Perang Melawan Narkoba: Refleksi 26 Juni

Arrizal  Arkan
Ditulis oleh Arrizal Arkan diterbitkan Rabu 11 Jun 2025, 18:45 WIB
Lukisan yang menggambarkan penjual Opium (Sumber: KITLV | Foto: Jan Hendrik Weissenbruch)

Lukisan yang menggambarkan penjual Opium (Sumber: KITLV | Foto: Jan Hendrik Weissenbruch)

Beberapa waktu yang lalu masyarakat Indonesia digemparkan dengan adanya peredaran dari salah satu barang ‘haram’ yang beredar di berbagai tempat, khususnya di Pulau Sumatera. Barang haram yang biasa disebut dengan “Garam Cina” ini bukanlah produk penyedap rasa melainkan produk narkotika yang sekarang semakin menjamur di masyarakat.

Budi Gunawan selaku Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan menyebut bahwa ada sekitar 3,3 juta jumlah pencandu narkoba di Indonesia. Angka tersebut bukanlah hanya sekedar angka tetapi banyaknya individu yang akhirnya terbelenggu karena barang haram tersebut terlebih kebanyakan kasus penyalahgunaanya didominasi oleh usia-usia produktif.

Berbicara mengenai isu narkoba, produk-produk seperti sabu-sabu, opium, atau bahkan marijuana memiliki sejarah yang sangat panjang. Menurut Merlin sebagaimana yang ditulis dalam jurnalnya dengan judul Archaeological Evidence for the Tradition of Psychoactive Plant Use in the Old World menyebutkan bahwa jejak penggunaan obat psikoaktif telah ada sejak beribu tahun yang lalu. Semisalnya penggunaan dari opium popi ditemukan dalam situs Neolitikum di Eropa pada tahun 2000 SM. Hal itu berarti kebiasaan manusia untuk terus bergantung terhadap produk zat adiktif sangat sulit untuk dihilangkan.

Berbicara mengenai masa lalu inilah yang kemudian membuat masyarakat sangat penting untuk memahami sejarah dari penggunaan zat adiktif. Mengingat telah banyak peradaban di dunia yang juga terhambat bahkan hancur dikarenakan oleh zat adiktif.

Di antara peradaban yang terkenal itu terdapat bangsa Tiongkok di bawah dinasti Qing bahkan dipermalukan sebanyak dua kali oleh kekuatan asing dalam Perang Opium Pertama (1839-1842) serta Perang Opium Kedua (1856-1870). Kedua perang inilah membawa Tiongkok kedalam era gelap yang bernama Century of Humiliation (Abad Penghinaan), pada era inilah pula Tiongkok harus berhadapan dengan perang dan kekisruhan politik, perjanjian luar negeri yang tidak adil, hingga berbagai permasalahan lainnya dari dalam dan luar negeri. Hal itulah mengapa sangat penting pula untuk mempelajari sejarahnya yang pertama-tama dimulai dari era kolonial.

Baca Juga: 6 Tulisan Orisinal Terbaik Mei 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta untuk Netizen Aktif Berkontribusi

Kiprah Opium di Indonesia

Tanaman Opium sebelumnya telah diperkenalkan oleh para pedagang Arab di Asia dan telah datang ke Nusantara, khususnya Jawa di berabad-abad yang lalu sebelum kedatangan bangsa Eropa. Bahkan ketika Belanda pertama kali datang ke Nusantara, tanaman opium telah menjadi salah satu komoditas penting yang ada di sana.

Menariknya dalam buku Opium to Java Revenue Farming and Chinese Enterprise in Colonial Indonesia, 1860-1910 karya James Rush menyebutkan pula bahwa VOC bahkan sampai langsung mengamankan perdagangan opium di Nusantara pada 1677 dengan melakukan perjanjian dengan Amangkurat II. Tentu setelah berkompetisi dengan para pedagang lain di sekitarnya, contohnya adalah pedagang Inggris serta masyarakat yang memperkenalkan komoditas opium, yakni pedagang Arab.

Perdagangan opium tentunya memberikan keuntungan yang sangat besar pada VOC. Terhitung setiap tahunnya rata-rata VOC memasukan 56 ribu opium mentah ke Pulau Jawa setiap tahunnya. Oleh karena itu tidak heran bila kebudayaan menghisap opium atau biasa dikenal dengan candu dan madat telah membudaya di masyarakat perkotaan dan pedesaan. Hampir seluruh lapisan masyarakat memakai opium, mulai dari para gelandangan, Musisi, seniman, para buruh, hingga Bangsawan di Istana menikmati candu sebagai hiburan.

Memang opium juga biasa digunakan untuk mengobati beberapa penyakit, seperti diare, TBC, asma, malaria, hingga penyakit menular seksual, hanya saja yang menjadi permasalahannya adalah penyalahgunaan penggunaan opium.

Tetapi tidak semuanya menoleransi keberadaan opium. Masyarakat Islamis di Jawa sendiri sangat menentang penggunaan benda harap tersebut bahkan memperkenalkan konsep Moh Limo, yakni melarang lima perkara seperti Moh Main (pantang berjudi), Moh Ngombe (pantang minum alkohol), Moh Maling (pantang menncuri), Moh Madon (pantang berzina), dan yang berkaitan dengan artikel ini adalah Moh Madat (pantang mengisap candu).

Riak-riak anti penggunaan Opium juga mulai tercipta di kalangan masyarakat Belanda. Banyak pihak yang mulai mempertimbangkan regulasi dari penggunaan opium itu sendiri, diantaraya diadvokasi oleh Willem Karel van Dedem, dia sendiri memperjuangkan regulasi penggunaan opium di Parlemen Belanda.

Gerakan anti-opium sendiri berbarengan dengan efek diperlakukannya kebijakan Undang-Undang Agraria 1870 dan juga politik etis. Memang semenjak masa VOC, jual-beli opium memberikan keuntungan besar tetapi ada harga yang mesti dibayar, yakni kualitas hidup dan juga masyarakat yang dibayang-bayangi oleh belenggu candu. Hal ini secara jelas merugikan pemerintah kolonial Hindia Belanda sehingga memutar cara untuk mengkontrol opium.

Baca Juga: Gol Rukma Bikin Stadion Ikada Pecah

Pada tahun 1894, pemerintah kemudian mulai menguji coba lembaga Opium Regie di Madura dengan bertujuan untuk mengawasi jual beli opium. Kontrol Belanda terhadap perdagangan opium ini sangat menguntungkan terlebih ketika krisis malaise menerpa, perdagangan opium masih dapat membantu perekonomian Hindia Belanda. Akan tetapi masyarakat yang paling terdampak dari Opium Regie ini adalah masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia. Opium telah menjadi komoditas penting bagi komunitas Tionghoa peranakan, adanya pengetatan regulasi artinya banyak diantara mereka yang pada akhirnya menutup usaha opium dan beralih ke sektor yang lain.

Pada masa Indonesia Modern penggunaan zat-zat adiktif semakin beragam. Pemerintah Indonesia bukan hanya berurusan dengan jenis candu yang sama ketika masa Hindia Belanda. Tetapi juga berhadapan dengan produk seperti, ganja, ekstasi, pil koplo, dan masih banyak lagi. Merebaknya narkoba pada masa-masa ini juga merupakan efek dari gaya hidup bebas, seperti Hippies yang berkembang pada tahun 1970-an.

Menurut Hoegeng, Kepala Kepolisan pada kala itu menyebut bahwa merebaknya ancaman narkotika tidak lain merupakan efek dari letak geografis Indonesia yang berada di sekitar penghasil narkotika. Hal ini membuat narkoba semakin mudah ditemukan khususnya di Dunia Malam, seperti Klub-klub. Untuk menambah pisau hukum inilah kemudian diterbitkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika. Meskipun demikian perang melawan Narkoba masihlah tetap berkobar di Indonesia sampai sekarang.

Riwayat Narkotika Kini

Wali Negara Lin tengah memantau pemusnahan Opium di Humen (Sumber: Wikimedia Commons)
Wali Negara Lin tengah memantau pemusnahan Opium di Humen (Sumber: Wikimedia Commons)

Permasalahan mengenai penyalahgunaan zat adiktif telah menjadi permasalahan sosial klasik. Ada sekitar jutaaan yang terbelenggu oleh jeratan barang-barang haram yang membuat banyak keluarga menderita dengan anak istri mereka yang terlentarkan. Pada era kolonial, para pecandu sangat memprihatinkan kondisinya. Sekarang masa-masa kelam itu kembali terulang dengan permasalahan yang lebih kompleks tetapi tidak terlalu jauh dengan gaya hidup. Penggunaan produk narkotika sama halnya dengan bebasnya kehidupan individu ataupun mengikuti pergaulan yang tidak sehat. Terlebih kita juga bisa melihat tren ini pada era 70-an ketika popularitas kaum Hippie berkembang.

Hari ini 38 Tahun yang lalu tepat pada hari ini tanggal 26 Juni. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan resolusi penting yang kini diperingati sebagai hari Internasional Menentang Penyalahgunaan Obat-obatan dan Perdagangan Gelap. Indonesia sendiri lebih familiar dengan kata Hari Anti-Narkotika Nasional atau HANI. Keberadaan hari anti-narkotika ini bisa menjadi refleksi untuk pantang menyalahgunakan Narkoba, meskipun individu-individu yang terjerat juga merupakan korban.

Menurut Hoegeng sendiri, ia pernah menulis dalam bukunya Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan bahwa banyak diantara individu pemakai, narkoba digunakans sebagai pelarian mereka. Latar belakang seperti orang tua mereka yang broken home sehingga tidak mendapatkan kebutuhan emosional membuat mereka terjerumus dalam memakai ganja, sabu, dan produk narkoba lainnya. Pada sisi lainnya, kita juga mengetahui narkoba merupakan bisnis gelap yang sangat menguntungkan bahkan sampai kawasan Amerika Latin kewalahan dengan organisasi kartel narkoba. Kita dapat menebak seberapa banyak keuntungan yang mereka dapatkan dari penjualan Narkoba tetapi isu itu sendiri menyeret kita dalam isu penegakan hukum.

Penulis sendiri pernah mendengar frasa Berbahasa Latin yang berbunyi:

Fiat Justitia Ruat Caelum

Berarti: Hukum harus ditegakan meski Langit runtuh.

Mau bagaimanapun keadaaanya, kondisi hukum haruslah ditegakan. Bila hukum masih saja memberikan celah terhadap peredaran narkoba secara illegal. Maka itu sama saja memberikan celah untuk membuat masyarakat sakit. Justru dari tumpulnya hukum terhadap pengedaran Narkoba berefek pada meningkatnya jumlah pengguna dan menjadi pencandu. Jelas ini dapat meningkatkan beban negara untuk fasilitas rehabilitasi yang semakin meningkat padahal anggaran yang dikeluarkan dapat untuk sektor yang lain.

Efek ini menghasilkan riak pertanyaan lain yang nyata, seperti Bagaimana distribusi uang dapat merata bilamana uang mereka justru terbang ke pihak asing untuk membeli sabu? Bagaimana masyarakat mendapat rasa aman dan tentara bilamana hukum yang mereka andalkan justru tumpul? Bagaimana industri-industri mendapatkan subsidi bilamana anggaran negara terus ditingkatkan untuk mencukupi fasilitas rehabilitasi akibat para pecandu yang terus meningkat?

Oleh sebab itu untuk menghentikan riak-riak pertanyaan ini perlu sebuah komitmen besar untuk segera menghentikan peredaran Narkoba secara illegal. Seluruh elemen haruslah berani untuk bersama-sama menolak produk narkoba apapun itu sebagaimana Lin Zexu yang secara tegas menolak keberadaan Opium dalam Dinasti Qing. Pada tanggal 26 Juni ini, marilah bersama-sama menjadi refleksi diri dan menjadi pengingat kita dalam perang abadi melawan Narkoba. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arrizal  Arkan
Tentang Arrizal Arkan
Penikmat buku dan film Sejarah.

News Update

Ayo Netizen 13 Apr 2026, 18:07

Lalap: Rahasia Kesehatan dan Identitas Budaya di Meja Makan Sunda

Tradisi mengonsumsi tumbuhan segar atau lalab (lalap) adalah denyut nadi kebudayaan yang selama ini lebih banyak berpindah melalui tutur lisan.

Lalapan dan sambal terasi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Bandung 13 Apr 2026, 18:06

Mencicipi 'The Best Dirty Latte in Town' di CO,MA Coffee Matter, Coffee Shop dengan Bakery Paling 'Niat' di Bandung

Menjadi pusat gravitasi komunitas kreatif, Coffee Matter hadir bukan hanya membawa aroma biji kopi pilihan, melainkan sebuah ekosistem gaya hidup yang inklusif.

CO,MA Coffee Matter hadir bukan hanya membawa aroma biji kopi pilihan, melainkan sebuah ekosistem gaya hidup yang inklusif. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Wisata & Kuliner 13 Apr 2026, 17:00

Panduan Wisata Capolaga Subang, Surga Tiga Curug dan Camping di Kebun Teh

Wisata Capolaga Subang menawarkan tiga curug, camping ground, dan trekking kebun teh dengan suasana alam sejuk dan asri.

Salah satu curug yang ada di Wisata Alam Capolaga. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 16:11

Bandung dalam Novel ‘Dilan ITB 1997’

Mari kita telusuri jejak-jejak Dilan dan Ancika di Bandung tahun 1997.

Poster film 'Dilan ITB 1997'. (Sumber: Falcon Pictures)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 15:12

Ketik, Kurir, dan Kupon

Setiap kata yang ditulis dengan sungguh-sungguh selalu menemukan jalan bersama untuk menjadi ilmu, rezeki, dan kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.

Ayobandung.id dengan bangga mengumumkan 10 netizen terpilih dengan kontribusi terbaik di kanal AYO NETIZEN (Sumber: Unsplash/Bram Naus)
Linimasa 13 Apr 2026, 14:00

Sejarah dan Kontroversi Konversi Gas Elpiji di Indonesia

Program konversi minyak tanah ke LPG sejak 2007 mengubah pola energi rumah tangga, namun menyisakan kontroversi, kecelakaan, dan polemik kebijakan

Sejumlah warga mengantre untuk membeli gas elpiji di Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 12:43

Potret Bandung Era 90-an dalam Kenangan 

Bandung pada awal 1990-an adalah kota yang bergerak dengan irama pelan.

Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 10:24

Intelektual, Masyarakat Sipil, dan Perubahan Sosial

Di tengah kondisi yang tidak pasti saat ini, kita membutuhkan intelektual yang mampu berpikir jernih, masyarakat sipil yang kuat, dan keberanian untuk melakukan perubahan sosial.

Calon jemaah haji saat kegiatan pelepasan manasik haji di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Kota Bandung, Rabu (1/4/2026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Komunitas 13 Apr 2026, 09:11

Masagi Tjibogo, Kekuatan Warga Lokal Mengolah Sampah Hingga Produknya Tembus Pasar Global

Komunitas Masagi Tjibogo mengolah sampah berbasis budaya lokal, membangun kesadaran warga, sekaligus menciptakan produk bernilai ekonomi yang menembus pasar global.

Abang Oyong yang sudah memasuki usia 80-an membantu membuat karpet hasil olahan sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Komunitas 13 Apr 2026, 05:25

Bandung Berpuisi Buka Panggung, Siapa Saja Bisa Bersuara Lewat Kata

Komunitas Bandung Berpuisi menghadirkan panggung terbuka melalui Open Mic Vol. 17 sebagai ruang ekspresi bagi siapa saja untuk membacakan karya, sekaligus mendekatkan puisi kepada masyarakat.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sejarah 12 Apr 2026, 14:38

Sejarah Letusan Galunggung 1982, Sembilan Bulan Bencana Vulkanik di Jawa Barat

Letusan Galunggung 1982 berlangsung sembilan bulan, memicu pengungsian massal, kerusakan luas, dan menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar di Jawa Barat.

Letusan Galunggung 1982. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 13:26

4 Ide Cerita untuk Kamu yang Merasa 'Terasing' di Bandung Kampung Halamanmu

Kita berdiri di kota tempat lahir, tapi merasa seperti tamu.

Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 12 Apr 2026, 09:39

Hikayat Kampung Adat Mahmud, Penyebaran Islam hingga Larangan Menabuh Gong

Kampung Adat Mahmud di Bandung menyimpan sejarah penyebaran Islam, tradisi rumah panggung, dan larangan menabuh gong yang masih dijaga.

Kampung Mahmud, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 08:52

Bandung Era 1990-an dalam Ingatan Anak Kost

Bandung era 90-an, bagi saya, bukan sekadar kenangan. Ia adalah rumah yang selalu bisa saya kunjungi, kapan saja, dalam ingatan.

Anak kost era 1990-an, bersahabat dengan Erwan Setiawan, kini Wagub Jawa Barat. Kenangan sederhana yang tak lekang waktu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)