AYOBANDUNG.ID - Bayangkan sedang menanyakan alamat rumah di Bandung, lalu ada orang menjawab dengan enteng: “Masuk saja lewat Gang Kondom.” Rasanya seperti bercanda, tapi papan nama itu betulan ada. Wajah bisa jadi menahan tawa, lalu muncul rasa heran: bagaimana bisa sebuah gang diberi nama kondom?
Gang biasanya tampil dengan nama yang aman-aman saja. Ada yang mengambil nama bunga, seperti Melati atau Mawar. Ada pula yang hanya diberi nomor urut, sederhana dan membosankan. Nama gang semacam itu tidak pernah membuat orang berhenti melangkah hanya untuk membaca papan petunjuk jalan. Lain ceritanya dengan Gang Kondom. Begitu mata menangkap tulisan itu, refleks orang berhenti sejenak, bahkan mungkin mengeluarkan ponsel untuk memotretnya.
Di telinga masyarakat, kata “kondom” sering kali masih dianggap tabu. Terlalu vulgar untuk dijadikan obrolan warung kopi, apalagi penanda alamat rumah. Itulah sebabnya kehadiran papan nama ini terasa janggal. Seakan ada yang sengaja menguji batas rasa malu publik. Membayangkan orang memperkenalkan diri dengan alamat rumah di Gang Kondom saja sudah cukup memantik tawa.
Keganjilan itu bukan hanya soal bahasa. Nama kondom pada sebuah gang seolah menabrak kebiasaan lama yang penuh kesopanan dalam memberi nama tempat. Di Indonesia, penamaan jalan atau gang biasanya diselubungi makna mulia: pahlawan nasional, tokoh agama, tumbuhan, atau istilah yang bernuansa indah. Kata kondom sama sekali tak ada dalam daftar itu. Maka, begitu ia hadir di papan nama, terasa seperti gang kecil di Bojong Mekar ini sedang melawan arus.
Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial
Tapi justru di situlah letak keunikannya. Gang Kondom berhasil mengusik rasa ingin tahu orang. Ia membuat yang lewat bertanya-tanya, apakah nama itu dipasang sekadar untuk main-main atau ada maksud lain. Karena sepintas, papan itu terlihat kocak, bahkan tak masuk akal. Tetapi di balik keganjilannya, tersimpan sebuah alasan serius.
Kampanye Kampung Keluarga Berencana
Usut punya usut, papan nama itu bukan hasil lelucon iseng warga. Bukan pula upaya bikin kampung viral semata. Semua bermula ketika Kampung Bojong Mekar diresmikan sebagai salah satu Kampung Keluarga Berencana (KB) pada Agustus 2017. Sejak saat itu, warga perlu cara agar pesan keluarga berencana tidak hanya berhenti di ruang rapat RT atau di brosur puskesmas yang sering kali berakhir jadi bungkus gorengan.
Warga mencari medium yang sederhana, murah, dan pasti terbaca setiap hari. Maka nama gang pun dijadikan alat kampanye. Gang pertama yang dipilih diberi nama paling populer: kondom. Nama yang praktis, singkat, dan langsung membuat orang menoleh. Setelah itu, deretan gang lain menyusul: Gang MOW (Medis Operatif Wanita), Gang MOP (Medis Operatif Pria), Gang IUD, hingga gang bernama Pil, Suntik, dan Implan. Jadilah satu kawasan kampung ini seperti katalog kontrasepsi berjalan.

Tujuannya jelas, agar siapa pun yang lewat mengingat kembali tentang program KB. Rata-rata keluarga di Bojong Mekar masih memiliki tiga hingga empat anak. Angka itu dianggap tinggi, sehingga perlu dorongan untuk mengendalikan laju kelahiran. Dengan papan nama itu, warga seakan sedang diingatkan tiap kali melintas di gang sendiri.
Lucunya, metode ini terbukti efektif. Nama gang yang dianggap tabu justru memantik rasa ingin tahu, bahkan diskusi ringan. Orang mungkin tertawa dulu, tapi setelah itu mereka menyadari maksud baiknya. Edukasi memang tak selalu harus hadir lewat ceramah atau brosur resmi. Kadang-kadang, papan kayu dengan cat sederhana lebih meninggalkan kesan.
Bisa dibilang, papan nama gang di Bojong Mekar bekerja lebih efektif daripada spanduk sosialisasi. Ia bukan sekadar penunjuk jalan, tapi juga alat edukasi. Nama Gang Kondom misalnya, bukan hanya bikin orang senyum kecut, tapi juga mengingatkan bahwa menjaga jarak kelahiran anak adalah pilihan penting bagi keluarga.
Baca Juga: Salah Hari Ulang Tahun, Kota Bandung jadi Korban Prank Kolonial Terpanjang
Gagasan Kampung KB sendiri lahir pada 2016 di era Jokowi. Intinya bukan hanya menekan angka kelahiran, tapi juga membentuk keluarga yang lebih berkualitas. Program ini menekankan delapan fungsi keluarga, dari cinta kasih, pendidikan, hingga ekonomi dan lingkungan.
Bojong Mekar memenuhi kriteria untuk jadi Kampung KB. Rata-rata keluarga di sana memiliki tiga hingga empat anak, dengan jumlah peserta KB yang masih rendah. Program ini pun masuk untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Daripada hanya mengandalkan ceramah, warga memilih cara yang lebih membumi: menamai gang mereka dengan alat kontrasepsi.
Sejak itu, perlahan-lahan perubahan terasa. Kesadaran ibu-ibu soal KB meningkat. Lingkungan yang dulunya ada bagian kumuh kini lebih tertata. Aktivitas masyarakat pun makin beragam, dari pendidikan, seni budaya, hingga kegiatan keagamaan. Kampung KB di Bojong Mekar bukan cuma soal menunda kelahiran anak, tapi juga soal membangun kehidupan yang lebih teratur.