Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

2 menit baca
Muhammad Fathurrizqi Jailani
Ditulis oleh Muhammad Fathurrizqi Jailani diterbitkan Rabu 17 Jun 2026, 16:58 WIB
Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)

Seni kerap diidentikkan dengan keindahan semata. Padahal, fungsinya jauh melampaui itu, seni juga berperan sebagai sarana kritik terhadap kekuasaan dan realitas sosial-politik. Di Indonesia, tradisi ini sudah mengakar sejak zaman kolonial, ketika pesan-pesan politik disampaikan secara simbolik melalui karya seni.

Salah satu figur yang paling merepresentasikan hal ini adalah Raden Saleh. Lewat lukisan-lukisannya, ia tidak hanya menciptakan karya yang memukau secara visual, tetapi juga merekam dan mempertanyakan relasi antara identitas pribumi dan dominasi kolonial.

Raden Saleh adalah pelopor seni lukis modern Indonesia, sekaligus orang pribumi pertama asal Hindia Belanda yang mengenyam pendidikan seni formal di Eropa. Pengalaman itulah yang membentuk gaya khasnya: Romantisisme, dengan penekanan kuat pada emosi, dramatisasi, dan permainan cahaya. Gaya ini bukan sekadar pilihan estetis, melainkan juga jembatan untuk menyelipkan narasi dan pesan simbolik di balik kanvas.

Karya terbaiknya, Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857), menjadi bukti paling gamblang. Sepintas, lukisan itu tampak seperti catatan sejarah biasa. Namun bila dicermati, komposisinya mengandung keberpihakan yang jelas: Diponegoro digambarkan berdiri tegak dengan martabat penuh, sementara pihak kolonial tampil dominan namun dingin dan tanpa empati. Ini bertolak belakang dengan versi lukisan Belanda yang menempatkan Diponegoro sebagai pihak yang takluk.

Penangkapan Pangeran Dipenogoro By Raden Saleh - Istana Negara Jakarta, (Sumber: https://indoartnow.com/uploads/documents/ecatalog/1086/1474013942-Katalog-Pameran-1771.pdf | Foto: Istana Negara Jakarta)
Penangkapan Pangeran Dipenogoro By Raden Saleh - Istana Negara Jakarta, (Sumber: https://indoartnow.com/uploads/documents/ecatalog/1086/1474013942-Katalog-Pameran-1771.pdf | Foto: Istana Negara Jakarta)

Melalui simbol dan susunan visual, Raden Saleh berhasil menyampaikan kritik terhadap kuasa kolonial tanpa harus mengucapkannya secara langsung. Seni menjadi "ruang aman"  tempat perlawanan bisa hidup tanpa harus menghadapi represi.

Perlawanan yang Berevolusi di Era Digital

Semangat itu tidak padam bersama zamannya. Di era digital, generasi muda meneruskan tradisi serupa lewat medium yang berbeda: poster jalanan, mural, ilustrasi digital, hingga meme yang viral di media sosial. Dalam berbagai aksi demonstrasi di Indonesia, visual-visual kreatif terbukti menjadi alat komunikasi yang ampuh untuk menyalurkan keresahan publik.

Bentuknya memang telah berubah, dari cat minyak di atas kanvas menjadi piksel di layar ponsel. Tapi esensinya tetap sama: seni adalah cara untuk berbicara ketika kata-kata biasa tidak cukup, atau tidak aman.

Dari Raden Saleh hingga seniman jalanan masa kini, satu benang merah tetap terbentang: seni adalah bahasa perlawanan yang hidup dan terus beradaptasi. Ia bukan sekadar urusan keindahan, melainkan juga soal keberanian-keberanian untuk menyuarakan realitas, melampaui batas ruang, waktu, dan kekuasaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Fathurrizqi Jailani
Mahasiswa ilmu sejarah yang tertarik di bidang seni

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jun 2026, 20:29

Di Balik Publikasi Digital Program Operasi Katarak Gratis

Analisis publikasi digital program operasi katarak gratis Summarecon Agung dalam melihat konsistensi pesan, strategi komunikasi, dan pengelolaan citra perusahaan melalui berbagai media

Penulis sedang menganalisis teknik penulisan Summarecon Agung Tbk dari tiga platform.
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 20:09

Tamasya ke Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, Oase Hijau di Tengah Kota Surabaya

Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih Surabaya merupakan bekas TPA yang disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan taman tematik dan fasilitas rekreasi.

Taman Harmoni & Hutan Bambu Keputih jadi tempat wisata favorit di Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Linimasa 17 Jun 2026, 19:12

Hikayat Taman Alun-alun Regol, Dari Bantaran Sungai Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Tumpuan UMKM Hingga Tak Terawat

Kisah Alun-alun Regol Bandung yang berubah dari bantaran sungai penuh sampah menjadi ruang publik lalu mulai meredup.

Alun-alun Regol, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 19:09

Toponimi Lembang (Bagian 2)

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, termasuk sejarah Lembang.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 18:01

Mampukah Mahasiswa Menjaga Konsentrasi Belajar dari Distraksi Media Sosial?

Media sosial bisa jadi teman belajar atau justru pengganggu konsentrasi. Tulisan ini membahas cara mahasiswa tetap fokus dan produktif tanpa harus meninggalkan dunia digital.

Ilustrasi gangguan media sosial. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 17:30

Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

Rupiah melemah, BBM naik, dan biaya hidup kian mencekik. Ibulah yang paling dulu merasakan dampaknya. Lalu, apa akar persoalan sebenarnya?

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 17:05

Itinerary 1–2 Hari Surabaya: Telusur Sejarah, Kuliner Legendaris, dan Wajah Baru Kota Pahlawan

Rekomendasi itinerary Surabaya untuk 1–2 hari, mulai Tugu Pahlawan, Ampel, hingga kuliner legendaris.

Balai Kota Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:58

Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

Peran seni sebagai perlawanan, baik pada masa Raden Saleh maupun era digital saat ini.

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)
Bandung 17 Jun 2026, 16:44

Menghidupkan Ekosistem F&B Lewat Industry Night 2026, Saat Komunitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci Bertahan

Dinamika industri F&B kini tidak lagi sekadar bicara soal persaingan menu viral atau estetika visual semata, melainkan bergeser ke arah kekuatan kolektif yang digerakkan oleh komunitas.

Di Industry Night, batas-batas kompetisi dilebur menjadi energi positif yang mendorong lahirnya koneksi, inspirasi baru, serta pertumbuhan usaha yang berkelanjutan secara bersama-sama. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:33

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Menengok kembali sejarah perdagangan lada abad ke-17 di Banten dan Lampung.

Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:47

Topeng Banjet : Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Waktu

Kesenian Topeng Banjet yang ada sejak awal abad ke-20 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Karawang.

Topeng Banjet merupakan kesenian tradisional khas Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Wonderful Indonesia)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:27

Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:48

Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

Narasi tentang pajak, sering kali menjadi stigma negatif dalam kehidupan sosial. Apa karena masyarakat masih berpikir stereotip, atau tata kelola pajak yang dianggap kurang adil.

Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:27

Sebelum Selebgram Ada Japanisasi: Propaganda Kecantikan dari 1943

Ketika iklan makeup dijadikan daya tarik propaganda pada masa Pendudukan Jepang 1942-1945.

Iklan Bedak Virgin dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Juli 1945 (Sumber: Website : universiteitleiden.nl)
Beranda 17 Jun 2026, 08:59

Cerita Pekerja Informal yang Ngalong di Tengah Cuaca Dingin Kota Bandung yang Kian Menggigit

Cerita para pekerja informal di Bandung yang terpaksa "ngalong" demi mencari nafkah di tengah cuaca Kota Bandung yang kian menggigit.

Di tengah udara dingin yang menggigit, Raja tetap setia berjualan cilok kuah hingga menjelang subuh di kawasan Dago Cikapayang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 08:01

Maradona, Malvinas, Juni dan Bandung

Sebuah memori siaran pertandingan Piala Dunia 1986 yang memunculkan legenda sepak bola dunia Maradona serta serunya masyarakat Bandung menonton saat itu

Ilustrasi Maradona. (Sumber: Flickr | Foto: Diego3336)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 07:12

Ambisi di Balik Coretax

Sistem Coretax dirilis untuk menyatukan 19 proses bisnis pajak lama.

Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:34

Nama Geografis yang Bersumber dari Alat dan Cara Memasak

Toponimi telah mengabadikan kata yang produktif digunakan di suatu daerah, pada saat nama geografis itu diberikan.

Gentong untuk menampung air bersih masih terus dibuat oleh para pembuat gerabah. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:05

Maraknya Juru Parkir Liar di Minimarket: Cermin Lemahnya Manajemen Parkir di Perkotaan

Maraknya juru parkir liar di minimarket bukan sekadar soal uang parkir, tetapi cerminan lemahnya manajemen parkir, kepastian hukum, dan pelayanan publik di perkotaan.

Ilustrasi Juru Parkir. (Sumber: Pemkot Bandung)
Ayo Biz 16 Jun 2026, 18:21

Kausalitas Daring yang Menggerakkan Dapur KebabFactory.id

Dinamika digitalisasi perbankan yang menjaga dapur UMKM tetap ngebul.

Pegawai sedang menyiapkan pesanan konsumen kedai KebabFactory.id di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)