Toponimi Lembang (Bagian 2)

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Rabu 17 Jun 2026, 19:09 WIB
Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)

Berjalan ke kawasan utara Lembang. Dahulu ketika di selatan perkampungan Jayagiri terdapat sebuah klinik malaria dan cacar air, terdapat pula rumah dinas dokter Belanda yang hingga sekarang masih berdiri di utara Puskesmas Jayagiri sekarang, dan hingga kini pun rumah dinas tersebut masih dipakai sebagai rumah dinas untuk para pegawai.

Ternyata dahulu klinik malaria dan cacar air tersebut tidak terbuat dari bangunan permanen, melainkan terbuat dari bivak-bivak yang memanjang terus hingga ke selatan perkampungan Jayagiri, dan para warga menyebut kawasan klinik dengan sebutan kawasan Bewak, yang merupakan pelavalan dari bivak-bivak tersebut. Hingga kini nama bekas klinik malaria dan cacar air tersebut diberi nama kampung Bewak, desa Jayagiri.

Bagi para pelancong, kawasan Cikole adalah salah satu destinasi yang wajib untuk didatangi. Saat ini kawasan Cikole banyak berubah, yang asalnya merupakan perkampungan sederhana yang berbatasan dengan hutan pinus yang akan menyambut kita menuju pintu gerbang ke wanawisata Tangkuban Parahu. Kini, kawasan Cikole telah bersalin rupa. Banyak sekali wisata dan kafe kekinian di sana, bahkan hutan pinus yang dahulu menjadi ciri khas kawasan, kini berganti dengan riuh keramaian para pelancong yang melepas lelah dengan berwisata di sana.

Namun, kisah lain tertoreh dari masa lalu kawasan Cikole, semua itu karena toponimi yang terungkap. Dahulu kawasan Cikole adalah hutan belantara yang dibabad untuk budi daya kopi di masa Kultur Stelsel yang terjadi pada tahun 1830 hingga 1870. Para buruh perkebunan kopi tersebut didatangkan dari kawasan Cirebon dan Pantura, mereka mulai bermukim di selatan Lembang, hingga membangun gubug-gubug di kawasan perkebunan yang lama kelamaan menjadi kawasan Cikole.

Setelah saya dalami apa itu arti Cikole, saya memperoleh dua jawaban. Jawaban pertama adalah karena di kawasan Cikole banyak ditemui pisang kole yang sekarang pun masih dapat kita temui di hutan-hutan Tangkuban Parahu. Pisang kole ini tidak dapat dikonsumsi oleh manusia karena rasanya kurang nyaman di area mulut setelah dimakan, kebanyakan pemakan pisang jenis ini adalah hewan-hewan primata di kawasan hutan Tangkuban Parahu.

Selain karena banyak pohon pisang kole, ternyata Cikole adalah kepanjangan dari Ci Kopi Lekoh (air kopi yang kental). Karena ketika masa budi daya kopi itulah warga banyak yang menanam secara mandiri pohon-pohon kopi di pekarangan mereka, sehingga warga Cikole terkenal dengan air kopi yang kental dibandingkan dengan warga lainnya di kawasan Lembang, mungkin karena mereka bisa dengan mudah memetik biji-biji kopi berkualitas di pekarangan rumah mereka.

Bila melihat peta masa kolonial Lembang, kita akan menemukan satu kawasan di utara Lembang yang bernama kampung Buah Batu. Sebuah nama kawasan yang jarang kita dengar sekarang. Kawasan Buah Batu identik dengan sebuah kawasan di Kota Bandung, bukan di Lembang. Namun, setelah saya riset lapangan pada 2013 lalu saya menemukan fakta menarik.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)

Masih dalam masa budi daya kopi di Lembang yang terjadi pada 1830 hingga 1870, ternyata para buruh perkebunan bukan hanya berasal dari Cirebon dan Pantura saja, namun ada sebagian yang diambil dari kawasan Bandung, salah satunya adalah kawasan Buah Batu. Para warga yang didatangkan ke perkebunan lalu ditempatkan di kaki gunung Putri dan membentuk sebuah koloni. Namun kini kawasan tersebut berganti nama menjadi kawasan Legok dan kampung Gunung Putri, tapi pada kartu tanda penduduk warga tetap menggunakan nama lama yaitu Pondok Buah Batu.

Setelah saya riset lebih dalam, di kawasan Cibodas, Maribaya pun dapat ditemukan beberapa koloni serupa dengan Pondok Buah Batu. Koloni-koloni ini pun sama didatangkan karena menjadi buruh masa budi daya kopi. Mereka warga koloni didatangkan dari kawasan Dago, Cibeunying, Kosambi. Para buruh tersebut membangun koloni sendiri-sendiri, dan sekarang menjadi nama-nama jalan yang ada di desa Cibodas, yaitu jalan Cibeunying, jalan Kosambi dan jalan Dago. Yang menandakan bahwa leluhur mereka para warga adalah buruh perkebunan kopi yang diambil dari kawasan Dago, Kosambi dan Cibeunying, Kota Bandung.

Bila berjalan kaki di pusat Lembang dekat alun-alun kita akan menemukan sebuah gang di kawasan pecinan yang bernama Gang Minatu. Awalnya, saya berpikir itu adalah nama seorang tokoh masyarakat lama, namun ternyata pada masa kolonial kebanyakan warga Tionghoa Lembang membuka jasa usaha binatu karena mulai bermunculan hotel-hotel ternama di Lembang seperti, Grand Hotel Lembang, Hotel Beau Sejour, Hotel Pasir Jati dan hotel Montagne. Jasa binatu tersebut pun mulai menjamur di kawasan pecinan Lembang, namun para warga setempat melafalkan Binatu dengan sebutan Minatu, hingga kini kawasan bekas binatu-binatu itu pun masih bernama Gang Minatu.

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, dan melihat lebih dalam dan dekat tentang kisah di baliknya. Masih banyak kawasan yang akan saya ceritakan dalam tulisan-tulisan saya pada bulan Juni ini, seperti toponimi dari Cisarua, Baroe Adjak, Pasir Pahlawan, Karmel dan kampung Lapang.

Dengan membuka tabir sejarah kita akan mampu melihat sesuatu dari sudut yang berbeda, mengubah pola pikir, karena kita akan mulai peduli pada hal-hal yang sebelumnya tidak kita sadari. Sehingga kita mampu menyadari dan melestarikan, karena di balik hal-hal kecil dan sepele tersimpan kisah yang istimewa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jun 2026, 20:29

Di Balik Publikasi Digital Program Operasi Katarak Gratis

Analisis publikasi digital program operasi katarak gratis Summarecon Agung dalam melihat konsistensi pesan, strategi komunikasi, dan pengelolaan citra perusahaan melalui berbagai media

Penulis sedang menganalisis teknik penulisan Summarecon Agung Tbk dari tiga platform.
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 20:09

Tamasya ke Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, Oase Hijau di Tengah Kota Surabaya

Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih Surabaya merupakan bekas TPA yang disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan taman tematik dan fasilitas rekreasi.

Taman Harmoni & Hutan Bambu Keputih jadi tempat wisata favorit di Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Linimasa 17 Jun 2026, 19:12

Hikayat Taman Alun-alun Regol, Dari Bantaran Sungai Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Tumpuan UMKM Hingga Tak Terawat

Kisah Alun-alun Regol Bandung yang berubah dari bantaran sungai penuh sampah menjadi ruang publik lalu mulai meredup.

Alun-alun Regol, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 19:09

Toponimi Lembang (Bagian 2)

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, termasuk sejarah Lembang.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 18:01

Mampukah Mahasiswa Menjaga Konsentrasi Belajar dari Distraksi Media Sosial?

Media sosial bisa jadi teman belajar atau justru pengganggu konsentrasi. Tulisan ini membahas cara mahasiswa tetap fokus dan produktif tanpa harus meninggalkan dunia digital.

Ilustrasi gangguan media sosial. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 17:30

Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

Rupiah melemah, BBM naik, dan biaya hidup kian mencekik. Ibulah yang paling dulu merasakan dampaknya. Lalu, apa akar persoalan sebenarnya?

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 17:05

Itinerary 1–2 Hari Surabaya: Telusur Sejarah, Kuliner Legendaris, dan Wajah Baru Kota Pahlawan

Rekomendasi itinerary Surabaya untuk 1–2 hari, mulai Tugu Pahlawan, Ampel, hingga kuliner legendaris.

Balai Kota Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:58

Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

Peran seni sebagai perlawanan, baik pada masa Raden Saleh maupun era digital saat ini.

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)
Bandung 17 Jun 2026, 16:44

Menghidupkan Ekosistem F&B Lewat Industry Night 2026, Saat Komunitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci Bertahan

Dinamika industri F&B kini tidak lagi sekadar bicara soal persaingan menu viral atau estetika visual semata, melainkan bergeser ke arah kekuatan kolektif yang digerakkan oleh komunitas.

Di Industry Night, batas-batas kompetisi dilebur menjadi energi positif yang mendorong lahirnya koneksi, inspirasi baru, serta pertumbuhan usaha yang berkelanjutan secara bersama-sama. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:33

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Menengok kembali sejarah perdagangan lada abad ke-17 di Banten dan Lampung.

Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:47

Topeng Banjet : Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Waktu

Kesenian Topeng Banjet yang ada sejak awal abad ke-20 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Karawang.

Topeng Banjet merupakan kesenian tradisional khas Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Wonderful Indonesia)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:27

Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:48

Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

Narasi tentang pajak, sering kali menjadi stigma negatif dalam kehidupan sosial. Apa karena masyarakat masih berpikir stereotip, atau tata kelola pajak yang dianggap kurang adil.

Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:27

Sebelum Selebgram Ada Japanisasi: Propaganda Kecantikan dari 1943

Ketika iklan makeup dijadikan daya tarik propaganda pada masa Pendudukan Jepang 1942-1945.

Iklan Bedak Virgin dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Juli 1945 (Sumber: Website : universiteitleiden.nl)
Beranda 17 Jun 2026, 08:59

Cerita Pekerja Informal yang Ngalong di Tengah Cuaca Dingin Kota Bandung yang Kian Menggigit

Cerita para pekerja informal di Bandung yang terpaksa "ngalong" demi mencari nafkah di tengah cuaca Kota Bandung yang kian menggigit.

Di tengah udara dingin yang menggigit, Raja tetap setia berjualan cilok kuah hingga menjelang subuh di kawasan Dago Cikapayang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 08:01

Maradona, Malvinas, Juni dan Bandung

Sebuah memori siaran pertandingan Piala Dunia 1986 yang memunculkan legenda sepak bola dunia Maradona serta serunya masyarakat Bandung menonton saat itu

Ilustrasi Maradona. (Sumber: Flickr | Foto: Diego3336)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 07:12

Ambisi di Balik Coretax

Sistem Coretax dirilis untuk menyatukan 19 proses bisnis pajak lama.

Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:34

Nama Geografis yang Bersumber dari Alat dan Cara Memasak

Toponimi telah mengabadikan kata yang produktif digunakan di suatu daerah, pada saat nama geografis itu diberikan.

Gentong untuk menampung air bersih masih terus dibuat oleh para pembuat gerabah. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:05

Maraknya Juru Parkir Liar di Minimarket: Cermin Lemahnya Manajemen Parkir di Perkotaan

Maraknya juru parkir liar di minimarket bukan sekadar soal uang parkir, tetapi cerminan lemahnya manajemen parkir, kepastian hukum, dan pelayanan publik di perkotaan.

Ilustrasi Juru Parkir. (Sumber: Pemkot Bandung)
Ayo Biz 16 Jun 2026, 18:21

Kausalitas Daring yang Menggerakkan Dapur KebabFactory.id

Dinamika digitalisasi perbankan yang menjaga dapur UMKM tetap ngebul.

Pegawai sedang menyiapkan pesanan konsumen kedai KebabFactory.id di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)