Berdarah-darah Menjadi Ibu dan Kehilangan Masa Remaja: Pelajaran Hidup dari Pernikahan Terlalu Muda

3 menit baca
Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan
Dalam pernikahan dini, wanita cenderung lebih rentan menjadi korban karena kombinasi faktor biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi. (Sumber: Unsplash | Foto: Jorge Salvador)
Dalam pernikahan dini, wanita cenderung lebih rentan menjadi korban karena kombinasi faktor biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi. (Sumber: Unsplash | Foto: Jorge Salvador)

AYOBANDUNG.ID - Di usia 40 tahun, Santi, kerap disangka kakak dari anak sulungnya. Bukan karena ia awet muda, melainkan karena jarak usia mereka yang begitu dekat. Anak pertamanya kini berumur 23 tahun, sedang menempuh kuliah di sebuah perguruan tinggi di Kota Bandung.

Senyum itu menyimpan perjalanan panjang yang penuh luka. Semuanya bermula ketika ia menikah di usia sekitar 17 tahun, tepat setelah lulus SMA. Kala itu, ia tidak berpikir panjang. Hubungan dengan pacar yang hanya terpaut dua tahun dianggap cukup menjadi alasan membangun rumah tangga.

Awal pernikahan, segalanya terlihat baik-baik saja. Santi dikaruniai dua anak, rumah tangga berjalan lancar, dan kebutuhan ekonomi tercukupi. Bahkan mereka sudah memiliki rumah di sebuah kompleks perumahan. Tetapi di balik kenyamanan materi, ada harga yang harus ia bayar: masa mudanya.

Saat teman-teman sebayanya masih bisa bersenda gurau, Santi justru sibuk mengganti popok dan menenangkan tangis bayi. Ia tak punya waktu untuk sekadar nongkrong di warung bersama sahabat atau ikut kegiatan remaja di kampung. “Memang ada rasa ingin main, tapi saya sudah punya anak yang harus dijaga,” kenangnya, Kamis, 14 Agustus 2025.

Sementara Santi beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu, suaminya masih sering keluar bersama teman-temannya. Semula ia berpikir itu hal wajar, sampai suatu hari ia mengetahui sang suami berselingkuh. Dunia Santi runtuh. Ia bercerai di usia awal 20-an, menjadi orang tua tunggal dengan dua anak kecil.

Perceraian itu membawanya ke titik terendah. Rasa marah, kecewa, dan kehilangan bercampur menjadi satu. Ia melampiaskan perasaannya dengan sering pergi keluar rumah, mencoba “mencuri” kembali masa mudanya yang hilang. Namun di saat yang sama, perhatian untuk anak-anak semakin berkurang. Mereka tumbuh tanpa pengasuhan penuh, bahkan kasih sayang kadang terselip di antara kekosongan.

Bertahun-tahun kondisi itu berlangsung. Sampai akhirnya, Santi tersadar ketika anak-anaknya menginjak remaja. Waktu yang telah berlalu tak bisa diulang. Ia mendapati anak sulungnya menjadi pendiam dan sering memberontak.

“Butuh waktu bertahun-tahun untuk kembali dekat dengan anak. Rasanya berdarah-darah,” ucapnya lirih.

Santi kini hanya bisa berharap pengalamannya menjadi pelajaran. Pernikahan dini, baginya, bukan sekadar soal kesiapan ekonomi, tetapi juga kesiapan mental dan emosional. “Kalau saja dulu saya tahu dampaknya, mungkin saya akan menunggu lebih lama,” katanya di rumahnya di kawasan Soreang, Kabupaten Bandung.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Kantor Kemenag Kabupaten Bandung, Abdul Hanan, membenarkan bahwa pernikahan di usia terlalu muda rentan berujung masalah. Aturan negara telah menetapkan usia minimal menikah adalah 19 tahun agar pasangan memiliki kematangan psikologis.

“Usia di bawah itu, ego masih tinggi, kematangan emosinya belum terbentuk. Pertengkaran kecil bisa berakhir perceraian,” jelasnya. Dampaknya panjang: anak kehilangan kasih sayang, tumbuh dengan trauma, dan hubungan keluarga terpecah.

Menurutnya, perempuan menanggung beban lebih besar ketika perceraian terjadi. Selain stigma sosial, mereka juga memikul tanggung jawab pengasuhan sendirian. Faktor pendorong pernikahan dini pun beragam, mulai dari alasan ekonomi, budaya, hingga pergaulan bebas.

Kemenag, kata Abdul, berupaya menekan angka pernikahan dini melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Para pelajar diberikan edukasi tentang risiko pernikahan dini dan dampak pergaulan bebas. Penyuluhan juga dilakukan ke masyarakat untuk mengubah pandangan yang masih menganggap menikahkan anak di usia muda sebagai hal biasa.

Di sisi hukum, KUA tidak bisa mencatatkan pernikahan di bawah 19 tahun tanpa dispensasi Pengadilan Agama. Namun praktik di lapangan kerap berbeda. Ada keluarga yang tetap memaksakan anaknya menikah, meski tanpa pencatatan resmi.

“Pernikahan yang tidak tercatat punya konsekuensi hukum. Anak bisa kehilangan hak waris, dan pembagian harta saat bercerai jadi sulit,” tegas Abdul.

Bagi Santi, semua itu kini sudah terlanjur menjadi bagian dari masa lalunya. Yang tersisa adalah usaha memperbaiki hubungan dengan anak-anak, menebus waktu yang dulu hilang, dan membagikan kisahnya agar orang lain tidak mengulang kesalahan yang sama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)