PayLater, FOMO, dan Kita yang Takut Tak Terlihat

4 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
PayLater seolah olah hadir sebagai penolong generasi yang hidup dalam logika tampil dan keterhubungan konstan. (Sumber: Pexels/Nataliya Vaitkevich)
PayLater seolah olah hadir sebagai penolong generasi yang hidup dalam logika tampil dan keterhubungan konstan. (Sumber: Pexels/Nataliya Vaitkevich)

"Beli sekarang, bayar nanti", sebuah fitur yang menjamur di kalangan anak muda. Mereka memanfaatkannya tidak hanya untuk kebutuhan mendesak, tapi juga untuk membeli barang-barang yang nilainya lebih simbolik ketimbang fungsional, seperti Skin care viral, tiket konser, outfit liburan, atau aksesori estetik untuk feed Instagram.

PayLater seolah olah hadir sebagai "penolong" generasi yang hidup dalam logika tampil dan keterhubungan konstan. Ini bukan sekadar alat transaksi, tapi semacam infrastruktur emosional, yang menopang kecemasan kita agar tidak ketinggalan tren, tidak kehilangan momen, dan tidak dianggap "biasa-biasa saja".

Fenomena ini bukan hanya soal konsumsi, melainkan tentang bagaimana identitas dibentuk dan dipertahankan dalam lanskap digital. Di era yang serba visual, memiliki barang menjadi cara untuk ‘menunjukkan eksistensi’. Seperti dikatakan Jean Baudrillard (1998), dalam masyarakat konsumer, objek tidak lagi dihargai karena kegunaannya, melainkan karena kemampuannya menandakan sesuatu, seperti status, gaya hidup, atau kedekatan dengan tren.

Keinginan untuk “ikut merasakan” sesuatu sering kali lebih kuat daripada kemampuan untuk mewujudkannya. Lihat saja fenomena paylater, sebuah solusi instan yang memungkinkan siapa pun dapat membeli sekarang dan membayar nanti.

Kecenderungan ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan budaya digital, di mana eksistensi sering kali diukur dari seberapa “terlihat” kita dalam kehidupan online. Dalam masyarakat berbasis tanda (Baudrillard, 1998), membeli produk bukan hanya soal memenuhi kebutuhan, tapi juga soal membangun citra diri. SPayLater menjadi jembatan antara keinginan untuk “tampil sesuai standar estetika media sosial” dan keterbatasan finansial yang nyata. Akibatnya, utang bukan lagi sesuatu yang dihindari, tapi justru dikamuflasekan sebagai bagian dari proses menuju validasi sosial.

Ketika seseorang rela mencicil lipstik 3 bulan atau sepatu 6 bulan demi bisa ikut tren OOTD viral menunjukkan bahwa konsumsi saat ini sangat erat kaitannya dengan FOMO (fear of missing out) dan keinginan untuk tetap relevan di dunia digital yang serba cepat.  Dorongan untuk terus hadir dalam narasi sosial semacam itu tidak datang secara alami, ia dibentuk dan dipelihara oleh ritme interaksi digital yang serba instan dan kompetitif. Ketika ruang sosial berubah menjadi panggung visual dan eksistensi diukur dari seberapa cepat kita merespons tren, maka keterlambatan dalam mengikuti arus bisa diartikan sebagai ketidakterlibatan. Rasa cemas pun muncul, bukan karena kita benar-benar kehilangan sesuatu yang penting, tetapi karena kita merasa tidak terlihat atau tidak termasuk.

FOMO, fear of missing out, bukan lagi sekadar kecemasan ringan karena melewatkan sesuatu. Ia telah menjelma menjadi mekanisme budaya yang mendorong konsumsi sebagai sarana untuk menjaga keberadaan. Kita tak lagi membeli karena butuh, tapi karena tidak ingin “ketinggalan”. Produk yang dibeli, dari kosmetik viral hingga tiket konser eksklusif, bukan hanya benda, melainkan tanda bahwa kita ada, bahwa kita terlibat, bahwa kita “masuk dalam percakapan.”

PayLater seolah olah hadir sebagai penolong generasi yang hidup dalam logika tampil dan keterhubungan konstan (Sumber: Pexels/Nataliya Vaitkevich)
PayLater seolah olah hadir sebagai penolong generasi yang hidup dalam logika tampil dan keterhubungan konstan (Sumber: Pexels/Nataliya Vaitkevich)

Fenomena ini berkait erat dengan konsep komodifikasi tanda yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard (1998). Objek tidak lagi hanya memiliki nilai guna, tetapi juga nilai tanda, simbol yang merepresentasikan status, gaya hidup, atau kelas sosial tertentu. Misalnya, kopi di kafe bukan lagi sekadar minuman; ia telah menjadi simbol waktu luang, urbanitas, dan kemampuan menikmati hidup. Ketika seseorang memotret cangkir kopi mereka dan mengunggahnya ke Instagram, yang sedang mereka tampilkan bukan hanya “kopi”, tetapi serangkaian tanda yang bisa dibaca secara sosial.

Media sosial mempercepat proses ini. Dengan logika visual dan algoritmiknya, media sosial mendorong individu untuk terus-menerus mengonstruksi dan menampilkan versi ideal dari diri mereka. Dalam konteks ini, FOMO menjadi semacam mekanisme budaya yang menjaga agar individu terus terhubung, terus terlihat, dan terus mengonsumsi. Tidak hanya pengalaman yang dikomodifikasi, tetapi juga identitas.

Zygmunt Bauman (2000) menyebut kondisi ini sebagai bagian dari masyarakat cair (liquid modernity), di mana segala sesuatu bersifat tidak stabil, termasuk identitas. Untuk bisa "bertahan" dalam masyarakat cair, individu perlu terus memperbarui citra dirinya melalui konsumsi simbolik. Maka muncullah tren-tren gaya hidup seperti “soft life”, rangkaian aktivitas yang tampak santai, mindful, penuh self-care, namun sering kali tampil lebih sebagai simulakra, bukan realitas sebenarnya. Kita bukan lagi menjalani hidup, tetapi menjalani representasi hidup.

Baca Juga: Hisaplah Asap Racun itu Sendirian

Fenomena ini juga diamati oleh Sherry Turkle (2011), yang menunjukkan bahwa semakin terkoneksi secara digital, individu bisa merasa semakin kesepian dan tertekan. Alih-alih mempererat hubungan sosial, media digital sering kali menciptakan relasi yang dangkal dan berbasis impresi. Dalam konteks ini, FOMO bisa dibaca sebagai gejala dari relasi yang terputus dengan makna dan koneksi yang otentik.

Kita bisa melihat FOMO hari ini lewat berbagai ekspresi: panic buying tiket konser internasional, liburan dadakan demi konten, atau kegelisahan ketika tidak bisa ikut tren tertentu di TikTok. Semua ini menunjukkan bahwa apa yang dicari bukan lagi pengalaman itu sendiri, tetapi tanda bahwa kita ikut serta dalam narasi besar media sosial. Kita ingin dilihat sebagai bagian dari sesuatu yang sedang ramai, sedang “in”.

Maka pertanyaannya bukan hanya: “kenapa kita takut ketinggalan?” tetapi juga “kenapa kita merasa harus selalu terlihat?” Barangkali, ketakutan terbesar manusia modern bukan lagi tertinggal, melainkan tak dianggap ada. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)