Wajit Cililin: Si Manis dari Bandung yang Semburatkan Rasa Rindu

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Rabu 26 Nov 2025, 20:23 WIB
Wajit Cililin. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Onyaso)

Wajit Cililin. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Onyaso)

Ada satu jenis oleh-oleh dari Bandung yang tidak perlu branding mewah, tidak perlu logo kekinian, dan tidak butuh slogan berbahasa Inggris. Ia cukup dibungkus daun jagung kering, diikat tali sederhana, dan sudah bisa bikin siapa pun jatuh cinta. Namanya: wajit Cililin.

Kalau kamu pernah main ke Bandung Barat, terutama ke daerah Cililin, pasti paham kenapa makanan ini disebut warisan manis yang tak lekang oleh waktu. Rasanya legit, aromanya khas, dan teksturnya… ah, jangan ditanya. Lengketnya bisa bikin kamu berpikir dua kali sebelum makan di depan gebetan. Tapi justru di situ letak pesonanya — wajit itu seperti kenangan Bandung: sederhana, manis, dan susah lepas.

Wajit Cililin Penebar rasa Rindu

Saya masih ingat betul, dulu waktu kuliah di UIN SGD Bandung, wajit ini sering jadi oleh-oleh wajib kalau mau pulang ke Garut. Setiap kali naik bus dari Cicaheum atau Leuwi Panjang, selalu ada ibu-ibu dengan logat Sunda halus menawarkan,

“Wajit Cililin-nya, Kang… asli ti kampungna ieu!”

Saya yang waktu itu masih mahasiswa kere tapi sok loyal pada ekonomi lokal, tentu nggak bisa nolak. Kadang beli dua bungkus, satu buat emak, satu lagi buat ngemil di jalan. Tapi kadang, belum sampai Nagrek pun, wajitnya sudah habis. Begitulah hidup mahasiswa rantau — niatnya berbagi, ujungnya egois karena lapar. Beuteung buburukbukan!

Dulu saya kira wajit itu cuma permen jadul. Tapi setelah ngobrol sama warga Cililin waktu main ke sana, saya baru tahu: proses pembuatannya luar biasa ribet. Bayangkan, beras ketan harus disangrai dulu, lalu ditumbuk, dicampur dengan gula merah cair dan santan. Semua diaduk perlahan di kuali besar selama berjam-jam, dengan api kayu bakar yang tak boleh terlalu besar. Katanya, kalau apinya kebesaran, wajitnya bisa gosong. Kalau terlalu kecil, bisa gagal mengikat manisnya.

Waktu saya dengar penjelasan itu, saya jadi mikir: hidup juga kayak bikin wajit, ya. Kalau buru-buru, bisa gosong. Tapi kalau kebanyakan nunggu, bisa basi.

Cililin sendiri bukan kota besar. Tapi dari sanalah datang manis yang menyebar ke seluruh Jawa Barat. Katanya, sejak dulu wajit sudah jadi camilan para menak Sunda. Sekarang, jadi buah tangan wajib wisatawan yang rindu cita rasa kampung halaman.

Suatu hari di kantor Jakarta, saya bawa sekotak wajit Cililin. Teman saya, orang Betawi yang doyan kuliner, langsung penasaran.

“Bro, ini makanan apa? Bentuknya kayak dodol, tapi kok kering di luar, lembek di dalam?”

Saya jawab, “Itu wajit, bro. Kalau dodol itu kayak mantan yang licin, wajit tuh kayak cinta sejati — lengket tapi tahan lama.”

Kami tertawa. Tapi setelah gigitan pertama, dia langsung bilang, “Wah, ini enak banget. Ada gurih santannya, manisnya nggak nyelekit.”

Saya cuma tersenyum bangga, seperti warga Bandung yang diam-diam merasa produk lokalnya menang melawan brownies instan ibukota.

Wajit Cililin. (Sumber: Freepik)
Wajit Cililin. (Sumber: Freepik)

Kadang saya berpikir, mungkin Bandung memang diciptakan untuk hal-hal manis. Dari udara paginya yang sejuk, senja di Dago yang romantis, sampai wajit Cililin yang selalu hadir di pinggir jalan, dijual di bungkus sederhana, tapi punya rasa yang tulus. Bandung itu kota yang tahu cara merayu tanpa banyak bicara — cukup lewat makanan.

Dan setiap kali saya makan wajit, saya seperti pulang. Ada rasa nostalgia yang perlahan muncul: suara motor di tanjakan Lembang, aroma hujan di Cihampelas, dan tawa teman-teman kampus di warung kopi belakang fakultas. Semua seperti larut di manisnya gula merah dan lembutnya ketan.

Belajar Hidup dari Wajit Cililin

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menyambangi Bandung untuk melepas rindu. Dari Jakarta, saya menempuh perjalanan pagi-pagi buta, berharap udara Bandung masWih seperti dulu. Di perjalanan pulang, saya sengaja melipir ke arah Cililin. Jalanan menanjak, kabut tipis menggantung, dan di tepi jalan terlihat ibu-ibu sedang menjemur daun jagung kering — bahan pembungkus wajit.

Saya berhenti dan menyapa salah satu di antara mereka.

“Ibu, masih bikin wajit asli sini?”

Dia tersenyum, mengangguk. “Tangtos, Jang. Tapi ayeuna tos saeutik nu ngadamel. Barudak ayeuna mah resepna ciki jeung wafer.”

Saya tertawa kecil, tapi di dalam hati agak sedih. Betapa cepat waktu berjalan, dan betapa mudah hal-hal sederhana tergantikan oleh yang instan.

Ibu itu lalu memberikan saya beberapa bungkus wajit hangat. Aromanya langsung menampar kenangan. Di balik kesederhanaan bentuknya, saya bisa mencium cinta dan kesabaran. Wajit Cililin bukan sekadar camilan — ia adalah simbol ketulusan, kerja keras, dan kehangatan kampung.

Di Jakarta, wajit itu kini saya simpan di laci meja kerja. Bukan untuk dimakan tiap hari, tapi untuk diingat. Setiap kali saya merasa penat dengan ritme kota yang serba cepat, saya ambil sepotong, kunyah perlahan, dan biarkan manisnya mengalir seperti waktu yang melambat. Mungkin hidup memang perlu sedikit “wajit”: sesuatu yang lengket, manis, dan sederhana. Sesuatu yang bikin kita ingat bahwa tidak semua yang enak harus instan, dan tidak semua yang sederhana harus diremehkan.

“Karena dari wajit, saya banyak belajar satu hal penting — bahwa yang manis itu bukan cuma soal rasa, tapi soal kenangan yang nggak mau pergi.” (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Beranda 03 Mar 2026, 12:29

Lahir dari Kegelisahan Warga, @infobdgbaratcimahi Menjadi Ruang Solidaritas Digital

Ia membagikan cerita seorang penjual es keliling di akun Instagram pribadinya, dengan harapan sederhana—dagangan si penjual bisa lebih laris.

Tampilan konten @infobdgbaratcimahi. (Sumber: @infobdgbaratcimahi)
Beranda 03 Mar 2026, 10:40

1.500 Ton Sampah Sehari: Kota Bandung Butuh Aksi Nyata Warganya Sekarang Juga

Sebab jika produksi sampah terus berada di angka 1.500 ton per hari sementara yang mampu dikelola optimal baru sekitar 40 ton, maka persoalan ini bukan hanya milik pemerintah.

Jumlah keseluruhan sampah dari berbagai TPA di Kota Bandung mencapai 1.496 ton setiap hari atau setara 262 rit pengangkutan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 03 Mar 2026, 08:03

Ai Takeshita Menemukan Persahabatan Lintas Budaya di Bandung 

Kali ini ada tamu dari Jepang, Ai Takeshita, akademisi yang selama bertahun-tahun meneliti seni dan budaya Indonesia.

Obrolan hangat bersama Ai Takeshita di lobi Hotel Savoy Homann, Bandung. Percakapan lintas budaya mengalir santai menjelang waktu berbuka puasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 19:56

Mudik kepada 'Basa Lemes'

Perubahan gaya bahasa ini bukan sekadar soal kosakata, melainkan perubahan kerangka relasi sosial.

Ilustrasi mudik. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 02 Mar 2026, 17:43

Rahasia Bacang Jando Anne Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Bahan Baku

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau.

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 16:07

Pentas Buku Foto 2026 Ngabuburit Sambil Menyelami Narasi Visual di Red Raws Center

Di tempat yang dikenal sebagai ruang pertemuan para pegiat seni, buku, dan barang antik ini, digelar Pentas Buku Foto 2026.

Suasana pengunjung pada pameran Pentas Buku Foto 2026. Kegiatan ini banyak menarik minat generasi muda yang datang untuk melihat, membaca, dan berdiskusi seputar buku foto. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 02 Mar 2026, 14:47

Wali Kota Bandung Ultimatum PT BII Bereskan Proyek Galian Jalanan Kota Bandung Sebelum 5 Maret

Proyek galian ducting atau kabel bawah tanah belakangan menjadi sorotan karena dinilai memicu kemacetan hingga kecelakaan di sejumlah titik jalan.

Wali kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 14:31

Syawal dan Arus Kehidupan Baru: Perkotaan Indonesia di Uji Zaman

Syawal menjadi fase transisi perkotaan Indonesia. Pasca-Lebaran, migrasi musiman, perubahan konsumsi, dan tekanan ekonomi global menguji ketahanan sosial-ekonomi kota.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 13:15

Mencari Hening di Tengah Ramadhan

“Melalui api itu akan membakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam jalan dan cita-citamu.” - Jalaluddin Rumi

Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 11:31

Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

Bila di Surabaya menghadirkan skala besar, puluhan ribu warga menerima zakat, Bandung menghadirkan kedekatan menjadi ruang (pertemuan) kecil yang mempersatukan beragam manusia dalam satu saf berbuka.

Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 09:19

Drama Spiritual Ramadan di Pasar Dadakan: Cingunguk pun Serupa Kurma Premium yang Terbang!

Hari ketiga berpuasa? Kepala pening, penglihatan ganda, dan semua benda kecil cokelat mendadak terlihat seperti kurma premium impor Madinah.

Ilustrasi Pasar dadakan puasa Ramadan (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 18:12

Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan: Tema Ayo Netizen Maret 2026

Maret 2026 ini adalah salah satu bulan paling dinamis dalam kalender sosial, tradisi, dan ekonomi warga Bandung Raya.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 16:34

Dua Cara Pandang Menempatkan Ramadan, Antara Penumpang dan Pengemudi

Ramadan hadir setiap tahun dengan rangkaian ibadah yang terstruktur—shaum, tarawih, tilawah, zakat, hingga i'tikaf.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Mar 2026, 15:08

Dari Sisa Stok Menjadi Signature, Begini Perjuangan Derry Kustiadihardjo Membangun Imperium Kopi Makmur Jaya

Makmur Jaya Coffee & Roastery adalah cermin dari wajah UMKM Indonesia yang tangguh, adaptif terhadap teknologi, berani berinovasi di tengah himpitan, dan memiliki integritas terhadap kualitas.

Pemilik Makmur Jaya Coffee & Roastery, Derry Kustiadihardjo. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 13:33

Kamus Gaul Ramadan: 10 Akronim Sosial yang Populer Saat Ini

Akronim sosial paling populer di bulan suci, plus beberapa kata lokal yang mungkin belum pernah kamu dengar.

Ilustrasi anak pesantren. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Adil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 09:28

Antara Kurma dan Bala-Bala

Berbuka dengan kurma itu sunah, tapi berbuka dengan bala-bala itu wajib.

kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 28 Feb 2026, 07:56

Di Mata Pengendara Ojol, Jalanan Kota Bandung Bukan Sekadar Aspal, Tapi Taruhan Keselamatan

Di sisi lain, aspal yang mengelupas, lubang menganga, tambalan tak rata, hingga penerangan jalan yang redup menjadi bagian dari keseharian para pengemudi roda dua.

Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 27 Feb 2026, 18:09

12 Tahun Menjaga Rasa, Kisah Jatuh Bangun Reza Firmanda Membesarkan Ayam-Ayaman

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan.

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. (Sumber: instagram.com/ayamayamanbdg)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 17:12

13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan

Berikut 15 abreviasi (baik itu singkatan ataupun akronim) yang paling sering muncul sepanjang bulan suci

Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Bandung 27 Feb 2026, 15:21

Melompati Sekat Tradisional, Ambisi Besar UMKM Kuliner Bandung Mengejar Kasta 'Naik Kelas' Lewat Revolusi 5 Menit

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital.

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)