Sebelum Selebgram Ada Japanisasi: Propaganda Kecantikan dari 1943

4 menit baca
Rury Nur Asyifaa
Ditulis oleh Rury Nur Asyifaa diterbitkan Rabu 17 Jun 2026, 13:27 WIB
Iklan Bedak Virgin dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Juli 1945 (Sumber: Website : universiteitleiden.nl)

Iklan Bedak Virgin dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Juli 1945 (Sumber: Website : universiteitleiden.nl)

Kehidupan wanita Indonesia selalu dikaitkan dengan tren kecantikan modern. Saat ini, menjadi content creator beauty sudah menjadi tren. Tiktok dan Instagram telah berkembang menjadi platform media sosial yang digunakan oleh perempuan untuk menjadi selebgram atau influencer kecantikan yang mempromosikan makeup.

Tetapi, bayangkan jika majalah tahun 1943 sudah berisikan iklan Makeup?

Melalui berbagai produk kosmetik yang dipasarkan kepada masyarakat selama masa pendudukan Jepang (1942–1945), terlihat bahwa perhatian terhadap penampilan telah meningkat.

Iklan produk kecantikan pertama kali muncul di media cetak pada saat itu, yang menunjukkan fenomena ini.

Iklan Bedak Virgin dan Bedak Spesial yang dimuat dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Agustus 1943 dan 15 Juli 1945 adalah contohnya.

Dari Zaman doeloe sampe sekarangpoen, ketjantikan dan kesehatan memang perloe, karna tjantik dan sehat itoe, modal jang paling besar

Pernyataan didalam iklan itu menunjukkan bahwa bahkan sejak masa pendudukan Jepang wacana tentang kecantikan sudah diproduksi dan dipromosikan.

Majalah Sebagai Media Propaganda Jepang

Djawa Baroe adalah majalah bergambar yang diterbitkan selama pendudukan Jepang di Jawa sebagai media penyampaian informasi kepada masyarakat yang sarat dengan muatan propaganda.

Mulai terbit pertama kali pada 1 Januari 1943 oleh Jawa Shinbunkai. Penyebarannya menjangkau enam kota besar termasuk Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang.

Semua konten yang diterbitkan, termasuk berita, artikel, foto, cerpen, dan bahkan iklan, termasuk dalam agenda besar Jepang.

Apa saja agenda itu? Menurut Kurasawa (2015), Ada dua hal yang menjadi prioritas kebijakan propaganda Jepang di Indonesia yaitu menghapus pengaruh-pengaruh Barat di kalangan masyarakat, dan memobilisasi rakyat demi kemenangan Jepang.

Nah, di sinilah iklan kecantikan masuk dengan peran yang jauh lebih terencana dari yang kita bayangkan.

Propaganda perang tidak selalu disampaikan melalui poster militer atau pidato heroik. Iklan kosmetik justru hadir dalam bentuk yang lebih soft.

Iklan Kosmestik Alat Japanisasi

Di masa pendudukan Jepang (Maret 1942–Agustus 1945), banyak produk kecantikan beredar di masyarakat meskipun di tengah bayang-bayang kehidupan yang sulit. Ini hal yang unik, Jepang memahami bahwa untuk menjaga stabilitas sosial, kehidupan “normal” harus tetap berjalan.

Salah satu strateginya, Jepang membiarkan perempuan tetap merasa bisa merawat penampilan mereka.

Dengan mempertahankan kebiasaan sehari-hari seperti membeli bedak atau produk perawatan, Jepang seolah memberi pesan bahwa ‘hidup di bawah pendudukan kami tidak seburuk itu’.

Masyarakat yang sibuk memikirkan kecantikan adalah masyarakat yang lebih mudah dikendalikan.

Untuk alasan apa target iklan ini adalah perempuan? Jawabannya berkaitan dengan posisi perempuan di struktur sosial di Jepang selama pendudukan.

Pada masa penjajahan Jepang tahun 1943–1945, Jepang berusaha keras menampilkan perempuan Jepang agar menjadi standar kecantikan di Indonesia.

Perempuan Jepang ini sering muncul di film Nippon atau majalah Poetri Nippon. Sekitar tahun 1943, majalah Djawa Baroe juga kerap menampilkan figur perempuan Jepang.

Artinya, ada proyek besar di balik semua ini yaitu Japanisasi.

Agenda propaganda Jepang yang direpresentasikan melalui majalah Djawa Baroe secara umum memiliki unsur yang sama, yaitu Japanisasi, yang merupakan persiapan dari agenda yang lebih besar yaitu Persemakmuran Lingkup Asia Timur Raya.

Iklan kecantikan pun masuk ke dalam tujuan propaganda.

Standarisasi Kecantikan yang berhasil dibangun

Dengan memperkenalkan standar kecantikan ala Jepang seperti kulit terawat dan penampilan rapi, Jepang perlahan membentuk imajinasi perempuan pribumi tentang seperti apa sih “perempuan yang ideal” itu.

Menariknya, narasi “cantik itu perlu, cantik itu modal” yang dipakai dalam iklan bedak tahun 1943 itu justru populer lagi di masa ini.

Scroll feed media sosialmu sekarang, dan kamu akan menemukan ratusan iklan skincare berisikan pesan yang serupa, seperti ‘kulit sehat = kepercayaan diri = kesuksesan’.

Cara penyampaiannya saja yang jauh lebih modern. Karena kini ada filter, endorse selebgram, hingga produk yang mengklaim berbasis “dermatologically tested”.

Tapi inti pesannya? Tidak jauh berbeda dari kalimat yang tercetak di iklan bedak pada halaman Djawa Baroe tahun 1943.

Yang berbeda adalah konteksnya.

Dulu, iklan itu muncul di majalah propaganda, didesain untuk tujuan yang lain selain iklan produk kosmetik.

Kini, iklan serupa bertebaran di platform yang kita bisa akses secara bebas.

Tetapi, pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan dari narasi kecantikan ini tetap layak untuk kita pertanyakan.

Faktanya, Sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk perang dan peristiwa yang kasat mata.

Kadang, bisa tersembunyi di balik iklan bedak di halaman majalah jadul, tidak terjangkau generasi saat ini, dan menunggu kita untuk lebih jeli mengeksplornya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Rury Nur Asyifaa
Mahasiswa Ilmu Sejarah Unpad yang suka banget bahas sejarah-sejarah unik yang suka ga kepikiran!

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jun 2026, 20:29

Di Balik Publikasi Digital Program Operasi Katarak Gratis

Analisis publikasi digital program operasi katarak gratis Summarecon Agung dalam melihat konsistensi pesan, strategi komunikasi, dan pengelolaan citra perusahaan melalui berbagai media

Penulis sedang menganalisis teknik penulisan Summarecon Agung Tbk dari tiga platform.
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 20:09

Tamasya ke Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, Oase Hijau di Tengah Kota Surabaya

Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih Surabaya merupakan bekas TPA yang disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan taman tematik dan fasilitas rekreasi.

Taman Harmoni & Hutan Bambu Keputih jadi tempat wisata favorit di Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Linimasa 17 Jun 2026, 19:12

Hikayat Taman Alun-alun Regol, Dari Bantaran Sungai Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Tumpuan UMKM Hingga Tak Terawat

Kisah Alun-alun Regol Bandung yang berubah dari bantaran sungai penuh sampah menjadi ruang publik lalu mulai meredup.

Alun-alun Regol, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 19:09

Toponimi Lembang (Bagian 2)

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, termasuk sejarah Lembang.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 18:01

Mampukah Mahasiswa Menjaga Konsentrasi Belajar dari Distraksi Media Sosial?

Media sosial bisa jadi teman belajar atau justru pengganggu konsentrasi. Tulisan ini membahas cara mahasiswa tetap fokus dan produktif tanpa harus meninggalkan dunia digital.

Ilustrasi gangguan media sosial. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 17:30

Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

Rupiah melemah, BBM naik, dan biaya hidup kian mencekik. Ibulah yang paling dulu merasakan dampaknya. Lalu, apa akar persoalan sebenarnya?

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 17:05

Itinerary 1–2 Hari Surabaya: Telusur Sejarah, Kuliner Legendaris, dan Wajah Baru Kota Pahlawan

Rekomendasi itinerary Surabaya untuk 1–2 hari, mulai Tugu Pahlawan, Ampel, hingga kuliner legendaris.

Balai Kota Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:58

Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

Peran seni sebagai perlawanan, baik pada masa Raden Saleh maupun era digital saat ini.

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)
Bandung 17 Jun 2026, 16:44

Menghidupkan Ekosistem F&B Lewat Industry Night 2026, Saat Komunitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci Bertahan

Dinamika industri F&B kini tidak lagi sekadar bicara soal persaingan menu viral atau estetika visual semata, melainkan bergeser ke arah kekuatan kolektif yang digerakkan oleh komunitas.

Di Industry Night, batas-batas kompetisi dilebur menjadi energi positif yang mendorong lahirnya koneksi, inspirasi baru, serta pertumbuhan usaha yang berkelanjutan secara bersama-sama. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:33

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Menengok kembali sejarah perdagangan lada abad ke-17 di Banten dan Lampung.

Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:47

Topeng Banjet : Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Waktu

Kesenian Topeng Banjet yang ada sejak awal abad ke-20 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Karawang.

Topeng Banjet merupakan kesenian tradisional khas Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Wonderful Indonesia)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:27

Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:48

Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

Narasi tentang pajak, sering kali menjadi stigma negatif dalam kehidupan sosial. Apa karena masyarakat masih berpikir stereotip, atau tata kelola pajak yang dianggap kurang adil.

Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:27

Sebelum Selebgram Ada Japanisasi: Propaganda Kecantikan dari 1943

Ketika iklan makeup dijadikan daya tarik propaganda pada masa Pendudukan Jepang 1942-1945.

Iklan Bedak Virgin dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Juli 1945 (Sumber: Website : universiteitleiden.nl)
Beranda 17 Jun 2026, 08:59

Cerita Pekerja Informal yang Ngalong di Tengah Cuaca Dingin Kota Bandung yang Kian Menggigit

Cerita para pekerja informal di Bandung yang terpaksa "ngalong" demi mencari nafkah di tengah cuaca Kota Bandung yang kian menggigit.

Di tengah udara dingin yang menggigit, Raja tetap setia berjualan cilok kuah hingga menjelang subuh di kawasan Dago Cikapayang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 08:01

Maradona, Malvinas, Juni dan Bandung

Sebuah memori siaran pertandingan Piala Dunia 1986 yang memunculkan legenda sepak bola dunia Maradona serta serunya masyarakat Bandung menonton saat itu

Ilustrasi Maradona. (Sumber: Flickr | Foto: Diego3336)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 07:12

Ambisi di Balik Coretax

Sistem Coretax dirilis untuk menyatukan 19 proses bisnis pajak lama.

Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:34

Nama Geografis yang Bersumber dari Alat dan Cara Memasak

Toponimi telah mengabadikan kata yang produktif digunakan di suatu daerah, pada saat nama geografis itu diberikan.

Gentong untuk menampung air bersih masih terus dibuat oleh para pembuat gerabah. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:05

Maraknya Juru Parkir Liar di Minimarket: Cermin Lemahnya Manajemen Parkir di Perkotaan

Maraknya juru parkir liar di minimarket bukan sekadar soal uang parkir, tetapi cerminan lemahnya manajemen parkir, kepastian hukum, dan pelayanan publik di perkotaan.

Ilustrasi Juru Parkir. (Sumber: Pemkot Bandung)
Ayo Biz 16 Jun 2026, 18:21

Kausalitas Daring yang Menggerakkan Dapur KebabFactory.id

Dinamika digitalisasi perbankan yang menjaga dapur UMKM tetap ngebul.

Pegawai sedang menyiapkan pesanan konsumen kedai KebabFactory.id di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)