AYOBANDUNG.ID - Bandung adalah nama yang melekat di telinga banyak orang: kota besar di Jawa Barat, julukannya Parijs van Java, surganya kuliner dan belanja. Tapi kapan pertama kali nama ini digunakan, tak ada yang tahu pasti. Sejarah menyediakan ragam versi, termasuk yang menyatakan asal-usulnya berakar dari kata “bandeng”. Bagaimana mungkin Bandung lahir dari kata bandeng? Padahal, jelas-jelas kota ini bukan pusat budidaya ikan air payau.
Berdasarkan dokumen resmi Pemerintah Kota Bandung, disebutkan bahwa asal-usul nama Bandung memang multitafsir. Ada versi yang menyebut Bandung berasal dari kata bendung. Versi ini jelas merujuk pada peristiwa ribuan tahun lalu, ketika lahar Tangkubanparahu menyumbat aliran Sungai Citarum di Sanghyang Tikoro. Sungai yang terbendung itu kemudian membentuk danau besar yang dikenal sebagai Danau Bandung.
Danau purba ini tidak main-main. Luasnya menenggelamkan dataran dari Cicalengka sampai Padalarang, dari Soreang hingga Tangkubanparahu. Bayangkan saja, kalau danau ini masih ada, Bandung sekarang barang tentu sudah jadi kota wisata perahu dayung—meskipun di Dayeuhkolot, Gedebage, hingga Palasari kadang jadi arena perahu dayung dadakan sesaat setelah hujan besar melanda.
Dari danau itulah muncul tafsir lain: kata Bandung dihubungkan dengan yang kini lebh dikenal menyerupai jenis ikan: bandeng. Bukan sekadar bandeng, tapi bandeng ngabandeng. Ia tidak merujuk pada jenis hewan air payau yang kini populer disajikan sebagai bandeng presto, melainkan pada istilah lokal yang berarti genangan air luas, tampak tenang, tapi diam-diam menyeramkan. Bisa jadi orang Sunda kala itu menatap air danau yang luas sambil berbisik lirih, “ngabandeng.” Lama-lama keseleo lidah lalu berubah jadi “Bandung”.
Baca Juga: Jejak Sejarah Freemason di Bandung, Loji Sint Jan yang Dilarang Soekarno
Tafsir lain menyebut Bandung berasal dari kata banding atau berdampingan. Topografinya memang cocok: dua dataran besar di barat dan timur Sungai Citarum yang saling menatap dari kejauhan, dipisahkan air. Dari kata itu lahirlah istilah bale bandung untuk dua balai yang berdiri berdampingan, dan parahu bandungan untuk dua perahu yang diikat sejajar agar lebih stabil. Jadi, sebelum jadi nama kota dengan banyak mal dan kafe estetik, Bandung adalah konsep keseimbangan: tentang air, daratan, dan kedekatan.

Dari Danau ke Kerajaan dan Pemberontakan Dipati Ukur
Danau purba Bandung surut perlahan sejak zaman Neolitikum. Ribuan tahun kemudian, daratan mulai muncul dan dihuni manusia. Tercatat dalam Sadjarah Bandung bahwa wilayah ini dulu termasuk Kerajaan Timbanganten, sekitar abad ke-15, dengan pusat pemerintahan di Tegalluar, daerah yang kini terkenal dengan nama Tegal Mantri. Raja Timbanganten, Ujang Euken alias Ujang Talaga, dikenal juga sebagai Bumi Ukur, nama yang kelak melekat sebagai sebutan Tatar Ukur, cikal bakal Priangan.
Kerajaan kecil itu lalu dipimpin oleh Dipati Agung, sebelum digantikan menantunya, Raden Wangsanata alias Dipati Ukur. Nama terakhir ini yang paling melegenda. Pada awal abad ke-17, Dipati Ukur diangkat Sultan Agung Mataram sebagai Bupati Wedana Priangan. Syaratnya berat: ikut menyerang Batavia. Tapi penyerangan Mataram ke Batavia gagal total. Dipati Ukur tahu dirinya bisa kena hukuman. Daripada menunggu dihukum, ia memilih berontak.
Pemberontakan Dipati Ukur berlangsung tiga tahun, dari 1628 sampai 1631. Versi resmi Mataram bilang ia tertangkap dan dihukum mati. Tapi cerita rakyat Priangan lain lagi: katanya yang tertangkap bukan Dipati Ukur, melainkan orang lain yang dikira dirinya. Legenda ini membuat Dipati Ukur tetap hidup dalam cerita rakyat, meskipun dalam dokumen politik ia sudah dianggap habis riwayat.
Baca Juga: Gunung Selacau, Jejak Dipati Ukur dan Letusan Zaman yang Kini Digilas Tambang
Usai pemberontakan, Sultan Agung merapikan Priangan. Wilayahnya dipecah jadi tiga kabupaten: Bandung, Sukapura (sekarang Tasikmalaya), dan Parakamuncang di sekitar Cicalengka. Sejak itulah nama Bandung resmi masuk administrasi Mataram. Bupati pertama Bandung adalah Ki Astamanggala, yang mendapat gelar Tumenggung Wiraangunangun. Tahun pengangkatannya pun jadi bahan perdebatan: ada yang bilang 1633, ada pula yang menghitung 1641.
Yang jelas, sejak saat itu Bandung bukan lagi sekadar istilah air atau legenda danau purba. Bandung sudah masuk birokrasi kerajaan, punya bupati, punya wilayah, dan punya kedudukan politik. Dari fenomena geologi, ia menjelma jadi entitas resmi yang tercatat dalam piagam Mataram.
Bandoeng Tempo Doeloe di Era Kolonial Belanda
Bandung kemudian terus bertahan namanya, bahkan ketika Belanda masuk. Dalam catatan kolonial, ia dieja “Bandoeng.” Awalnya Bandung hanyalah kabupaten pedalaman, tapi keputusannya terletak di jalur vital. Tahun 1809, Gubernur Jenderal Daendels membangun jalan raya pos Anyer–Panarukan. Jalan lurus nan panjang itu membelah Priangan, melewati wilayah Bandung. Sejak itulah daerah ini punya posisi strategis dalam lalu lintas kolonial.
Belanda kemudian menata Bandung menjadi kota modern. Perencanaan kotanya mengikuti pola Eropa: jalan lurus, blok teratur, dengan bangunan pemerintahan diletakkan di pusat. Bagi Belanda, Bandung cocok dijadikan kota administratif karena udaranya sejuk, tanahnya subur, dan letaknya tidak terlalu jauh dari Batavia.

Pada abad ke-19, Bandung pelan-pelan naik pamor sebagai kota peristirahatan orang Belanda. Udaranya yang dingin dianggap mirip pegunungan Swiss. Tak heran jika banyak pejabat kolonial menjadikan Bandung tempat liburan akhir pekan. Hotel-hotel besar bermunculan, seperti Savoy Homann dan Preanger. Kedai kopi dan kafe ala Eropa mengisi sudut kota, sementara vila-vila mewah berdiri di dataran tinggi sekitarnya.
Bandung juga dikenal dengan gaya arsitektur khas. Pada awal abad ke-20, kota ini berkembang dengan bangunan art deco yang elegan, sebagian masih bertahan hingga sekarang. Arsitek-arsitek Belanda, seperti Wolff Schoemaker, meninggalkan jejak karya yang membuat Bandung dijuluki kota arsitektur.
Pada abad ke-19, Bandung naik pamor jadi kota peristirahatan orang Belanda. Hotel-hotel mewah, taman kota, dan kafe art deco bermunculan. Di sinilah julukan Parijs van Java lahir. Bandung bukan lagi hanya kabupaten di Priangan, tapi juga kota kosmopolitan dengan daya tarik Eropa.
Baca Juga: Warga Bandung Kena Kibul Charlie Chaplin: Si Eon Hollywood dari Loteng Hotel
Tak hanya itu, pemerintah kolonial juga menjadikan Bandung pusat pendidikan dan riset. Lembaga-lembaga ilmiah berdiri, termasuk sekolah teknik yang kelak menjadi ITB. Di sinilah Bandung mulai tampil bukan sekadar kota kabupaten, tapi juga kota ilmu pengetahuan.
Julukan Parijs van Java lahir pada masa itu. Orang Belanda dan kalangan elite pribumi menyebut Bandung sebagai Parisnya Jawa karena suasananya kosmopolit, modis, dan penuh hiburan. Jalan Braga menjadi ikon: butik, toko mode, restoran, dan bioskop berderet, menawarkan gaya hidup modern ala orang-orang Eropa pada masanya.