Ada satu jenis oleh-oleh dari Bandung yang tidak perlu branding mewah, tidak perlu logo kekinian, dan tidak butuh slogan berbahasa Inggris. Ia cukup dibungkus daun jagung kering, diikat tali sederhana, dan sudah bisa bikin siapa pun jatuh cinta. Namanya: wajit Cililin.
Kalau kamu pernah main ke Bandung Barat, terutama ke daerah Cililin, pasti paham kenapa makanan ini disebut warisan manis yang tak lekang oleh waktu. Rasanya legit, aromanya khas, dan teksturnya… ah, jangan ditanya. Lengketnya bisa bikin kamu berpikir dua kali sebelum makan di depan gebetan. Tapi justru di situ letak pesonanya — wajit itu seperti kenangan Bandung: sederhana, manis, dan susah lepas.
Wajit Cililin Penebar rasa Rindu
Saya masih ingat betul, dulu waktu kuliah di UIN SGD Bandung, wajit ini sering jadi oleh-oleh wajib kalau mau pulang ke Garut. Setiap kali naik bus dari Cicaheum atau Leuwi Panjang, selalu ada ibu-ibu dengan logat Sunda halus menawarkan,
“Wajit Cililin-nya, Kang… asli ti kampungna ieu!”
Saya yang waktu itu masih mahasiswa kere tapi sok loyal pada ekonomi lokal, tentu nggak bisa nolak. Kadang beli dua bungkus, satu buat emak, satu lagi buat ngemil di jalan. Tapi kadang, belum sampai Nagrek pun, wajitnya sudah habis. Begitulah hidup mahasiswa rantau — niatnya berbagi, ujungnya egois karena lapar. Beuteung buburukbukan!
Dulu saya kira wajit itu cuma permen jadul. Tapi setelah ngobrol sama warga Cililin waktu main ke sana, saya baru tahu: proses pembuatannya luar biasa ribet. Bayangkan, beras ketan harus disangrai dulu, lalu ditumbuk, dicampur dengan gula merah cair dan santan. Semua diaduk perlahan di kuali besar selama berjam-jam, dengan api kayu bakar yang tak boleh terlalu besar. Katanya, kalau apinya kebesaran, wajitnya bisa gosong. Kalau terlalu kecil, bisa gagal mengikat manisnya.
Waktu saya dengar penjelasan itu, saya jadi mikir: hidup juga kayak bikin wajit, ya. Kalau buru-buru, bisa gosong. Tapi kalau kebanyakan nunggu, bisa basi.
Cililin sendiri bukan kota besar. Tapi dari sanalah datang manis yang menyebar ke seluruh Jawa Barat. Katanya, sejak dulu wajit sudah jadi camilan para menak Sunda. Sekarang, jadi buah tangan wajib wisatawan yang rindu cita rasa kampung halaman.
Suatu hari di kantor Jakarta, saya bawa sekotak wajit Cililin. Teman saya, orang Betawi yang doyan kuliner, langsung penasaran.
“Bro, ini makanan apa? Bentuknya kayak dodol, tapi kok kering di luar, lembek di dalam?”
Saya jawab, “Itu wajit, bro. Kalau dodol itu kayak mantan yang licin, wajit tuh kayak cinta sejati — lengket tapi tahan lama.”
Kami tertawa. Tapi setelah gigitan pertama, dia langsung bilang, “Wah, ini enak banget. Ada gurih santannya, manisnya nggak nyelekit.”
Saya cuma tersenyum bangga, seperti warga Bandung yang diam-diam merasa produk lokalnya menang melawan brownies instan ibukota.

Kadang saya berpikir, mungkin Bandung memang diciptakan untuk hal-hal manis. Dari udara paginya yang sejuk, senja di Dago yang romantis, sampai wajit Cililin yang selalu hadir di pinggir jalan, dijual di bungkus sederhana, tapi punya rasa yang tulus. Bandung itu kota yang tahu cara merayu tanpa banyak bicara — cukup lewat makanan.
Dan setiap kali saya makan wajit, saya seperti pulang. Ada rasa nostalgia yang perlahan muncul: suara motor di tanjakan Lembang, aroma hujan di Cihampelas, dan tawa teman-teman kampus di warung kopi belakang fakultas. Semua seperti larut di manisnya gula merah dan lembutnya ketan.
Belajar Hidup dari Wajit Cililin
Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menyambangi Bandung untuk melepas rindu. Dari Jakarta, saya menempuh perjalanan pagi-pagi buta, berharap udara Bandung masWih seperti dulu. Di perjalanan pulang, saya sengaja melipir ke arah Cililin. Jalanan menanjak, kabut tipis menggantung, dan di tepi jalan terlihat ibu-ibu sedang menjemur daun jagung kering — bahan pembungkus wajit.
Saya berhenti dan menyapa salah satu di antara mereka.
“Ibu, masih bikin wajit asli sini?”
Dia tersenyum, mengangguk. “Tangtos, Jang. Tapi ayeuna tos saeutik nu ngadamel. Barudak ayeuna mah resepna ciki jeung wafer.”
Saya tertawa kecil, tapi di dalam hati agak sedih. Betapa cepat waktu berjalan, dan betapa mudah hal-hal sederhana tergantikan oleh yang instan.
Ibu itu lalu memberikan saya beberapa bungkus wajit hangat. Aromanya langsung menampar kenangan. Di balik kesederhanaan bentuknya, saya bisa mencium cinta dan kesabaran. Wajit Cililin bukan sekadar camilan — ia adalah simbol ketulusan, kerja keras, dan kehangatan kampung.
Di Jakarta, wajit itu kini saya simpan di laci meja kerja. Bukan untuk dimakan tiap hari, tapi untuk diingat. Setiap kali saya merasa penat dengan ritme kota yang serba cepat, saya ambil sepotong, kunyah perlahan, dan biarkan manisnya mengalir seperti waktu yang melambat. Mungkin hidup memang perlu sedikit “wajit”: sesuatu yang lengket, manis, dan sederhana. Sesuatu yang bikin kita ingat bahwa tidak semua yang enak harus instan, dan tidak semua yang sederhana harus diremehkan.
“Karena dari wajit, saya banyak belajar satu hal penting — bahwa yang manis itu bukan cuma soal rasa, tapi soal kenangan yang nggak mau pergi.” (*)
