Tangkal Hoaks, Cerdas Bermedsos

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
 (Sumber: DW)
(Sumber: DW)

Sore itu cerah. Saat sedang berjalan melewati Tugu Elektro, tiba-tiba seorang kawan datang menghampiri dan menyapa hangat, lalu menunjukkan dua berita disertai video yang mengabarkan tentang perang antara Iran dan Israel.

Dengan nada serius dan sedikit cemas, pria tinggi dan gemoy itu bertanya, "Bagaimana cara kita memastikan kebenaran informasi seperti ini? Supaya tidak menyesatkan, tidak memperkuat kebencian atau Islamofobia, dan tidak ikut menyebarkan hoaks di media sosial?" ujarnya.

Kujawab singkat, “Coba lihat di cekfakta.com.”

Sejak serangan Israel ke Iran, Jumat, (13/6/2025), yang dibalas oleh Iran, konflik tak hanya berkecamuk di medan tempur. Dunia maya ikut memanas. Disinformasi menyebar luas, termasuk video-video jadoel yang diklaim sebagai peristiwa terkini.

Dalam laporan Cek Fakta Deutsche Welle (DW), ditemukan sejumlah video lama dan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang disebarkan secara sengaja untuk menyesatkan publik.

Salah satu klaim yang viral adalah video kompilasi berdurasi satu menit yang memperlihatkan pemboman udara, ledakan, dan kebakaran di malam hari. Rekaman itu disertai tulisan kapital “NO MERCY – ISRAEL LAUNCHES REVENGE ATTACK ON IRAN” dan diklaim sebagai serangan terbaru Israel ke Iran. Hingga kini, video itu telah ditonton lebih dari 2,8 juta kali di TikTok.

Namun, verifikasi DW menyimpulkan klaim itu salah. Ternyata video itu merupakan dokumentasi pemboman oleh Amerika Serikat di Baghdad, Irak, pada tahun 2003, bukan peristiwa terkini di Iran.

Kasus serupa ditemukan oleh Tim Cek Fakta Tempo. Dua video TikTok yang diklaim sebagai aktivitas militer Iran melawan Israel ternyata bukan video asli, melainkan konten hasil AI generatif.

Tayangan pertama menampilkan operator perempuan di dekat rudal. Setelah dianalisis, ditemukan kejanggalan, terdapat lima operator, tapi hanya empat pasang tangan yang bekerja.

Rekaman kedua memperlihatkan iring-iringan truk berbendera Iran membawa misil.

Melalui alat pendeteksi AI seperti AI or NOT dan Hive Moderation, terungkap bahwa video pertama memiliki kemungkinan 87% merupakan hasil buatan AI, dan video kedua memiliki kemungkinan 49%. Teknologi AI seperti Flux dan OpenAI GPT-4o disebut sebagai kemungkinan sumber pembuatannya.

Meskipun beberapa konten terbukti palsu, konflik Israel-Iran benar-benar terjadi. Serangan Israel bertajuk “Rising Lion” ke Iran diklaim sebagai langkah untuk mencegah pengembangan senjata nuklir, tuduhan yang dibantah oleh pihak Iran. Israel berdalih tujuannya untuk membunuh pemimpin Iran.

Hingga kini, korban dilaporkan mencapai 585 jiwa di Iran dan 24 jiwa di Israel. Pada 17 Juni 2025, sebanyak 23 negara, termasuk Indonesia, mengecam serangan memilukan.

Hasil verifikasi Tempo dan DW menyatakan banyak narasi yang beredar di media sosial adalah hoaks (keliru). Konten-konten itu sering kali merupakan hasil AI generatif yang tidak mencerminkan situasi sebenarnya di lapangan.

Di tengah konflik bersenjata dan informasi yang simpang siur, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, kritis, dan mewaspadai disinformasi. Selalu cek sumber informasi melalui kanal resmi seperti cekfakta.com. (detikNews Kamis, 19 Jun 2025 19:23 WIB, www.dw.com,www.cekfakta.com)

Video TikTok ini secara keliru mengklaim menampilkan serangan Israel terhadap Iran, padahal rekaman tersebut berasal dari tahun 2003. (Sumber: DW | Foto: Tiktok)
Video TikTok ini secara keliru mengklaim menampilkan serangan Israel terhadap Iran, padahal rekaman tersebut berasal dari tahun 2003. (Sumber: DW | Foto: Tiktok)

Dalam rilis resmi pada 8 Januari 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan sepanjang tahun 2024 pihaknya berhasil mengidentifikasi dan mengklarifikasi sebanyak 1.923 konten hoaks yang tersebar di ruang digital.

Data dari Tim AIS Ditjen Aplikasi Informatika mencatat, temuan hoaks terbanyak terjadi pada Oktober (215 konten), dan yang paling sedikit di Februari (131 konten). Dengan rincian distribusi bulanan konten hoaks sepanjang tahun 2024: Januari (143 konten), Februari (131), Maret (162), April (143), Mei (164), Juni (153), Juli (170), Agustus (162), September (173),  Oktober (215), November (166), dan Desember (141).

Upaya identifikasi dan klarifikasi ini merupakan bagian dari komitmen Komdigi untuk membangun ekosistem digital yang sehat, aman, dan tangguh. Melalui pengawasan konten, penguatan literasi digital, diharapkan ruang digital nasional tetap terlindungi dari disinformasi dan penyalahgunaan informasi. (www.komdigi.go.id)

Tantangan Milenial

Dalam buku Kontestasi Wacana Keislaman di Dunia Maya, keberlimpahan informasi di dunia siber (maya) ternyata telah menimbulkan ekses yang meresahkan. Meningkat banyak anak muda yang tak memiliki keterampilan menulis karena segala yang ingin ditulis telah terwakili oleh tulisan orang lain dan tersedia di internet.

Parahnya, banyak tulisan bersifat catatan-catatan pribadi, yang seharusnya tersimpan di ruang tersembunyi, rapat, malah lepas terpublikasi dan menjadi rujukan. Padahal, dalam literasi media, tulisan-tulisan itu sebenarnya kurang memenuhi azas kepatutan dalam berkomunikasi, (azas keadilan) sebagai sumber informasi, yang masih perlu cross-check dan re-check secara teliti untuk layak dikonsumsi. Sebagian masyarakat mengalami ambivalensi dalam memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Ada yang terbersit niatan luhur untuk menyeru kebaikan dan mencegah ketidakadilan.

Pesan-pesan yang bertebaran di media sosial seringkali menyuarakan enam ajakan untuk: Pertama, menyatakan kebencian kepada pihak lain; Kedua, menyatakan intoleransi terhadap pihak lain; Ketiga, melawan tatanan (sistem) sah yang ada; Keempat, mengandung unsur revolusioner; Kelima, mengandung unsur kekerasan; Keenam, mengandung ancaman kepada pihak lain. (M. Thoyibi, Yayah Khisbiyah [editor], 2018:iii & 4)

Akhlak Bermedsos

Upaya mengendalikan diri di ruang digital memiliki tata cara, aturan, untuk tidak menulis dan menyebar luas informasi (berita) bohong (hoaks), bernada ajakan caci maki, hasutan, fitnah, ujaran kebencian, sampai berbuat makar.

Dalam buku Akhlak Nge-medsos ditegaskan selain kita mesti berakhlak mulia di dunia nyata. Kita juga perlu berakhlak baik di dunia maya. Jangan sampai kita ikut menyebarkan sampah di sana, bahkan ikut memproduksinya.

Caranya dengan memegang kuat prinsip dan adab-adab di dunia maya agar menjadi netizen yang shaleh dan shalehah. Pertama, Keutamaan bagi kreator. Kreator yang baik itu kreator yang paling banyak memberikan manfaat. Bila saja kita memahami prinsip itu, maka niscaya medsos kita akan penuh mengalirkan pahala kebaikan-kebaikan. 

Buatlah konten yang baik. Ketika konten yang kita buat memberikan inspirasi pada netizen lain. Maka bukan sekadar adsense dari google yang didapat, tapi kita bisa dengan mudah ‘mendownload’ pahala dari Allah. Ingat konten yang hari ini kita unggah bukan hanya dilihat hari ini, namun bisa dilihat nanti saat kita tua, bahkan sampai mati. 

Kedua, Akhlak untuk Viewer. Pilihlah tontonan yang sesuai dengan usia. Kalau kita sudah dewasa, cobalah untuk membimbing adik-adik kita yang masih perlu dampingan, untuk bisa mengonsumsi hal yang positif sesuai umur mereka. Jangan sampai mereka meniru hal yang tidak baik dari medsos yang ada.

Saksikan konten yang akan mendukung kita menjadi lebih baik. Jangan sia-siakan kuota untuk dipakai menyaksikan acara yang meracuni hati dan pikiran kita. Tontonlah yang akan meningkatkan kita untuk lebih kreatif dan dekat dengan Allah. Kita bisa menyaksikan ceramah-ceramah dari ustadz-ustadz yang ceramahnya menyejukkan. Yang ketika selesai menonton pikiran kita cerah, hati lapang, dan juga dipenuhi cinta.

Tinggalkanlah konten yang tak bermanfaat, karena jika kita terus menontonnya, itu sama saja kita mendukungnya. Pilih dan pilihlah tontonan kita, karena mata, jari dan gadget kita akan dipertanggungjawabkan pula kelak.

Ketiga, Etika User. Jadilah pengguna yang bijak dengan memanfaatkan medsos sesuai kebutuhan. Jangan sampai kita menjadi pengguna yang terlalu banyak stalk mantan. Lalu patah hati setelah lihat dia bahagia dengan orang lain. Kita juga mesti bijak dalam merespon konten yang muncul. Ketika ada konten yang kurang sesuai, tegurlah dengan cara yang baik.

Bisa dengan menegur melalu pesan pribadi, bahasa yang halus. Karena dengan caci maki tak akan mendatangkan ketenangan dalam hati. Hindari pula perdebatan yang tidak akan menemukan hasil. Debat kusir. Bila ada yang perlu diperdebatkan, cobalah dengan cara yang bijak. Bila perlu untuk bertemu, bertemulah. Siapa tahu orang yang kamu debat itu menjadikan  kalian bersahabat.

Pada saat ibadah tiba, saat adzan, shalat, jumatan, belajar, matikanlah smartphonemu sejenak dan aktifkanlah dzikir-dzikir. Karena Allah-lah kita bisa hidup hari ini, karena Dialah kamu bisa punya smartphone, medsos dan aibmu ditutupi-Nya. (Irfan Nur Hakim, 2018: 3 & 81-103)

Kini hoaks (berita palsu) semakin marak di dunia maya. Kemudahan dalam menyebarkan pesan melalui media sosial membuat hoaks menyebar sangat cepat. Dalam hitungan menit, informasi yang belum tentu benar bisa dibagikan ratusan kali oleh warganet (netizen). 

Akibatnya, banyak orang yang tanpa memeriksa kebenarannya ikut termakan dan bahkan bisa terprovokasi, yang dalam skala besar dapat memicu konflik, kerusuhan.

Foto asli yang sering kali salah narasi di media sosial. (Sumber: DW)
Foto asli yang sering kali salah narasi di media sosial. (Sumber: DW)

Sebagai netizen yang cerdas, kita tak boleh menelan mentah-mentah setiap informasi yang tersebar. Inilah lima cara efektif untuk menghindari jebakan berita hoaks:

Pertama, Waspadai Judul yang Provokatif

Berita hoaks umumnya menggunakan judul yang sensasional, provokatif, bahkan menyerang pihak tertentu secara langsung. Meski terkadang isinya mengambil dari berita media resmi, informasi di dalamnya kerap dimodifikasi untuk menggiring opini sesuai kepentingan si penyebar hoaks.

Tipsnya. Jangan langsung percaya pada judul. Telusuri berita serupa di media resmi dan bandingkan isinya. Jika isinya bertolak belakang, besar kemungkinan berita tersebut adalah hoaks.

Kedua, Periksa Kebenaran Fakta

Selalu cek fakta dari informasi yang Anda terima. Perhatikan apakah sumber berita berasal dari institusi resmi atau tidak. Jika pernyataan berasal dari tokoh politik, pengamat, atau organisasi tertentu, pastikan ada konfirmasi dari sumber terpercaya lain. 

Tipsnya. Bedakan antara fakta dan opini. Fakta didukung bukti nyata dan saksi, sedangkan opini bersifat subjektif.

Ketiga, Teliti Keaslian Foto dan Video

Hoaks tak hanya dalam bentuk teks, tapi juga menyertakan foto dan video yang terlihat meyakinkan. Padahal, berkat teknologi digital, konten visual bisa dengan mudah dimanipulasi.

Tipsnya. Gunakan fitur pencarian gambar seperti Google Images untuk mengecek keaslian gambar. Drag-and-drop gambar ke kolom pencarian dan lihat apakah gambar tersebut pernah muncul di konteks lain.

Keempat, Telusuri Alamat Situs

Beberapa situs sengaja mencantumkan tautan atau alamat web agar terkesan kredibel. Namun, tak semua situs adalah media resmi.

Faktanya. Menurut Dewan Pers, dari sekitar 43.000 situs yang mengaku sebagai portal berita di Indonesia, hanya sekitar 300 yang terverifikasi resmi.

Tipsnya. Hindari situs dengan domain yang tidak jelas atau berbasis blog pribadi. Pastikan situs yang Anda baca sudah masuk dalam daftar media resmi.

Kelima, Bergabung dengan Komunitas Anti-Hoaks

Untuk memperkuat literasi digital, kita bisa bergabung dengan komunitas anti-hoaks yang tersedia di berbagai platform, seperti Facebook dan WhatsApp.

Rekomendasi Grup mulai dari Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Sekoci Hoax, Indonesian Hoax Buster, sampai Fanpage Indonesian Hoaxes.

Di dalam grup ini, kita bisa menemukan klarifikasi, berbagi informasi, atau menanyakan kebenaran dari konten yang mencurigakan.

Walhasil, dengan membiasakan diri memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, kita turut menjaga ruang digital agar tetap sehat, aman, dan bebas dari misinformasi. (www.baktikomdigi.id)

Di era digital saat ini, seorang Muslim milenial yang cerdas adalah mereka yang bijak dalam menggunakan media sosial. Kecerdasan itu tercermin bukan dari seberapa cepat  membagikan informasi, melainkan dari kemampuannya menahan diri untuk tidak asal ikut-ikutan menyebarkan konten, terlebih bila konten itu mengandung hoaks, fitnah, hasutan, ujaran kebencian, bahkan ajakan makar.

Kecerdasan digital bukan semata soal keterampilan teknologi, tetapi menyangkut kemampuan memilah informasi, mana yang layak dibagikan, dan kabar mana yang seharusnya dihentikan penyebarannya. Tujuannya jelas demi menjaga kedamaian, menegakkan kebenaran, dan merawat kehormatan sesama manusia.

Dengan demikian, mewaspadai penyebaran hoaks di media sosial dan melakukan edukasi digital menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem informasi yang sehat dan bertanggung jawab. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 11:09

Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi.

Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 08:00

Ci Manuk, Sungai Suci Penuh Do’a untuk Kekuatan Jiwa

Ci Manuk itu bukan berasal dari kata "manuk" yang berarti burung, tapi berasal dari kata "manu", dari bahasa Sanskerta.

Bandar Dermayu, tertulis dalam peta abad ke-16. Peta ini merupakan potongan dari Nova tabula insularum Javae, Sumatrae, Borneonis et aliarum Malaccam usque, 1598. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 07:42

Republik Tanpa Akuntabilitas

Kekuasaan yang menolak pertanggungjawaban sesungguhnya sedang mengingkari hakikatnya sebagai amanah rakyat.

Sebuah aksi penolakan Jokowi di Jawa Barat. Bandung 14 Juli 2026 di Depan DPRD Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:45

Sisi Lain Kota Bandung: Kebiasaan Lama yang Berulang Kembali

Bahkan peringatan "Kesurupan" pun tetap tidak menghentikan oknum pembuang sampah sembarangan di kawasan Cibaduyut.

Peringatan Hantu dan CCTV pun tidak mengurungkan niat seseorang untuk membuang sampah sembarangan (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:03

MPLS Tanpa Bully

Sekolah yang ramah bukanlah tempat menimba ilmu yang sekadar bebas dari perundungan. Rumah kedua itu harus menjadi ruang bersama yang membuat setiap anak pulang dengan senyum yang lebih lebar

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 17:22

Dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap Pedagang Kantin dan UMKM Sekolah

Saya tertarik membahas topik ini karena menunjukkan dampak Program Makan Bergizi Gratis bagi siswa, pedagang kantin, dan UMKM sekolah.

FAGI Jabar ingatkan bahwa tugas utama guru adalah mengajar, bukan mengurusi MBG. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 16:23

Benang-Benang Asing dalam Tenun Tradisi Nusantara: Jejak Budaya Eropa dalam Perubahan Kebaya dan Identitas Sosial.

Membahas pengaruh budaya Eropa terhadap perubahan kebaya sebagai busana tradisional dan simbol identitas sosial di Nusantara pada masa kolonial.

Wanita Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 15:41

Mengenalkan Sekolah lewat MPLS yang Ramah bagi Anak

Selama ini, banyak orang yang membahas tentang pentingnya sekolah yang ramah bagi anak. Seperti apa sekolah ramah anak itu? 

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ikon 15 Jul 2026, 15:24

Hikayat Sport Center Arcamanik, Dari Arena PON Menjadi Pusat Sport Tourism

Sport Center Arcamanik bertransformasi dari venue PON 2016 menjadi pusat olahraga, wisata keluarga, dan kuliner Bandung.

Anak-anak bermain layangan di sekitar area Sport Center Arcamanik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)