Hikayat Geger Rentetan 'Orang Gila' Serang Ustaz, Bermula dari Bandung

4 menit baca
Gilang Fathu Romadhan Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan , Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi sosok misterius. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ilustrasi sosok misterius. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)

AYOBANDUNG.ID - Belum lama ini, seorang pria tak dikenal membuat geger warga Bandung. Aksi nekatnya membakar keset masjid dan menusuk warga menimbulkan kehebohan di tengah hari yang mestinya tenang. Peristiwa ini bukan hanya menimbulkan kepanikan sesaat, tetapi juga menyeret ingatan publik pada satu babak lama yang sempat membuat geger nasional: maraknya penyerangan terhadap ulama oleh mereka yang disebut-sebut "orang gila".

Kejadian terbaru ini berlangsung pada Kamis, 15 Mei 2025, sekitar pukul 15.00 WIB di lingkungan Masjid Nurul Huda, Kelurahan Sadang Serang, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Pelakunya, yang kini diketahui berinisial GRB (25 tahun) asal Palembang, tiba-tiba menyiramkan sebotol Pertamax ke keset di teras masjid dan menyulut api.

Seorang warga bernama Arif (41) mengejar, namun justru ditusuk di bagian paha. Video amatir yang merekam detik-detik kejadian langsung menyebar luas. Twitter, Instagram, hingga grup-grup WhatsApp RT/RW dipenuhi rekaman dan spekulasi.

Saat ini, GRB berada dalam proses penyidikan. Motif pasti masih digali. Keterangan GRB masih berubah-ubah.

Peristiwa penyerangan yang menyeret simbol-simbol agama ini bukan yang pertama membuat Bandung bergidik. Pada awal 2018, kota ini sembat dibuat geger. Dua serangan terhadap tokoh agama terjadi dalam kurun lima hari. Keduanya disebut dilakukan oleh “orang gila.” Insiden ini tidak hanya mengejutkan warga Bandung, tetapi juga menimbulkan kecemasan yang menyebar secara nasional. Sejak itu, narasi “orang gila menyerang ustaz” mulai ramai dibicarakan.

Sabtu pagi, 27 Januari 2018, KH Umar Basri atau Abah Umar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah di Cicalengka, menjadi korban penyerangan di dalam masjidnya sendiri. Saat itu, usai salat Subuh dan sedang berzikir, seorang pria yang ikut salat tiba-tiba memukulnya dengan kayu. KH Umar mengalami luka cukup parah di bagian kepala dan perut, hingga sempat tak sadarkan diri. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit dan dirawat intensif.

Pelaku ditangkap tak lama setelah kejadian. Kepolisian menyebut pelaku memiliki catatan sebagai pasien di Rumah Sakit Jiwa Cisarua. Namun, penjelasan itu tidak serta merta menenangkan publik. Sebaliknya, kecurigaan justru bertambah: benarkah ini murni kasus kekerasan oleh penderita gangguan mental?

Belum lima hari berlalu, peristiwa serupa terjadi lagi. Kali ini menimpa Ustaz R Prawoto, Komandan Brigade Persatuan Islam (Persis), yang tinggal di kawasan Cigondewah Kidul, Kota Bandung. Pada Kamis pagi, 1 Februari 2018, tetangganya, Asep Maftuh, datang ke rumah dan menyerangnya dengan pipa besi. Setelah sempat melarikan diri sejauh 500 meter, Ustaz Prawoto kembali dihantam dan akhirnya meninggal dunia pada malam harinya.

Dalam kasus ini, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Asep tidak mengalami gangguan kejiwaan. Ia divonis tujuh tahun penjara setelah menjalani proses hukum. Fakta ini memperkuat kesan bahwa serangan terhadap tokoh agama tidak bisa semata-mata dianggap sebagai ulah orang dengan gangguan mental.

Kedua insiden ini menyulut kecemasan seantero negeri. Bandung jadi titik mula gelombang serangan terhadap tokoh agama. Rentetan kabar tentang “orang gila menyerang ulama” mendadak membanjiri linimasa dan pemberitaan. Namun sebagian besar tak terbukti.

Kapolri saat itu, Jenderal Tito Karnavian, menyatakan bahwa dari 46 isu penyerangan ulama yang beredar di media sosial pada awal 2018, hanya tiga yang benar-benar terjadi. Dua di Jawa Barat dan satu di Lamongan. Yang lainnya adalah hoaks, katanya pada 9 Maret. Beberapa hari sebelumnya, Kapolda Jawa Barat kala itu, Irjen Agung Budi Maryoto, bahwa dari 21 kabar penyerangan ulama di media sosial, 19 di antaranya tidak benar.

Tapi setelahnya, muncul laporan-laporan lain yang terverifikasi. Berita ihwal serangan “orang gila” terhadap ulama atau penyerangan di masjid, marak sejadi-jadinya.

Setelah peristiwa di Bandung, insiden serupa muncul di daerah lain. Salah satu kasus yang menjadi perhatian publik terjadi di Lamongan, Jawa Timur. Pada pertengahan Februari 2018, KH Hakam Mubarok, pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem, diserang saat hendak menunaikan salat Zuhur. Pelakunya, pria berinisial NT, disebut menolak saat diminta keluar dari area pesantren dan malah menantang sang kiai. Setelah ditangkap, NT diperiksa kejiwaannya dan dinyatakan mengalami gangguan mental.

Lain cerita di Kendal, Jawa Tengah. Pada 17 Maret 2018, KH Ahmad Zaenuri, Ketua NU Kecamatan Kangkung, diserang bersama menantunya oleh seorang pria bernama Suyatno. Keluarga pelaku menyatakan bahwa Suyatno mengalami gangguan kejiwaan, namun polisi menyebut pelaku sehat secara mental.

Beberapa minggu kemudian, peristiwa serupa terjadi di Bima, Nusa Tenggara Barat. Pada 13 April 2018, seorang pria bernama Ahyar menyerang jemaah yang sedang salat di Masjid Raudatul Abrar, hingga empat orang terluka. Polisi setempat menyebut Ahyar mengalami gangguan jiwa.

Di Depok, Jawa Barat, seorang ustaz bernama Abdul Rahman diserang oleh seorang perempuan bernama Vivi saat hendak salat Subuh di Masjid Darul Muttaqin. Penyerangan terjadi pada 11 Maret 2018, dan seperti sebelumnya, pelaku disebut mengidap gangguan mental.

Gelombang tragedi yang masif dalam waktu berdekatan ini memunculkan spekulasi liar di tengah masyarakat. Di media sosial, narasi “orang gila menyerang ulama” viral dan menjadi bahan perdebatan. Banyak yang menganggap kejadian-kejadian ini bukan kebetulan semata, dan mulai mempertanyakan apakah ada motif tersembunyi atau skenario lebih besar di balik semua ini.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)