Gang Kondom di Bandung, Serius atau Bercanda?

4 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Ilustrasi kondom. (Sumber: Freepik)
Ilustrasi kondom. (Sumber: Freepik)

AYOBANDUNG.ID - Bayangkan sedang menanyakan alamat rumah di Bandung, lalu ada orang menjawab dengan enteng: “Masuk saja lewat Gang Kondom.” Rasanya seperti bercanda, tapi papan nama itu betulan ada. Wajah bisa jadi menahan tawa, lalu muncul rasa heran: bagaimana bisa sebuah gang diberi nama kondom?

Gang biasanya tampil dengan nama yang aman-aman saja. Ada yang mengambil nama bunga, seperti Melati atau Mawar. Ada pula yang hanya diberi nomor urut, sederhana dan membosankan. Nama gang semacam itu tidak pernah membuat orang berhenti melangkah hanya untuk membaca papan petunjuk jalan. Lain ceritanya dengan Gang Kondom. Begitu mata menangkap tulisan itu, refleks orang berhenti sejenak, bahkan mungkin mengeluarkan ponsel untuk memotretnya.

Di telinga masyarakat, kata “kondom” sering kali masih dianggap tabu. Terlalu vulgar untuk dijadikan obrolan warung kopi, apalagi penanda alamat rumah. Itulah sebabnya kehadiran papan nama ini terasa janggal. Seakan ada yang sengaja menguji batas rasa malu publik. Membayangkan orang memperkenalkan diri dengan alamat rumah di Gang Kondom saja sudah cukup memantik tawa.

Keganjilan itu bukan hanya soal bahasa. Nama kondom pada sebuah gang seolah menabrak kebiasaan lama yang penuh kesopanan dalam memberi nama tempat. Di Indonesia, penamaan jalan atau gang biasanya diselubungi makna mulia: pahlawan nasional, tokoh agama, tumbuhan, atau istilah yang bernuansa indah. Kata kondom sama sekali tak ada dalam daftar itu. Maka, begitu ia hadir di papan nama, terasa seperti gang kecil di Bojong Mekar ini sedang melawan arus.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Tapi justru di situlah letak keunikannya. Gang Kondom berhasil mengusik rasa ingin tahu orang. Ia membuat yang lewat bertanya-tanya, apakah nama itu dipasang sekadar untuk main-main atau ada maksud lain. Karena sepintas, papan itu terlihat kocak, bahkan tak masuk akal. Tetapi di balik keganjilannya, tersimpan sebuah alasan serius.

Kampanye Kampung Keluarga Berencana

Usut punya usut, papan nama itu bukan hasil lelucon iseng warga. Bukan pula upaya bikin kampung viral semata. Semua bermula ketika Kampung Bojong Mekar diresmikan sebagai salah satu Kampung Keluarga Berencana (KB) pada Agustus 2017. Sejak saat itu, warga perlu cara agar pesan keluarga berencana tidak hanya berhenti di ruang rapat RT atau di brosur puskesmas yang sering kali berakhir jadi bungkus gorengan.

Warga mencari medium yang sederhana, murah, dan pasti terbaca setiap hari. Maka nama gang pun dijadikan alat kampanye. Gang pertama yang dipilih diberi nama paling populer: kondom. Nama yang praktis, singkat, dan langsung membuat orang menoleh. Setelah itu, deretan gang lain menyusul: Gang MOW (Medis Operatif Wanita), Gang MOP (Medis Operatif Pria), Gang IUD, hingga gang bernama Pil, Suntik, dan Implan. Jadilah satu kawasan kampung ini seperti katalog kontrasepsi berjalan.

Gang Kondom di Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Gang Kondom di Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Tujuannya jelas, agar siapa pun yang lewat mengingat kembali tentang program KB. Rata-rata keluarga di Bojong Mekar masih memiliki tiga hingga empat anak. Angka itu dianggap tinggi, sehingga perlu dorongan untuk mengendalikan laju kelahiran. Dengan papan nama itu, warga seakan sedang diingatkan tiap kali melintas di gang sendiri.

Lucunya, metode ini terbukti efektif. Nama gang yang dianggap tabu justru memantik rasa ingin tahu, bahkan diskusi ringan. Orang mungkin tertawa dulu, tapi setelah itu mereka menyadari maksud baiknya. Edukasi memang tak selalu harus hadir lewat ceramah atau brosur resmi. Kadang-kadang, papan kayu dengan cat sederhana lebih meninggalkan kesan.

Bisa dibilang, papan nama gang di Bojong Mekar bekerja lebih efektif daripada spanduk sosialisasi. Ia bukan sekadar penunjuk jalan, tapi juga alat edukasi. Nama Gang Kondom misalnya, bukan hanya bikin orang senyum kecut, tapi juga mengingatkan bahwa menjaga jarak kelahiran anak adalah pilihan penting bagi keluarga.

Baca Juga: Salah Hari Ulang Tahun, Kota Bandung jadi Korban Prank Kolonial Terpanjang

Gagasan Kampung KB sendiri lahir pada 2016 di era Jokowi. Intinya bukan hanya menekan angka kelahiran, tapi juga membentuk keluarga yang lebih berkualitas. Program ini menekankan delapan fungsi keluarga, dari cinta kasih, pendidikan, hingga ekonomi dan lingkungan.

Bojong Mekar memenuhi kriteria untuk jadi Kampung KB. Rata-rata keluarga di sana memiliki tiga hingga empat anak, dengan jumlah peserta KB yang masih rendah. Program ini pun masuk untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Daripada hanya mengandalkan ceramah, warga memilih cara yang lebih membumi: menamai gang mereka dengan alat kontrasepsi.

Sejak itu, perlahan-lahan perubahan terasa. Kesadaran ibu-ibu soal KB meningkat. Lingkungan yang dulunya ada bagian kumuh kini lebih tertata. Aktivitas masyarakat pun makin beragam, dari pendidikan, seni budaya, hingga kegiatan keagamaan. Kampung KB di Bojong Mekar bukan cuma soal menunda kelahiran anak, tapi juga soal membangun kehidupan yang lebih teratur.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)