Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

7 menit baca
Garbi Cipta Perdana
Ditulis oleh Garbi Cipta Perdana diterbitkan Selasa 16 Jun 2026, 11:04 WIB
Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)

Tanggal berdirinya Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala) pada 14 Juni 1913 diperingati sebagai Hari Purbakala. Artinya, kita telah terlewat satu hari untuk merayakan Hari Purbakala ke-113 tahun. Katanya sih, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, ya kan? Sebagai seorang yang menepuk dada dan mengaku purbakalawan atau yang dikenal juga sebagai arkeolog, peringatan ini terasa relevan untuk meninjau kembali sejauh mana sebuah kota dapat dibaca melalui kacamata ilmu purbakala atau arkeologi ini.

Hampir 30 tahun tinggal di Bandung dan empat tahun di antaranya dihabiskan untuk bekerja mengurusi kebudayaan di pemerintahan kota, saya masih bisa merasakan adanya stigma lama dalam memandang arkeologi. Seolah ada garis yang menentukan bahwa arkeologi hanya terpaku pada candi-candi megah di pedalaman atau situs hunian prasejarah di gua-gua terpencil. Di ranah publik pun, pemahaman kita sering kali masih terjebak pada stereotip budaya populer: apakah arkeologi itu seputar dinosaurus, fosil, atau sekadar petualang bertopi koboi dengan pecut ala Indiana Jones? Asumsi-asumsi ini keliru dan mencerminkan bahwa jarak pengetahuan masih begitu lebar.

Kenyataannya, Bandung dengan segala dinamika urban dan lanskap sejarahnya sebenarnya telah lama menjadi lokus bagi kajian arkeologi perkotaan, industri, publik, hingga lanskap. Dan itulah pokok bahasan tulisan ini.

Latar belakang saya yang berkuliah di Arkeologi UI membuat akses pada karya ilmiah dari para mahasiswanya lebih mudah saya himpun. Oleh karenanya dalam tulisan ini saya memfokuskan diri untuk menguraikan berbagai karya mahasiswa Arkeologi UI yang berlokus di Kota Bandung. Berdasarkan penelusuran yang saya lakukan dari basis data tersebut, setidaknya terdapat 23 karya dari tingkat S-1 maupun pascasarjana yang menjadikan wilayah Bandung Raya sebagai lokus penelitian mereka. Namun, agar sesuai dengan wilayah kerja kantor saya, beberapa hasil penelitian tersebut tidak dibahas lebih dalam karena lokus geografisnya berada di luar wilayah administratif Kota Bandung.

Karya-karya tersebut meliputi tesis Lutfi Yondri (2005) berjudul “Kubur Prasejarah Temuan Dari Gua Pawon Desa Gunung Masigit, Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat”, skripsi Anton Ferdianto (2009) berjudul “Artefak Obsidian Dari Gua Pawon, Kabupaten Bandung, Jawa Barat”, skripsi Amdi Ariefianto (2013) berjudul “Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan, Bandung Tahun 1890-1942, Sebagai Kajian Arkeologi Industri”, serta skripsi saya sendiri, Garbi Cipta Perdana (2019), berjudul “Rekonstruksi Lanskap Kabuyutan Bandung Utara”. Sementara itu, 19 sisa karya lainnya menunjukkan keragaman tema yang membuktikan bahwa tinggalan masa lalu di Kota Bandung dapat dilihat dengan berbagai sudut pandang arkeologis.

Keragaman tema tersebut masuk dalam subdisiplin arkeologi perkotaan (urban archaeology) yang memandang kota sebagai palimpses—sebuah ruang hidup yang terus-menerus ditulis ulang di atas jejak fisik masa lalunya. Kajian arkeologi perkotaan berupaya mengupas lapisan demi lapisan materialitas tersebut. Di Kota Bandung sendiri, studi mengenai arsitektur kolonial menjadi salah satu tema yang mendominasi deretan karya yang berhasil dihimpun.

Firman Ahadi (2005) melalui skripsinya yang berjudul “Bangunan-Bangunan Pendidikan Di Kota Bandung Periode 1906-1942: Kajian Arkeologi Perkotaan” memetakan materialisasi politik etis dalam wujud ruang-ruang kelas secara mikro hingga hubungannya dengan wilayah permukiman secara semi-mikro. Ruang institusional bersejarah ditelaah lebih dalam oleh Ratna Yuli Wulandari (1991) lewat skripsi berjudul “Gedung Merdeka Bandung: Sebuah Telaah Sejarah Dan Arsitektural 1991”. Penelitian kni melacak sejarah gedung sejak masa Societeit Concordia sekaligus membuktikannya sebagai salah satu basis eksperimen gaya seni bangunan Indo-Eropa yang dirancang oleh Wolff Schoemaker pada era Parijs Van Java.

Aspek spasial dan morfologi bangunan juga mendapat perhatian dalam beberapa studi. Maharani Qadarsih (2009) menulis skripsi berjudul “Bangunan-Bangunan Sudut Di Bandung: Tinjauan Keletakan Dan Bentuk” yang secara kuantitatif mengelompokkan lima puluh bangunan sudut berdasarkan bentuk dan keletakannya di persimpangan jalan kota. Sementara itu, Dian Melur (2002) melakukan studi komparatif arsitektur melalui skripsi berjudul “Gedung Javansche Bank Batavia Dan Bandung Suatu Perbandingan Bentuk” yang melihat bagaimana perbedaan desain dilakukan pada wilayah berbeda.

Penanda lokasi Gua Pawon di kawasan Karst Citatah, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Penanda lokasi Gua Pawon di kawasan Karst Citatah, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Skripsi Albertus Napitupulu (2009) berjudul “Bentuk Dan Gaya GPIB Bethel Di Bandung” menyimpulkan bangunan sakral tersebut sebagai perpaduan gaya Eropa dan Nusantara yang dikenal sebagai arsitektur Indis. Pada objek rumah ibadah lain, Tommy Pratomo (2009) dengan skripsi berjudul “Gereja Tujuh Kedukaan Bunda Maria (Gereja Pandu) Bandung, Gaya Bangunan” secara spesifik mengidentifikasi penerapan gaya Neo-Gothic Eropa pada bangunan tersebut. Kajian menara ini diperluas dalam konteks regional oleh Febrika Widharini Widyaka (2015) melalui skripsi berjudul “Menara Gereja Protestan Tahun 1901-1942 Di Jakarta, Bandung, Semarang, Dan Surabaya” yang membandingkan menara berkarakteristik Indis dan Art Deco dari segi dimensi, ornamen, hingga keberadaan jam atau lonceng.

Arkeologi juga tidak hanya berbicara tentang monumen atau gedung besar milik negara, tetapi juga menyentuh ruang domestik, hiburan, dan transportasi masyarakat urban. Perkembangan ruang permukiman komersial dibahas oleh Melati Cahya Pratiwi (2020) dalam skripsi berjudul “Perkembangan Pemukiman Kolonial Kawasan Jalan Braga Bandung (1894-1938)” yang memetakan pengaruh letak strategis kawasan di antara stasiun dan Jalan Raya Pos terhadap persebaran bangunan pertokoan hingga pabrik.

Lebih spesifik pada tipologi hunian privat, Nabila Khoirunnisa (2018) menyusun skripsi berjudul “Rumah Tinggal Masa Kolonial Awal Abad 20 Di Jalan Cipaganti, Bandung” untuk melihat bagaimana hunian kaum elit Eropa di sana menyerap pengaruh arsitektur tradisional Jawa Barat. Studi ini hampir sejenis dengan skripsi Ovi Ratna Dyah Kustanti (2016) yang membahas “Rumah Tinggal Masa Kolonial Belanda Di Cihapit Bandung Pada Awal Abad 20 Masehi” yang mengupas karakteristik bentuk bangunan tersendiri pada kawasan hunian masa itu. Ruang hiburan massal dan budaya populer pun ikut dipetakan oleh Khaesyar Nisfhan Akbar Rosadi (2020) lewat skripsi berjudul “Gaya Fasad-Fasad Bangunan Bioskop Di Jakarta Dan Bandung Abad Ke-20” yang melacak dinamika perubahan bentuk penampang jendela, ventilasi, dan ornamen bioskop berdasarkan faktor ruang dan periodisasi pendiriannya.

Tema mobilitas urban coba dipetakan melalui kajian arkeologi transportasi dan industri menggunakan sudut pandang yang lebih humanis. Muhammad Sayyid Nashrullah Rasmadi (2020) melalui skripsi berjudul “Halte-Halte Kereta Api Trem Di Kota Bandung Masa Kolonial: Kajian Arkeologi Lanskap” melangkah melampaui urusan fisik rel dengan membedah bagaimana masyarakat memaknai efisiensi waktu tempuh dan kestrategisan fasilitas transportasi tersebut dalam ruang kognitif mereka.

Ada juga Diannisa Nur Rahma (2021) melalui skripsi berjudul “Bentuk-Bentuk Bangunan Kantor Pusat Staatsspoor En Tramwegen Di Bandung: Perspektif Kebudayaan Dan Lingkungan” yang melakukan analisis komparatif dengan kantor di Utrecht untuk membantikan adanya sebelas karakteristik adaptasi arsitektur tropis guna menyiasati perbedaan iklim nusantara yang menurunkan kenyamanan gaya bangunan Eropa asli.

Foto Gua Pawon antara tahun 1920-1932. (Sumber: Tropenmuseum)
Foto Gua Pawon antara tahun 1920-1932. (Sumber: Tropenmuseum)

Tinggalan berupa objek komunikasi dan informasi pun dianalisis dalam dua pendekatan yang berbeda. Dyorisky Otto Kusumo (2017) melalui skripsi berjudul “Kantor Pos Besar Bandung, Tahun 1931-1959: Kajian Arkeologi Industri” melihat peningkatan kapasitas layanan pos di Alun-alun sebagai bukti dinamika kebutuhan komunikasi sekaligus pembentuk tatanan kelas sosial baru di masyarakat berdasarkan jabatan kerja.

Di sisi lain, Zamzam Zamakhsyary Ar Razby (2015) menggeser fokus ke ranah New Museology lewat tesisnya yang berjudul “Membangun Memori Kolektif Di Museum Pos Indonesia Bandung”. Penelitian ini menawarkan rekonstruksi pameran di sayap kompleks Gedung Sate dari yang semula pasif-tradisional menjadi pendekatan konstruktivis-partisipatori yang kaya alur cerita demi merangsang memori kolektif pengunjung tentang sejarah perposan.

Masih dalam lingkup museologi dan analisis koleksi, Aditya Natifa (2009) mengkaji aspek representasi keilmuan melalui skripsi berjudul “Museum Geologi Bandung: Suatu Tinjauan Terhadap Tata Pamer Museum Di Ruang Pamer Sejarah Life” untuk merumuskan model tata pamer yang lebih komunikatif dan apresiatif bagi publik. Sedangkan analisis langsung terhadap artefak koleksi museum dilakukan oleh R. Syarifah Alwiah (2000) lewat skripsi berjudul “Analisis Pedang Masa Kolonial Koleksi Museum Sejarah Dan Museum Negeri Sri Baduga, Bandung” yang mengklasifikasikan atribut fisik bilah dan gagang pedang guna menyusun kronologi serta memetakan lima fungsi penggunaan pedang, mulai dari senjata perang hingga pelengkap busana pria.

Selain itu, ada juga karya yang membahas objek tinggalan dari hunian tertua di wilayah utara kota. Adalah Iis Sumiati (2004) dalam skripsi berjudul “Artefak Obsidian Dari Situs Dago, Bandung, Jawa Barat” yang telah berhasil menyusun tipologi dasar dari 2.285 sampel batu obsidian ke dalam kelompok bahan baku, alat pakai seperti serut dan gurdi, hingga sisa limbah batu inti.

Tidak kalah penting dari itu semua, penataan tata kota secara makro dikaji secara apik oleh Hana Kamila Fauziyah (2021) dalam skripsi berjudul “Pola Persebaran Bangunan Perkantoran Di Bandung Tahun 1810-1940”. Penelitian ini menyingkap fakta unik di balik dominasi mutlak pembangunan gedung perkantoran di wilayah utara Jalan Raya Pos yang mencapai 85,71 persen. Lewat pendekatan geologis, ia membuktikan bahwa struktur tata ruang birokrasi ini dipengaruhi oleh kondisi tanah utara yang jauh lebih kering dan padat, berbeda dengan wilayah selatan Bandung yang cenderung berlumpur karena merupakan jejak endapan dari Danau Bandung Purba.

Keragaman tema dari deretan karya yang disebutkan di atas memberikan simpulan penting bahwa arkeologi memiliki perangkat metodologi yang luwes untuk membedah materialitas masa lalu, baik yang berusia ribuan tahun maupun yang berasal dari abad ke-20. Melalui deretan karya ini, kita ditunjukkan bahwa setiap elemen—mulai dari pecahan batu obsidian prasejarah di Dago, sudut bangunan kolonial, fasad bioskop, persepsi pengguna halte trem, hingga batasan geologis Danau Purba yang mendikte letak kantor pemerintah—adalah data material yang menyimpan narasi berharga untuk dipelajari, dan mungkin, dapat diteladani. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Garbi Cipta Perdana
archaeologist by training, philosopher by practice, living by laughing, Bapak Lir Bumi Niskala by destiny

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 16 Jun 2026, 18:21

Kausalitas Daring yang Menggerakkan Dapur KebabFactory.id

Dinamika digitalisasi perbankan yang menjaga dapur UMKM tetap ngebul.

Pegawai sedang menyiapkan pesanan konsumen kedai KebabFactory.id di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 15:30

Sepeda, dari Kendaraan Elit Jadi Merakyat

Sepeda masuk ke Indonesia abad 19 sebagai barang mewah kalangan elit.

Iklan penjualan sepeda anak-anak. (Sumber: Majalah Star Weekly (No. 502))
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 14:47

Badai Belum Berlalu, Nasib Kelas Menengah Kian Pilu

Akar masalah karena kegagalan pemerintah untuk menciptakan pasar tenaga kerja untuk kelas menengah yang berkualitas.

Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Senin 15 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jun 2026, 13:56

5 Wisata Pilihan di Tasikmalaya, dari Kawah Vulkanik hingga Pantai Selatan yang Terbuka ke Samudra

Tasikmalaya menyimpan banyak destinasi menarik, mulai dari Gunung Galunggung, Kampung Naga, hingga Pantai Cipatujah dan Karang Tawulan.

Pantai Karang Tawulan Tasikmalaya. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Linimasa 15 Jun 2026, 22:07

Ketika Obor Menyala di Jalanan Kota Bandung

Tradisi pawai obor kembali hadir di berbagai wilayah Bandung untuk menyambut Tahun Baru Hijriah.

Pawai obor malam tahun baru Hijriyah di Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)