Pintu Rumah yang Tidak Pernah Tertutup

4 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
Ilustrasi rumah di dekat lingkungan pesantren. (Sumber: Ilustrasi AI)
Ilustrasi rumah di dekat lingkungan pesantren. (Sumber: Ilustrasi AI)

Di sebuah desa yang bernama Desa Jambatan yang letaknya di pinggir jalan raya Margahayu - Soreang, berdiri sebuah masjid sederhana. Di sebelah masjid ada lahan kosong yang sudah terpasang tiang beton di tiap sudutnya, untuk perluasan masjid dan pondok pesantren. Kobong atau asrama yang dibangun dari kayu sudah berdiri bersatu dengan rumah Ustadz Nundang sebagai pimpinan pondok pesantren tersebut. Masjid dan Pondok Pesantren Al Anshor berdiri di lingkungan warga dengan berbagai latar belakang dan suku. Tidak jauh dari sana, di antara rumah rumah warga ada sebuah rumah yang pintunya seakan tidak pernah tertutup. Rumah itu milik seorang bapak yang biasa dipanggil oleh warga dan santri, Pak Katenen.

Pak Katenen seorang ASN yang bertugas di bagian Bimbingan Mental di TNI AU Lanud Sulaiman. Pembawaannya tenang, ramah dan selalu menyapa kepada setiap orang yang ditemui. Tidak pernah memanggil nama langsung tapi selalu diawali dengan kata "mas" atau "dik"... "Dik Kurnia gimana kabarnya?" Begitulah sapaan beliau kepada saya, sejak dulu jadi santri hingga sudah berkeluarga jika bertemu. Ia bukan hanya dihormati oleh kolega, tetapi juga oleh masyarakat dan santri santri yang menimba ilmu di pondok yang ikut ia dukung sejak masa perintisannya, ketika Ustadz Nundang baru saja memulai langkah pertama membangun majlis ta'lim dan pesantren sederhana itu.

Pak Katenen memiliki 6 anak laki laki, semua anaknya pernah mengaji dan jadi santri di Pondok Pesantren Al Anshor. Merekalah yang suka mengajak santri untuk bermain di rumahnya.Tidak pernah ada jadwal kunjungan, tidak ada ketukan, tidak ada formalitas. Pintu rumah Pak Katenen terbuka dua puluh empat jam. Jika malam minggu tiba, selepas mengaji kitab kuning—nahwu, shorof, safinah atau nashoibul 'ibad—suasana rumah itu menjadi seperti pos istirahat bagi para pejuang kecil ilmu.

Anak-anak santri datang dengan sandal yang berjejer sembarangan di teras. Mereka duduk di ruang depan, menonton televisi, tertawa kecil, sesekali mengantuk karena kelelahan. Televisi sederhana itu seakan menjadi hiburan paling berharga setelah bergelut dengan ilmu seharian.

Terkadang, satu dua santri sudah tidak kuat menahan kantuk. Mereka tertidur begitu saja di depan televisi, tergeletak dengan sarung masih melilit, hingga lampu subuh menyala. Pak Katenen atau istrinya tidak pernah menyuruh pulang.

“Kalau capek, ya tidur saja,” demikian prinsip tak tertulis di rumah itu.

Kadang, mereka dibangunkan pelan menjelang subuh—agar bisa kembali ke pesantren dan mengikuti jamaah. Namun tak jarang juga ada santri yang tidak terdeteksi, masih terpejam di sudut ruang, baru terbangun ketika aktivitas keluarga dimulai dan aroma pagi menyeruak dari dapur.

Lentera dengan karya seni Islam. (Sumber: Pexels/Ahmed Aqtai)
Lentera dengan karya seni Islam. (Sumber: Pexels/Ahmed Aqtai)

Di sela tawa anak-anak santri menonton televisi, Pak Katenen sering menyelipkan nasihat kehidupan. Bukan dalam bentuk ceramah panjang—melainkan percakapan pendek yang tenangnya meresap seperti air yang pelan merembes ke tanah.

“Hidup itu bukan soal siapa paling hebat, Nak.”

“Yang penting siapa yang paling bermanfaat.”

Anak-anak mendengarkan dengan kagum, meski kadang sambil mengunyah gorengan atau meneguk air dingin dari dapur. Di rumah itu, makanan tidak pernah diperhitungkan. Apa saja yang ada di meja makan, boleh dinikmati. Minum tinggal ambil sendiri ke belakang. Suasana begitu sederhana namun terasa mewah oleh kehangatan.

Kini, tiga puluh lima tahun telah berlalu. Waktu bergerak seperti kuda yang tidak memberi jeda. Anak-anak santri itu kini sudah menjadi ayah, bahkan beberapa sudah menggendong cucu. Rumah Pak Katenen masih berdiri, namun ada satu hal yang jauh berbeda.

Pak Katenen, yang dulu gagah berdiri dan berjalan tegap, semakin kurus dan melemah. Beberapa tahun terakhir, ia mulai sakit-sakitan. Untuk berjalan saja harus dipapah. Namun, jika di pondok ada kegiatan tabligh akbar, ia tetap hadir—meski harus duduk di kursi sementara jamaah lain duduk di lantai berkarpet.

Karena bagi beliau, mengabdi tidak boleh menunggu tubuh kuat.

Mengabdi adalah napas kehidupan itu sendiri.

Beberapa hari lalu, kabar itu datang seperti ketukan pelan di pintu hati. Pak Katenen harus dirawat di ruang emergency. Beberapa hari kemudian, tanggal 21 November tepat pukul 00.47 di Kamis malam, beliau dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa.

Tangis pecah tidak hanya di keluarga, tetapi juga di hati para santri yang pernah numpang tidur, pernah diajak makan, pernah dinasihati, pernah dianggap sebagai anak sendiri.

Kami—yang dulu bermain di ruang depan rumah itu—menunduk dalam diam, merasakan kehilangan yang menyayat. Kami juga teringat Ibu Katenen, perempuan baik yang senyumnya selalu menenangkan.

Baca Juga: Sosok yang Menyemai Harapan Hijau di Padatnya Kota Bandung

Rumah itu mungkin kini lebih sepi. Tidak ada anak santri yang tertidur di depan televisi. Tidak ada sandal berjejal di teras. Tidak ada suara lembut Pak Katenen sambil menatap penuh kasih.

Namun bagi kami, pintu rumah itu tidak pernah benar-benar tertutup.

Kenangan tentangnya akan terus kami bawa hingga akhir hayat kami. Seperti pelita kecil di dada, yang menyala untuk mengingatkan:

Bahwa kebaikan sederhana, yang dilakukan tanpa pamrih, tidak akan pernah hilang—bahkan setelah pemiliknya pulang untuk selamanya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 11:09

Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi.

Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 08:00

Ci Manuk, Sungai Suci Penuh Do’a untuk Kekuatan Jiwa

Ci Manuk itu bukan berasal dari kata "manuk" yang berarti burung, tapi berasal dari kata "manu", dari bahasa Sanskerta.

Bandar Dermayu, tertulis dalam peta abad ke-16. Peta ini merupakan potongan dari Nova tabula insularum Javae, Sumatrae, Borneonis et aliarum Malaccam usque, 1598. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 07:42

Republik Tanpa Akuntabilitas

Kekuasaan yang menolak pertanggungjawaban sesungguhnya sedang mengingkari hakikatnya sebagai amanah rakyat.

Sebuah aksi penolakan Jokowi di Jawa Barat. Bandung 14 Juli 2026 di Depan DPRD Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:45

Sisi Lain Kota Bandung: Kebiasaan Lama yang Berulang Kembali

Bahkan peringatan "Kesurupan" pun tetap tidak menghentikan oknum pembuang sampah sembarangan di kawasan Cibaduyut.

Peringatan Hantu dan CCTV pun tidak mengurungkan niat seseorang untuk membuang sampah sembarangan (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:03

MPLS Tanpa Bully

Sekolah yang ramah bukanlah tempat menimba ilmu yang sekadar bebas dari perundungan. Rumah kedua itu harus menjadi ruang bersama yang membuat setiap anak pulang dengan senyum yang lebih lebar

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 17:22

Dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap Pedagang Kantin dan UMKM Sekolah

Saya tertarik membahas topik ini karena menunjukkan dampak Program Makan Bergizi Gratis bagi siswa, pedagang kantin, dan UMKM sekolah.

FAGI Jabar ingatkan bahwa tugas utama guru adalah mengajar, bukan mengurusi MBG. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 16:23

Benang-Benang Asing dalam Tenun Tradisi Nusantara: Jejak Budaya Eropa dalam Perubahan Kebaya dan Identitas Sosial.

Membahas pengaruh budaya Eropa terhadap perubahan kebaya sebagai busana tradisional dan simbol identitas sosial di Nusantara pada masa kolonial.

Wanita Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 15:41

Mengenalkan Sekolah lewat MPLS yang Ramah bagi Anak

Selama ini, banyak orang yang membahas tentang pentingnya sekolah yang ramah bagi anak. Seperti apa sekolah ramah anak itu? 

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ikon 15 Jul 2026, 15:24

Hikayat Sport Center Arcamanik, Dari Arena PON Menjadi Pusat Sport Tourism

Sport Center Arcamanik bertransformasi dari venue PON 2016 menjadi pusat olahraga, wisata keluarga, dan kuliner Bandung.

Anak-anak bermain layangan di sekitar area Sport Center Arcamanik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)