Sejarah Penyebutan Bandung, dari Danau Purba hingga Bandeng

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Suasana Jalan Asia Afrika (Groote Postweg) Kota Bandung zaman kolonial Belanda. (Sumber: Tropenmuseum)
Suasana Jalan Asia Afrika (Groote Postweg) Kota Bandung zaman kolonial Belanda. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Bandung adalah nama yang melekat di telinga banyak orang: kota besar di Jawa Barat, julukannya Parijs van Java, surganya kuliner dan belanja. Tapi kapan pertama kali nama ini digunakan, tak ada yang tahu pasti. Sejarah menyediakan ragam versi, termasuk yang menyatakan asal-usulnya berakar dari kata “bandeng”. Bagaimana mungkin Bandung lahir dari kata bandeng? Padahal, jelas-jelas kota ini bukan pusat budidaya ikan air payau.

Berdasarkan dokumen resmi Pemerintah Kota Bandung, disebutkan bahwa asal-usul nama Bandung memang multitafsir. Ada versi yang menyebut Bandung berasal dari kata bendung. Versi ini jelas merujuk pada peristiwa ribuan tahun lalu, ketika lahar Tangkubanparahu menyumbat aliran Sungai Citarum di Sanghyang Tikoro. Sungai yang terbendung itu kemudian membentuk danau besar yang dikenal sebagai Danau Bandung.

Danau purba ini tidak main-main. Luasnya menenggelamkan dataran dari Cicalengka sampai Padalarang, dari Soreang hingga Tangkubanparahu. Bayangkan saja, kalau danau ini masih ada, Bandung sekarang barang tentu sudah jadi kota wisata perahu dayung—meskipun di Dayeuhkolot, Gedebage, hingga Palasari kadang jadi arena perahu dayung dadakan sesaat setelah hujan besar melanda.

Dari danau itulah muncul tafsir lain: kata Bandung dihubungkan dengan yang kini lebh dikenal menyerupai jenis ikan: bandeng. Bukan sekadar bandeng, tapi bandeng ngabandeng. Ia tidak merujuk pada jenis hewan air payau yang kini populer disajikan sebagai bandeng presto, melainkan pada istilah lokal yang berarti genangan air luas, tampak tenang, tapi diam-diam menyeramkan. Bisa jadi orang Sunda kala itu menatap air danau yang luas sambil berbisik lirih, “ngabandeng.” Lama-lama keseleo lidah lalu berubah jadi “Bandung”.

Baca Juga: Jejak Sejarah Freemason di Bandung, Loji Sint Jan yang Dilarang Soekarno

Tafsir lain menyebut Bandung berasal dari kata banding atau berdampingan. Topografinya memang cocok: dua dataran besar di barat dan timur Sungai Citarum yang saling menatap dari kejauhan, dipisahkan air. Dari kata itu lahirlah istilah bale bandung untuk dua balai yang berdiri berdampingan, dan parahu bandungan untuk dua perahu yang diikat sejajar agar lebih stabil. Jadi, sebelum jadi nama kota dengan banyak mal dan kafe estetik, Bandung adalah konsep keseimbangan: tentang air, daratan, dan kedekatan.

Peta danau prasejarah Bandung. (Sumber: Museum Geologi)
Peta danau prasejarah Bandung. (Sumber: Museum Geologi)

Dari Danau ke Kerajaan dan Pemberontakan Dipati Ukur

Danau purba Bandung surut perlahan sejak zaman Neolitikum. Ribuan tahun kemudian, daratan mulai muncul dan dihuni manusia. Tercatat dalam Sadjarah Bandung bahwa wilayah ini dulu termasuk Kerajaan Timbanganten, sekitar abad ke-15, dengan pusat pemerintahan di Tegalluar, daerah yang kini terkenal dengan nama Tegal Mantri. Raja Timbanganten, Ujang Euken alias Ujang Talaga, dikenal juga sebagai Bumi Ukur, nama yang kelak melekat sebagai sebutan Tatar Ukur, cikal bakal Priangan.

Kerajaan kecil itu lalu dipimpin oleh Dipati Agung, sebelum digantikan menantunya, Raden Wangsanata alias Dipati Ukur. Nama terakhir ini yang paling melegenda. Pada awal abad ke-17, Dipati Ukur diangkat Sultan Agung Mataram sebagai Bupati Wedana Priangan. Syaratnya berat: ikut menyerang Batavia. Tapi penyerangan Mataram ke Batavia gagal total. Dipati Ukur tahu dirinya bisa kena hukuman. Daripada menunggu dihukum, ia memilih berontak.

Pemberontakan Dipati Ukur berlangsung tiga tahun, dari 1628 sampai 1631. Versi resmi Mataram bilang ia tertangkap dan dihukum mati. Tapi cerita rakyat Priangan lain lagi: katanya yang tertangkap bukan Dipati Ukur, melainkan orang lain yang dikira dirinya. Legenda ini membuat Dipati Ukur tetap hidup dalam cerita rakyat, meskipun dalam dokumen politik ia sudah dianggap habis riwayat.

Baca Juga: Gunung Selacau, Jejak Dipati Ukur dan Letusan Zaman yang Kini Digilas Tambang

Usai pemberontakan, Sultan Agung merapikan Priangan. Wilayahnya dipecah jadi tiga kabupaten: Bandung, Sukapura (sekarang Tasikmalaya), dan Parakamuncang di sekitar Cicalengka. Sejak itulah nama Bandung resmi masuk administrasi Mataram. Bupati pertama Bandung adalah Ki Astamanggala, yang mendapat gelar Tumenggung Wiraangunangun. Tahun pengangkatannya pun jadi bahan perdebatan: ada yang bilang 1633, ada pula yang menghitung 1641.

Yang jelas, sejak saat itu Bandung bukan lagi sekadar istilah air atau legenda danau purba. Bandung sudah masuk birokrasi kerajaan, punya bupati, punya wilayah, dan punya kedudukan politik. Dari fenomena geologi, ia menjelma jadi entitas resmi yang tercatat dalam piagam Mataram.

Bandoeng Tempo Doeloe di Era Kolonial Belanda

Bandung kemudian terus bertahan namanya, bahkan ketika Belanda masuk. Dalam catatan kolonial, ia dieja “Bandoeng.” Awalnya Bandung hanyalah kabupaten pedalaman, tapi keputusannya terletak di jalur vital. Tahun 1809, Gubernur Jenderal Daendels membangun jalan raya pos Anyer–Panarukan. Jalan lurus nan panjang itu membelah Priangan, melewati wilayah Bandung. Sejak itulah daerah ini punya posisi strategis dalam lalu lintas kolonial.

Belanda kemudian menata Bandung menjadi kota modern. Perencanaan kotanya mengikuti pola Eropa: jalan lurus, blok teratur, dengan bangunan pemerintahan diletakkan di pusat. Bagi Belanda, Bandung cocok dijadikan kota administratif karena udaranya sejuk, tanahnya subur, dan letaknya tidak terlalu jauh dari Batavia.

Suasana Groote Postweg Oost di Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)
Suasana Groote Postweg Oost di Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)

Pada abad ke-19, Bandung pelan-pelan naik pamor sebagai kota peristirahatan orang Belanda. Udaranya yang dingin dianggap mirip pegunungan Swiss. Tak heran jika banyak pejabat kolonial menjadikan Bandung tempat liburan akhir pekan. Hotel-hotel besar bermunculan, seperti Savoy Homann dan Preanger. Kedai kopi dan kafe ala Eropa mengisi sudut kota, sementara vila-vila mewah berdiri di dataran tinggi sekitarnya.

Bandung juga dikenal dengan gaya arsitektur khas. Pada awal abad ke-20, kota ini berkembang dengan bangunan art deco yang elegan, sebagian masih bertahan hingga sekarang. Arsitek-arsitek Belanda, seperti Wolff Schoemaker, meninggalkan jejak karya yang membuat Bandung dijuluki kota arsitektur.

Pada abad ke-19, Bandung naik pamor jadi kota peristirahatan orang Belanda. Hotel-hotel mewah, taman kota, dan kafe art deco bermunculan. Di sinilah julukan Parijs van Java lahir. Bandung bukan lagi hanya kabupaten di Priangan, tapi juga kota kosmopolitan dengan daya tarik Eropa.

Baca Juga: Warga Bandung Kena Kibul Charlie Chaplin: Si Eon Hollywood dari Loteng Hotel

Tak hanya itu, pemerintah kolonial juga menjadikan Bandung pusat pendidikan dan riset. Lembaga-lembaga ilmiah berdiri, termasuk sekolah teknik yang kelak menjadi ITB. Di sinilah Bandung mulai tampil bukan sekadar kota kabupaten, tapi juga kota ilmu pengetahuan.

Julukan Parijs van Java lahir pada masa itu. Orang Belanda dan kalangan elite pribumi menyebut Bandung sebagai Parisnya Jawa karena suasananya kosmopolit, modis, dan penuh hiburan. Jalan Braga menjadi ikon: butik, toko mode, restoran, dan bioskop berderet, menawarkan gaya hidup modern ala orang-orang Eropa pada masanya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)