Ketika Data Hiperbolik nan Hoax Malah Disebar Pejabat Jabar

4 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi. (Sumber: Diskominfo Depok)
Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi. (Sumber: Diskominfo Depok)

Publik Jawa Barat dikejutkan unggahan IG Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, yang menyebut hasil survei akan kepuasan pada kinerja Gubernur Kang Dedi Mulyadi/KDM mencapai hampir seratus persen (97,2%).

Klaim ini beredar luas di media sosial, namun segera terbantahkan setelah publik meneliti hasil resmi yang merilis survei: Harian Kompas bagian Litbang.

Data yang ada menunjukkan, angka kepuasan terhadap Gubernur hanya berada di angka 77,9 persen. Selisih hampir dua puluh persen ini bukanlah hal sepele. Ia sudah menyesatkan masyarakat dan menurunkan kredibilitas pemerintah provinsi.

Dalam komunikasi publik, akurasi adalah fondasi. Apa pun motif di balik klaim yang dilebih lebihkan, baik itu untuk menunjukkan loyalitas, menyenangkan atasan, atau sekadar ingin dipuji, hasil akhirnya sama, yaitu melemahkan kepercayaan publik.

Komunikasi pemimpin tidak bisa diperlakukan seperti jargon iklan. Setiap kata memiliki dampak pada legitimasi kebijakan dan stabilitas sosial. Ketika publik mendapati adanya perbedaan antara data resmi dan klaim pejabat, muncul rasa curiga yang justru merusak kepercayaan yang susah payah dibangun. Sejarah komunikasi politik Indonesia memberi banyak pelajaran.

Di masa Orde Baru, misalnya, narasi pembangunan selalu dibungkus angka keberhasilan yang mendekati sempurna. Namun di balik klaim yang bombastis, masyarakat menemukan kenyataan yang jauh berbeda.

Hasilnya, masyarakat menjadi apatis terhadap setiap informasi resmi. Apatisme inilah yang berbahaya, karena publik akhirnya berhenti percaya pada pemerintah, bahkan ketika informasi yang disampaikan benar adanya.

Hari ini, pola serupa berisiko berulang di Jawa Barat. Klaim bahwa seorang gubernur mendapatkan dukungan hampir seratus persen bisa memicu dua hal.

Pertama, memunculkan euforia berlebihan yang membuat birokrasi kehilangan sikap kritis.

Kedua, menciptakan jurang antara pemerintah dan rakyat karena publik merasa diremehkan oleh informasi yang tidak sesuai kenyataan.

Jika kondisi ini terus berlangsung, yang muncul adalah politik ilusi. Pemimpin lebih sibuk menjaga pencitraan ketimbang menghadirkan kinerja nyata. Literatur akademik pun menegaskan bahaya komunikasi politik yang tidak jujur.

Lasser dan kolega (2022) dalam From alternative conceptions of honesty to alternative facts in communications by U.S. politicians menunjukkan, ketika pemimpin mengganti kebenaran dengan klaim subjektif, kualitas demokrasi merosot. Masyarakat kehilangan pegangan pada fakta dan justru hidup dalam kabut ilusi.

Studi tersebut memperingatkan bahwa kejujuran bukan sekadar moral pribadi, tetapi fondasi dari keberlangsungan komunikasi publik yang sehat. Dalam konteks Jawa Barat, kita harus belajar dari kasus ini.

Masyarakat Jawa Barat sejatinya masyarakat yang kritis, terbiasa dengan tradisi diskusi, musyawarah, dan partisipasi aktif. Mereka tidak mudah dibohongi oleh angka yang dipelintir. Justru, mereka menuntut keterbukaan dan kehati hatian dalam komunikasi.

Tidak Turunkan Wibawa

Gubernur Jawa Barat, Deddy Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan KDM. (Sumber: setda.bogorkab.go.id)
Gubernur Jawa Barat, Deddy Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan KDM. (Sumber: setda.bogorkab.go.id)

Mengatakan angka sebenarnya, yaitu 77,9 persen, tidak akan menurunkan wibawa pemimpin. Sebaliknya, itu justru menunjukkan kedewasaan, kerendahan hati, dan komitmen terhadap kebenaran.

Fenomena klaim “nyaris seratus persen” adalah contoh klasik dari komunikasi yang terjebak fanatisme. Loyalitas kepada pemimpin seharusnya tidak ditunjukkan dengan memanipulasi angka, tetapi dengan bekerja sungguh sungguh memastikan program berjalan sesuai kebutuhan rakyat.

Fanatisme hanya menghasilkan kebohongan yang menutup mata terhadap kritik. Padahal kritik adalah bagian penting dari demokrasi. Pemimpin seharusnya menjaga gaya komunikasi yang moderat, tidak hiperbola, dan selalu berbasis data. Moderasi ini penting agar ruang publik tetap sehat.

Ketika pemimpin mulai terbiasa berlebihan, bawahan pun akan meniru gaya itu. Akhirnya, birokrasi berubah menjadi arena lomba pencitraan. Yang dikejar bukan lagi capaian nyata, melainkan narasi manis yang jauh dari kenyataan.

Kita tentu tidak ingin Jawa Barat jatuh dalam jebakan politik pencitraan. Provinsi dengan sejarah panjang gerakan masyarakat sipil ini layak memiliki gaya kepemimpinan yang terbuka dan jujur.

Gubernur dan pejabat publik harus menyadari bahwa setiap kata yang mereka ucapkan bukan sekadar retorika, melainkan pesan yang membentuk persepsi jutaan orang. Sekali terjebak pada kebiasaan menyampaikan informasi yang tidak akurat, sangat sulit mengembalikan kepercayaan yang hilang.

Lebih baik seorang pemimpin memilih diam namun bekerja, daripada sibuk berwacana tetapi meleset dari realisasi.

Lebih baik mengumumkan data apa adanya, daripada mengganti angka dengan klaim semu demi pujian sesaat. Diam yang penuh kerja nyata akan lebih dihargai rakyat dibanding retorika yang memabukkan. Ungkapan klasik “diam itu emas” menemukan relevansinya di sini. Ke depan, komunikasi publik di Jawa Barat harus diarahkan pada tiga hal utama.

Pertama, menjaga akurasi data yang disampaikan ke publik, sehingga setiap informasi dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, membangun budaya moderasi dalam tutur kata pejabat publik, agar narasi yang muncul tidak menciptakan ekspektasi palsu.

Ketiga, mengendalikan fanatisme politik yang sering membuat pejabat terjebak pada kebutuhan untuk selalu memuji atasan. Jika tiga hal ini dijaga, maka komunikasi publik Jawa Barat akan menjadi contoh bagi daerah lain.

Pada akhirnya, masyarakat tidak menuntut angka sempurna. Mereka hanya menuntut kejujuran. Klaim “hampir seratus persen” bukanlah kemenangan, melainkan kekalahan moral dalam komunikasi publik.

Pemimpin Jawa Barat akan lebih dihormati jika mampu berkata jujur, berpikir moderat, dan menolak terjebak dalam ilusi pencitraan. Semoga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)