Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung. Hal ini disebabkan antara lain oleh usaha dari percetakan Siliwangi yang di bawah kepemimpinan Bapak Sasmita yang telah membuat kertas selebaran berisi pengumuman proklamasi kemerdekaan Indonesia yang telah dibacakan oleh Ir. Soekarno dan Drs. Hatta atas nama bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Keterangan ini berdasarkan wawancara kepada Bapak Ace Bastaman pada 20 Maret 1966, dan dituliskan oleh pihak pemkot Bandung untuk kepentingan data pada 6 Juni 1980.
Pegawai-pegawai stasiun radio Bandung setelah mendapatkan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 pun menyiarkan pada malam harinya dengan menggunakan alat pemancar yang berada di Lingkungan PTT di Palasari yang berdaya antara 20 sampai 100 kW. Demikianlah pada tanggal 18 Agustus malam, di kamar kontrol studio radio Tegalega, dijaga oleh para pemuda, antara lain adalah Sofyan Djunaidi dan Alamsyah di ruang operator, di bagian teknik terdapat R.A. Darya, Odas Sumadilaga, Herman Gandasasmita, Aiyat, Memed Sudiono, Brotokusumo dan Abdulrazak Rasjid.
Tepat pukul 7 malam waktu Bandung, operator Hasyim dengan diawali Bismilahirrahmannirahiim, membuka tombol dan berkumandanglah lagu Indonesia Raya. Selesai lagu Indonesia Raya berkumandang, tombol untuk penyiar ditekan dan keluarlah suara berat Alamsyah dan dimulai dengan kalimat:
“Di sini Bandung untuk siaran Radio Republik Indonesia …”
Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lainnya diselenggarakan dengan cara
saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 45
Atas nama Bangsa Indonesia
Soekarno – Hatta.
(hasil wawancara dengan Nugroho Notosusanto pada tanggal 13 Agustus 1971 kepada pemkot Bandung).
Lepas tengah hari pada tanggal 17 Agustus 1945, Bari Lukman yang merupakan wartawan muda harian Tjahaja, telah mendapatkan izin dari Muh. Kurdi, menuliskan teks Proklamasi pada papan tulis di depan harian umum Tjahaja. Kemudian meminta kepada Isa Anshari agar bendera Merah Putih milik Jawa Hokokai (organisasi resmi milik pemerintah Jepang yang dibentuk pada 8 Januari 1944 oleh panglima ke-16 Jendral Kumakichi Harada, organisasi ini bertujuan untuk menghimpun tenaga dalam menggerakkan sumber daya dan menumbuhkan semangat berkobar rakyat Jabar untuk perang Asia Timur Raya) diberikan untuk dikibarkan di atas gedung Denis (BJB Braga, sekarang).
Dengan berlari-lari Bari Lukman dari kantor Jawa Hokokai (sekarang BRI tower alun-alun Bandung) menuju gedung Denis, naik menuju lantai tiga gedung tersebut untuk mengibarkan sang Merah Putih sekitar pukul 1 siang. Orang-orang yang menyaksikan hal tersebut antara lain adalah Koswara Koko, Moh. Kurdi, Ahmad Sarbini dan Dayat Hardjakusumah. Sekembali dari lantai tiga gedung Denis, ternyata tulisan teks Proklamasi di papan tulis harian umum Tjahaja tersebut telah dihapus atas perintah orang Jepang, namun dengan keberanian Bari Lukman menuliskan kembali teks proklamasi tersebut.
Demikian pula dalam semua jawatan pemerintah pun telah mengetahui dan mempersiapkan segala sesuatu kemungkinan yang akan terjadi. Beberapa hari kemudian sejumlah pegawai stasiun Radio Republik Indonesia Bandung dari bagian teknik dan penyiaran, dengan menggunakan dua mobil pick up memberikan penerangan kepada warga masyarakat di daerah-daerah di kawasan Bandung Raya yaitu Dayeuhkolot, Banjaran, Soreang, Majalaya, Ciparay, Rancaekek, Ujungberung, Lembang, Padalarang, Cimahi, dengan cara menghubungi terlebih dahulu para aparat setempat (informasi lisan dari Abdulrazak Rasjid tahun 1976 kepada pemkot Bandung).
Walikota Bandung pertama setelah masa Republik Indonesia adalah R. Ating Atmadinata, walikota Bandung sebelumnya. Sampai dengan selesai revolusi kemerdekaan jabatan walikota Bandung berturut-turut dipegang oleh Syamsurizal dan Ir. Ukar Bratakusumah.
Pada tanggal 24 Agustus 1945 di Priangan telah berkumpul 21 utusan dari daerah-daerah di karesidenan Priangan untuk membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah Karesidenan Priangan. Sore harinya telah dapat dipilih beberapa anggota eksekutif, susunan wakil-wakil itu adalah sebagai berikut:
Wakil-wakil Organisasi
- Drs. Suratman Erwin mewakili Jawa Hokokai
- Suparto mewakili Polisi
- Bratanata mewakili Badan Pembantu Prajurit
- Niti Sumantri mewakili Badan Pembantu Prajurit
- Ema Puradiredja mewakili Fujinkai (organisasi perempuan buatan Jepang)
- Ir. Ukar Bratakusumah mewakili Barisan Pelopor
- Anwar Pamuncak mewakili Hoko Tai Iku Tai (kegiatan olahraga buatan Jepang)
- Ir. Abdul Karim mewakili Kyoku Hokokai (guru yang dibentuk pemerintah Jepang)
Wakil-wakil golongan sosial
- Sanusi Hardjadinata mewakili Golongan para saudagar Bandung.
- Mashudi mewakili golongan pemuda
- Dr. Junjunan Setiakusumah mewakili pencak silat
- Dr. Purwo mewakili alim ulama
- Prof. Ir. Rooseno mewakili bagian teknik
Wakil perorangan
- Ir Laoh
- Piepela
- Sumcil
- Mr. Mulyadi
- Mr. Syafrudin Prawiranegara
Dan, pengurus harian komite nasional Karesidenan Priangan
- Ketua Niti Sumantri
- Wakil Ir. Ukar Bratakusumah
- Anggota Anwar Pamuncak dan Hamdani.

Komite ini dibentuk warga Bandung untuk melancarkan perjuangan Priangan dalam membantu menegakkan kemerdekaan. Hal ini menandakan bahwa warga Bandung pun bergegas dalam menanggapi proklamasi yang digaungkan di Jakarta. Warga Bandung pun bersiap dan memasang semangat serta kesiapan mereka dalam kemungkinan adanya serangan kembali, namun tekad warga kota Bandung sangatlah positif, mereka mengerahkan segala kemampuannya untuk membantu menyokong kemerdekaan negeri ini.
Semoga semangat membara ini tetap bisa kita lanjutkan sekarang, dengan mengisi kemerdekaan ini dengan menjunjung kejujuran dan welas asih. (*)