Diskominfo Jabar Diam, DPRD Minta Maaf: Aktifkan Pemulihan Bukan Penghapusan

4 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Rahmat Hidayat Djati (Sumber: Humas DPRD Jabar)
Rahmat Hidayat Djati (Sumber: Humas DPRD Jabar)

Awal Agustus ini, DPRD Jawa Barat melalui Ketua Komisi I Rahmat Hidayat Djati, dalam forum resmi meminta maaf ke aktivis pemilu, Neni Nurhayati, atas peristiwa doxing dan serangan digital yang terjadi setelah ia menyuarakan kritik anggaran publikasi Pemerintah Provinsi Jabar.

Permintaan maaf itu, menariknya, mengatasnamakan Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) Jabar yang pertama menguggah foto Neni dalam unggahannya yang akhirnya memicu perisakan digital tersebut.

Dalam pernyataannya, Rahmat mengungkapkan penyesalan atas kasus yang menyeret nama institusi pemerintahan. Ia menegaskan bahwa kritik adalah bagian sah dari demokrasi, dan tidak boleh dibalas dengan kekerasan digital atau penyebaran data pribadi secara sepihak.

Namun sayangnya, hingga kini Diskominfo Jabar belum mengeluarkan permintaan maaf. Yang mereka lakukan hanya satu hal: menghapus unggahan yang memicu persekusi digital.

Penghapusan itu sendiri sebenarnya sudah merupakan bentuk pengakuan bahwa ada kekeliruan. Tapi menolak meminta maaf, (mungkin) hanya karena takut dianggap lemah atau kalah, adalah kekeliruan yang lebih besar.

Di dalam tradisi publik modern, permintaan maaf bukanlah bentuk kehinaan institusi. Justru sebaliknya, ia menunjukkan keluhuran akal sehat dan kepekaan terhadap warga masyarakat.

Sebab dalam relasi antara negara dan rakyat, terutama ketika muncul ketegangan akibat kritik, respons paling wajar bukanlah pembungkaman, melainkan klarifikasi yang sehat dan penghargaan atas keberanian warga bersuara.

Apalagi konteks yang diangkat oleh Neni adalah soal transparansi anggaran, sebuah isu yang seharusnya disambut pembukaan data dan dialog terbuka, bukan malah diserang balik. Ketika warga diperlakukan seolah musuh negara hanya karena mempertanyakan kebijakan, maka relasi antara pemerintah dan rakyat sudah pasti retak sehingga muncul somasi dari Neni.

Di titik ini, yang diperlukan bukan sekadar penghapusan unggahan, melainkan upaya pemulihan relasi. Dan itu dimulai dari permintaan maaf. Bukan untuk merendahkan martabat institusi, melainkan untuk membangun kembali saluran komunikasi yang sehat. Diskominfo Jabar masih punya waktu untuk menunjukkan bahwa mereka tidak anti-kritik dan tidak alergi suara publik.

Langkah pemulihan ini juga penting untuk masa depan hubungan yang lebih ideal antara institusi negara dan warga yang peduli. Kritik seperti yang disampaikan Neni bukan bentuk kebencian. Justru ia adalah bentuk kepedulian terhadap pengelolaan negara. Seharusnya kritik dimaknai sebagai bagian dari partisipasi aktif warga, bukan sebagai ancaman.

Ke depan, Diskominfo dan institusi serupa perlu membangun relasi dialogis dengan publik. Itu bisa dimulai dengan menyusun standar etika komunikasi publik digital yang menjamin tidak ada lagi unggahan institusi pemerintah yang mengarah stigmatisasi individu.

Selain itu, membangun ruang dengar seperti forum aspirasi atau kanal tanggapan terbuka bisa menjadi jembatan partisipasi yang lebih sehat ketimbang bermain narasi di media sosial secara sepihak.

Di tengah keprihatinan terhadap kualitas demokrasi digital kita hari ini, kasus Neni adalah pengingat bahwa negara tidak boleh kehilangan empati.

Ketika seorang warga menyampaikan suara dan justru diserang, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hak pribadi, tapi martabat seluruh sistem pemerintahan. Jika institusi pemerintah bisa dengan tulus berkata, "Maaf, kami keliru," maka di situlah kepercayaan mulai tumbuh kembali.

Lembaga Perlindungan

Neni Nurhayati dalam postingan Diskominfo Jabar. (Sumber: Instagram/Diskominfo Jabar)
Neni Nurhayati dalam postingan Diskominfo Jabar. (Sumber: Instagram/Diskominfo Jabar)

Kita mengapresiasi tindak yang dilakukan Komisi I DPRD Jabar serata menunggu kebesaran jiwa Diskominfo Jabar. 

Namun lebih dalam dari itu, kondisi ini kian menyiratkan betapa mendesaknya urgennya kehadiran Lembaga Perlindungan Data Pribadi (LPDP) yang independen dan berwenang penuh, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi.

Dalam undang-undang tersebut dijelaskan, lembaga ini bertugas menangani aduan, menyelidiki pelanggaran, dan memberikan sanksi administratif kepada pengendali data, termasuk instansi negara.

Namun hingga Agustus 2025 ini, lembaga tersebut belum juga terbentuk. Menteri Komunikasi dan Informatika Digital Meutya Hafid menyebut masih menunggu peraturan presiden terkait struktur dan anggaran.

Ini alasan yang tak lagi bisa diterima karena UU tersebut sudah berjalan penuh sejak Oktober 2024. Tapi selama proses menunggu itu, kasus demi kasus serangan digital terus terjadi—tanpa ada jalur pengaduan yang efektif, tanpa perlindungan yang nyata.

Neni adalah potret kekosongan kelembagaan negara dalam melindungi warganya. Tanpa LPDP, regulasi hanya tinggal teks hukum di atas kertas. Aparat hukum pun terkesan lamban menindak pelaku meskipun sudah ada dasar hukum dari UU PDP maupun UU ITE.

Negara mesti sadar bahwa ini bukan sekadar kasus personal. Ini tentang demokrasi yang terancam dan terluka.

Ketika warga yang kritis diserang, disudutkan, bahkan diancam nyawanya, sementara pelaku berlindung di balik institusi, maka yang terguncang bukan hanya keadilan individual, tetapi fondasi negara hukum.

Akhir kata, negara harus hadir dalam bentuk lembaga konkret. Sudah waktunya Presiden mempercepat pembentukan LPDP agar publik tahu, bahwa hak digital mereka dijaga bukan hanya oleh moral, tapi juga oleh hukum.

Di sisi lain, mari kita jaga agar kritik tak dibalas persekusi, agar suara warga tak dibungkam karena sentimen, dan agar negara tidak terlalu sibuk menyusun narasi pembenaran sampai lupa bahwa rakyat sejatinya adalah mitra, bukan ancaman. (*)

 

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)