Bikin Status Tiap Hari, Apakah Kita Haus Validasi?

4 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Media sosial menjadi tempat di mana rahasia dibisikkan keras-keras, dan kebahagiaan diumumkan dengan huruf kapital. (Sumber: Pexels/mikoto.raw Photographer)
Media sosial menjadi tempat di mana rahasia dibisikkan keras-keras, dan kebahagiaan diumumkan dengan huruf kapital. (Sumber: Pexels/mikoto.raw Photographer)

Marshall McLuhan, seorang pemikir media yang jauh melampaui zamannya, pernah memperkenalkan konsep Global Village, desa global. Baginya, media teknologi telah menyatukan dunia dalam sebuah ruang sosial yang sangat terhubung, seperti desa kecil tempat semua orang saling tahu dan saling bicara.

Tapi Global Village bukan hanya soal konektivitas. McLuhan juga menyiratkan bahwa dalam desa yang sangat terhubung itu, batas antara ruang privat dan publik menjadi kabur.

Di desa kecil, nyaris tak ada yang sepenuhnya tersembunyi. Orang-orang tahu siapa bertengkar dengan siapa, siapa yang sedang sakit, bahkan siapa yang baru bahagia atau patah hati. Kini, di era media sosial, kita mengalami hal yang serupa. Kita bisa mengintip kehidupan orang lain dengan mudah, tanpa harus mengetuk pintu. Bahkan kadang, orang-orang sendiri yang membukakan pintu itu lebar-lebar.

Status demi status, unggahan demi unggahan, tak jarang berisi hal-hal yang dulu hanya dibicarakan dalam ruang pribadi, seperti cerita keluarga, percintaan, sakit hati, bahkan perasaan paling rapuh. Dan yang lebih menarik, kita pun jadi terbiasa ikut campur, memberi komentar, menebak-nebak, atau sekadar kepo terhadap hidup orang lain.

Dunia memang telah menyusut menjadi desa, tapi desa yang tidak hanya mendekatkan jarak antarwarga, melainkan juga memperluas jendela ke dalam ruang pribadi masing-masing.

Di sinilah letak paradoks Global Village versi digital, kita ingin tetap punya privasi, tapi juga ingin dilihat. Kita ingin berbagi, tapi juga ingin dipahami. Maka media sosial menjadi tempat di mana rahasia dibisikkan keras-keras, dan kebahagiaan diumumkan dengan huruf kapital.

Dalam dunia yang makin terbuka ini, kita tak hanya menjadi penonton. Kita juga dituntut untuk tampil, atau setidaknya merasa terdorong untuk itu. Media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan panggung tempat kita membangun citra, menata narasi, dan menyampaikan siapa diri kita menurut versi terbaik yang ingin kita tampilkan.

Sosiolog Erving Goffman menjelaskan hal ini dalam konsep self-presentation. Di kehidupan sosial, kata Goffman, manusia layaknya aktor yang tampil di atas panggung, ada peran yang dimainkan, ada penonton yang diamati, dan ada naskah yang disusun. Pada era digital, panggung itu bernama Instagram, WhatsApp Story, X, TikTok. Tak jarang, naskah itu berisi hal-hal yang sengaja dipilih, seperti kebahagiaan yang ingin ditampilkan, kekuatan yang ingin diakui, atau simpati yang ingin dikumpulkan.

Maka muncul status-status seperti:
"Katanya aku sabar banget."
"Banyak yang bilang aku inspiratif."
"Aku kuat, meski tak banyak yang tahu perjuanganku."

Atau unggahan simbol visual lain (misalnya gambat, foto dan video) yang menjurus pada aktualisasi diri.

Kalimat-kalimat seperti ini, sekilas sederhana. Tapi secara tak langsung, ia sedang menyampaikan naskah diri, bahwa aku layak dikagumi, disayangi, dipahami. Tak sedikit yang menyelipkan pujian dari orang lain, baik berupa teks, unggahan gambat, foto atau  video sebagai “bukti sosial”, sebuah cara halus untuk membangun kredibilitas diri di mata publik. Inilah bentuk dari validasi sosial, kebutuhan mendasar manusia untuk merasa berharga di hadapan orang lain.

Baca Juga: PayLater, FOMO, dan Kita yang Takut Tak Terlihat

Namun validasi di era digital punya bentuk yang berbeda. Ia tidak datang dalam bentuk pelukan atau percakapan hangat, melainkan dalam angka dan notifikasi, berapa banyak yang melihat, memberi reaksi, atau membalas. Dan karena itu, dorongan untuk tampil pun menjadi lebih sering, lebih intens, dan kadang lebih dramatis.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai bagian dari narsisme ringan atau narsisme sub-klinis, yakni kecenderungan untuk menampilkan kehebatan diri, bukan karena sombong, tapi karena adanya kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Di dunia nyata, mungkin orang ini jarang dipuji. Mungkin ia lelah menjadi kuat sendirian. Maka media sosial menjadi tempat ia “mengutip” pujian yang ia butuhkan, dan membingkainya dalam status yang terlihat kokoh.

Ada pula istilah FoBM (Fear of Being Missed), rasa takut tidak dicari, tidak dianggap, tidak penting. Dalam dunia digital yang bergerak cepat, jika kita tidak tampil, kita bisa terlupakan. Maka status bukan lagi sekadar cerita, tapi juga alarm eksistensi: “Aku masih ada. Ingat aku.”

Tapi di balik semua itu, bisa jadi ada sesuatu yang lebih dalam. Sebuah keinginan untuk didengar, tapi bingung harus kepada siapa. Keinginan untuk mengeluh, tapi malu jika dianggap lemah. Maka status demi status menjadi jalan tengah, cukup samar untuk tidak terlalu membuka luka, tapi cukup nyata untuk berharap ada yang menangkap maksudnya.

Yang menarik, fenomena ini bukan hanya milik “dia yang suka bikin status”. Kita semua, dalam kadar berbeda, pernah menjadi bagian dari dinamika ini. Pernah menulis sesuatu sambil berharap seseorang tertentu melihatnya. Pernah membagikan kebahagiaan yang sebenarnya rapuh. Pernah berharap dunia digital memberi pelukan, meski hanya lewat komentar.

Dan sebagai warga global village, kita juga terbiasa menjadi penonton yang ikut menilai, ikut menyimak, bahkan ikut menebak-nebak maksud di balik status orang lain. Kita mudah merasa punya akses pada kehidupan seseorang, meski hanya dari potongan status yang muncul setiap hari. Kita pun terbiasa mengonsumsi privasi, tanpa sadar bahwa kita juga membagikan privasi kita sendiri dalam bentuk yang berbeda.

Baca Juga: Gambar Karya para Toala di Leang Sumpangbita 

Mungkin benar, bahwa media sosial telah mengaburkan batas antara diri yang asli dan diri yang ditampilkan. Tapi itu bukan berarti kita salah menjadi bagian dari dunia ini, yang penting adalah menyadari, apakah yang kita tampilkan benar-benar berasal dari dalam diri, atau hanya upaya untuk mengisi kekosongan dari luar?

Dan jika suatu saat kita membaca status seperti:
"Katanya aku kuat."
Mungkin kita bisa berhenti sejenak, bukan untuk menilai, tapi untuk bertanya:
Apakah dia sedang mencoba meyakinkan orang lain? Atau sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)