Gambar Karya para Toala di Leang Sumpangbita 

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Gambar yang terdapat di dalam Goa Sumpangbita. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Gambar yang terdapat di dalam Goa Sumpangbita. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)

Dalam ruang sempit di dalam goa, ada teriakan-teriakan yang saling bersahutan, seolah memberikan arahan ke mana babirusa itu berlari. Terdengar suara anjing yang terus menyalak, terus berlari mengejar buruannya di lereng perbukitan. Teriakan-teriakan, gumam penuh harapan, alunan permintaan, pujian kepada ruh nenek moyang, agar pada saat berburu nanti, kelompoknya mendapatkan binatang buruan yang diharapkan. Lantunan harapan yang diucapkan, yang diteriakan dalam puji-pujian, dan tepukan yang memberikan isyarat. Binatang yang diharapkan dalam perburuan nanti, kemudian digambarkan di dinding goa dengan oker. Iringan suara yang menggambarkan perburuan di belantara yang nyata. Wujud binatang yang digambar sebagai perwujudan harapan, terasa hadir begitu nyata, terekam dalam pikiran masing-masing, mewujud dalam gerak berlari saat berburu nanti, dalam gerak menjerat, dalam gerak melempar, dalam gerak menangkap, dan dalam gerak menggendong hasil buruannya ke dalam goa. Gambar tangan dengan jari-jari yang terbuka, merupakan harapan dan kegembiraan penuh sorak-sorai, ketika binatang buruan itu berhasil didapatkan. 

Dalam bayangan saya, gambar yang terlukis di dinding goa itu, bukan sekedar gambar binatang buruan, sekedar gambar lengan manusia. Tapi, di dalam gambar itu terekam gerak perburuan, terekam teriakan-teriakan, harapan, arahan, kegembiraan, dan religi.

Itulah kilasan kesan pribadi saat menyaksikan gambar goa di beberapa goa yang terdapat di Maros Pangkep, seperti di Goa Sumpangbita. Ada jalan tembok satu meter atau lebih lebarnya, bergelombang naik-turun lereng bukit kapur, menghubungkan Taman Purbakala Sumpangbita di ketinggian 80 m dpl sampai Gua Sumpangbita di ketinggian 280 m dpl. Goa ini berada di lereng Timurlaut Bukit Bulubita (+380 m dpl). 

Gua Sumpangbita merupakan satu dari banyak goa di Maros Pangkep. Di dinding goa, di langit-langit goa, banyak terdapat gambar yang dibuat oleh toala, manusia hutan yang tinggal di dalam leang (goa). Gambar-gambar tangan dengan jari-jarinya yang terbuka, gambar telapak kaki, gambar binatang seperti babirusa, gambar perahu, dan gambar-gambar lainnya yang sudah memudar dilakukan alam.

Baca Juga: 6 Tulisan Orisinal Terbaik Mei 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta untuk Netizen Aktif Berkontribusi

Gambar-gambar yang tersebar di Maros Pangkep itu dibuat oleh manusia modern awal yang menjelajahi Pulau Sulawesi. Mereka datang secara bergelombang, berselang waktu ribuan tahun, lalu menjelajahi sudut-sudut daratan. Ada yang menetap beranak-pinak, ada juga yang melanjutkan penjelajahan ke pulau-pulau yang yang berserakan di atas gelombang lautan. Mereka mengarungi lautan, berlabuh di muara sungai, pelabuhan alami yang memberikan perlindungan dan kemudahan untuk menambatkan perahunya, di pulau-pulau yang sekiranya dapat memberinya penghidupan. Begitulah seterusnya, dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, secara bergelombang, Homo sapiens mengarungi lautan sampai di Sulawesi Selatan, sampai di Pulau Selayar, di Pulau Flores, di Pulau Timor, di Pulau Alor, menerus sampai di Australia.

Gua kapur itu berada di Kampung Sumpangbita, Desa Bollocibaru, Kecamatan Bolloci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan. Nama goa Sumpangbita merupakan gabungan dari kata sumpang dan bita, yang berarti gerbang menuju (kampung) Bita. Dari Maros, goa ini dapat dicapai dengan berkendara selama setengah jam, dan dari Kota Makassar sekitar satu jam. 

Goa-goa alami yang kemudian dihuni oleh para Homo sapiens yang telah mengarungi samudra dan menjelajahi di kaki barat Pulau Sulawesi. Antara 40 juta hingga 15 juta tahun yang lalu, kawasan karst Maros-Pangkep ini berupa laut dangkal yang jernih. Kemudian kawasan ini terangkat secara evolutif. Setelah di permukaan, batukarang itu terkena pengaruh iklim, panas-dingin, hujan, ditumbuhi pepohonan, kemudian mewujud menjadi kawasan karst Maros-Pangkep seperti yang ada saat ini, dengan goa-goa yang kemudian dihuni oleh manusia awal di pulau ini.

Goa-goa yang menyimpan rekam jejak kehidupan Homo sapiens itu sangat tinggi nilainya, yaitu: Leang Bulusipong, Leang Jing, Leang Lompoa, Leang Sumpangbita, dan Leang Timpuseng. Jajaran bukit-bukit kars itu mempunyai fungsi ekologis yang dapat menjaga keseimbangan ekosistem karst. Ronabumi yang megah inilah yang menjadi daya tarik Homo sapiens sejak 45.000 tahun yang lalu, untuk menjelajahi kawasan ini, dan tinggal di goa-goa yang dapat memberikan perlindungan dan kemudahan dalam mencari makanan, dan pasokan air jernih dari mataair. 

Penelitian-penelitian gabungan antara para peneliti luar Negeri dengan para peneliti Indonesia, telah mengukur umur kehidupan di goa-goa di Maros Pangkep. Hasil penelitiannya menunjukkan, bahwa goa-goa itu pernah dihuni oleh Homo sapiens sejak 45.000 tahun yang lalu, menerus pada 44.000 tahun yang lalu, 42.000 tahun yang lalu, 39.700 tahun yang lalu, 32.000 tahun yang lalu, dan diketahui ada yang tinggal di sana 12.000 tahun tahun yang lalu.

Gambar-gambar di dalam goa itu merupakan kisah visual tentang manusia, perahu, dan mamalia darat yang hidup di kawasan itu, seperti: anoa, babi kutil, dan babirusa. Homo sapiens yang menghuni awal goa-goa di Maros Pangkep itu memilih ruang goa untuk tinggal dan berkehidupan, misalnya dasar goanya kering, tidak bau goano, dekat dengan sumber air, dan dari mulut goa itu dapat melihat bentangalam yang megah.

Baca Juga: Ketentuan Kirim Artikel ke Ayobandung.id, Total Hadiah Rp1,5 Juta per Bulan

Goa-goa kapur di Maros Pangkep ini mempuyai nilai yang sangat tinggi dan penting dalam perkembangan budaya, bukan saja budaya manusia Indonesia, tapi perkembangan budaya manusia di dunia. Oleh karena itu, segala bentuk pengrusakan dan yang dapat mengganggu keutuhan lingkungan goa dan gambar goa, harus dicegah.

Masih ada satu hal yang belum tergali sampai saat ini, yaitu, hasil karyanya terabadikan di dalam goa-goa di Maros Pangkep, namun para penggambarnya belum ditemukan bagian organ tubuh yang dapat terawetkan selama puluhan ribu tahun. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.