Tren Preloved: Gaya Baru, Masalah Lama

5 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Preloved sudah menjadi pilihan sadar berbagai kalangan. (Sumber: Pexels/cottonbro studio)
Preloved sudah menjadi pilihan sadar berbagai kalangan. (Sumber: Pexels/cottonbro studio)

Di berbagai sudut Instagram, Tiktok, Shopee, hingga pasar daring lokal, fenomena preloved atau barang bekas pakai kini menjelma menjadi gaya hidup. Bukan lagi soal keterpaksaan ekonomi, preloved sudah menjadi pilihan sadar berbagai kalangan, dari artis dan influencer, sampai mahasiswa dan ibu rumah tangga.

Artis-artis ternama tak segan mengadakan garage sale besar-besaran. Sebagian bahkan membagikan kisah tentang alasan spiritual atau ekologis di balik kebiasaan menjual barang bekas.

Seorang artis, misalnya, mengaku mulai membersihkan lemari pakaian setelah merenungi konsep hisab dalam ajaran agama, bahwa setiap kepemilikan akan dimintai pertanggungjawaban. Ia merasa tidak tenang memiliki puluhan pasang sepatu dan tas mahal yang jarang terpakai, mereka menjual barang preloved sebagai bentuk pertobatan kecil dan usaha mengurangi beban hisab atas gaya hidup berlebihan.

Di sisi lain, ada influencer lingkungan yang rutin menggelar thrift sale daring sebagai bentuk kampanye melawan fast fashion. Baginya, setiap baju yang dijual ulang adalah satu langkah kecil untuk mengurangi jejak karbon dan limbah tekstil yang terus menggunung di bumi.

Kalangan muda turut mempopulerkan tren ini lewat thrifting haul, OOTD preloved, dan akun jual beli bekas yang estetik. Bahkan ada yang dengan bangga mengatakan, “Preloved is the new luxury”.

Namun di balik nuansa estetik dan narasi keberlanjutan, muncul pertanyaan penting: apakah preloved benar-benar sebuah bentuk konsumsi berkesadaran? Atau justru hanya wajah baru dari budaya konsumsi lama, yang dibungkus dalam semangat "peduli lingkungan"?

Baca Juga: Kini 10 Netizen Terpilih Dapat Total Hadiah Rp1,5 Juta dari Ayobandung.id setiap Bulan

Budaya Konsumsi: Dari Kebutuhan ke Simbol Sosial

Untuk memahami tren preloved, kita perlu melihat bagaimana konsumsi hari ini telah mengalami pergeseran. Dulu, orang membeli barang karena kebutuhan. Kini, konsumsi sering kali bersifat simbolik, kita memakai sesuatu bukan hanya karena fungsinya, tapi karena makna sosialnya.

Dalam kerangka Jean Baudrillard, konsumsi bukan lagi soal guna (use value), tapi soal tanda (sign value). Barang-barang yang kita pakai adalah bagian dari komunikasi sosial, penanda status, selera, bahkan kepribadian. Maka tak heran jika preloved branded seperti tas bekas Louis Vuitton atau sepatu bekas Nike Air Jordan tetap diburu, meski harganya tak jauh dari yang baru.

Di titik ini, preloved bisa menjadi tindakan ambigu, apakah kita membeli karena ingin berhemat dan peduli lingkungan, atau hanya mencari cara baru agar tetap tampil bergaya dalam batas anggaran?

Tak bisa dipungkiri, preloved menawarkan ruang resistensi terhadap dominasi fast fashion. Di tengah banjirnya tren-tren cepat dan produksi massal yang menyisakan limbah, memilih barang bekas bisa dilihat sebagai bentuk perlawanan. Setidaknya, ia memperpanjang usia pakai barang, mengurangi permintaan terhadap produk baru, dan menghidupkan kembali nilai guna.

Namun, ketika gaya hidup alternatif ini masuk ke pasar digital dan menjadi tren massal, muncul risiko komodifikasi ulang. Barang bekas tidak lagi dinilai dari fungsinya, tapi dari seberapa vintage, langka, atau “Instagramable” tampilannya. Maka preloved tak lagi hanya soal keberlanjutan, tapi juga soal estetika, selera, dan bahkan gengsi baru.

Preloved dan Masalah Sampah Global

Apakah preloved benar-benar sebuah bentuk konsumsi berkesadaran? (Sumber: Pexels/Abderrahmane Habibi)
Apakah preloved benar-benar sebuah bentuk konsumsi berkesadaran? (Sumber: Pexels/Abderrahmane Habibi)

Salah satu sisi gelap fenomena preloved yang sering luput dari perhatian adalah bagaimana tren ini justru membuka jalur baru bagi sampah dunia masuk ke Indonesia. Di banyak kota, terutama pelabuhan-pelabuhan besar seperti Surabaya dan Batam, masuk ribuan ton pakaian bekas dari luar negeri setiap tahunnya.

Banyak di antaranya dibawa secara ilegal, meskipun pemerintah telah melarang impor pakaian bekas sejak lama. Fenomena ini bukan sekadar pelanggaran perdagangan, melainkan bagian dari praktik yang lebih luas dan sistemik: global waste dumping, atau pembuangan sampah global yang sering dibungkus dalam kedok “donasi” atau “ekonomi preloved”.

Dalam konteks yang lebih kritis, sebagian akademisi menyebutnya sebagai bentuk waste colonialism (kolonialisme sampah), di mana negara-negara maju mengalihkan beban limbah industrinya ke negara-negara berkembang. Indonesia, seperti banyak negara Global South lainnya, akhirnya menjadi tempat pembuangan akhir bagi ekses konsumsi dunia Barat yang tak terkendali.

Tren preloved juga menimbulkan satu jenis ilusi baru: "konsumsi yang merasa diri beretika". Karena membeli barang bekas dianggap "lebih ramah lingkungan", orang merasa bebas untuk membeli lebih banyak, lebih sering, tanpa rasa bersalah.

Padahal, esensi dari keberlanjutan bukan hanya apa yang kita beli, tapi juga seberapa sering, untuk apa, dan apakah kita benar-benar membutuhkannya.

Dengan kata lain, preloved bisa menjadi topeng moral baru. Tanpa kesadaran yang utuh, membeli barang bekas bukanlah solusi, hanya variasi lain dari kebiasaan konsumsi yang sama konsumtifnya.

Baca Juga: Historisitas Rel Mati, Jejak Besi Bandoeng—Soemedang dalam Lintasan Waktu

Haruskah Kita Menolak Preloved?

Tentu tidak. Fenomena preloved tetap menyimpan potensi besar jika dikelola dengan kesadaran. Ia bisa menjadi alat untuk mendidik masyarakat tentang daur ulang, tentang pentingnya memperpanjang usia barang, dan tentang alternatif dari dominasi pasar global. Namun, tren ini harus dibarengi dengan perubahan cara pandang.

Yang perlu dibangun adalah mentalitas konsumsi baru: bukan sekadar konsumsi yang murah atau berbeda, tapi konsumsi yang sadar. Sadar akan asal-usul barang, dampaknya pada lingkungan, dan kontribusinya terhadap sistem produksi global.

Tren preloved telah mengubah cara banyak orang melihat pakaian, gaya, dan nilai barang. Tapi ia juga memperlihatkan bagaimana ide baik bisa kehilangan maknanya ketika masuk ke dalam logika pasar.

Jika kita ingin benar-benar “peduli lingkungan” atau “anti-konsumerisme”, maka preloved bukanlah tujuan akhir, melainkan titik tolak. Kita tetap harus bertanya: apakah kita membeli karena butuh, atau karena ingin tampil? Apakah kita memakai karena fungsi, atau karena simbol?

Sebab pada akhirnya, konsumsi bukan hanya soal pilihan barang, tapi soal bagaimana kita membentuk hubungan yang lebih sehat, dengan diri kita sendiri, dengan orang lain, dan dengan bumi yang kita tinggali.

Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumsi bukan lagi persoalan ekonomi semata, melainkan ekspresi identitas, gaya, bahkan moralitas. Tapi tanpa kesadaran yang menyeluruh, preloved bisa saja berubah dari harapan menjadi ironi, menjadi jalur baru bagi limbah dunia, dan tetap memelihara siklus konsumtif dalam bungkus yang lebih lembut.

Maka, tantangannya bukan pada tren itu sendiri, melainkan pada cara kita memaknainya, yang paling penting bukanlah apa yang kita pakai, melainkan bagaimana kita hidup dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kita. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Peminat Kajian Budaya dan Media, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)