Tangkal Hoaks, Cerdas Bermedsos

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
 (Sumber: DW)
(Sumber: DW)

Sore itu cerah. Saat sedang berjalan melewati Tugu Elektro, tiba-tiba seorang kawan datang menghampiri dan menyapa hangat, lalu menunjukkan dua berita disertai video yang mengabarkan tentang perang antara Iran dan Israel.

Dengan nada serius dan sedikit cemas, pria tinggi dan gemoy itu bertanya, "Bagaimana cara kita memastikan kebenaran informasi seperti ini? Supaya tidak menyesatkan, tidak memperkuat kebencian atau Islamofobia, dan tidak ikut menyebarkan hoaks di media sosial?" ujarnya.

Kujawab singkat, “Coba lihat di cekfakta.com.”

Sejak serangan Israel ke Iran, Jumat, (13/6/2025), yang dibalas oleh Iran, konflik tak hanya berkecamuk di medan tempur. Dunia maya ikut memanas. Disinformasi menyebar luas, termasuk video-video jadoel yang diklaim sebagai peristiwa terkini.

Dalam laporan Cek Fakta Deutsche Welle (DW), ditemukan sejumlah video lama dan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang disebarkan secara sengaja untuk menyesatkan publik.

Salah satu klaim yang viral adalah video kompilasi berdurasi satu menit yang memperlihatkan pemboman udara, ledakan, dan kebakaran di malam hari. Rekaman itu disertai tulisan kapital “NO MERCY – ISRAEL LAUNCHES REVENGE ATTACK ON IRAN” dan diklaim sebagai serangan terbaru Israel ke Iran. Hingga kini, video itu telah ditonton lebih dari 2,8 juta kali di TikTok.

Namun, verifikasi DW menyimpulkan klaim itu salah. Ternyata video itu merupakan dokumentasi pemboman oleh Amerika Serikat di Baghdad, Irak, pada tahun 2003, bukan peristiwa terkini di Iran.

Kasus serupa ditemukan oleh Tim Cek Fakta Tempo. Dua video TikTok yang diklaim sebagai aktivitas militer Iran melawan Israel ternyata bukan video asli, melainkan konten hasil AI generatif.

Tayangan pertama menampilkan operator perempuan di dekat rudal. Setelah dianalisis, ditemukan kejanggalan, terdapat lima operator, tapi hanya empat pasang tangan yang bekerja.

Rekaman kedua memperlihatkan iring-iringan truk berbendera Iran membawa misil.

Melalui alat pendeteksi AI seperti AI or NOT dan Hive Moderation, terungkap bahwa video pertama memiliki kemungkinan 87% merupakan hasil buatan AI, dan video kedua memiliki kemungkinan 49%. Teknologi AI seperti Flux dan OpenAI GPT-4o disebut sebagai kemungkinan sumber pembuatannya.

Meskipun beberapa konten terbukti palsu, konflik Israel-Iran benar-benar terjadi. Serangan Israel bertajuk “Rising Lion” ke Iran diklaim sebagai langkah untuk mencegah pengembangan senjata nuklir, tuduhan yang dibantah oleh pihak Iran. Israel berdalih tujuannya untuk membunuh pemimpin Iran.

Hingga kini, korban dilaporkan mencapai 585 jiwa di Iran dan 24 jiwa di Israel. Pada 17 Juni 2025, sebanyak 23 negara, termasuk Indonesia, mengecam serangan memilukan.

Hasil verifikasi Tempo dan DW menyatakan banyak narasi yang beredar di media sosial adalah hoaks (keliru). Konten-konten itu sering kali merupakan hasil AI generatif yang tidak mencerminkan situasi sebenarnya di lapangan.

Di tengah konflik bersenjata dan informasi yang simpang siur, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, kritis, dan mewaspadai disinformasi. Selalu cek sumber informasi melalui kanal resmi seperti cekfakta.com. (detikNews Kamis, 19 Jun 2025 19:23 WIB, www.dw.com,www.cekfakta.com)

Video TikTok ini secara keliru mengklaim menampilkan serangan Israel terhadap Iran, padahal rekaman tersebut berasal dari tahun 2003. (Sumber: DW | Foto: Tiktok)
Video TikTok ini secara keliru mengklaim menampilkan serangan Israel terhadap Iran, padahal rekaman tersebut berasal dari tahun 2003. (Sumber: DW | Foto: Tiktok)

Dalam rilis resmi pada 8 Januari 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan sepanjang tahun 2024 pihaknya berhasil mengidentifikasi dan mengklarifikasi sebanyak 1.923 konten hoaks yang tersebar di ruang digital.

Data dari Tim AIS Ditjen Aplikasi Informatika mencatat, temuan hoaks terbanyak terjadi pada Oktober (215 konten), dan yang paling sedikit di Februari (131 konten). Dengan rincian distribusi bulanan konten hoaks sepanjang tahun 2024: Januari (143 konten), Februari (131), Maret (162), April (143), Mei (164), Juni (153), Juli (170), Agustus (162), September (173),  Oktober (215), November (166), dan Desember (141).

Upaya identifikasi dan klarifikasi ini merupakan bagian dari komitmen Komdigi untuk membangun ekosistem digital yang sehat, aman, dan tangguh. Melalui pengawasan konten, penguatan literasi digital, diharapkan ruang digital nasional tetap terlindungi dari disinformasi dan penyalahgunaan informasi. (www.komdigi.go.id)

Tantangan Milenial

Dalam buku Kontestasi Wacana Keislaman di Dunia Maya, keberlimpahan informasi di dunia siber (maya) ternyata telah menimbulkan ekses yang meresahkan. Meningkat banyak anak muda yang tak memiliki keterampilan menulis karena segala yang ingin ditulis telah terwakili oleh tulisan orang lain dan tersedia di internet.

Parahnya, banyak tulisan bersifat catatan-catatan pribadi, yang seharusnya tersimpan di ruang tersembunyi, rapat, malah lepas terpublikasi dan menjadi rujukan. Padahal, dalam literasi media, tulisan-tulisan itu sebenarnya kurang memenuhi azas kepatutan dalam berkomunikasi, (azas keadilan) sebagai sumber informasi, yang masih perlu cross-check dan re-check secara teliti untuk layak dikonsumsi. Sebagian masyarakat mengalami ambivalensi dalam memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Ada yang terbersit niatan luhur untuk menyeru kebaikan dan mencegah ketidakadilan.

Pesan-pesan yang bertebaran di media sosial seringkali menyuarakan enam ajakan untuk: Pertama, menyatakan kebencian kepada pihak lain; Kedua, menyatakan intoleransi terhadap pihak lain; Ketiga, melawan tatanan (sistem) sah yang ada; Keempat, mengandung unsur revolusioner; Kelima, mengandung unsur kekerasan; Keenam, mengandung ancaman kepada pihak lain. (M. Thoyibi, Yayah Khisbiyah [editor], 2018:iii & 4)

Akhlak Bermedsos

Upaya mengendalikan diri di ruang digital memiliki tata cara, aturan, untuk tidak menulis dan menyebar luas informasi (berita) bohong (hoaks), bernada ajakan caci maki, hasutan, fitnah, ujaran kebencian, sampai berbuat makar.

Dalam buku Akhlak Nge-medsos ditegaskan selain kita mesti berakhlak mulia di dunia nyata. Kita juga perlu berakhlak baik di dunia maya. Jangan sampai kita ikut menyebarkan sampah di sana, bahkan ikut memproduksinya.

Caranya dengan memegang kuat prinsip dan adab-adab di dunia maya agar menjadi netizen yang shaleh dan shalehah. Pertama, Keutamaan bagi kreator. Kreator yang baik itu kreator yang paling banyak memberikan manfaat. Bila saja kita memahami prinsip itu, maka niscaya medsos kita akan penuh mengalirkan pahala kebaikan-kebaikan. 

Buatlah konten yang baik. Ketika konten yang kita buat memberikan inspirasi pada netizen lain. Maka bukan sekadar adsense dari google yang didapat, tapi kita bisa dengan mudah ‘mendownload’ pahala dari Allah. Ingat konten yang hari ini kita unggah bukan hanya dilihat hari ini, namun bisa dilihat nanti saat kita tua, bahkan sampai mati. 

Kedua, Akhlak untuk Viewer. Pilihlah tontonan yang sesuai dengan usia. Kalau kita sudah dewasa, cobalah untuk membimbing adik-adik kita yang masih perlu dampingan, untuk bisa mengonsumsi hal yang positif sesuai umur mereka. Jangan sampai mereka meniru hal yang tidak baik dari medsos yang ada.

Saksikan konten yang akan mendukung kita menjadi lebih baik. Jangan sia-siakan kuota untuk dipakai menyaksikan acara yang meracuni hati dan pikiran kita. Tontonlah yang akan meningkatkan kita untuk lebih kreatif dan dekat dengan Allah. Kita bisa menyaksikan ceramah-ceramah dari ustadz-ustadz yang ceramahnya menyejukkan. Yang ketika selesai menonton pikiran kita cerah, hati lapang, dan juga dipenuhi cinta.

Tinggalkanlah konten yang tak bermanfaat, karena jika kita terus menontonnya, itu sama saja kita mendukungnya. Pilih dan pilihlah tontonan kita, karena mata, jari dan gadget kita akan dipertanggungjawabkan pula kelak.

Ketiga, Etika User. Jadilah pengguna yang bijak dengan memanfaatkan medsos sesuai kebutuhan. Jangan sampai kita menjadi pengguna yang terlalu banyak stalk mantan. Lalu patah hati setelah lihat dia bahagia dengan orang lain. Kita juga mesti bijak dalam merespon konten yang muncul. Ketika ada konten yang kurang sesuai, tegurlah dengan cara yang baik.

Bisa dengan menegur melalu pesan pribadi, bahasa yang halus. Karena dengan caci maki tak akan mendatangkan ketenangan dalam hati. Hindari pula perdebatan yang tidak akan menemukan hasil. Debat kusir. Bila ada yang perlu diperdebatkan, cobalah dengan cara yang bijak. Bila perlu untuk bertemu, bertemulah. Siapa tahu orang yang kamu debat itu menjadikan  kalian bersahabat.

Pada saat ibadah tiba, saat adzan, shalat, jumatan, belajar, matikanlah smartphonemu sejenak dan aktifkanlah dzikir-dzikir. Karena Allah-lah kita bisa hidup hari ini, karena Dialah kamu bisa punya smartphone, medsos dan aibmu ditutupi-Nya. (Irfan Nur Hakim, 2018: 3 & 81-103)

Kini hoaks (berita palsu) semakin marak di dunia maya. Kemudahan dalam menyebarkan pesan melalui media sosial membuat hoaks menyebar sangat cepat. Dalam hitungan menit, informasi yang belum tentu benar bisa dibagikan ratusan kali oleh warganet (netizen). 

Akibatnya, banyak orang yang tanpa memeriksa kebenarannya ikut termakan dan bahkan bisa terprovokasi, yang dalam skala besar dapat memicu konflik, kerusuhan.

Foto asli yang sering kali salah narasi di media sosial. (Sumber: DW)
Foto asli yang sering kali salah narasi di media sosial. (Sumber: DW)

Sebagai netizen yang cerdas, kita tak boleh menelan mentah-mentah setiap informasi yang tersebar. Inilah lima cara efektif untuk menghindari jebakan berita hoaks:

Pertama, Waspadai Judul yang Provokatif

Berita hoaks umumnya menggunakan judul yang sensasional, provokatif, bahkan menyerang pihak tertentu secara langsung. Meski terkadang isinya mengambil dari berita media resmi, informasi di dalamnya kerap dimodifikasi untuk menggiring opini sesuai kepentingan si penyebar hoaks.

Tipsnya. Jangan langsung percaya pada judul. Telusuri berita serupa di media resmi dan bandingkan isinya. Jika isinya bertolak belakang, besar kemungkinan berita tersebut adalah hoaks.

Kedua, Periksa Kebenaran Fakta

Selalu cek fakta dari informasi yang Anda terima. Perhatikan apakah sumber berita berasal dari institusi resmi atau tidak. Jika pernyataan berasal dari tokoh politik, pengamat, atau organisasi tertentu, pastikan ada konfirmasi dari sumber terpercaya lain. 

Tipsnya. Bedakan antara fakta dan opini. Fakta didukung bukti nyata dan saksi, sedangkan opini bersifat subjektif.

Ketiga, Teliti Keaslian Foto dan Video

Hoaks tak hanya dalam bentuk teks, tapi juga menyertakan foto dan video yang terlihat meyakinkan. Padahal, berkat teknologi digital, konten visual bisa dengan mudah dimanipulasi.

Tipsnya. Gunakan fitur pencarian gambar seperti Google Images untuk mengecek keaslian gambar. Drag-and-drop gambar ke kolom pencarian dan lihat apakah gambar tersebut pernah muncul di konteks lain.

Keempat, Telusuri Alamat Situs

Beberapa situs sengaja mencantumkan tautan atau alamat web agar terkesan kredibel. Namun, tak semua situs adalah media resmi.

Faktanya. Menurut Dewan Pers, dari sekitar 43.000 situs yang mengaku sebagai portal berita di Indonesia, hanya sekitar 300 yang terverifikasi resmi.

Tipsnya. Hindari situs dengan domain yang tidak jelas atau berbasis blog pribadi. Pastikan situs yang Anda baca sudah masuk dalam daftar media resmi.

Kelima, Bergabung dengan Komunitas Anti-Hoaks

Untuk memperkuat literasi digital, kita bisa bergabung dengan komunitas anti-hoaks yang tersedia di berbagai platform, seperti Facebook dan WhatsApp.

Rekomendasi Grup mulai dari Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Sekoci Hoax, Indonesian Hoax Buster, sampai Fanpage Indonesian Hoaxes.

Di dalam grup ini, kita bisa menemukan klarifikasi, berbagi informasi, atau menanyakan kebenaran dari konten yang mencurigakan.

Walhasil, dengan membiasakan diri memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, kita turut menjaga ruang digital agar tetap sehat, aman, dan bebas dari misinformasi. (www.baktikomdigi.id)

Di era digital saat ini, seorang Muslim milenial yang cerdas adalah mereka yang bijak dalam menggunakan media sosial. Kecerdasan itu tercermin bukan dari seberapa cepat  membagikan informasi, melainkan dari kemampuannya menahan diri untuk tidak asal ikut-ikutan menyebarkan konten, terlebih bila konten itu mengandung hoaks, fitnah, hasutan, ujaran kebencian, bahkan ajakan makar.

Kecerdasan digital bukan semata soal keterampilan teknologi, tetapi menyangkut kemampuan memilah informasi, mana yang layak dibagikan, dan kabar mana yang seharusnya dihentikan penyebarannya. Tujuannya jelas demi menjaga kedamaian, menegakkan kebenaran, dan merawat kehormatan sesama manusia.

Dengan demikian, mewaspadai penyebaran hoaks di media sosial dan melakukan edukasi digital menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem informasi yang sehat dan bertanggung jawab. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)