebagai proses belajar. Dari sanalah ia menarik satu kesimpulan sederhana yang terus menguatkannya:
Kalau mau hebat, harus nekat.
Malam Penobatan yang Mengubah Segalanya
Malam grand final menjadi momen yang sulit dilupakan. Ketika namanya diumumkan sebagai Juara Umum Duta Santri Nasional, Hayyun tak mampu menahan haru. Hadiah Umrah dan Trip ke Mesir terasa begitu besar baginya, terlebih karena ia merasa banyak finalis lain yang lebih hebat dan berpengalaman.
Baginya, pencapaian itu adalah bentuk kasih sayang Allah yang datang melalui doa orang tua dan keberkahan guru. Di hadapan banyak orang, ia hanya mampu mengucapkan, “Ya Allah, alhamdulillah.”

Setelah dinobatkan, Hayyun mengemban amanah baru sebagai Duta Santri Nasional. Ia tidak ingin gelar tersebut berhenti sebagai simbol semata. Bersama tim, ia mulai merancang program GEMASSH (Gerakan Edukatif Melalui Santri Sadar Hukum) yang akan berkolaborasi dengan bidang politik dan hukum.
Ke depan, Hayyun berencana aktif mengadakan seminar, pelatihan, kolaborasi desa, serta kegiatan sosial lainnya. Tujuannya adalah memberikan pemahaman hukum dasar yang praktis kepada masyarakat dan menumbuhkan kepercayaan diri santri agar siap berkontribusi di berbagai bidang.
Bagi Hayyun, perjalanan ini bukan tentang seberapa jauh ia melangkah, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa ia berikan. Ia ingin menunjukkan bahwa kesederhanaan bukan penghalang untuk bermimpi besar, dan keberanian untuk mencoba adalah awal dari banyak pintu kebaikan. (*)
