Wajit Cililin: Si Manis dari Bandung yang Semburatkan Rasa Rindu

4 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Wajit Cililin. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Onyaso)
Wajit Cililin. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Onyaso)

Ada satu jenis oleh-oleh dari Bandung yang tidak perlu branding mewah, tidak perlu logo kekinian, dan tidak butuh slogan berbahasa Inggris. Ia cukup dibungkus daun jagung kering, diikat tali sederhana, dan sudah bisa bikin siapa pun jatuh cinta. Namanya: wajit Cililin.

Kalau kamu pernah main ke Bandung Barat, terutama ke daerah Cililin, pasti paham kenapa makanan ini disebut warisan manis yang tak lekang oleh waktu. Rasanya legit, aromanya khas, dan teksturnya… ah, jangan ditanya. Lengketnya bisa bikin kamu berpikir dua kali sebelum makan di depan gebetan. Tapi justru di situ letak pesonanya — wajit itu seperti kenangan Bandung: sederhana, manis, dan susah lepas.

Wajit Cililin Penebar rasa Rindu

Saya masih ingat betul, dulu waktu kuliah di UIN SGD Bandung, wajit ini sering jadi oleh-oleh wajib kalau mau pulang ke Garut. Setiap kali naik bus dari Cicaheum atau Leuwi Panjang, selalu ada ibu-ibu dengan logat Sunda halus menawarkan,

“Wajit Cililin-nya, Kang… asli ti kampungna ieu!”

Saya yang waktu itu masih mahasiswa kere tapi sok loyal pada ekonomi lokal, tentu nggak bisa nolak. Kadang beli dua bungkus, satu buat emak, satu lagi buat ngemil di jalan. Tapi kadang, belum sampai Nagrek pun, wajitnya sudah habis. Begitulah hidup mahasiswa rantau — niatnya berbagi, ujungnya egois karena lapar. Beuteung buburukbukan!

Dulu saya kira wajit itu cuma permen jadul. Tapi setelah ngobrol sama warga Cililin waktu main ke sana, saya baru tahu: proses pembuatannya luar biasa ribet. Bayangkan, beras ketan harus disangrai dulu, lalu ditumbuk, dicampur dengan gula merah cair dan santan. Semua diaduk perlahan di kuali besar selama berjam-jam, dengan api kayu bakar yang tak boleh terlalu besar. Katanya, kalau apinya kebesaran, wajitnya bisa gosong. Kalau terlalu kecil, bisa gagal mengikat manisnya.

Waktu saya dengar penjelasan itu, saya jadi mikir: hidup juga kayak bikin wajit, ya. Kalau buru-buru, bisa gosong. Tapi kalau kebanyakan nunggu, bisa basi.

Cililin sendiri bukan kota besar. Tapi dari sanalah datang manis yang menyebar ke seluruh Jawa Barat. Katanya, sejak dulu wajit sudah jadi camilan para menak Sunda. Sekarang, jadi buah tangan wajib wisatawan yang rindu cita rasa kampung halaman.

Suatu hari di kantor Jakarta, saya bawa sekotak wajit Cililin. Teman saya, orang Betawi yang doyan kuliner, langsung penasaran.

“Bro, ini makanan apa? Bentuknya kayak dodol, tapi kok kering di luar, lembek di dalam?”

Saya jawab, “Itu wajit, bro. Kalau dodol itu kayak mantan yang licin, wajit tuh kayak cinta sejati — lengket tapi tahan lama.”

Kami tertawa. Tapi setelah gigitan pertama, dia langsung bilang, “Wah, ini enak banget. Ada gurih santannya, manisnya nggak nyelekit.”

Saya cuma tersenyum bangga, seperti warga Bandung yang diam-diam merasa produk lokalnya menang melawan brownies instan ibukota.

Wajit Cililin. (Sumber: Freepik)
Wajit Cililin. (Sumber: Freepik)

Kadang saya berpikir, mungkin Bandung memang diciptakan untuk hal-hal manis. Dari udara paginya yang sejuk, senja di Dago yang romantis, sampai wajit Cililin yang selalu hadir di pinggir jalan, dijual di bungkus sederhana, tapi punya rasa yang tulus. Bandung itu kota yang tahu cara merayu tanpa banyak bicara — cukup lewat makanan.

Dan setiap kali saya makan wajit, saya seperti pulang. Ada rasa nostalgia yang perlahan muncul: suara motor di tanjakan Lembang, aroma hujan di Cihampelas, dan tawa teman-teman kampus di warung kopi belakang fakultas. Semua seperti larut di manisnya gula merah dan lembutnya ketan.

Belajar Hidup dari Wajit Cililin

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menyambangi Bandung untuk melepas rindu. Dari Jakarta, saya menempuh perjalanan pagi-pagi buta, berharap udara Bandung masWih seperti dulu. Di perjalanan pulang, saya sengaja melipir ke arah Cililin. Jalanan menanjak, kabut tipis menggantung, dan di tepi jalan terlihat ibu-ibu sedang menjemur daun jagung kering — bahan pembungkus wajit.

Saya berhenti dan menyapa salah satu di antara mereka.

“Ibu, masih bikin wajit asli sini?”

Dia tersenyum, mengangguk. “Tangtos, Jang. Tapi ayeuna tos saeutik nu ngadamel. Barudak ayeuna mah resepna ciki jeung wafer.”

Saya tertawa kecil, tapi di dalam hati agak sedih. Betapa cepat waktu berjalan, dan betapa mudah hal-hal sederhana tergantikan oleh yang instan.

Ibu itu lalu memberikan saya beberapa bungkus wajit hangat. Aromanya langsung menampar kenangan. Di balik kesederhanaan bentuknya, saya bisa mencium cinta dan kesabaran. Wajit Cililin bukan sekadar camilan — ia adalah simbol ketulusan, kerja keras, dan kehangatan kampung.

Di Jakarta, wajit itu kini saya simpan di laci meja kerja. Bukan untuk dimakan tiap hari, tapi untuk diingat. Setiap kali saya merasa penat dengan ritme kota yang serba cepat, saya ambil sepotong, kunyah perlahan, dan biarkan manisnya mengalir seperti waktu yang melambat. Mungkin hidup memang perlu sedikit “wajit”: sesuatu yang lengket, manis, dan sederhana. Sesuatu yang bikin kita ingat bahwa tidak semua yang enak harus instan, dan tidak semua yang sederhana harus diremehkan.

“Karena dari wajit, saya banyak belajar satu hal penting — bahwa yang manis itu bukan cuma soal rasa, tapi soal kenangan yang nggak mau pergi.” (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)