Kegiatan ekonomi masyarakat saat ini terbilang sangat aktif dalam membelanjakan segala aspek berkaitan kebutuhan sehari-hari. Uniknya perilaku konsumsi yang cukup aktif ini memberikan respon positif terhadap pertumbuhan ekonomi secara nasional. Walaupun permasalahan lainnya muncul, adagium konsumen sebagai raja masih berbeda pandangan.
Benarkah konsumen adalah raja sebagai representasi bahwa konsumen harus dilayani dengan sebaik-baiknya. Tentu saja adagium menarik diulas, dengan adanya adagium tersebut memberikan definisi bahwa konsumen bagaimanapun kondisinya mesti mendapatkan layanan prima.
Layanan yang seharusnya sama rata kepada semuanya, calon konsumen didudukkan sebagai seseorang yang perlu mendapatkan informasi pengetahuan produk yang akan dibeli.
Keseriusan produsen atau pemilik brand atau produk harus bisa menghadapi situasi dan kondisi dari adanya calon konsumen. Persepsi seorang pemilik produk tentu berbeda dengan konsumen. Maka sudah seharusnya konsumen didudukkan dengan baik dan penuh perhatian.
Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.
Produk otomotif misalnya, ada dua produk ternama dan memberikan gambaran yang sangat jelas, bahwa perilaku dari sumberdaya produk ternama itu tidak mampu mengentaskan permasalahan dengan konsumen.
Ketidaktertarikan konsumen pada produk tertentu membuat satu pertimbangan. Berdasarkan viralnya produk tersebut banyak calon konsumen yang mikir dan belum membuat keputusan membelinya dan justru mundur teratur mencari alternatif lainnya.

Pelayanan Prima
Perusahaan besar tentu sudah mengatur sedemikian rupa dalam melaksanakan pelayanan prima. Pelayanan kepada konsumen harus seterbaik mungkin. Sudah menjadi satu keharusan dan kewajiban bagi produsen meningkatkan pelayanan untuk calon konsumennya.
Kepuasan pelanggan menjadi tolok ukurnya. Kepuasan konsumen ini menjadi cara perusahaan untuk melanjutkan perjalanan usahanya. Ada konsep dasar pelayanan prima yang dapat diterapkan secara spesifik dan membangun.
Terdapat tujuh A yang diuraikan mulai dari sikap, sikap yang ramah dan sopan kepada konsumen, tidak menampilkan muka yang jutek, beretika baik setiap bertemu dengan konsumen. Selanjutnya, kemampuan dalam memahami produk yang disediakan, sehingga calon konsumen mendapatkan informasi yang detail dan mudah dipahami.
Kemudian perhatian, setiap ada konsumen yang telah memberikan feedback atas produknya didengarkan dan memahami kebutuhannya, selanjutnya dalam tindakan, langsung memberikan reaksi positif dengan solusi nyata, tidak sekadar berargumentasi.
Dilanjutkan dengan tanggung jawab, dalam hal ini memberikan tanggung jawab dari layanan yang sudah diberikan kepada konsumen. Paling pentingnya dari penampilan, sisi kerapian fisik dan kelengkapan atribut kerjanya harus sesuai, sehingga calon konsumen tahu dan nyaman. Konsumen memandang sisi kerapian sangat utama, dilanjut dengan empati, kepedulian situasi yang dihadapi konsumen ini benar-benar paling utama dan penting. Sikap simpati atau empati ini merupakan satu nilai plus sehingga perhatian dari calon konsumen memberikan dampak positif. Terakhir, berkaitan dnegan semangat, yang mana pelayanan prima harus dimulai dengan nilai setulus-tulusnya.
Dari aktivitas pelayanan prima inilah produsen bisa menempatkan diri agar calon konsumen bisa memeroleh kepuasannya. Calon konsumen akan tahu produk tersebut sangat tepat bagi dirinya.

Belajar dari Viralitas Produk
Didorong oleh penggunaan media sosial yang mudah diakses dan jembatan bagi calon konsumen dan perusahaan. Media sosial akan memberikan peluang bagi calon konsumen untuk memberikan kesannya atas suatu produk yang akan dipilih dan dipakainya.
Kesetiaan konsumen pada produk bukanlah suatu keniscayaan. Tetapi pada akhirnya konsumen pun memberikan penilaian apakah merasa puas dan menyenangkan atau justru tidak puas dan menganggap bahwa pasca penggunaan produknya harus dihindari.
Semua hal itu terjadi karena konsumen memberikan suara organik. Suara konsumen sangat tepat dijadikan pembelajaran bagi perusahaan. Perusahaan akan meningkatkan layanannya.
Viralitas dari produk patut diberikan sebagai pemahaman atas nama perbaikan dan evaluasi menyeluruh. Sebab pengguna atau pelanggan senantiasa terlibat dan kejujurannya sangat dinantikan.
Maka dalam meningkatkan kualitas produk, konsumen akan memberikan suaranya dengan baik tanpa ada tuntutan memberikan testimoni yang semestinya.
Testimoni produk sangat ditunggu, misalnya ketika mengonsumsi produk makanan dan minuman, produk mobil, produk baju, produk gawai, produk jasa, akan diberikan nilai melalui aplikasi atau suara lainnya di media sosial seperti platform Tiktok, Youtube, Instagram, dan Facebook.
Apa yang harus dipelajari dari viralitas produk? Pasti berkaitan dengan keputusan pelanggan memberikan tanggapan yang jujur. Setelah mengonsumsi, lantas perusahaan akan tahu seberapa nyaman produk tersebut bagi konsumen.
Selain itu, tantangan bagi perusahaan untuk memberikan produk yang memuaskan konsumen.
Maka setiap hari pelanggan nasional, harus menjadi refleksi bagi perusahaan, tidak membedakan suara influencer dengan suara masyarakat pada umumnya. Perbaikan demi perbaikan atas produk inilah yang mengharuskan perusahaan terus membuat inovasi produknya.
Sudah waktunya, adagium konsumen adalah raja, tidak hanya dijadikan gambaran sederhana. Terlebih jika pelanggan memberikan dampak positif bagi keberlangsungan produk yang diciptakan oleh perusahaan. (*)