Kedewasaan Menyikapi Enklave Monarki DIY bagi Masyarakat Luar Jogja

5 menit baca
Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom
Ditulis oleh Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom diterbitkan
Gubernur Daerah IStimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sumber: Dok. Keraton Jogja | Foto: Istimewa)
Gubernur Daerah IStimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sumber: Dok. Keraton Jogja | Foto: Istimewa)

Retret kepala daerah yang dilakukan dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto ternyata tidak diikuti 100 persen kepala daerah. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Hamangkubuwono X adalah satu-satunya kepala daerah yang diizinkan tidak mengikuti retret.

Ketidakhadiran Sultan Yogyakarta dalam retret ini menerima banyak responn yang beragam, mulai dari mendung dengan dalih menjaga kehormatan raja, ada juga yang justru menyayangkan ketidakhadirannya. Dalam tulisan ini kita akan berusaha menjawab pertanyaan "Mengapa DIY masih diizinkan menganut sistem monarki sampai saat ini?"

Ada satu pertanyaan bodoh saya yang terlampau revolusioner, namun wajar bagi seorang mahasiswa yang baru mulai menggandrungi diskusi kajian politik, demokrasi dan pergerakan di kampus ketika itu. Pertanyaannya adalah : “Mengapa Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat masih bertahan sampai hari ini?”

Padahal Yogyakarta adalah kota pelajar dan ada UGM yang notabenenya adalah kampus pergerakan. UGM berdiri kokoh di Yogyakarta bersama dengan suara-suara kritiknya yang lantang pada pemerintah pusat di Jakarta, namun tidak bisa meruntuhkan monarki di depan matanya.

Pertanyaan itu ternyata menghantui saya sejak awal perkuliahan hingga berakhirnya masa studi dan mendorong saya untuk berusaha memahami cara pandang masyarakat Yogyakarta terhadap Sultan, baik sebagai raja tradisional maupun sebagai gubernur modern. 

Istilah enklave monarki saya kutip dari sebuah penelitian berjudul “Obedient liberals? Mass attitudes in a monarchy enclave” oleh seorang akademisi UGM bernama Arya Budi. Enklave artinya daerah (wilayah) budaya yang terdapat di dalam wilayah budaya lain. Yogyakarta dengan status keistimewaannya yang mengizinkan adanya monarki di wilayah tersebut merupakan enklave atau bagian dari NKRI yang menganut sistem demokrasi.

Arya budi dalam penelitiannya menyebut masyarakat Yogyakarta sebagai “obedient liberals” alias kaum liberal yang patuh.

Menjadi keunikan tersendiri bahwa masyarakat Yogyakarta bukanlah masyarakat yang terbelakang, melainkan masyarakat modern yang juga menganut nilai-nilai liberal seperti kebebasan berpendapat, kesetaraan gender dan berpartisipasi aktif dalam politik nasional, tetapi tetap patuh dalam konteks hidup dibawah pemerintahan monarki oleh Sultan Yogyakarta.

Tulisan ini saya harap dapat membantu masyarakat Indonesia di luar Yogyakarta untuk bisa memahami cara berpikir masyarakat Yogyakarta yang sangat bangga dengan status keistimewaan dan agar masyarakat umum tidak mensimplifikasi makna keistimewaan Yogyakarta.

Fenomena yang terjadi di Yogyakarta dapat dimaknai sebagai khazanah atau variasi dalam berdemokrasi ala Indonesia.

Yogyakarta “Memilih” untuk Bergabung dengan Republik

Fenomena yang terjadi di Yogyakarta dapat dimaknai sebagai khazanah atau variasi dalam berdemokrasi ala Indonesia. (Sumber: Pexels/Renda Eko Riyadi)
Fenomena yang terjadi di Yogyakarta dapat dimaknai sebagai khazanah atau variasi dalam berdemokrasi ala Indonesia. (Sumber: Pexels/Renda Eko Riyadi)

Ketika saya menyusun skripsi saya tentang Krjogja.com sebagai salah satu media lokal yang berfungsi sebagai penyedia ruang publik bagi masyarakat lokal di Yogyakarta, terdapat satu argumen yang menonjol dalam diskursus mengenai alasan keistimewaan DIY bertahan sampai hari ini, yaitu sejarah.

Sebelum kemerdekaan Yogyakarta merupakan sebuah wilayah otonom yang memiliki segara sarana dan prasarana penunjang untuk menjadi negara merdeka sendiri. Kendati demikian, Yogyakarta memilih untuk bergabung dengan Republik.

Yogyakarta memiliki sejarah panjang sebagai pusat budaya Jawa dan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sultan Hamengkubuwono IX, yang memerintah sejak 1940, memainkan peran kunci selama masa perjuangan kemerdekaan dan era pemerintahan Sukarno dan Suharto.

Yogyakarta juga pernah menjadi ibu kota darurat Indonesia pada tahun 1948, di mana Sultan HB IX membantu membayar gaji kabinet dan staf pemerintah.

Pada tanggal 5 September 1945, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam VIII menyatakan bahwa wilayah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui dekrit kerajaan yang dikenal sebagai "Amanat 5 September 1945".

Sehari setelahnya, pada 6 September 1945, pemerintah pusat memberikan Piagam 19 Agustus 1945 sebagai bentuk penghargaan atas bergabungnya Yogyakarta dengan RI.

Bergabungnya Yogyakarta dalam NKRI menjadikan Indonesia sebagai negara yang baru merdeka dengan wilayah kedaulatan yang lebih luas. Setelah itu, Soekarno memberikan payung hukum khusus dan status istimewa terhadap Yogyakarta sebagai daerah dalam Indonesia.

Identitas kolektif masyarakat Yogyakarta sangat dipengaruhi oleh monarki yang telah lama berkuasa. Masyarakat Yogyakarta menunjukkan sikap “liberal patuh,” di mana mereka mendukung nilai-nilai liberal seperti hak-hak perempuan dalam politik, tetapi juga bangga dengan sistem monarki yang ada.

Sikap ini mencerminkan habituasi dan identitas kolektif yang kuat, di mana monarki membantu membedakan mereka dari masyarakat di provinsi lain atau negara lain.

Yogyakarta dikenal dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan paparan terhadap modernitas, tidak ada catatan protes yang menuntut pemilihan gubernur.

Sebaliknya, masyarakat Yogyakarta pernah melakukan protes besar-besaran menentang upaya pemerintah pusat untuk mengadakan pemilihan gubernur melalui RUU Keistimewaan Yogyakarta pada tahun 2009-2010. Protes ini menunjukkan dukungan kuat masyarakat terhadap sistem monarki yang ada.

Demokrasi Prosedural dan Demokrasi ala Masyarakat Yogyakarta

Yogyakarta dikenal dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan paparan terhadap modernitas, tidak ada catatan protes yang menuntut pemilihan gubernur. (Sumber: Pexels/Cahyo Rizki Pramudya)
Yogyakarta dikenal dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan paparan terhadap modernitas, tidak ada catatan protes yang menuntut pemilihan gubernur. (Sumber: Pexels/Cahyo Rizki Pramudya)

Sejak reformasi, status keistimewaan yogyakarta telah menjadi polemik setidaknya dalam dua momentum. Pertama di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, ketika hendak merumuskan RUU Keistimewaan Yogyakarta, lalu pada akhir tahun 2023 ketika politisi PSI Ade Armando mengeluarkan pernyataan bahwa DIY menjalankan praktik politik dinasti. Keduanya terjadi akibat adanya simplifikasi dalam memaknai status keistimewaan.

Kita memang dapat mendefinisikan bahwa DIY menjalankan sistem monarki dengan tidak adanya pemilihan gubernur sebagaimana di provinsi lain.

Demokrasi seringkali dipahami sebagai sistem politik yang mengutamakan pemilihan umum yang bebas dan adil. Namun, di Yogyakarta, kita menemukan bentuk demokrasi yang unik dan berbeda dari konsep demokrasi prosedural yang umum dikenal.

Penelitian yang dilakukan oleh PolGov Universitas Gadjah Mada menunjukkan adanya fenomena unik di Yogyakarta. Masyarakat disana mendukung nilai-nilai liberal seperti hak-hak perempuan dalam politik dan ekspresi diri, namun tetap bangga dengan sistem monarki yang ada.

Mereka tidak menuntut adanya pemilihan gubernur secara langsung, melainkan menerima dan mendukung Sultan sebagai pemimpin yang ditunjuk.

Hal ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Yogyakarta, demokrasi tidak selalu harus diwujudkan melalui pemilihan umum yang bebas dan adil. Dalam konteks Yogyakarta, dukungan terhadap monarki dan nilai-nilai liberal dapat berjalan beriringan.

Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi dapat memiliki berbagai bentuk yang disesuaikan dengan konteks budaya dan sejarah suatu masyarakat.

Meskipun mereka mendukung nilai-nilai liberal seperti hak-hak perempuan dalam politik, mereka tetap bangga dengan sistem monarki yang ada. Sikap ini mencerminkan identitas kolektif dan habituasi terhadap pemerintahan monarki yang telah berlangsung lama.

Argumentasi-argumentasi di atas menunjukan bahwa dukungan terhadap monarki di Yogyakarta bukanlah tanda ketidakdemokratisan, melainkan bentuk demokrasi itu sendiri yang unik dan khas sesuai dengan keinginan masyarakat setempat.

Masyarakat Yogyakarta telah menunjukkan partisipasi politik yang tinggi dalam pemilihan umum lainnya, tetapi tetap memilih untuk mempertahankan monarki untuk posisi gubernur. Ini menunjukkan bahwa mereka melihat monarki sebagai bagian integral dari identitas dan sejarah mereka.

Apa yang menjadi latar belakang dari keistimewaan Yogyakarta perlu dipahami oleh masyarakat luar Yogyakarta, agar dapat melihat bahwa monarki di Yogyakarta adalah hasil dari pilihan demokratis masyarakatnya.

Sehingga konflik dan perdebatan yang tidak produktif mengenai sistem pemerintahan DIY ini tidak diperlukan, karena monarki di Yogyakarta adalah cerminan dari kehendak rakyat yang menghargai tradisi dan sejarah mereka. (*)

Tonton Video Terbaru dari Ayobandung:

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom
Pemerhati Budaya | Alumnus Universitas Padjadjaran

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)