Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Fenomena People Nearby: Sekadar Cari Teman atau Tren Selingkuh Digital Gaya Baru Anak Muda Bandung?

Aditya Bayu Nugroho
Ditulis oleh Aditya Bayu Nugroho diterbitkan Rabu 13 Agu 2025, 15:12 WIB
Seorang perempuan menggunakan fitur people nearby di ponselnya. (Sumber: pexels.com | Foto: cottonbro studio)

Seorang perempuan menggunakan fitur people nearby di ponselnya. (Sumber: pexels.com | Foto: cottonbro studio)

Di era komunikasi yang semakin instan, relasi bisa terbangun hanya dari bio yang lucu atau foto yang menarik. Tidak heran jika batas antara "cari teman ngobrol" dan "selingkuh" kini menjadi semakin samar.

Kalau dulu perselingkuhan butuh usaha seperti pura-pura lembur atau olahraga bareng teman di Gasibu, sekarang cukup aktifkan fitur 'people nearby' dan mulai chat intens dengan orang asing.

Di balik kemudahan yang ditawarkan teknologi komunikasi, apakah kita sedang menghadapi bentuk perselingkuhan baru, yakni digital infidelity?

Berawal dari sapaan basa-basi

Teknologi komunikasi juga mendisrupsi cara manusia dalam mencari pasangan menjadi lebih cepat. Definisi "pasangan" disini pun seringkali tidak bermakna cinta sejati, tetapi "kecocokan instan" yang membuka peluang untuk ngobrol, flirting, sampai ketemuan, bahkan oleh mereka yang sudah punya pasangan.

Walaupun awalnya hanya ngobrol basa-basi, tetapi rasa nyaman bisa mulai tumbuh tanpa disadari, bahkan bagi mereka yang sebenarnya sudah terikat dalam hubungan. Berawal dari sapaan "Hi, salam kenal", bisa berakhir dengan "Pulang kerja ngopi di Dago yuk?" hanya dalam beberapa hari saja. Kok bisa?

Dalam ilmu komunikasi, fenomena tersebut dijelaskan melalui teori Hyperpersonal Communication. Intinya, komunikasi lewat teks bisa menciptakan hubungan terasa lebih intim, bahkan bisa lebih romantis daripada saat komunikasi tatap muka.

Hal itu karena komunikasi lewat teks memungkinkan kita bisa mengatur apa yang ingin kita tampilkan tanpa khawatir soal ekspresi wajah yang awkward atau berbicara yang grogi. Dalam teori tersebut, hal itu disebut sebagai selective self-presentation, yakni kemampuan menunjukkan versi diri yang paling menarik.

Lawan bicara pun tanpa sadar juga akan membentuk gambaran yang ideal dari bagaimana kita berkomunikasi. Balasan yang cepat dinilai ada ketertarikan, dikirim jokes lucu dibilang humoris, atau gaya ketikan yang rapi dinilai pintar, padahal ya belum tentu.

Disinilah ada celah yang bikin komunikasi personal jadi kebablasan. Saat obrolan terasa nyaman dan semakin rutin tukar foto, secara tidak sadar bahwa hubungan baru sedang dibentuk. Dan ya, selingkuh digital bisa dimulai dari sana, tanpa harus pegangan tangan dan bertatap muka, cukup lewat perhatian yang dibagi ke orang lain.

Bukan aplikasi kencan, tapi kenapa bisa merusak hubungan?

Fitur People Nearby adalah contoh nyata dari zona abu-abu dalam komunikasi digital. Meskipun tidak ada pernyataan eksplisit bahwa ini merupakan 'aplikasi kencan', tapi fiturnya memungkinkan pengguna menemukan akun orang asing yang berada di sekitar lokasi mereka.

Tujuannya memang untuk mencari teman untuk ngobrol santai, tapi lama-lama bisa jadi tempat curhat personal.

Karena gak pernah terang-terangan disebut sebagai aplikasi kencan, jadi banyak orang merasa fitur ini lebih aman. Padahal, risiko perselingkuhannya juga sering terjadi, dan pelakunya gak merasa kalau itu termasuk salah satu bentuk selingkuh.

Karena alasan tersebut, maka muncul istilah micro-cheating, bentuk pengkhianatan hubungan yang dilakukan secara halus dan sering kali dikemas dengan alasan "aku cuma ngobrol biasa".

Padahal, menurut studi dari Tiphanie Gibbs (2025) dalam Cybersecurity and Innovative Technology Journal, banyak pelaku perselingkuhan digital tidak merasa bersalah karena menganggap chat-nya cuma obrolan biasa dan tidak ada sentuhan fisik.

Pelaku perselingkuhan lupa, bahwa komunikasi yang kelihatan sepele bisa berkembang menjadi afeksi interpersonal. Bahkan dalam beberapa kasus, bentuk komunikasi tersebut sudah masuk dalam kategori manipulasi emosional. Efeknya? gak kalah menyakitkan dari selingkuh fisik yang sama-sama bisa merusak hubungan.

Dari butuh validasi digital sampai ke kalkulasi untung-rugi

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)

Perselingkuhan digital biasanya timbul karena rasa penasaran akan validasi digital dari diri pelaku, dan menggunakan sosial media menjadi salah satu cara untuk memenuhi validasi tersebut.

Kembali pada kajian ilmu komunikasi klasik, teori Uses and Gratifications menjelaskan kalau setiap orang menggunakan media untuk memenuhi berbagai kebutuhannya, seperti mencari hiburan, pelarian dari kebosanan, atau sekedar ingin mendapat perhatian.

Selain kebutuhan emosional, keputusan untuk selingkuh digital juga bisa dipengaruhi oleh pertimbangan rasional. Teori Social Exchange juga menyebutkan bahwa orang cenderung menghitung untung-rugi dalam suatu hubungan.

Kalau merasa pasangannya tidak lagi memberi perhatian, maka muncul dorongan untuk mencari alternatif yang lebih menguntungkan dari orang lain, dan fitur people nearby bisa menjadi pintu masuknya.

Akhirnya, aplikasi chatting bisa menjadi semacam 'transaksi emosional' yang minim risiko, mudah dilakukan, dan bahkan bisa menguntungkan.

Teknologi komunikasi tidak salah, tetapi niatnya yang menjadi masalah

Kemajuan teknologi komunikasi tidak pernah salah, tetapi bagaimana kita menggunakannya yang bisa menjadi masalah. Kalau orang yang sudah punya pasangan tetapi masih aktif bermain fitur people nearby, mungkin sudah saatnya kita mendefinisikan ulang arti dari kesetiaan.

Karena sering kali, hal yang menyakitkan itu bukan tubuh yang berpaling ke orang lain, tetapi perhatian yang diam-diam dibagi ke orang asing lewat chat.

Obrolan hingga larut malam, saling menanyakan kabar setiap hari, atau saling bertukar foto setiap saat, secara perlahan dapat menggeser perhatian ke orang lain yang dulu hanya diberikan ke pasangan. Tanpa disadari, hal tersebut dapat menimbulkan kebosanan terhadap pasangan dan merusak hubungan yang awalnya baik-baik saja.

Tentu saja, komunikasi personal di ruang digital yang saat ini lebih cepat dan lebih dekat tidak bisa dijadikan masalah utama. Karena masalah utamanya adalah ketika pasangan kita mulai diam-diam menyembunyikan percakapan tersebut, merasa bersalah namun tetap melanjutkan, dan yang paling fatal adalah mulai membandingkan kita dengan teman chat yang baru dikenal.

Pada akhirnya, teknologi komunikasi pun disalahgunakan untuk menjadi tempat yang nyaman dalam menjalin hubungan diam-diam. Hubungan yang sudah terbangun selama bertahun-tahun, bisa menjadi tidak sehat dan akhirnya selesai. Semua itu hanya berawal dari rasa penasaran dan satu notifikasi: "Someone added you through people nearby". (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Aditya Bayu Nugroho
Praktisi Public Relations yang sedang mengejar gelar magister komunikasi di Universitas Padjadjaran. Belajar membiasakan diri menulis untuk dibaca orang lain.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)