Kedaulatan Komunikasi sebagai Wajah Baru Kemerdekaan

3 menit baca
Aldin Aldama Dosen Fikom Unisba
Ditulis oleh Aldin Aldama Dosen Fikom Unisba diterbitkan
Apakah kemerdekaan hanya sebatas bebas dari kolonialisme fisik? (Sumber: Pexels/ahmad syahrir)
Apakah kemerdekaan hanya sebatas bebas dari kolonialisme fisik? (Sumber: Pexels/ahmad syahrir)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Jika dulu kemerdekaan dimaknai sebagai kedaulatan wilayah, kini mungkin saatnya merenungkan makna baru: kedaulatan komunikasi.

  • Fenomena post-truth, di mana perasaan pribadi sering kali lebih dominan daripada fakta objektif, membuat ruang diskusi rentan berubah menjadi medan pertempuran identitas.

Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa berjuang keras membebaskan Indonesia dari belenggu kolonialisme fisik. Hari ini, di usia ke-81 Republik Indonesia, mungkin tidak lagi ada tentara asing di depan mata, namun yang hadir adalah tantangan kebebasan yang jauh lebih halus: bagaimana menjaga akal sehat dan ruang dialog di tengah gempuran algoritma serta disinformasi massal.

Jika dulu kemerdekaan dimaknai sebagai kedaulatan wilayah, kini mungkin saatnya merenungkan makna baru: kedaulatan komunikasi. Sebuah kemampuan untuk tetap berpikir jernih, memverifikasi kebenaran, dan berdialog tanpa mudah terpecah oleh polarisasi.

Sering kali terasa sangat "merdeka" saat bersuara di media sosial. Namun, apakah suara itu benar-benar milik sendiri, atau sekadar gema dari algoritma yang dirancang untuk memperkuat prasangka? Fenomena terkini menunjukkan betapa mudahnya narasi kebencian dan hoaks yang kini semakin canggih dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) menjadi konsumsi harian.

Di sinilah pemikiran filsuf Jurgen Habermas tentang ruang publik menjadi relevan untuk direfleksikan kembali. Habermas mengingatkan bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan ruang diskusi rasional di mana individu dapat bertemu secara setara. Sayangnya, ruang digital kerap kali lebih didominasi oleh emosi sesaat daripada nalar kritis, sehingga fungsi dialog sebagai alat pemersatu justru terkikis.

Selain itu, ada baiknya juga menyimak peringatan Marshall McLuhan bahwa "the medium is the message" (medium adalah pesannya). Cara berkomunikasi melalui layar ponsel yang serba cepat, singkat, dan dangkal, tanpa sadar telah membentuk cara memandang realitas kebangsaan. Mungkin terlalu sering terjadi kebiasaan menghakimi sebelum memahami, atau membagikan informasi sebelum memastikan kebenarannya. Merayakan kemerdekaan di era ini, bukan hanya soal upacara seremonial, tetapi juga tentang kesadaran untuk tidak membiarkan teknologi menggerus kedalaman berpikir.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa sedang terjadi krisis kepercayaan (trust deficit). Tidak sedikit orang yang terkadang masih kesulitan membedakan fakta dari opini yang dikemas sensasional. Fenomena post-truth, di mana perasaan pribadi sering kali lebih dominan daripada fakta objektif, membuat ruang diskusi rentan berubah menjadi medan pertempuran identitas. Bukannya mencari solusi bersama, yang kerap terjadi justru terjebak dalam echo chamber (ruang gema), hanya mendengarkan suara yang serupa dan menganggap berbeda sebagai ancaman. Ini adalah ironi kemerdekaan, terasa bebas, namun sebenarnya dikendalikan oleh rasa takut dan marah yang dipelihara oleh sistem digital.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Mungkin jawabannya tidak perlu rumit. Segalanya bisa bermula dari kebiasaan kecil yakni memberi jeda. Di dunia yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum menekan tombol share atau mengetik balasan adalah bentuk latihan kebebasan berpikir. Jeda itu memberikan ruang bagi nalar untuk bekerja, membantu memisahkan fakta dari emosi, dan bertanya pada diri sendiri: "Apakah ini benar, atau hanya sekadar memuaskan prasangka sendiri?"

Kedaulatan komunikasi juga berarti berani keluar dari zona nyaman. Algoritma cenderung menyuguhkan apa yang ingin dilihat atau didengar, menciptakan ilusi bahwa pandangan sendirilah yang paling tepat. Menjadi merdeka secara komunikasi berarti bersedia membuka diri terhadap perspektif lain, bukan untuk segera membantah, melainkan untuk mencoba memahami. Ketika berhadapan dengan pendapat yang bertolak belakang, berusaha mencoba untuk mengganti rasa defensif dengan rasa ingin tahu. Dengarkan untuk memahami, bukan sekadar menunggu giliran untuk menyerang. Dengan begitu, setiap orang bisa menjadi jembatan, bukan sekadar corong dari kemarahan kolektif.

Pada akhirnya, memverifikasi kebenaran sebelum menyebarluaskannya adalah bentuk tanggung jawab sosial bersama. Era di mana hoaks dapat meretakkan kepercayaan antarwarga, setiap langkah kecil untuk bersikap kritis adalah kontribusi nyata bagi keutuhan bangsa. Mari rayakan kemerdekaan di usia ke-81 ini dengan cara yang lebih substansial dengan berusaha menjadi individu yang tidak mudah terprovokasi, yang menghargai kebenaran, dan yang mampu berkomunikasi dengan martabat. Karena bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh infrastruktur fisik, tetapi juga oleh kualitas percakapan warganya yang sehat, jujur, dan penuh empati. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Aldin Aldama Dosen Fikom Unisba
Dosen & Praktisi Komunikasi

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)