Belanja Makin Gak Terasa di Era Cashless Society, Ini Penjelasan Psikologisnya

3 menit baca
Senda Dellyana Dosan
Ditulis oleh Senda Dellyana Dosan diterbitkan
E-wallet dan produk pembayaran digital lainnya memang sangat memudahkan. (Sumber: Pexels/Anna Shvets)
E-wallet dan produk pembayaran digital lainnya memang sangat memudahkan. (Sumber: Pexels/Anna Shvets)

Dulu, saat produk e-wallet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari saya seperti sekarang, saya adalah orang yang cukup hemat. Saat iklan kopi susu kekinian menggoda, saya masih bisa berpikir, “Rp35.000 bisa buat beli nasi padang dua bungkus.” Sekarang, dengan promo diskon Rp3000, langsung tap Pay. Hemat Rp3000 sambil buang Rp25000 pun, saya masih merasa untung.

E-wallet dan produk pembayaran digital lainnya memang sangat memudahkan. Kita bisa beli apa saja, kapan saja, dan dimana saja hanya dengan satu kali tap dalam genggaman. Namun, disitulah tantangan muncul. Terlalu mudah. Kemudahan tidak hanya membuat belanja kita makin cepat, tapi juga saldo cepat hilang. Dalam lima tahun terakhir, penggunaan uang elektronik di Indonesia meningkat berkali lipat, apalagi sejak pandemi. Nilai transaksi transfer uang elektronik Indonesia melonjak dari Rp22,4 triliun di 2019 menjadi Rp303 triliun di paruh pertama 2024.

Hal yang wajar mengingat semua serba digital sekarang. Alasannya jelas: praktis, cepat, dan banyak promo. Cuma masalahnya, justru kemudahan inilah yang bahaya. Karena manusia, pada dasarnya, suka dimanjakan. Apalagi kalau ada cashback. Di tengah perkembangan uang elektronik yang sangat pesat, ada satu fenomena menarik. Bagi banyak orang, termasuk saya, merasa lebih boros sejak pakai e-wallet.

Baca Juga: Tung Tung Tung Sahur dan Anomali Absurd: Imajinasi Digital Generasi Alpha

Mengapa bisa demikian?

Fenomena ini ternyata punya penjelasan psikologis, lho. Beberapa teori dapat menjelaskan bagaimana otak kita merespon uang elektronik, ilusi kendali, jebakan konsumtif, dan impulsivitas yang seringkali tidak kita sadari.

Dalam teori psikologi, teori pain of paying menjelaskan bahwa rasa sakit dan emosi negatif yang kita rasakan saat bayar dengan metode tap pay maupun bentuk uang elektronik lainnya lebih rendah dibanding saat kita bayar secara tunai. Logikanya, saat kita bayar pakai uang tunai, kita akan merasakan “sakit” karena kita melihat uang berpindah tangan. Sedangkan ketika kita menggunakan e-wallet, kita hanya perlu tap, senyum ke kasir, selesai. Tidak terasa.

Bahkan dalam ilmu behavioral economics, ada hal yang disebut sebagai instant gratification. Instant gratification atau kepuasan instan merujuk pada keinginan untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan atau keinginan secara langsung tanpa penundaan.

Banyak faktor pendukung lainnya yang menyebabkan kita bertindak lebih impulsif demi kepuasan cepat, standar sosial media yang membuat kita FOMO (Fear of Missing Out) misalnya. Kita dipaksa berhadapan dengan tingginya ekspektasi sosial akan diri kita sendiri. Dan uang elektronik menyediakan kemudahan dengan bentuk notifikasi, bunyi “ting!”, bahkan cashback yang membuat kita merasa untung, padahal sedang rugi karena terlalu konsumtif. Kita lebih cepat tergoda dengan notifikasi flash sale tinggal 5 menit lagi di setiap tanggal cantik.

Masalahnya bukan di uang elektronik, namun ada di kita. (Sumber: Pexels/Nicola Barts)
Masalahnya bukan di uang elektronik, namun ada di kita. (Sumber: Pexels/Nicola Barts)

Kemudahan-kemudahan transaksi yang ditawarkan oleh produk uang elektronik membuat kita lebih careless di sistem cashless. Sentuhan untuk tap pay di layar ponsel terasa jauh lebih ringan dibanding menyerahkan beberapa lembar uang daru dompet. Kita jadi merasa kaya dadakan, belanja seenaknya karena saldo di layar terlihat seperti angka ajaib yang selalu ada, sampai nanti notifikasi “saldo anda tidak mencukupi” muncul dan menampar. Kita mendadak ingat bahwa keuangan juga butuh perhitungan. Uangnya sudah tak terlihat, tapi efeknya masih sangat terasa, terutama saat akhir bulan datang lebih cepat dari gajian.

Jadi, apakah kita harus kembali ke sistem tradisional?

Jawabannya tidak harus. E-wallet sendiri bukan penjahatnya. Justru, banyak sekali fitur-fitur yang dapat membantu kita lebih hemat. Ada histori transaksi yang mudah diakses tanpa takut lupa, ada pengingat limit transaksi, bahkan ada fitur bawaan aplikasi e-wallet yang dapat membantu kita budgeting.

Baca Juga: Bandung Tak Pernah Mengeluh, justru Kita yang malah Sering Mengeluh

Masalahnya bukan di uang elektronik, namun ada di kita. Selama ini kita kurang peduli dengan fitur-fitur itu dan lebih tertarik dengan promo cashback dan diskon yang ditampilkan. Uang elektronik bisa membuat kita konsumtif bahkan cenderung boros kalau kita tidak punya kontrol diri dan masih suka kalap karena notifikasi “Buruan checkout! Flash sale berakhir 5.5 lima menit lagi!”

Solusinya bukan membatasi atau bahkan berhenti menggunakan e-wallet, tapi mulai sadar bahwa kenyamanan yang kita dapat harus dibarengi dengan kesadaran, jangan sampai kita berlarut-larut mengejar instant gratification. Kalau tidak, jangan terkejut kalau saldo e-wallet kita akan lebih sering kosong dari dompet asli. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Senda Dellyana Dosan
Huge Curiosity Personal

News Update

Wisata & Kuliner 07 Jul 2026, 15:29

Jelajah Waduk Saguling, PLTA Surga Budidaya Ikan dan Wisata Favorit Pemancing

Waduk Saguling tidak hanya memasok listrik, tetapi juga menjadi sentra perikanan air tawar dengan puluhan ribu keramba jaring apung di Bandung Barat.

Waduk Saguling. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 10:49

Mengepakkan Sayap Ekonomi Kerakyatan Ketika Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara

Semenjak dinamakan Husein Sastranegara menjadi bandara komersial telah memberikan manfaat yang luas bagi penerbangan domestik maupun internasional.

Petugas membersihkan salahsatu fasilitas Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 09:06

Menjahit Harapan di Tengah Sepinya Pasar Thrifting Gedebage

Di tengah sepinya Pasar Cimol Gedebage, Dedi tetap bertahan sebagai penjahit pakaian thrifting. Feature ini mengangkat perjuangannya menghidupi keluarga sekaligus menjaga profesi warisan orang tuanya.

Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)