Perang Melawan Narkoba: Refleksi 26 Juni

7 menit baca
Arrizal  Arkan
Ditulis oleh Arrizal Arkan diterbitkan
Lukisan yang menggambarkan penjual Opium (Sumber: KITLV | Foto: Jan Hendrik Weissenbruch)
Lukisan yang menggambarkan penjual Opium (Sumber: KITLV | Foto: Jan Hendrik Weissenbruch)

Beberapa waktu yang lalu masyarakat Indonesia digemparkan dengan adanya peredaran dari salah satu barang ‘haram’ yang beredar di berbagai tempat, khususnya di Pulau Sumatera. Barang haram yang biasa disebut dengan “Garam Cina” ini bukanlah produk penyedap rasa melainkan produk narkotika yang sekarang semakin menjamur di masyarakat.

Budi Gunawan selaku Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan menyebut bahwa ada sekitar 3,3 juta jumlah pencandu narkoba di Indonesia. Angka tersebut bukanlah hanya sekedar angka tetapi banyaknya individu yang akhirnya terbelenggu karena barang haram tersebut terlebih kebanyakan kasus penyalahgunaanya didominasi oleh usia-usia produktif.

Berbicara mengenai isu narkoba, produk-produk seperti sabu-sabu, opium, atau bahkan marijuana memiliki sejarah yang sangat panjang. Menurut Merlin sebagaimana yang ditulis dalam jurnalnya dengan judul Archaeological Evidence for the Tradition of Psychoactive Plant Use in the Old World menyebutkan bahwa jejak penggunaan obat psikoaktif telah ada sejak beribu tahun yang lalu. Semisalnya penggunaan dari opium popi ditemukan dalam situs Neolitikum di Eropa pada tahun 2000 SM. Hal itu berarti kebiasaan manusia untuk terus bergantung terhadap produk zat adiktif sangat sulit untuk dihilangkan.

Berbicara mengenai masa lalu inilah yang kemudian membuat masyarakat sangat penting untuk memahami sejarah dari penggunaan zat adiktif. Mengingat telah banyak peradaban di dunia yang juga terhambat bahkan hancur dikarenakan oleh zat adiktif.

Di antara peradaban yang terkenal itu terdapat bangsa Tiongkok di bawah dinasti Qing bahkan dipermalukan sebanyak dua kali oleh kekuatan asing dalam Perang Opium Pertama (1839-1842) serta Perang Opium Kedua (1856-1870). Kedua perang inilah membawa Tiongkok kedalam era gelap yang bernama Century of Humiliation (Abad Penghinaan), pada era inilah pula Tiongkok harus berhadapan dengan perang dan kekisruhan politik, perjanjian luar negeri yang tidak adil, hingga berbagai permasalahan lainnya dari dalam dan luar negeri. Hal itulah mengapa sangat penting pula untuk mempelajari sejarahnya yang pertama-tama dimulai dari era kolonial.

Baca Juga: 6 Tulisan Orisinal Terbaik Mei 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta untuk Netizen Aktif Berkontribusi

Kiprah Opium di Indonesia

Tanaman Opium sebelumnya telah diperkenalkan oleh para pedagang Arab di Asia dan telah datang ke Nusantara, khususnya Jawa di berabad-abad yang lalu sebelum kedatangan bangsa Eropa. Bahkan ketika Belanda pertama kali datang ke Nusantara, tanaman opium telah menjadi salah satu komoditas penting yang ada di sana.

Menariknya dalam buku Opium to Java Revenue Farming and Chinese Enterprise in Colonial Indonesia, 1860-1910 karya James Rush menyebutkan pula bahwa VOC bahkan sampai langsung mengamankan perdagangan opium di Nusantara pada 1677 dengan melakukan perjanjian dengan Amangkurat II. Tentu setelah berkompetisi dengan para pedagang lain di sekitarnya, contohnya adalah pedagang Inggris serta masyarakat yang memperkenalkan komoditas opium, yakni pedagang Arab.

Perdagangan opium tentunya memberikan keuntungan yang sangat besar pada VOC. Terhitung setiap tahunnya rata-rata VOC memasukan 56 ribu opium mentah ke Pulau Jawa setiap tahunnya. Oleh karena itu tidak heran bila kebudayaan menghisap opium atau biasa dikenal dengan candu dan madat telah membudaya di masyarakat perkotaan dan pedesaan. Hampir seluruh lapisan masyarakat memakai opium, mulai dari para gelandangan, Musisi, seniman, para buruh, hingga Bangsawan di Istana menikmati candu sebagai hiburan.

Memang opium juga biasa digunakan untuk mengobati beberapa penyakit, seperti diare, TBC, asma, malaria, hingga penyakit menular seksual, hanya saja yang menjadi permasalahannya adalah penyalahgunaan penggunaan opium.

Tetapi tidak semuanya menoleransi keberadaan opium. Masyarakat Islamis di Jawa sendiri sangat menentang penggunaan benda harap tersebut bahkan memperkenalkan konsep Moh Limo, yakni melarang lima perkara seperti Moh Main (pantang berjudi), Moh Ngombe (pantang minum alkohol), Moh Maling (pantang menncuri), Moh Madon (pantang berzina), dan yang berkaitan dengan artikel ini adalah Moh Madat (pantang mengisap candu).

Riak-riak anti penggunaan Opium juga mulai tercipta di kalangan masyarakat Belanda. Banyak pihak yang mulai mempertimbangkan regulasi dari penggunaan opium itu sendiri, diantaraya diadvokasi oleh Willem Karel van Dedem, dia sendiri memperjuangkan regulasi penggunaan opium di Parlemen Belanda.

Gerakan anti-opium sendiri berbarengan dengan efek diperlakukannya kebijakan Undang-Undang Agraria 1870 dan juga politik etis. Memang semenjak masa VOC, jual-beli opium memberikan keuntungan besar tetapi ada harga yang mesti dibayar, yakni kualitas hidup dan juga masyarakat yang dibayang-bayangi oleh belenggu candu. Hal ini secara jelas merugikan pemerintah kolonial Hindia Belanda sehingga memutar cara untuk mengkontrol opium.

Baca Juga: Gol Rukma Bikin Stadion Ikada Pecah

Pada tahun 1894, pemerintah kemudian mulai menguji coba lembaga Opium Regie di Madura dengan bertujuan untuk mengawasi jual beli opium. Kontrol Belanda terhadap perdagangan opium ini sangat menguntungkan terlebih ketika krisis malaise menerpa, perdagangan opium masih dapat membantu perekonomian Hindia Belanda. Akan tetapi masyarakat yang paling terdampak dari Opium Regie ini adalah masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia. Opium telah menjadi komoditas penting bagi komunitas Tionghoa peranakan, adanya pengetatan regulasi artinya banyak diantara mereka yang pada akhirnya menutup usaha opium dan beralih ke sektor yang lain.

Pada masa Indonesia Modern penggunaan zat-zat adiktif semakin beragam. Pemerintah Indonesia bukan hanya berurusan dengan jenis candu yang sama ketika masa Hindia Belanda. Tetapi juga berhadapan dengan produk seperti, ganja, ekstasi, pil koplo, dan masih banyak lagi. Merebaknya narkoba pada masa-masa ini juga merupakan efek dari gaya hidup bebas, seperti Hippies yang berkembang pada tahun 1970-an.

Menurut Hoegeng, Kepala Kepolisan pada kala itu menyebut bahwa merebaknya ancaman narkotika tidak lain merupakan efek dari letak geografis Indonesia yang berada di sekitar penghasil narkotika. Hal ini membuat narkoba semakin mudah ditemukan khususnya di Dunia Malam, seperti Klub-klub. Untuk menambah pisau hukum inilah kemudian diterbitkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika. Meskipun demikian perang melawan Narkoba masihlah tetap berkobar di Indonesia sampai sekarang.

Riwayat Narkotika Kini

Wali Negara Lin tengah memantau pemusnahan Opium di Humen (Sumber: Wikimedia Commons)
Wali Negara Lin tengah memantau pemusnahan Opium di Humen (Sumber: Wikimedia Commons)

Permasalahan mengenai penyalahgunaan zat adiktif telah menjadi permasalahan sosial klasik. Ada sekitar jutaaan yang terbelenggu oleh jeratan barang-barang haram yang membuat banyak keluarga menderita dengan anak istri mereka yang terlentarkan. Pada era kolonial, para pecandu sangat memprihatinkan kondisinya. Sekarang masa-masa kelam itu kembali terulang dengan permasalahan yang lebih kompleks tetapi tidak terlalu jauh dengan gaya hidup. Penggunaan produk narkotika sama halnya dengan bebasnya kehidupan individu ataupun mengikuti pergaulan yang tidak sehat. Terlebih kita juga bisa melihat tren ini pada era 70-an ketika popularitas kaum Hippie berkembang.

Hari ini 38 Tahun yang lalu tepat pada hari ini tanggal 26 Juni. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan resolusi penting yang kini diperingati sebagai hari Internasional Menentang Penyalahgunaan Obat-obatan dan Perdagangan Gelap. Indonesia sendiri lebih familiar dengan kata Hari Anti-Narkotika Nasional atau HANI. Keberadaan hari anti-narkotika ini bisa menjadi refleksi untuk pantang menyalahgunakan Narkoba, meskipun individu-individu yang terjerat juga merupakan korban.

Menurut Hoegeng sendiri, ia pernah menulis dalam bukunya Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan bahwa banyak diantara individu pemakai, narkoba digunakans sebagai pelarian mereka. Latar belakang seperti orang tua mereka yang broken home sehingga tidak mendapatkan kebutuhan emosional membuat mereka terjerumus dalam memakai ganja, sabu, dan produk narkoba lainnya. Pada sisi lainnya, kita juga mengetahui narkoba merupakan bisnis gelap yang sangat menguntungkan bahkan sampai kawasan Amerika Latin kewalahan dengan organisasi kartel narkoba. Kita dapat menebak seberapa banyak keuntungan yang mereka dapatkan dari penjualan Narkoba tetapi isu itu sendiri menyeret kita dalam isu penegakan hukum.

Penulis sendiri pernah mendengar frasa Berbahasa Latin yang berbunyi:

“Fiat Justitia Ruat Caelum”

Berarti: Hukum harus ditegakan meski Langit runtuh.

Mau bagaimanapun keadaaanya, kondisi hukum haruslah ditegakan. Bila hukum masih saja memberikan celah terhadap peredaran narkoba secara illegal. Maka itu sama saja memberikan celah untuk membuat masyarakat sakit. Justru dari tumpulnya hukum terhadap pengedaran Narkoba berefek pada meningkatnya jumlah pengguna dan menjadi pencandu. Jelas ini dapat meningkatkan beban negara untuk fasilitas rehabilitasi yang semakin meningkat padahal anggaran yang dikeluarkan dapat untuk sektor yang lain.

Efek ini menghasilkan riak pertanyaan lain yang nyata, seperti Bagaimana distribusi uang dapat merata bilamana uang mereka justru terbang ke pihak asing untuk membeli sabu? Bagaimana masyarakat mendapat rasa aman dan tentara bilamana hukum yang mereka andalkan justru tumpul? Bagaimana industri-industri mendapatkan subsidi bilamana anggaran negara terus ditingkatkan untuk mencukupi fasilitas rehabilitasi akibat para pecandu yang terus meningkat?

Oleh sebab itu untuk menghentikan riak-riak pertanyaan ini perlu sebuah komitmen besar untuk segera menghentikan peredaran Narkoba secara illegal. Seluruh elemen haruslah berani untuk bersama-sama menolak produk narkoba apapun itu sebagaimana Lin Zexu yang secara tegas menolak keberadaan Opium dalam Dinasti Qing. Pada tanggal 26 Juni ini, marilah bersama-sama menjadi refleksi diri dan menjadi pengingat kita dalam perang abadi melawan Narkoba. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)