Pintu Rumah yang Tidak Pernah Tertutup

kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan Kamis 27 Nov 2025, 20:14 WIB
Ilustrasi rumah di dekat lingkungan pesantren. (Sumber: Ilustrasi AI)

Ilustrasi rumah di dekat lingkungan pesantren. (Sumber: Ilustrasi AI)

Di sebuah desa yang bernama Desa Jambatan yang letaknya di pinggir jalan raya Margahayu - Soreang, berdiri sebuah masjid sederhana. Di sebelah masjid ada lahan kosong yang sudah terpasang tiang beton di tiap sudutnya, untuk perluasan masjid dan pondok pesantren. Kobong atau asrama yang dibangun dari kayu sudah berdiri bersatu dengan rumah Ustadz Nundang sebagai pimpinan pondok pesantren tersebut. Masjid dan Pondok Pesantren Al Anshor berdiri di lingkungan warga dengan berbagai latar belakang dan suku. Tidak jauh dari sana, di antara rumah rumah warga ada sebuah rumah yang pintunya seakan tidak pernah tertutup. Rumah itu milik seorang bapak yang biasa dipanggil oleh warga dan santri, Pak Katenen.

Pak Katenen seorang ASN yang bertugas di bagian Bimbingan Mental di TNI AU Lanud Sulaiman. Pembawaannya tenang, ramah dan selalu menyapa kepada setiap orang yang ditemui. Tidak pernah memanggil nama langsung tapi selalu diawali dengan kata "mas" atau "dik"... "Dik Kurnia gimana kabarnya?" Begitulah sapaan beliau kepada saya, sejak dulu jadi santri hingga sudah berkeluarga jika bertemu. Ia bukan hanya dihormati oleh kolega, tetapi juga oleh masyarakat dan santri santri yang menimba ilmu di pondok yang ikut ia dukung sejak masa perintisannya, ketika Ustadz Nundang baru saja memulai langkah pertama membangun majlis ta'lim dan pesantren sederhana itu.

Pak Katenen memiliki 6 anak laki laki, semua anaknya pernah mengaji dan jadi santri di Pondok Pesantren Al Anshor. Merekalah yang suka mengajak santri untuk bermain di rumahnya.Tidak pernah ada jadwal kunjungan, tidak ada ketukan, tidak ada formalitas. Pintu rumah Pak Katenen terbuka dua puluh empat jam. Jika malam minggu tiba, selepas mengaji kitab kuning—nahwu, shorof, safinah atau nashoibul 'ibad—suasana rumah itu menjadi seperti pos istirahat bagi para pejuang kecil ilmu.

Anak-anak santri datang dengan sandal yang berjejer sembarangan di teras. Mereka duduk di ruang depan, menonton televisi, tertawa kecil, sesekali mengantuk karena kelelahan. Televisi sederhana itu seakan menjadi hiburan paling berharga setelah bergelut dengan ilmu seharian.

Terkadang, satu dua santri sudah tidak kuat menahan kantuk. Mereka tertidur begitu saja di depan televisi, tergeletak dengan sarung masih melilit, hingga lampu subuh menyala. Pak Katenen atau istrinya tidak pernah menyuruh pulang.

“Kalau capek, ya tidur saja,” demikian prinsip tak tertulis di rumah itu.

Kadang, mereka dibangunkan pelan menjelang subuh—agar bisa kembali ke pesantren dan mengikuti jamaah. Namun tak jarang juga ada santri yang tidak terdeteksi, masih terpejam di sudut ruang, baru terbangun ketika aktivitas keluarga dimulai dan aroma pagi menyeruak dari dapur.

Lentera dengan karya seni Islam. (Sumber: Pexels/Ahmed Aqtai)
Lentera dengan karya seni Islam. (Sumber: Pexels/Ahmed Aqtai)

Di sela tawa anak-anak santri menonton televisi, Pak Katenen sering menyelipkan nasihat kehidupan. Bukan dalam bentuk ceramah panjang—melainkan percakapan pendek yang tenangnya meresap seperti air yang pelan merembes ke tanah.

“Hidup itu bukan soal siapa paling hebat, Nak.”

“Yang penting siapa yang paling bermanfaat.”

Anak-anak mendengarkan dengan kagum, meski kadang sambil mengunyah gorengan atau meneguk air dingin dari dapur. Di rumah itu, makanan tidak pernah diperhitungkan. Apa saja yang ada di meja makan, boleh dinikmati. Minum tinggal ambil sendiri ke belakang. Suasana begitu sederhana namun terasa mewah oleh kehangatan.

Kini, tiga puluh lima tahun telah berlalu. Waktu bergerak seperti kuda yang tidak memberi jeda. Anak-anak santri itu kini sudah menjadi ayah, bahkan beberapa sudah menggendong cucu. Rumah Pak Katenen masih berdiri, namun ada satu hal yang jauh berbeda.

Pak Katenen, yang dulu gagah berdiri dan berjalan tegap, semakin kurus dan melemah. Beberapa tahun terakhir, ia mulai sakit-sakitan. Untuk berjalan saja harus dipapah. Namun, jika di pondok ada kegiatan tabligh akbar, ia tetap hadir—meski harus duduk di kursi sementara jamaah lain duduk di lantai berkarpet.

Karena bagi beliau, mengabdi tidak boleh menunggu tubuh kuat.

Mengabdi adalah napas kehidupan itu sendiri.

Beberapa hari lalu, kabar itu datang seperti ketukan pelan di pintu hati. Pak Katenen harus dirawat di ruang emergency. Beberapa hari kemudian, tanggal 21 November tepat pukul 00.47 di Kamis malam, beliau dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa.

Tangis pecah tidak hanya di keluarga, tetapi juga di hati para santri yang pernah numpang tidur, pernah diajak makan, pernah dinasihati, pernah dianggap sebagai anak sendiri.

Kami—yang dulu bermain di ruang depan rumah itu—menunduk dalam diam, merasakan kehilangan yang menyayat. Kami juga teringat Ibu Katenen, perempuan baik yang senyumnya selalu menenangkan.

Baca Juga: Sosok yang Menyemai Harapan Hijau di Padatnya Kota Bandung

Rumah itu mungkin kini lebih sepi. Tidak ada anak santri yang tertidur di depan televisi. Tidak ada sandal berjejal di teras. Tidak ada suara lembut Pak Katenen sambil menatap penuh kasih.

Namun bagi kami, pintu rumah itu tidak pernah benar-benar tertutup.

Kenangan tentangnya akan terus kami bawa hingga akhir hayat kami. Seperti pelita kecil di dada, yang menyala untuk mengingatkan:

Bahwa kebaikan sederhana, yang dilakukan tanpa pamrih, tidak akan pernah hilang—bahkan setelah pemiliknya pulang untuk selamanya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Des 2025, 08:32 WIB

Menangkal Bencana Hoaks

Dari bencana inilah kita belajar ihwal pemimpin sejati bukanlah mereka yang tampil paling menonjol di layar.
Komisaris Bio Farma, Relly Reagen menyerahkan bantuan kepada masyarakat terdampak bencana di Padang, Sumatera Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Budianto)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:40 WIB

Sisi ‘Gelap’ Bandung di Batununggal

Keresahan masyarakat atas minimnya penerangan di area Jalan Batununggal, Kota Bandung.
Kondisi jalanan di Batununggal saat malam hari pada Rabu (3/12/25). (Sumber: Penulis | Foto: Adventia)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:22 WIB

Farhan Vs. KDM

Banyak kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang berseberangan dengan Wali Kota dan Bupati Bandung.
Banyak kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang berseberangan dengan Wali Kota dan Bupati Bandung. (Sumber: Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:15 WIB

Catatan Warga untuk Wali Kota Farhan: Lubang Jalan, Lubang Kepercayaan Publik

Masyarakat selalu dihantui oleh satu masalah paling klise yang tak ada habisnya yaitu jalan berlubang dimana-mana. 
Salah Satu titik jalan berlubang di Jl. Lombok, Merdeka, Kec.Sumur Bandung, Kota Bandung.(3/12/2025) (Sumber: Nabila Putri Wiritanaya)
Ayo Biz 07 Des 2025, 20:13 WIB

Bandung Menjadi Pusat Inovasi Hotel Ramah Lingkungan Bertaraf Internasional

Bandung kini menegaskan dirinya bukan hanya sebagai kota kreatif dan kuliner, tetapi juga sebagai laboratorium hidup bagi praktik keberlanjutan di sektor pariwisata.
The Gaia Hotel Bandung membuktikan bahwa komitmen terhadap keberlanjutan dapat menjadi sumber daya saing, peluang investasi, dan jalan menuju pariwisata yang lebih inklusif dan berdaya tahan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:07 WIB

Halte Bus Bandung: Wajah Buram Transportasi Publik

Halte menjadi salah satu fasilitas umum yang sangat terabaikan oleh Pemerintah Kota Bandung.
Kondisi halte yang basah dan minim pencahayaan pada malam hari di Halte Tegalgea, Jl. Moch. Toha, Kec. Regol, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Tsaqifa Dhiyaul Hawa)
Ayo Jelajah 07 Des 2025, 19:54 WIB

Gunung Burangrang, Eksotisme Kaldera Tropis dalam Imajinasi Wisata Kolonial Priangan

Catatan kolonial menggambarkan Gunung Burangrang sebagai lanskap eksotik Priangan yang harus dipetakan dan ditaklukkan lewat wisata alam.
Gunung Burangrang.
Ayo Netizen 07 Des 2025, 19:46 WIB

Di Antara Ombak Buatan dan Tawa Keluarga di Bandung Barat

Wahoo Waterworld, taman air modern yang seru di Bandung Barat.
Area masuk Wahoo Waterworld yang menampilkan ikon roda kemudi besar di kawasan Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Bandung Barat, Senin (10/11/2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Adifa Arsyad)
Beranda 07 Des 2025, 19:44 WIB

Bencana Alam Itu Tidak Jauh, Sudah di Depan Hidung Kita

Data bencana alam BNPB tahun 2024 menyatakan Jawa Barat sebagai provinsi yang paling sering mengalami bencana, yakni sebanyak 461 kejadian.
Warga di lokasi bencana sedang membantu mencari korban tertimbun longsor di Arjasari, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Biz 07 Des 2025, 19:30 WIB

Ekosistem Esports Bandung Menjadi Model Pertemuan Teknologi Komunitas dan Budaya

Industri esports Indonesia sedang berada di persimpangan penting dan tumbuh lebih besar menjadi ekosistem yang lebih dari sekadar tren hiburan.
Ilustrasi. Industri eSports telah berkembang dari sekadar hobi menjadi arena kompetitif yang melibatkan teknologi, komunitas, dan ekonomi kreatif. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 07 Des 2025, 19:02 WIB

Inklusiland 2025: Mewujudkan Indonesia Inklusif

Hari Disabilitas Internasional (HDI) tahun ini menjadi momentum bersejarah bagi sahabat disabilitas Indonesia.
Hari Disabilitas Internasional (HDI) tahun ini menjadi momentum bersejarah bagi sahabat disabilitas Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Beranda 07 Des 2025, 18:57 WIB

Braga Beken: Wajah Baru Braga yang Lebih Ramah Pejalan Kaki di Akhir Pekan

Tidak ada lagi klakson atau deru mesin kendaraan yang memecah riuh suasana. Para pejalan kaki mendominasi jalan sepanjang kurang lebih 380 meter itu
Pengunjung Jalan Braga menikmati suasana jalan yang terbebas dari kendaraan, Sabtu (6/7). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 18:40 WIB

Bila Gempa Terjadi Saat Berada di Mal

Apa yang akan dilakukan bila saat berada di dalam mal, di dalam stadion, di dalam gedung konser, terjadi gempa bumi?
Sebelum terjadi gempa, kenali kegunaan nomor dan tanda-tanda yang ada dalam panel di dinding litf. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 18:21 WIB

Catatan Warga untuk Wali Kota M. Farhan: Menata Arah Penanganan Pengangguran Bandung

Meningkatnya angka pengangguran di Kota Bandung dan menyoroti bagaimana ketidakseimbangan antara kebutuhan industri dan keterampilan warga.
Seorang pengendara motor melaju di jalan Kota Bandung siang hari. (29/10/2024) (Sumber: Khalidullah As Syauqi)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 07:27 WIB

Ketan Bakar Nurjaman: Cita Rasa Bandung ketika Malam

Di tengah dinginnya malam, ada satu kehangatan yang tetap hidup di sudut kota: Ketan Bakar Nurjaman.
Ketan Bakar Nurjaman. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Fikri Akmal)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 05:30 WIB

Tak Ada Teja Paku Alam, Fitrah Maulana pun Jadi

Fitrah Maulana—yang didapuk mendampingi pelatih Persib, Bojan Hodak-- menangis tersedu-sedu. Suasana pun menjadi haru. 
Fitrah Maulana, kiper muda Persib Bandung. (Sumber: Dok. Persib)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 05:06 WIB

Nasi Bakar Saparua, Hangatnya Malam Bandung dalam Sebungkus Rasa

Nasi Bakar Saparua adalah pilihan kuliner praktis di Bandung dengan cita rasa gurih pedas.
Di balik kepulan asap dan lampu kuning temaram, ada rasa yang bikin balik lagi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Biz 06 Des 2025, 19:38 WIB

Gaya Hidup Sehat Anak Muda Bandung Tumbuh Bersama Treat a Cup

Treat a Cup tampil berbeda dengan menekankan pentingnya kesadaran akan kesehatan melalui makanan dan minuman yang mereka sajikan.
Treat a Cup tampil berbeda dengan menekankan pentingnya kesadaran akan kesehatan melalui makanan dan minuman yang mereka sajikan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 06 Des 2025, 11:45 WIB

Momentum Libur Natal dan Tahun Baru Jadi Peluang Emas Industri Hotel Bandung

Momentum libur Natal dan Tahun Baru tetap menjadi peluang emas bagi hotel-hotel untuk meningkatkan hunian kamar sekaligus memperkuat citra mereka sebagai destinasi liburan.
Momentum libur Natal dan Tahun Baru tetap menjadi peluang emas bagi hotel-hotel untuk meningkatkan hunian kamar sekaligus memperkuat citra mereka sebagai destinasi liburan. (Sumber: Four Points by Sheraton Bandung)
Ayo Netizen 05 Des 2025, 21:20 WIB

Mewujudkan Asa Bandung Teknopolis 

Di kawasan industri Gedebage ada entitas industri yang masih memberikan asa Bandung teknopolis.
Hangar machining Pudak Group di kawasan industri Gedebage Bandung yang memproduksi komponen pesawat terbang pesanan Airbus dan Boeing (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)