Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

4 menit baca
Ingrid Kusumaangraeni, S.Ds.
Ditulis oleh Ingrid Kusumaangraeni, S.Ds. diterbitkan
logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)

Selama bertahun-tahun, identitas visual kenegaraan di Indonesia lahir melalui proses yang nyaris tidak pernah melibatkan publik. Logo Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, misalnya, lebih sering dipersepsikan sebagai hasil keputusan birokrasi yang kemudian disosialisasikan kepada masyarakat. Publik menerima, menggunakan, lalu melupakan. Hubungan yang terbangun bersifat satu arah—negara mendefinisikan identitas, masyarakat mengikutinya.

Namun, menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, terjadi perubahan yang layak dicatat sebagai tonggak baru dalam komunikasi publik pemerintah. Untuk pertama kalinya, masyarakat diberi kesempatan memilih logo resmi HUT RI melalui mekanisme polling terbuka. Sebanyak 68.569 suara dari berbagai daerah di Indonesia hingga diaspora di luar negeri turut menentukan identitas visual yang kelak mewakili bangsa selama satu tahun ke depan.

Peristiwa ini tampak sederhana: memilih sebuah logo. Padahal, di baliknya tersimpan perubahan paradigma yang jauh lebih mendasar. Negara tidak lagi sekadar menjadi produsen simbol, tetapi mulai berbagi ruang dengan masyarakat sebagai pemilik sah identitas nasional. Logo tidak lagi diposisikan sebagai instruksi visual, melainkan hasil kesepakatan kolektif.

Dalam perspektif Hubungan Masyarakat (Humas), langkah tersebut mencerminkan pergeseran dari komunikasi satu arah menuju komunikasi yang lebih partisipatif. Masyarakat tidak lagi diperlakukan sebagai audiens pasif yang hanya menerima informasi, melainkan sebagai pemangku kepentingan yang memiliki hak untuk ikut menentukan bagaimana bangsanya direpresentasikan.

Perubahan ini menjadi semakin relevan di era digital. Di tengah derasnya arus informasi, legitimasi sebuah kebijakan komunikasi tidak lagi hanya bergantung pada kualitas pesan, tetapi juga pada keterlibatan publik dalam proses pembentukannya. Semakin tinggi partisipasi masyarakat, semakin kuat pula rasa memiliki terhadap hasil akhirnya.

Pandangan ini sejalan dengan konsep Competitive Identity yang diperkenalkan oleh Simon Anholt. Menurutnya, reputasi sebuah negara tidak dapat dibangun melalui pencitraan semata. Sebuah bangsa memperoleh reputasi yang kuat ketika identitas yang ditampilkan benar-benar selaras dengan karakter, nilai, dan aspirasi masyarakatnya. Dengan kata lain, nation branding bukan sekadar urusan desain, slogan, atau kampanye komunikasi, melainkan refleksi dari siapa bangsa itu sesungguhnya.

Dalam konteks tersebut, pelibatan masyarakat dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI merupakan investasi reputasi. Logo pemenang karya desainer Fajar Novario bertajuk Kolektif, Sinergi, Bertumbuh memperoleh 44,73 persen suara. Angka tersebut lebih dari sekadar hasil kompetisi desain. Ia menjadi bentuk legitimasi publik terhadap simbol negara yang nantinya akan hadir di berbagai ruang komunikasi, mulai dari dokumen resmi, media sosial pemerintah, hingga perayaan nasional.

Dari sisi manajemen reputasi, proses yang melibatkan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) juga memperlihatkan kematangan tata kelola komunikasi pemerintah. Transparansi sejak tahap awal secara tidak langsung menjadi mekanisme mitigasi risiko reputasi. Semakin banyak masyarakat yang terlibat mengamati proses pemilihan, semakin kecil peluang munculnya persoalan seperti tuduhan plagiarisme atau sengketa hak cipta yang dapat merusak kredibilitas negara.

Pelajaran penting dapat diambil dari pengalaman penyelenggaraan Olimpiade Tokyo yang sempat membatalkan logo resminya akibat polemik dugaan plagiarisme. Proses yang tertutup kala itu justru membuka ruang krisis reputasi yang luas. Sebaliknya, keterbukaan dalam pemilihan logo HUT RI memungkinkan publik menjalankan fungsi sebagai crowdsourced auditors—pengawas kolektif yang ikut memastikan orisinalitas sekaligus akuntabilitas proses.

Meski demikian, pekerjaan terbesar pemerintah sesungguhnya baru dimulai setelah logo ditetapkan. Tantangan utama bukan lagi menghasilkan simbol yang menarik, melainkan memastikan bahwa simbol tersebut memiliki makna yang hidup dalam praktik penyelenggaraan pemerintahan.

Tema "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur" tentu membawa harapan besar. Namun, simbol akan kehilangan daya apabila tidak diikuti oleh kebijakan yang benar-benar mencerminkan nilai tersebut. Di sinilah letak perbedaan antara citra (image) dan reputasi (reputation). Citra dapat dibangun melalui desain, slogan, atau kampanye komunikasi. Sebaliknya, reputasi lahir dari konsistensi antara pesan yang disampaikan dengan pengalaman nyata yang dirasakan masyarakat.

Karena itu, logo HUT ke-81 RI tidak boleh berhenti sebagai karya visual yang estetis. Ia harus menjadi pengingat bahwa komunikasi publik pemerintah bukan lagi soal menyampaikan pesan, melainkan membangun kepercayaan melalui partisipasi, transparansi, dan konsistensi kebijakan.

Lebih jauh lagi, langkah ini dapat menjadi preseden penting bagi praktik nation branding Indonesia di masa mendatang. Pelibatan publik tidak harus berhenti pada pemilihan logo. Semangat yang sama dapat diterapkan dalam berbagai bentuk komunikasi strategis negara, mulai dari penyusunan kampanye nasional, promosi pariwisata, diplomasi budaya, hingga pembangunan identitas Indonesia di ruang digital global.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada simbol yang ditampilkannya, tetapi pada proses bagaimana simbol itu dilahirkan. Ketika masyarakat ikut menentukan wajah visual bangsanya sendiri, identitas nasional tidak lagi menjadi produk birokrasi yang jauh dari rakyat. Ia menjelma menjadi representasi aspirasi kolektif—sebuah identitas yang lahir dari partisipasi, memperoleh legitimasi, dan pada akhirnya memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang demokratis, inklusif, dan semakin matang dalam membangun reputasi di mata dunia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ingrid Kusumaangraeni, S.Ds.
Saya seorang ASN dari Pusjar SKTAN LAN RI. Saat ini saya menjabat sebagai Humas Protokol di Pusjar SKTAN LAN RI.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)