Suara yang Tertinggal dari Pasar Banjaran

Netizen
Ditulis oleh Netizen diterbitkan Jumat 02 Mei 2025, 13:54 WIB
Pekerja membongkar bangunan Tempat Penjual Berjualan Sementara (TPBS) pedagang Pasar Banjaran di Alun-alun Banjaran, Jalan Banjaran, Kabupaten Bandung, Minggu 5 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Pekerja membongkar bangunan Tempat Penjual Berjualan Sementara (TPBS) pedagang Pasar Banjaran di Alun-alun Banjaran, Jalan Banjaran, Kabupaten Bandung, Minggu 5 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Ditulis oleh Ihsan Nugraha

AYOBANDUNG.ID - Pasar Banjaran sudah dibangun ulang. Lantai keramiknya mengilap, bangunannya menjulang, dan dari luar tampak seperti simbol kemajuan. Tapi di balik cat tembok dan kios-kios baru, ada suara-suara yang pelan-pelan menghilang.

Suara dari para pedagang yang tak lagi bisa berjualan seperti dulu. Suara dari orang-orang yang kehilangan ruang, penghasilan, juga kehilangan ritme hidup yang selama ini mereka kenal.

“Sekarang mah dagang bukan soal untung atau rugi, tapi soal bisa makan atau enggak,” kata seorang pedagang lama yang masih bertahan di luar sistem pasar baru yang katanya lebih modern itu.

Revitalisasi pasar memang kata yang terdengar canggih. Tapi di lapangan, yang terasa adalah tekanan hidup. Banyak pedagang gulung tikar.

Ada yang stres sampai jatuh sakit. Ada yang rumah tangganya ikut ambruk. Bukan karena mereka malas atau menolak perubahan, tapi karena perubahan itu datang seperti petir: cepat, bising, dan tak sempat diajak bicara dulu.

Bukan Diajak, tapi Ditetapkan

Dari awal, proses revitalisasi ini memang tidak banyak memberi ruang suara.

Pedagang lama merasa tidak dilibatkan. Tidak diajak rembug. Tidak ditanya bagaimana mestinya. Tahu-tahu sudah ditetapkan: pasar akan dibangun ulang, dan para pedagang harus menyesuaikan.

Mereka yang sehari-harinya hidup dari jualan sayur, sembako, atau kebutuhan pokok lain, mendadak harus memikirkan cicilan kios, relokasi, dan sistem baru yang tidak semuanya mampu mereka pahami apalagi jalani.

Satu hal yang paling menyakitkan dari pembangunan macam ini adalah ketika orang-orang yang sudah lama menghidupi pasar justru merasa paling asing di rumahnya sendiri.

Pasar Baru, tapi Belum Semua Dapat Tempat

Revitalisasi pasar memang kata yang terdengar canggih. Tapi di lapangan, yang terasa adalah tekanan hidup. Banyak pedagang gulung tikar. (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Kavin Faza)

Sekarang sebagian besar pasar memang sudah berdiri. Tapi pembangunan belum sepenuhnya selesai. Beberapa blok masih kosong dan aktivitas belum stabil.

Pedagang lama lokasi 1 banyak yang ditempatkan di lantai dua. Sementara di lantai satu, justru diisi wajah-wajah baru. Ada perasaan ditinggalkan, bahkan tersingkir dari rumah sendiri. Tapi soal lantai sebenarnya cuma sebagian kecil. Yang lebih dalam adalah kehilangan relasi pelanggan dan kehilangan daya juang.

Pasar Banjaran kini memang tampak lebih bersih, lebih tinggi, lebih rapi. Tapi suara-suara dari dalamnya jauh lebih lirih. Mereka yang membangun denyut ekonomi lokal selama bertahun-tahun, kini justru menjadi korban pembangunan.

Pasar tak seharusnya dimodernisasi dengan cara memutus akar kehidupan para pelakunya. Mereka yang selama ini menjaga denyut ekonomi rakyat kecil justru menjadi korban dari transformasi yang tak ramah. Modernisasi seharusnya memuliakan, bukan meminggirkan.

Baca Juga: Ayobandung.id Ajak Mahasiswa se-Bandung Raya Menulis di AYO NETIZEN

Kami Hanya Ingin Didengar

Mereka tidak menolak pembangunan. Tidak juga ingin memutar waktu. Yang mereka minta sederhana: dilibatkan. Dihargai. Dipandang sebagai bagian dari pasar, bukan sebagai beban proyek.

Suara mereka mungkin pelan, tapi tetap ada. Tetap hidup di antara lorong pasar atau di pojok toko kecil yang masih bertahan. Dan selama suara itu masih ada, kisah Pasar Banjaran belum selesai. (*)

Penulis, Ihsan Nugraha, adalah masyarakat pemerhati kebijakan publik. Konten ini ditulis selepas ngobrol sore bersama pedagang Pasar Seng Banjaran, 1 Mei 2025.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 13:33

Di Balik Kilau Manusia Silver: Lendir Hitam dari Hidung, Kulit Memerah, dan Panas yang Harus Ditahan

Teguh mengatakan bahwa setiap kali kehujanan, dari hidungnya kerap keluar lendir berwarna hitam. Ia juga mengaku penglihatannya menjadi buram ketika matanya kemasukan cat.

Erwin melumuri badanya mengggunakan tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 25 Feb 2026, 11:18

Rumah untuk Siapa: Potret Pembiayaan Perumahan di Tengah Rekor Pertumbuhan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat bahwa backlog perumahan nasional mencapai 9,9 juta unit.

Salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)